CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 109. Jiwa Monster Faris Yang Menggila.


Faris yang sedang mengiku mobil Pak Frengki yang sedang melewati jalan ke luar kota, merasa semakin yakin, kalau Pak Frengki sedang menuju tempat di mana orang tuanya berada, karena mereka sudah melewati tempat kecelakaan keluarganya.


Hampir satu jam mengemudi, Faris tiba-tiba menepikan mobilnya, di saat dia melihat mobil yang di naiki Pak Frengki belok dan masuk ke jalan menuju hutan. Jalanan itu terlihat seperti tidak pernah di lewati orang, karena jalan yang berukuran kecil itu, di tumbuhi banyak rumput juga pepohonan besar di sepanjang jalan.


Faris menunggu sampai mobil Pak Frengki tidak terlihat lagi, baru setelah itu dia segera menjalankan mobilnya mengikuti mereka. Faris yang sedang mengemudi, sudah tidak sabar untuk mengetahui tujuan Pak Frengki datang ke tengah hutan di tengah malam seperti itu, tapi dia berusaha untuk tetap bersabar, demi menemukan kedua orang tuanya.


Faris yang sudah memasuki jalan menuju tengah hutan itu, merasa sangat bingung dan penasaran, karena dia tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tidak ada rumah ataupun manusia yang terlihat di sepanjang jalan, sambil menyetir Faris pun berkata-kata dalam hatinya.


"Kemana dia mau pergi,,? Apakah dia menyekap orang tuaku di dalam hutan ini,,? Kalau memang benar dia menyekap orang tuaku di dalam hutan ini, aku berjanji tidak akan membiarkan dia keluar dari dalam hutan ini dengan selamat." Faris berkata-kata dalam hatinya dengan tampang yang sangat menakutkan.


Setelah beberapa meter Faris memasuki jalan kecil itu, dengan tiba-tiba dia langsung menepikan mobilnya, setelah melihat ada sebuah rumah tua di depan sana, dan di depan rumah itu, ada mobil Pak Frengki yang sudah terparkir, juga ada beberapa laki-laki yang sedang berdiri di sana.


Melihat rumah tua dan beberapa orang penjaga di depannya, membuat keyakinan Faris semakin kuat, kalau kedua orang tuanya pasti di sekap di dalam rumah itu. Dada Faris seketika berdetak kencang, setelah dia melihat kondisi rumah yang ada di depan matanya. Dia tidak bisa membayangkan keadaan orang tuanya, kalau memang benar mereka ada di dalam sana.


Rasa-rasanya Faris ingin segera turun dan menerobos masuk ke dalam rumah tua itu, tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena dia sudah memperhitungkan bahaya yang akan dia hadapi nanti di dalam sana.


Faris yang sudah memperhitungkan segalanya, memilih untuk memarkirkan mobilnya di bawah pohon, yang jaraknya sekitar beberapa meter dari jalan, biar tidak terlihat kalau nanti ada yang melewati jalan itu. Setelah memarkirkan mobilnya, kemudian dia turun dari mobil dan langsung menghubungi anak buahnya, yang sudah dalam perjalanan untuk memberitahukan lokasi keberadaannya saat itu.


Sedangkan di rumah besar keluarga Permana, Aleta dan Tante Leni juga Boy, sedang berada di ruang keluarga. Mereka bertiga sangat menghawatirkan Faris yang belum memberikan kabar, juga Melda dan Reza yang belum ada kabar sama sekali.


Sambil mengobrol dengan Tante Leni dan Boy, Aleta tidak henti-hentinya berdoa dalam hati untuk keselamata semua anggota keluarganya. Aleta merasa sangat sedih dengan semua musibah yang menimpa keluarga mereka, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya doa yang bisa dia panjatkan untuk keselamatan mereka.


Baru beberapa menit mengobrol, Aleta segera berpamitan kepada Tate Leni dan Boy untuk melihat keadaan Almira di kamar. Dia selalu merasa tidak tenang meninggalkan Almira di kamar, walaupun cuma sesaat. Padahal di dalam kamar itu, sudah ada Dr pribadi Almira dan dua orang bibi yang sedang menjaga Almira.


Aleta adalah wanita yang sangat penyayang dan memiliki hati yang tulus, dia menjaga dan merawat Almira dengan sepenuh hatinya. Selama Faris tidak berada di rumah, dia selalu ada untuk Almira, sampai-sampai dia rela tidak tidur demi menjaga Almira yang juga tidak bisa tidur sejak tadi.


