CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 107. Kecelakaan Yang Di Rencanakan.


Faris dan anak buahnya berpencar untuk mencari informasi tentang keluarga Bela. Bahkan dia sudah menyuruh orang, untuk menyamar masuk ke dalam beberapa rumah kerabat Bela, yang jauh maupun dekat, tapi tetap tidak ada tanda yang mereka temukan sama sekali.


Sedangkan di perusahaan, di rumahnya, dan rumah keluarganya yang lain, Faris yang begitu berikhtiar, sudah menyiapkan penjagaan ketat, terutama di rumah keluarga Permana. Tapi dalam masalah ini, Faris tidak ingin melibatkan Polisi, sebab dia sedang mencurigai beberapa orang Polisi, yang ikut terlibat dalam masalah keluarganya.


Malam itu, Faris menyuruh semua anak buahnya yang ikut dengannya, untuk tetap memantau setiap rumah kerabat Bela. Faris ingin segera menemukan orang tuanya, dan membalas kejahatan orang-orang yang sudah berani menghancurkan keluarga Permana.


"Kalian harus memantau setiap rumah kerabat Bela,,! Tapi tidak boleh ketahuan,,!" Kata Faris.


"Siap Pak." Jawab anak buahnya.


Setelah mengatakan itu, Faris langsung bergegas pergi meninggalkan anak buahnya. Sebenarnya Faris ingin pulang ke rumah, tapi dalam perjalanan, dia tiba-tiba teringat dengan salah satu oknum Polisi yang tidak lain adalah Komandan Polisi, yang ikut mengangkat jenazah keluarganya dari dasar jurang waktu itu.


Faris akhirnya tidak jadi pulang, tapi dia malah melajukan mobilnya menuju salah satu tempat yang saat itu sedang terlintas dalam pikirannya. Tidak berapa lama, Faris pun sampai di tempat tujuannya itu, dan dia segera menepikan mobilnya di seberang jalan, kemudian memantau dari dalam mobil.


Faris sangat mencurigai beberapa Polisi yang menangani kasus kematian keluarganya, karena sampai saat itu, tidak ada kabar apapun dari mereka, dan mereka juga yang waktu itu melarang Faris untuk melakukan otopsi, dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal menurut Faris.


Pada saat itu, Faris hanya mengikuti apa yang di katakan Komandan Polisi itu, untuk tidak melakukan otopsi pada jenazah keluarganya, karena waktu itu dia sama sekali tidak bisa berfikir banyak. Dan setelah beberapa hari kecelakaan itu terjadi, baru Faris merasa kalau ada yang aneh dengan sikap Komandan Polisi itu.


Sebenarnya Faris bisa saja mengangkat kembali jenazah keluarganya untuk melakukan otopsi, terutama jenazah kedua orang tuanya yang sama sekali tidak bisa di kenali, karena sudah hangus terbakar. Tapi dia memilih untuk tidak melakukan itu, biar dia bisa dengan mudah menangkap mereka, yang sudah berani menghancurkan keluarganya, dengan begitu kejamnya.


Faris yang sudah menepikan mobilnya di seberang jalan, tidak melepaskan pandangannya sama sekali dari kantor Polisi yang ada di seberang sana. Faris sangat berharap ada jejak yang akan dia temui malam itu, karena dia tidak akan bisa tenang, kalau belum bisa menemukan tanda-tanda mengenai keberadaan orang tuanya.


Sudah hampir satu jam Faris menunggu, namun dia tidak melihat ada yang aneh atapun mencurigakan. Akhirnya Faris memutuskan untuk segera pulang, dan akan melanjutkan pencarian kedua orang tuanya besok malam, apalagi dia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 12:30 malam.


Dengan segera Faris langsung menyalakan mobilnya, tapi di saat dia mau menjalankan mobilnya, dia melihat ada dua orang yang baru keluar dari dalam kantor Polisi sambil mengobrol. Tanpa menunggu lama, Faris langsung membunuh kembali mesin mobilnya, karena dua orang yang dia lihat itu, salah satunya adalah orang yang dia curigai, yang tidak lain adalah Komandan Polisi itu.


