
Sampainya di terminal pasar, Reza dengan segera langsung turun dari angkot tanpa menunggu Reno, apalagi ke tiga temannya, yang sejak tadi sudah membuat Reza merasa sangat jenuh dengan tingkah mereka yang sangat berlebihan.
Melihat Reza yang sudah turun dari angkot, Ririn dengan buru-buru ikut turun dari angkot dan segera menghampiri Reza, yang sedang berdiri tidak jauh dari angkot. Sedangkan kedua temannya yang baru saja mau keluar dari angkot bersama Reno, hanya tersenyum sambil menatapnya bersama Reza.
Reza sama sekali tidak perduli, bahkan untuk melirik ke tiga wanita itu saja dia tidak melakukannya sama sekali sejak tadi. Reza hanya menatap ke arah lain dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat dingin. Tapi ekspresi Reza itu, tidak berpengaruh sama sekali pada Ririn. Ririn malah semakin penasaran dan ingin semakin dekat dengan Reza, walaupun Reza tidak menghiraukannya.
Ririn sudah terlajur jatuh hati kepada Reza, karena Reza adalah sosok laki-laki idamannya. Dia sangat menyukai laki-laki yang dingin dan cuek seperti Reza, tapi sayangnya Ririn bukan wanita baik-baik, karena dia sangat suka berganti-ganti pasangan.
Ririn adalah wanita yang bisa di bilang gampangan, dia selalu rela memberikan apapun yang dia punya termasuk harga dirinya, asalkan dia bisa mendapatkan hati laki-laki yang dia sukai. Tapi kelakuannya seperti itu, malah membuat dia di jadikan bahan permainan beberapa laki-laki, yang pernah menjalin hubungan dengannya.
Ririn yang sudah semakin menjadi-jadi, tanpa ada rasa malu langsung memeluk lengan Reza, di saat Reza hendak melangkah menuju ke dalam pasar. Dan apa yang di lakukan oleh Ririn itu membuat Reza sangat terkejut, dan tambah merasa muak dengannya.
Reza yang semakin tidak tahan dengan sikap Ririn, sudah mulai kesal. Tanpa berkata apa-apa, Reza langsung melepaskan tangan Ririn, dari pergelangan tangannya tanpa melirik Ririn sama sekali. Dan setelah itu dia segera melangkah meninggalkan Ririn yang sedang menatapnya, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Ririn yang di perlakukan seperti itu sama Reza, bukannya merasa malu malah tersenyum sambil menatap Reza, dengan tatapan yang terlihat sangat menuntut. Selain gampangan, Ririn kuga termasuk wanita yang begitu berambisi untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan sifatnya itu sudah di ketahui banyak teman-temannya, termasuk mereka yang sedang melangkah bersamanya.
Reza yang sudah melihat tempat penarikan uang dari kejauhan, langsung melangkah pergi tanpa menunggu Reno dan teman-temannya.
Dan Reno yang sudah sangat mengenal sifat Reza, segera meminta teman-temannya untuk menunggu di dalam pasar saja, biar Reza tidak terlalu merasa terganggu dengan mereka, terutama dengan Ririn yang sejak tadi terus-menerus nempel dengannya.
Selesai menarik uang dari ATM, Reza pun segera masuk ke dalam pasar menyusul Reno dan teman-temannya. Sebenarnya Reza tidak ada niat untuk membeli apapun, tapi sewaktu di dalam ATM tadi, dia mendapatkan ide untuk membuat Ririn tidak lagi mau dekat-dekat dengannya.
Setelah bertemu Reno dan teman-temannya, Reza dengan tampang yang sudah terlihat tidak terlalu dingin seperti tadi, langsung mengajak Reno untuk menemaninya ke sebuah toko. Dan dengan segera ketiga wanita genit itu pun langsung mengikuti mereka sambil bertanya.
"Kalian mau kemana sih,,?" Tanya Ririn sambil melangkah maju ke belakang Reza.
"Iya Za,, kita mau kemana,,?" Tanya Reno karena dia belum tahu tujuan Reza masuk ke dalam pasar.
"Aku mau membelikan keperluan Melda." Jawab Reza dan langsung masuk ke sebuah toko pakaian.
Sampainya di dalam toko, Reza langsung mematung di saat melihat pakaian dalam wanita yang berderet di depannya. Sebenarnya Reza sangat malu untuk membeli apa yang di perlukan oleh Melda, tapi terpaksa dia harus membelikannya, karena Melda sangat membutuhkan semua itu. Dan selain itu, Reza juga ingin berpura-pura perhatian lebih sama Melda, biar para wanita-wanita genit yang ada di belakangnya itu, tidak terlalu mendekatinya.
