
Melda menangis bukan karena dia wanita yang cengeng, tapi karena dia takut tidak bisa keluar dari rumah itu, dan tidak bisa menyelamatkan Om dan Tantenya yang sedang dalam bahaya.
Melda duduk di samping Reza dengan tampang yang terlihat sangat murung. Dia sangat kepikiran dengan nasib Om dan Tantenya, yang sedang di sekap oleh orang jahat yang dia sendiri tidak tahu siapa mereka ,dan alasan apa sampai mereka bisa setega itu dengan keluarga Permana.
Sedangkan Reza yang berada di sampingnya, hanya terdiam sambil sesekali melirik Melda. Reza sangat merasa kasihan dengan Melda yang terlihat begitu menyedihkan. Karena di saat dia baru kehilangan keluarganya, dia sudah di hadapkan dengan masalah sebesar ini, di culik dan akan di jual.
Dalam hati, Reza berjanji pada dirinya sendiri, apapun caranya dan apapun resikonya, dia akan menyelamatkan gadis malang yang tidak berdosa itu. Apalagi dia sudah mendengar dari Aleta, kalau Melda sangat menyayanginya dan memperlakukannya seperti saudara kandung, bukan saudara ipar.
Bagi Reza, siapapun orangnya, selama mereka menyayangi adiknya, dia akan membalasnya walaupun dengan nyawanya sendiri. Kasih sayang Reza terhadap Aleta melebihi apapun, dia rela melakukan apa saja demi adiknya itu.
Setelah mereka berdua duduk tanpa ada pembicaraan hampir satu jam, tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu kamar. Dengan segera Reza langsung berdiri untuk membuka pintu, sedangkan Melda yang masih duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu, terlihat sangat tegang.
"Ada apa,,?" Tanya Reza setelah pintu terbuka.
"Kata Pak Rendra, Pak Reza di suruh untuk membawa wanita itu segerah,,! Karena sudah ada yang menunggunya di bar." Jawab anak buah Pak Rendra yang berdiri di depan pintu.
"Siapa yang menunggunya,,?" Tanya Reza dengan tatapan mencari tahu.
"Bos di bar itu, bersama orang yang mau menyewanya malam ini." Jawab laki-laki itu yang membuat Melda tambah menegang dan ketakutan.
Mendengar apa yang di katakan oleh laki-laki yang berdiri di depan pintu kamar, membuat nafas Melda hampir saja putus saking terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau dia sudah menjadi barang dagangan orang. Tapi Melda tidak bersuara sama sekali, dia hanya terdiam sambil menatap Reza dari arah belakang dengan tampang ketakutan.
"Ya sudah, aku akan segera berangkat." Jawab Reza santai.
Mendengar perkataan Reza, anak buah Pak Rendra itu langsung pergi, dan Reza pun langsung berbalik dan melangkah menghampiri Melda kemudian berkata.
"Ayo bersiap,,! Kita akan pergi sekarang juga." Kata Reza dan Melda pun langsung berdiri.
Tapi di saat Melda mau melangkah, Reza langsung menahannya, karena dia melihat ekspresi Melda yang begitu tegang. Melda pun jadi bingung karena Reza meraih lengannya dan menatapnya dengan tatapan yang aneh. Dan tanpa menunggu lama Melda pun langsung bertanya.
"Ada apa,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza.
"Jangan terlalu tegang,,! Di luar sana ada cctv dan ada banyak anak buah Bos aku. Aku tidak mau mereka curiga." Kata Reza dan Melda hanya menganggukan kepalanya.
Setelah itu, tanpa menunggu lama mereka langsung bergegas keluar dari kamar. Melda yang melangkah di belakang Reza, berusaha untuk bersikap santai seperti apa yang tadi Reza katakan. Tapi setelah sampai di lantai bawah, dia kembali menegang di saat salah seorang anak buah Pak Rendra, menghampiri mereka dan berkata.
"Ayo Pak kita pergi,,!" Kata seorang laki-laki yang baru Melda lihat di rumah itu.
"Ayo,,!" Jawab Reza yang membuat Melda jadi bingung, dan semakin menegang di belakang Reza.
