CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
114. Melda Yang Kebingungan Di Dalam Kamar Mandi.


Faris dan keluarganya sangat bahagia karena Papa Fahri dan Mama Alira, masih bisa di selamatkan. Setelah hampir satu jam menunggu di depan ruang UGD, Dr yang menangani orang tuanya Faris pun keluar, dan tanpa menunggu lama, Tate Leni yang sejak tadi tidak berhenti menangis, langsung buru-buru menghampiri Dr itu, dan menanyakan keadaan orang tua Faris.


"Bagaimana keadaan mereka Dok,,?" Tanya Tante Leni sambil menghapus air matanya.


"Keadaan Pak Fahri dan Ibu Alira sudah tidak perlu di khawatirkan lagi. Karena mereka sudah berhasil di tangani." Jawab Dr itu yang membuat Tate Leni, langsung berbalik memeluk Faris sambil tersenyum dan berkata.


"Dengar apa kata Dr sayang,,! Orang tua kamu sslamaat." Kata Tante Leni penuh bahagia.


"Iya Tante, sekarang yang harus aku fikirkan adalah Melda juga Reza." Jawab Faris.


"Kamu ngga usah khawatir Ris,,! Melda ngga sendiri, ada Reza bersamanya." Sambung Boy sambil mengusap-usap punggung Faris.


"Aku tahu, tapi aku tetap harus mencarinya, karena Melda itu tidak bisa hidup dengan orang lain selain keluarganya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, yang dia bisa hanya makan, tidur, main dan berdandan." Kata Faris sambil tersenyum kecil mengingat kelakuan Melda yang centil.


"Iya benar, anak genit itu tidak bisa melakukan apa-apa." Kata Tante Leni sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya dari Faris.


"Eh Riis,, tapi bagaimana kamu bisa menemukan Om dan Tante,,?" Tanya Boy sambil menatap Faris dengan tatapan cari tahu.


"Iya Ris,, Tante juga sangat penasaran." Sambung Tante Leni.


"Nanti aku ceritakan semuanya di rumah." Jawab Faris.


"Ya udah,, kalau gitu sekarang mending kamu pulang dulu,,! Biar Tante dan Boy yang menjaga Mama dan Papa kamu.


"Iya Tante,, aku ingin melihat keadaan Almira dan Aleta." Jawab Faris.


***********


Sedangkan di Malaysia, Melda yang sedang tidur di kamar anaknya Tate Mawar, tidak bisa tidur walaupun sudah larut malam. Dia terus menangis sejak tadi karena dia teringat dengan kedua orang tuanya. Sambil memeluk guling yang ada di sampingnya, Melda pun berkata-kata dalam hatinya.


"Maaa,, Paaa,, aku sangat merindukan kalian. Aku tidak tahu harus bagaimana hidup tanpa kalian. Maaa,, Paaa,, mengapa kalian harus pergi dariku,,?" Melda berkata-kata sambil terus menangis.


Tanpa Melda sadari, Tante Mawar sedang melihatnya dari balik pintu, yang memang tidak tertutup rapat. Tante Mawar sangat merasa kasihan dengan Melda, apalagi dia tidak memiliki anak perempuan.


Karena tidak tega melihat keadaan Melda, Tante Mawar pun langsung mengetuk pintu dan masuk menemui Melda. Melihat Tante Mawar, Melda tambah menangis dan segera memeluk Tante Mawar. Dengan penuh kasih sayang, Tante Mawar membalas pelukan Melda dan berkata.


"Kamu harus sabar sayang,,! Ikhlaskan kepergian orang tuamu,,! Biar mereka tenang di alam sana. Tante yakin, Tuhan akan memberikan seseorang yang baik suatu saat nanti, untuk menemani hidupmu." Kata Tante Mawar sambil mengusap-usap punggung Melda.


Dengan kasih sayang seorang ibu, Tante Mawar akhirnya berhasil membuat Melda tenang. Dan setelah itu, Tate Mawar pun berpamitan kepada Melda, untuk kembali ke kamarnya karena waktu sudah sangat larut.