Aleta sangat merasa bingung dengan Almira malam itu, karena biasanya dia tidak seperti itu. Malam-malam sebelumnya, Almira selalu tidur dengan pulas, tapi malam itu, dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, yang membuat dia tidak bisa untuk memejamkan matanya.


Aleta ingin sekali mengajak adik iparnya itu untuk mengobrol, tapi dia takut karena emosi Almira belum bisa di tebak. Selain itu, Almira juga belum bisa banyak bicara, dia sudah bisa bergerak seperti orang yang sudah sehat, tapi tatapannya masih kosong seperti orang yang kebingungan. Akhirnya Aleta hanya terdiam, sambil menatap Almira dengan tatapan sendunya.



Anak buah Faris yang ada bersamanya saat itu berjumlah sepuluh orang, dan mereka itu adalah orang-orang yang sudah biasa terjun dalam masalah-masalah seperti itu. Jadi untuk mereka, itu bukanlah tugas yang berat, di tambah lagi dengan Faris yang memiliki jiwa monster, membuat mereka tidak segan-segan menghabisi siapapun yang berani melawan mereka.


"Bagaimana langkah selanjutnya Bos,,?" Tanya salah seorang anak buah Faris.


"Kita harus kepung rumah tua itu. Tapi ingat, jangan biarkan ada yang lolos dari dalam rumah itu,,! Tangkap mereka semua,,! Bila perlu habisi mereka,,!" Kata Faris dengan tampang yang sangat menakutkan.


"Baik Bos,,!" Jawab semua anak buah Faris bersamaan.


Semua anak buah Faris itu adalah pembunuh bayaran yang sangat di takuti banyak orang, tapi mereka malah merinding di saat melihat ekspresi Faris yang terlihat seperti predator yang siap memangsa sasarannya. Mereka seperti itu, karena mereka semua sudah mengenal sifat Faris yang sebenarnya, karena mereka semua sudah bekerja untuk Keluarga Permana sejak Faris masih sangat kecil.


Faris yang begitu cerdas dalam segala hal, sudah menyusun strategi untuk mengepung dan melumpuhkan orang-orang yang ada di dalam rumah itu, terutama Pak Frengki yang sudah Faris tunjukkan fotonya kepada mereka semua.


Faris adalah orang yang sangat cerdas dalam segala hal, termasuk dalam mengatur strategi. Dia mengatur semua strategi dengan perhitungan yang sangat matang, dan setelah itu, tanpa menunggu lama mereka pun langsung berpencar mengepung rumah itu.


Faris dan semua anak buahnya yang sudah berpencar, segera melakukan tugas mereka secara bersamaan. Mereka semua serentak masuk dan melakukan penyerangan, setelah mendengar suara tembakan dari Faris, yang sudah berada di belakang rumah tua itu.


Setelah tembakan di bunyikan, tanpa menunggu lama, salah seorang anak buah Faris langsung menendang pintu belakang rumah itu dengan sangat kuat, dan pintu pun langsung terbuka.


Setelah pintu terbuka, Faris langsung masuk, tapi tiba-tiba ada beberapa laki-laki berotot berlari dari arah depan, sambil mengarahkan pistol ke arah Faris. Tapi Faris yang sudah seperti orang yang kerasukan setan, tidak gentar sama sekali menghadapi mereka, tapi dia malah semakin bernafsu melihat benda berbahaya yang ada di tangan mereka.


Dengan penuh amarah, Faris yang sudah terlihat seperti iblis, segera membunyikan beberapa kali tembakan ke arah orang-orang yang ada di depannya itu, sehingga membuat mereka semua tersungkur di lantai dengan berlumuran darah.


Tanpa bersuara Faris menghilangkan nyawa orang yang ada di dalam rumah itu satu persatu. Apalagi di saat dia melihat darah, naluri monsternya semakin menggila, sehingga membuat dia tidak bisa berhenti untuk membunyikan pistol di tangannya. Sampai-sampai beberapa anak buahnya yang ada di belakangnya, tidak sempat untuk melakukan apa-apa.


Tidak ada suara yang terdengar selain suara tembakan, dari depan, dari samping maupun dari belakang rumah itu di penuhi dengan suara tembakan. Faris dan sepuluh orang anak buahnya yang memang sudah terlatih dan terbiasa dalam hal seperti itu, tidak sulit untuk mereka menghadapi hampir tiga puluh orang yang ada di depan mereka.