CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 29. Pelindung juga pendamping hidup.


Aleta yang melihat kemarahan Alira, jadi semakin takut sampai dia tidak sanggup untuk mengangkat mukanya, juga tidak bisa untuk berkata apa-apa. Aleta yang berada di belakang Faris hanya bisa menundukan kepalanya sambil berlinang air mata.


"Cepat pakai pakaian kalian,,! Mama sama papa tunggu di luar. Kata Alira dan langsung berbalik sambil menarik tangan Fahri pergi dari kamar.


Setelah Fahri dan Alira keluar dari kamar, tanpa menunggu lama Aleta bergegas untuk berpakaian, sedangkan Faris dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Aleta memakai pakaiannya sambil terisak karena dia sangat merasa bersalah atas apa yang sudah dia dan Faris perbuat selama ini. Sebenarnya Aleta juga tidak ingin terus melakukan hal itu dengan Faris tanpa adanya ikatan pernikahan, tapi dia selalu lemah di saat Faris sudah mendekatinya.


Selesai berpakaian, Aleta memilih untuk berdiri di depan jendela kamar sambil terus menangis, dan tidak berapa lama Faris pun keluar dengan hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya.


Faris yang melihat Aleta hanya bisa menarik nafas panjang sambil menggaruk kepalanya, kemudian dia segera bergegas memakai pakaiannya yang sudah di siapkan Aleta di atas tempat tidur.


Aleta yang dari kecil hidup tanpa orang tua sudah terbiasa mandiri, jadi semua yang jadi pekerjaan wanita sudah bisa dia lakukan termasuk menyiapkan pakaian buat Faris, walaupun Faris tidak memintanya.


Setelah sudah rapi, Faris langsung melangkah menghampiri Aleta, dan setelah berada tepat di belakang Aleta, Faris langsung meraih pundak Aleta sambil berkata.


"Aleta,, sudahlah kamu ngga usah menangis, semua ini bisa aku atasi. Kata Faris.


"Tapi aku tetap ngga enak sama orang tua kamu,,! Mereka pasti menyalahkan aku. Kata Aleta sambil berlinang air mata setelah berbalik menghadap Faris


"Aku yang mereka salahkan,, bukan kamu,,! Percaya padaku semua akan baik-baik saja. Kata Faris sambil memegang wajah Aleta dengan ke dua tangannya.



"Fariiis,, aku ngga mau pisah dari kamu,,! Aku takut orang tua kamu akan memisahkan kita setelah ini. Kata Aleta dengan bercucuran air mata.


"Kamu ngga usah berfikir macam-macam,,! Sekarang hapus air mata kamu dan kita keluar temui mama papa aku. Kata Faris dengan tenangnya.


Faris selalu tenang dalam menghadapi orang tuanya, karena dia tahu kalau orang tuanya adalah orang tua yang sangat bijaksana dan berfikiran dewasa, jadi Faris tahu kalau orang tuanya tidak menyalahkan Aleta sama sekali.


Faris dan Aleta melangkah menuruni tangga sambil berpegangan tangan, tapi sampainya di lantai bawah, Aleta langsung menarik tangannya setelah mereka sudah berada dekat dengan orang tua Faris, yang sedang mengobrol di ruang depan.


Alira dan Fahri yang melihat Faris dan Aleta langsung memasang tampang yang sangat dingin, dan itu membuat Aleta kembali takut, sedangkan Faris, dia hanya bersikap biasa-biasa saja.


"Ayo duduk,,! Kata Fahri.


Tanpa menjawab apa-apa, Faris dan Aleta segera duduk bersebelahan tepat di hadapan Fahri dan Alira, yang tidak henti-hentinya menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kalian pasti akan lakukan itu,, tapi setelah kalian menikah, mama sama papa tidak pernah ajarkan kamu untuk melecehkan anak gadis orang Faris,,! Mama mau kamu itu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Sambung Alira.


"Mengapa kamu ngga jawab Faris,,? Tanya Fahri dengan nada yang sudah mulai kesal.


"Aku akan segera menikahi Aleta secepatnya pa,,! Jawab Faris dengan tenangnya sambil menatap ke dua orang tuanya.


Mendengar jawaban Faris barusan, membuat Alira dan Fahri saling menatap tanpa berkata-kata, dalam hati Fahri dan Alira sangat bahagia karena Faris mau untuk memikirkan pernikahan, karena selama ini jangankan menikah, berpacaran saja Faris ngga pernah.


"Tapi minggu depan kamu ada perjalanan bisnis ke luar negri. Kata Fahri papanya.


"Aku mau kita menikah sebelum berangkat pa, ma. Jawab Faris.


Sedangkan Aleta yang duduk di samping Faris, hanya terdiam karena dia sangat gugup berhadapan dengan orang tua Faris, setelah orang tua Faris mengetahui semua yang terjadi antara dia dan Faris.


"Ya sudah,, kalau gitu sekarang kita pulang ke rumah untuk mengurus semuanya. Sambung Alira mamanya.


Setelah itu Fahri dan Alira kembali menanyakan tentang penyebab lukanya Faris, dengan santainya Faris menjelaskan semuanya yang membuat orang tuanya langsung kaget, Fahri dan Alira yang mendengar semuanya hanya menatap Faris dengan mata yang terbelalak tanpa bisa berkata apa-apa.


Fahri dan Alira tidak bisa untuk berkata apa-apa, melihat putra mereka yang menjelaskan masalah sebesar itu dengan begitu tenangnya, karena sama sekali tidak ada rasa bersalah di raut wajahnya.


Sebagai orang tua Fahri dan Alira selalu menasihati Faris agar tidak melakukan hal itu lagi, mereka juga pernah membawa Faris untuk memeriksa mentalnya ke Dr khusus, dan kata Dr, semua itu karena pengaruh suatu kejadian yang membuatnya sangat terpukul juga tertekan.


Dan Dr memberi solusi untuk tidak membuatnya marah yang berlebihan, dan jangan terlalu menekannya agar dia bisa melupakan semua kejadian yang membuatnya menjadi seperti itu.


Selesai membereskan semua barang-barang mereka, Faris dan Aleta langsung masuk ke dalam mobil dan melaju mengikuti mobil papanya yang sudah duluan pergi.


Di dalam perjalanan, Aleta selalu melirik Faris yang sedang fokus menyetir tanpa bersuara, dalam diam dia merasa bingung dengan sifat Faris yang sangat jauh berbeda dengan ke dua orang tuanya.


Tapi Aleta tetap bangga dengan laki-laki yang dia cintai itu, karena semua yang Faris lakukan itu, semata-mata hanya untuk melindungi orang-orang yang dia sayang, walaupun dia harus mengotori tangannya dengan darah.


Menyadari Aleta yang terus meliriknya sejak tadi, membuat Faris berbalik dan menatap Aleta dengan mata sayunya, kemudian dia meraih tangan Aleta dan mencium tangan Aleta dengan begitu mesranya.


Sedangkan Aleta hanya tersenyum melihat apa yang Faris lakukan, karena di balik sifatnya yang menakutkan juga kurang peka terhadap wanita, Faris adalah laki-laki yang sangat sweet dan hangat.


Aleta sangat bahagia menemukan pendamping hidup seperti Faris, karena selain menjadi pendamping hidupnya, Faris juga menjadi pelindung yang membuatnya selalu merasa aman.