"Kenapa dia mau di antar oleh laki-laki itu,,? Bagaimana caranya kita bisa kabur, Kalau ada yang pergi bersama kita,,?" Melda berkata-kata dalam hatinya dengan tampang kebingung juga ketakutan.
Melda duduk di bangku mobil bagian belakang, sedangkan Reza duduk di samping anak buah Pak Rendra yang sudah duduk di balik kemudi. Dalam perjalanan, Melda hanya terdiam sambil sesekali melirik Reza dan laki-laki yang sedang menyetir itu, lewat kaca spion yang ada di atas kepala mereka.
Dan Melda semakin bingung dengan sikap Reza yang terlihat begitu santai, dan ekspresi Reza itu, membuat Melda jadi berfikiran buruk tentangnya. Melda jadi meragukan Reza, dia takut kalau semua yang Reza lakukan itu hanya untuk menjebaknya.
Melda semakin ketakutan, dia berfikir kalau dia sudah di jebak oleh Reza. Sambil menundukkan kepalanya, Melda pun berkata-kata dalam hatinya.
"Ya Tuhan,, apa salah aku,,? Sampai aku harus di hukum seperti ini,,?" Melda berkata-kata dalam hatinya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Saking ketakutan, sampai Melda tidak berani untuk mengangkat mukanya ataupun membuka matanya. Dia hanya menunduk sambil memejamkan mata dengan perasaan yang sudah bercampur aduk. Tapi tiba-tiba Melda kaget dan langsung menatap ke depan, di saat dia mendengar obrolan antar Reza dan laki-laki yang sedang mengemudi itu.
"Terimakasih banyak bro, kamu sudah mau membantuku." Kata Reza yang membuat Melda langsung mengangkat mukanya, dan menatap mereka dengan tampang kaget juga bingung.
"Ngga usah berterima kasih bro,,! Apa yang aku lakukan ini, belum seberapa di bandingkan dengan apa yang kamu lakukan padaku." Jawab laki-laki itu.
"Tapi kamu harus berhati-hati, jangan sampai ketahuan." Kata Reza kepada laki-laki itu.
"Iya bro, tenang saja,,!" Jawab laki-laki itu.
Setelah mendengar obrolan antara Reza dan laki-laki itu, membuat Melda langsung bernafas lega, apalagi di saat dia melihat ke luar melewati kaca mobil, karena ternyata mereka sudah berada di bandara.
Melda merasa sangat bahagia, begitupun dengan Reza, karena mereka berfikir, sebentar lagi mereka akan terlepas dari semua masalah di negeri Jiran itu. Sampainya di depan bandara, laki-laki itu langsung menepikan mobilnya, dan menyuruh Reza dan Melda untuk turun.
Tanpa menunggu lama, Reza dan Melda langsung buru-buru ingin membuka pintu mobil untuk keluar, tapi belum sempat pintu terbuka, sudah ada tembakan dari arah belakang mobil yang membuat mereka bertiga jadi terkejut, dan dengan segera Reza langsung menyuruh laki-laki yang itu untuk kembali melajukan mobilnya.
"Tancap gas,,!" Kata Reza dengan tampang yang sudah sangat panik.
Mereka tidak menyadari keberadaa mobil itu, karena sejak tadi tidak ada mobil di belakang mereka. Dan di saat ada tembakan, baru mereka lihat, ternyata tembakan itu berasal dari mobil yang sedang parkir di tepi jalan, tidak jauh di belakang mobil mereka.
Akhirnya laki-laki itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan Melda yang berada di bangku bagian belakang, langsung berteriak dan menangis karena tembakan ke arah mobil mereka sama sekali tidak berhenti. Melihat Melda yang begitu ketakutan, membuat Reza dengan gerakan cepat langsung pindah ke belakang untuk duduk bersama Melda.
Reza yang sudah menyiapkan pistol sejak tadi di dalam jaketnya, segera mengeluarkannya, dan menembak mobil yang sedang mengejar mereka itu, sambil memeluk Melda dengan sebelah tangannya.
Mobil yang mengejar mereka itu melaju dengan sangat kencang, untung saja tembakan Reza tepat pada sebelah ban depannya, sehingga membuat mereka bisa meloloskan diri dari kejaran orang-orang di dalam mobil itu, yang tidak merekaa kenali sama sekali.