"Mau cari apa Pak,,?" Tanya seorang pelayan toko karena melihat Reza hanya terdiam di depan pakaian dalam wanita.
"Aku mau membelikan pakaian wanita." Jawab Reza dengan santainya.
"Pakaian seperti apa yang Bapak cari,,? Mari ke dalam Pak,,! Ada banyak pakaian wanita di dalam, dan Bapak bisa pilih-pilih." Kata pelayanan toko dengan begitu ramah.
"Aku cari beberapa pakaian santai, pakaian dalam, dan baju tidur." Kata Reza yang membuat Reno, dan ketiga temannya yang sedang menunggu di depan toko langsung kaget, begitupun dengan pelayanan toko yang ada di hadapan Reza.
Mereka semua kaget mendengar apa yang tadi di katakan oleh Reza barusan. Mereka sama sekali tidak bisa percaya, laki-laki sedingin dan sekaku itu bisa membelikan pakaian dalam wanita, apalagi Reza mengatakan apa yang ingin dia cari kepada pelayan toko itu dengan begitu santainya.
Sedangkan Reza yang terlihat begitu santai, langsung melangkah mengikuti pelayan toko itu dengan menahan rasa malu yang sangat besar. Reza merasa dirinya sudah tidak punya harga diri lagi sebagai laki-laki. Apalagi ini kali pertama dalam hidupnya melakukan sesuatu hal, yang sangat memalukan bagi seorang laki-laki.
Walaupun Reza sangat malu, tapi dia sama sekali tidak menyalahkan Melda, karena semua itu dia lakukan bukan karena kemauan Melda, tapi kemauannya sendiri biar bisa terlepas dari incaran teman Reno yang bernama Ririn itu.
Itulah sifat Reza, dia sangat tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif. Dan ini bukan kali pertama baginya, dengan memiliki fisik yang begitu sempurna dan sifat yang terkesan cool, membuat Reza selalu memikat para wanita yang melihatnya. Banyak wanita yang tergila-gila dan selalu merasa penasaran dengan sikapnya itu.
Selesai memilih beberapa pakaian santai dan beberapa baju tidur Melda, Reza pun kembali mengikuti pelayan toko itu ke depan yang terdapat banyak pakaian dalam wanita. Dan di saat sudah berada di depan pakaian dalam wanita, Reza kembali kebingungan di saat pelayan toko itu bertanya.
"Pak,, berapa ukuran bra dan cd yang ingin Bapak beli,,?" Tanya pelayan toko itu sambil menatap Reza dengan tatapan malu-malu.
Sedangkan ketiga temannya langsung tersenyum, karena merasa lucu dengan Reza yang sudah terlihat salah tingkah, di saat pelayan toko itu bertanya mengenai ukuran bra, dan CD yang mau Reza belikan.
Reza tidak tahu harus jawab apa, karena dia tidak tahu ukuran bra dan CD yang Melda pakai. Akhirnya dia segera memilih untuk meminta nomor telefon Tante Mawar kepada Reno, agar dia bisa bertanya langsung kepada Melda.
"Ren,, mana nomor telefon Tante Mawar,,? Aku mau bicara sama Melda." Kata Reza sambil menatap Reno.
Dengan segera Reno langsung mencari nomor telefon Tante Mawar, dan segera memberikannya kepada Reza. Dan tanpa menunggu lama Reza pun langsung menghubungi Tante Mawar.
("Halo Tantee, saya Reza.") Sapa Reza setelah telfonnya tersambung.
("OOO Reza,,? Iya bagaimana sayang,,?") Tanya Tante Mawar dengan suara yang begitu ramah.
("Saya ingin bicara sama Melda Tante.") Kata Reza.
("Oo iya sebentar Tante panggilin, soalnya dia belum keluar dari kamar, mungkin dia kurang enak badan.") Kata Tante Mawar sambil melangkah menuju kamar yang di tempati oleh Melda.
Melda sejak pagi tidak keluar dari kamar, Karena sejak pagi tadi, perut bagian bawah juga pinggulnya terasa nyeri sampai membuat dia menangis. Dan itu selalu terjadi setiap kali dia datang bulan. Di tambah lagi celana yang dia pakai juga pengalas tempat tidurnya, sudah di penuhi darah haidnya, dan itu sangat banyak, jadi dia tidak bisa untuk berbuat apa-apa.
Sampainya di depan pintu kamar yang di tempati Melda, Tante Mawar langsung mengetuk pintu. Dan tidak lama, Melda pun membuka pintu dan menatap Tante Mawar dengan wajah yang terlihat begitu lesu dan sembab. Melihat keadaan Melda, membuat Tante Mawar tiba-tiba jadi merasa khawatir dan langsung bertanya.