"Tante pergi dulu ya sayang,, jangan menangis lagi,,!" Kata Tate Mawar sambil mengusap-usap kepala Melda, dan Melda hanya mengangguk sambil tersenyum.


Di rumah yang sederhana itu hanya terdapat tiga kamar, yang satunya kamar Tante Mawar dan suaminya, dan yang lainnya kamar anak Tante Mawar dan kamar tamu. Karena hanya ada tiga kamar, akhirnya anak Tante Mawar harus tidur bersama orang tuanya, dan kamarnya di tempati sama Melda, sedangkan kamar tamu, di tempati oleh Reza dan Reno.


Setelah Tante Mawar pergi, Melda yang sudah tidak menangis lagi, segera bergegas ke kamar mandi karena dia merasa celananya sudah sangat lengket. Setelah dia memeriksa celananya, dia langsung menarik nafas panjang dan membuanya kasar kemudia berkata.


"Astagaa,,! Bangaimana ini,,? Aku sudah tidak punya celana ganti." Kata Melda dengan tampang yang terlihat bingung, karena melihat dara haidnya sudah tembus ke celananya, dan itu sangat banyak.


Dan di saat Melda sedang kebingungan di dalam kamar mandi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi yang membuatnya langsung panik.


Melda bingung harus bagaimana, dia mau keluar tapi dia merasa sangat malu, karena darah haidnya sudah tembus memenuhi celananya. Dia belum mau keluar tapi orang yang ada di luar tidak henti-hentinya mengetuk pintu, akhirnya dengan terpaksa Melda pun akhirnya membuka pintu, dan keluar dari kamar mandi.


"Kamuuuu,,!" Kata Melda setelah melihat Reza sedang berdiri bersandar di samping pintu kamar mandi.


"Ngapain saja kamu di dalam,,? Lama bangat." Kata Reza dengan tampang datarnya.


Ternyata di saat Melda masuk ke kamar mandi tadi, Reza sempat melihatnya di saat dia keluar dari kamarnya, dan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil, dan dia memilih untuk menunggu di depan kamar mandi. Tapi karena Melda berada di dalam terlalu lama, akhirnya dia segera mengetuk pintu.


"Akuu,, akuuu,," Kata Melda dengan begitu gugup, dan Reza yang tidak tahan mau buang air kecil langsung masuk ke dalam kamar mandi, sebelum Melda selesai berkata-kata.


Selesai buang air kecil, Reza pun keluar dan dia langsung terkejut, karena Melda masih tetap berada di depan pintu kamar mandi. Akhirnya dengan tampang kebingungan Reza pun bertanya.


"Ngga,," jawab Melda sambil menggelengkan kepalanya.


"Trus ngapain kamu masih di sini,,? Mau ngintipin aku,,?" Tanya Reza lagi yang membuat Melda jadi merasa kesal.


"Siapa yang mau ngintipin kamu,,? Kamu kira aku cewek apaan,,?" Tanya Melda dengan tampang kesalnya.


"Ya sudah,, kalau gitu minggir sana,,! Aku mau lewat." Kata Reza sambil melangkah maju, tapi Melda malah menahannya sambil berkata.


"Tunggu dulu,,!" Kata Melda sambil menarik ujung baju Reza.


"Ada apa lagi,,?" Tanya Reza sambil menatap Melda dengan tampang mencari tahu.


"Aku ngga ada celana ganti, dan celana aku harus di ganti." Jawab Melda malu-malu.


"Trus apa hubungannya sama aku,,?" Tanya Reza dengan tampang kebingungan.


"Celana aku sudah tembus, kalau ngga bilang sama kamu, aku harus bilang sama siapa,,? Kalau bilang sama yang lain aku malu." Kata Melda sambil menundukkan kepalanya.


Reza yang sudah tahu kalau Melda sedang datang bulan, langsung menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata.


"Trus aku harus ngapain,,?" Tanya Reza sambil menatap Melda yang masih terus menunduk.