Faris sangat penasaran dengan orang yang bersama Komandan Polisi itu, tapi dia tidak bisa mengenalinya, karena jarak mereka lumayan jauh, dan laki-laki itu juga menggunakan topi di kepalanya, sehingga membuat Faris susah untuk melihat wajahnya dengan jelas.


Setelah memberikan amplop, laki-laki itu segera menyalami Komandan Polisi, dan berbalik kemudian membuka pintu mobil. Dan di saat laki-laki itu mau memasuki mobil, dia melepaskan topi dari kepalanya terlebih dulu, yang membuat wajahnya terlihat begitu jelas.


Mata Faris terbuka lebar saking kagetnya, setelah melihat orang yang sedang dia cari berada di depan matanya. Laki-laki yang bersama Komandan Polisi itu ternyata Pak Frengki Papanya Bela.


Semua kecurigaan Faris ternyata benar, kalau Komandan Polisi itu terlibat dalam kecelakaan keluarganya. Faris yang sudah mengetahui semuanya, ingin sekali turun dari mobil dan menghabisi kedua orang itu. Tapi dia berusaha sekuat hati untuk mengendalikan dirinya, karena menurut dia, kematian saja tidak cukup untuk membalas semua perbuatan mereka.


Setelah mobil yang di naiki Pak Frengki melaju, Komandan Polisi itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi. Sedangkan Faris, tidak pakai menunggu lama, dia segera mengikuti mobil Pak Frengki.


Faris memilih untuk mengikuti Pak Frengki, karena dia tahu, Pak Frengki akan pergi ke tempat di mana orang tuanya di sekap. Sebenarnya Faris sudah tidak sabar untuk membalas perbuatan Pak Frengki, tapi dia tidak mau gegabah sebelum dia menemukan kedua orang tuanya.


Faris yang sedang mengemudi, memilih untuk menghubungi beberapa anak buahnya untuk menyusulnya. Dan dia juga menyuruh anak buahnya yang lain, untuk segera mengawasi rumah Komandan Polisi itu.


Mobil yang di naiki Pak Frengki melaju dengan kecepatan tinggi menuju jalan keluar kota. Dan jalan itulah yang di lewati keluarganya sebelum terjadi kecelakaan. Dan Faris yang sedang mengikutinya dari belakang semakin yakin, kalau kecelakaan yang terjadi pada keluarganya itu, memang sudah di rencanakan oleh Pak Frengki dan rekan-rekannya.


Naluri membunuh yang memang sudah tertanam di dalam diri Faris sejak kecil, sudah kembali muncul, tapi dia berusaha untuk mengendalikannya demi keselamatan kedua orang tuanya, juga keselamatan Reza dan Melda. Karena Faris yakin, semua yang terjadi pada keluarganya itu perbuatan Pak Frengki, termasuk hilangnya Melda.


Faris melajukan mobilnya dengan tampang yang sangat menakutkan. Dia sudah terlihat seperti predator yang siap memangsa sasarannya. Sekujur tubuhnya sudah bergetar, dan bola matanya yang putih sudah berubah menjadi merah karena menahan amarahnya.


Itulah sikap dan ekspresi Faris apabila naluri membunuh yang ada dalam dirinya muncul. Dia seperti manusia yang di rasuki setan, dan semua orang yang sudah mengenalnya, selalu takut di saat melihat dia sudah berekspresi seperti itu. Karena kalau sudah seperti itu, dia tidak akan bisa tenang, kalau tidak ada darah yang membasahi tangannya.


Faris memang sudah berjanji kepada kedua orang tuanya, juga kepada Aleta kalau dia tidak akan pernah menghilangkan nyawa orang lagi. Tapi untuk masalah ini, dia sendiri tidak yakin bisa menepati janjinya itu.