"Kamu kenapa sayang,,? Kamu sakit,,?" Tanya Tante Mawar dengan tampang penuh kekhawatiran.
"Perut sama pinggul aku nyeri bangat Tante." Jawab Melda dengan nada suara yang sangat serak karena pengaruh menangis.
"Kamu datang bulan,,?" Tanya Tante Mawar.
"Iya Tan,, dan aku sudah biasa seperti ini." Jawab Melda.
"Kamu sudah periksa ke Dokter,,? Takutnya ada apa-apa." Kata Tante Mawar penuh perhatian.
"Setiap bulan aku ke Dokter di antar sama Mama, tapi kata Dokter aku ngga apa-apa, katanya ini hanya nyeri biasa buat beberapa perempuan kalau datang bulan." Jawab Melda dengan tampang yang begitu terlihat sedih di saat menyebut Mamanya.
Melihat keadaan Melda, Tante Mawar merasa sangat tidak tega. Dia sangat kasihan sama Melda yang sudah di tinggalkan kedua orang tuanya, di tambah lagi dengan masalah yang sedang Melda hadapi, yang membuat dia harus menderita seperti itu. Apalagi Tante Mawar sudah dengar dari Reno, kalau Melda itu berasal dari keluarga yang sangat kaya raya di Indonesia, jadi sudah pasti dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Selesai memberikan ponsel kepada Melda, Tante Mawar langsung meminta Melda untuk segera sarapan. Dan di saat Tante Mawar ingin berbalik untuk kembali ke dapur, tidak sengaja dia melihat ada banyak sekali noda darah di atas tempat tidur. Akhirnya dia kembali menatap Melda dan berkata.
"Sayang,, anggap saja Tante ini sebagai Mama kamu, kamu ngga usah merasa sungkan kalau butuh sesuatu,,! Tante mau masak dulu, nanti setelah itu baru Tante menggantikan pengalas tempat tidurmu dengan yang baru." Kata Tante Mawar dan langsung melangkah pergi ke dapur.
Di saat Tante Mawar sudah kembali ke dapur, dengan segera Melda langsung menutup pintu kamarnya, dan mulai berbicara dengan Reza, yang sejak tadi hanya mendengar percakapan Melda dan Tante Mawar dari balik telfon, yang masih tersambung sejak tadi.
("Haloo,, Bang Reza kamu di mana,,? Aku kan mau pinjam uang kamu, apa kamu takut aku ngga ganti,,? Aku tu ngga bisa keluar dari kamar, darah aku sudah ada di mana, dan aku ingin beli obat penghilang nyeri." Kata Melda panjang lebar dengan nada suara yang sudah bergetar, karena dia sedang menahan sakit di perut dan pinggulnya.
"Kamu fikir aku ngga bisa ganti uang kamu,,? Kalau aku ngga minta sama kamu, sama siapa lagi aku harus minta,,? Apa aku harus jual diri di kampung ini,,?" Tambah Melda dengan suara yang semakin bergetar karena dia sudah menangis.
Mendengar perkataan Melda, membuat Reza langsung emosi. Reza sangat tidak suka mendengar kata itu dari mulut orang-orang yang berada di sekelilingnya. Karena sebenarnya, Reza pernah punya pengalaman pahit dengan seorang wanita yang rela menjual dirinya, demi untuk mendapatkan apa yang di inginkannya.
Beberapa tahun yang lalu, Reza pernah mencintai seseorang wanita, yang sudah dia kenal semenjak duduk di bangku sekolah. Hampir dua tahun mereka menjalin hubungan, dan waktu itu dia berhasil menjebak Reza untuk melakukan hubungan badan dengannya. Tapi selama ini tidak ada yang tahu tentang itu termasuk Aleta. Karena Reza juga tidak ingin mengingatnya apalagi menceritakanbya kepada orang lain.
Dan apa yang sudah dia lakukan dengan wanita itu, membuat dia jadi terperangkap. Wanita yang pernah ada di dalam hati Reza itu bernama Sera. Sera wanita yang sangat matre, dan setiap kali dia menjalin hubungan dengan laki-laki, dia selalu berhubungan badan dengan mereka biar semua yang dia minta akan di turuti.
Dan sikapnya itu baru di sadari Reza, setelah hampir dua tahun mereka menjalin hubungan. Karena sudah tidak tahan dengan sikap Sera yang terkesan gampangan, membuat Reza akhirnya memilih untuk meninggalkannya, walaupun Sera tidak mau melepaskannya. Dan sekarang keberadaan Sera tidak tahu entah di mana.