"Aku kan ngga punya uang, aku mau pinjam sama kamu, nanti kalau aku sudah bisa menghubungi Mas Faris, baru aku ganti." Kata Melda sambil menatap Reza.



"Aku ngga punya uang sekarang, nanti besok aku minta Reno antarin aku ke pasar buat ambil uang di ATM, baru aku kasih." Kata Reza.


"Sekarang kamu tidur dulu,,! Dan pakai apa dulu yang ada,,! Aku juga mau tidur." Kata Reza dan langsung melangkah pergi menuju kamar tidurnya.


Setelah Reza pergi, Melda pun langsung pergi menuju kamar tidurnya, dan sampainya di kamar, dia pun langsung memilih untuk tidur, karena dia merasa masih sangat ngantuk.


***********


Sedangkan di Indonesia, Faris sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. Dia pulang untuk melihat keadaan Aleta dan Almira. Apalagi tadi Aleta sempat menelponnya, dan katakan kalau Almira tidak bisa tidur. Akhirnya dia memilih untuk segera pulang meninggalkan Tante Leni dan Boy di RS.


Sampainya di rumah, Faris langsung melangkah menuju kamar, dan setelah berada di depan pintu kamar, langkah Faris langsung terhenti di saat matanya tertuju ke atas tempat tidur. Faris merasa sangat terharu melihat istrinya, sedang memangku kepala Almira dan mengusap-usap kepalanya sambil menceritakan cerita dongeng kesukaan Almira.


Tanpa mengetuk pintu, Faris pun langsung melangkah masuk, dan Aleta yang lagi fokus dengan Almira, tidak menyadari keberadaan suaminya. Setelah berada di belakang Aleta, tanpa berkata apa-apa Faris langsung memeluk istri cantiknya itu dari arah belakang, kemudian mengecup pipinya.


Awalnya Aleta sangat terkejut dan hampir berteriak, tapi setelah melihat wajah laki-laki tampannya itu, Aleta pun langsung tersenyum sambil berkata.


"Maas,, kamu sudah pulang,,? Trus bagaimana keadaan Mama sama Papa,,?" Tanya Aleta.


"Keadaan mereka sudah lebih baik, karena sudah di tangani Dr. "Jawab Faris.


"Maas,, aku sangat bersyukur dan bahagia, karena Tuhan masih mengembalikan Mama sama Papa buat kita. Tapi bagaimana dengan Melda dan Bang Reza,,?" Tanya Aleta tanpa berbalik menatap Faris, yang masih terus memeluknya dari belakang.


"Iya aku juga sangat bahagia. Kalau masalah Melda dan Reza, aku juga sangat kepikiran sama mereka, tapi tenang saja,,! Aku sudah perintahkan Anak buah aku untuk mencari mereka." Kata Faris.


"Aal,, maafkan aku, karena akhir-akhir ini aku jarang di rumah, dan meninggalkanmu mengurus Almira sendirian." Kata Faris sambil menyandarkan wajahnya di pundak Aleta.



"Mas ngga boleh ngomong gitu,,! Aku senang bisa membantu, apalagi Almira juga adik aku yang sangat aku sayangi. Jadi tidak perlu Mas berterima kasih, karena suami istri itu, harus saling membantu dalam situasi apapun." Kata Aleta yang membuat Faris langsung memeluknya dengan begitu erat.


Faris memeluk Aleta sambil mengecup pundak dan leher mulus Aleta. Dan apa yang Faris lakukan itu, membuat Aleta jadi menegang dan mengeluarkan suara yang terdengar begitu seksi di telinga Faris.


Dan suara seksi Aleta itu, akhirnya membuat libido Faris kambuh dengan tiba-tiba. Faris yang sudah tidak bisa menahan hasratnya, langsung memutar tubuh Aleta yang semakin padat untuk menghadapnya. Dan tanpa menunggu lama, dia pun segera ******* bibir seksi istrinya dengan begitu buasnya.