
Reza masih tetap berada di ruang depan, sambil fokus dengan ponsel di tangannya. Dia sangat merasa tidak nyaman, berada di rumah besar yang masih asing baginya itu, tanpa adanya keberadaan Aleta.
Sebenarnya Reza ingin sekali mandi, karena sejak siang tadi dia belum sempat mandi, tapi dia tidak tahu harus mandi di mana, sebab Aleta juga tidak bilang kalau dia harus tidur di kamar yang mana. Sedangkan Melda yang tadi naik ke lantai atas, tidak pernah turun.
Reza sudah berusaha menghubungi Aleta, untuk menanyakan kamar juga kopernya yang tadi di bawa Aleta entah kemana. Tapi Aleta tidak menjawab telepon darinya, bahkan pesan yang dia kirim pun belum di baca sama Aleta. Di saat Reza sedang kebingungan, tiba-tiba datang seorang bibi yang memberitahu dia, kalau makan malam sudah siap.
"Tuan,, makan malamnya sudah siap. Lebih baik Tuan makan dulu." Kata wanita yang sudah berumur hampir 50 tahun, yang bekerja menjadi asisten rumah tangga di situ kepada Reza.
"Aku mau mandi dulu Bi. Di mana ya aku bisa mandi,,?" Tanya Reza.
"Mari saya antar Tuaan. Kamarnya ada di lantai atas, tepat di depan kamar Non Melda. Koper Tuan juga sudah saya taruh di dalam kamar." Kata wanita yang bernama Bi SUsi itu.
"Ngga usah panggil aku Tuan, panggil saja Reza." Kata Reza sambil tersenyum kepada Bi Susi.
"Ngga bisa Tuaan. Keluarga ini sangat terhormat, jadi setiap tamu yang datang di sini, kita harus hormati." Kata Bi SUsi.
"Memangnya itu perintah,,?" Tanya Reza bingung.
"Bukan perintah, tapi semua orang sangat menghormati keluarga ini, dan setiap tamu yang datang di sini, pasti juga orang-orang terhormat, jadi harus di hormati kan Tuan,,?" Kata Bi Susi menjelaskan.
"Semua orang menghormati keluarga ini Bi,,?" Tanya Reza yang masih bingung.
"Iya Tuan,, tidak ada yang bisa menandingi Keluarga Permana. Mereka adalah orang yang paling suksek dan tidak tersaingi." Jawab Bi Susi.
"Oooooo, gitu ya Bi,,?" Tanya Reza dengan tampang yang sangat kebingungan.
Reza sangat kagum dengan Keluarga Permana. Memang dia tahu kalau suami adiknya itu, adalah pengusa sukses. Tapi dia tidak menyangka, kalau Faris itu memang sudah terlahir dari keluarga yang sangat sukses, bahkan tidak tersaingi. Dengan tampang kebingungan, Reza pun berkata-kata dalam hatinya, sambil melangkah menaiki anak tangga.
"Pantasan ajaa, tadi banyak sekali wartawan yang merebut ingin mendapatkan berita dari keluarga Faris. Bahkan baru beberapa menit, semua media cetak juga siaran TV sudah di penuhi dengan berita Keluarga Permana." Gumam Reza dalam hatinya.
"Kenapa Tuan,, apa ada yang bisa saya bantu,,?" Tanya Bi Susi karena melihat Reza yang terdiam.
"Ngga ada apa-apa ko Bi. Cuman aku mau bilang, kalau aku ini bukan orang terhormat ko Bi. Jadi panggil saja aku Reza,,! Soalnya aku ngga nyaman kalau di panggil Tuan." Kata Reza penuh rendah diri.
"Ya udaah,, kalau ngga nyaman, Bibi panggil Den Reza aja. Kalau panggil nama, Bibi ngga bisa Den. Siapapun yang ada di dalam keluarga ini, selalu di hormati. Kita saja yang bekerja sebagai pembantu, kalau kita ke luar, masyarakat di luar sangat segan dan menghormati kita, karena tidak mudah untuk masuk ke dalam keluarga ini." Kata Bi Susi lagi yang membuat Reza tidak bisa untuk berkata apa-apa.
Reza benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia tidak menyangka sebesar itu pengaruh Keluarga Permana. Bahkan pembantu saja di hargai oleh masyarakat luar.
"Ini Den kamarnya,,! Dan itu kamar Non Melda." Kata Bi Susi setelah berada di depan kamar yang mereka tuju.
"Makasih ya Bii." Kata Reza dan Bi Susi pun langsung tersenyum dan melangkah pergi.
"Tanpa menunggu lama, Reza pun langsung masuk ke dalam kamar itu. Sampainya di dalam kamar, dia kembali merasa bingung di saat melihat kamar yang begitu besar, juga sangat mewah itu. Sambil menatap setiap sudut kamar, Reza pun berkata.
Ini kamar apa aula sih,,? Kamar ko sebesar ini." Kata Reza sambil melepaskan pakaiannya.
Setelah itu Reza langsung melangkah menuju kamar mandi tanpa mengunci pintu kamar. Dan di saat masuk ke dalam kamar mandi, dia tambah kaget juga bingung, karena kamar mandinya sangat besar, dan yang membuat dia sangat terkejut dan kagum, di dalam kamar mandi itu ada tempat santai lengkap dengan TV di dalamnya.
"Bagaimana bisa tersaingi kalau seperti ini,,? Kamar mandinya saja kalah dari kamar mandi hotel berbintang." Reza berkata-kata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi syukurlah, biar memiliki kekayaan yang berlimpah, Faris adalah laki-laki yang sangat baik. Dia tidak pernah sombong dengan apa yang dia punya, dan yang lebih penting lagi, dia sangat menyayangi Aleta." Reza berkata-kata sambil tersenyum.
Hampir setengah jam di dalam kamar mandi, Reza pun keluar dengan hanya memakai handuk, untuk menutupi sebagian tubuhnya yang kekar itu. Reza melangkah sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih. Dan tiba-tiba dia langsung kaget, dengan suara teriakan Melda yang sedang berdiri tepat di samping lemari besar yang ada di dalam kamar itu.
"Aaaaaaaaaaaa,, ngapain kamu di sini,,?" Tanya Melda sambil menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Kamu yang ngapain di sini,,?" Tanya balik Reza.
"Aku mau ambil album foto keluarga aku di dalam lemari. Lagian suka-suka aku dong mau di mana,,?" Jawab Melda tanpa menatap Reza.
Tanpa berkata apa-apa, Reza langsung melangkah dan duduk di tepi ranjang. Sedangkan Melda, dia pun langsung membuka lemari untuk mengambil album foto Keluarga Permana, yang berada di rak paling atas. Karena postur tubuhnya yang begitu mungil, sehingga membuat tangan Melda tidak sampai di rak paling atas, walaupun dia sudah berusaha.
Melihat Melda yang bersusah payah sejak tadi, membuat Reza langsung berdiri, kemudian melangkah mendekati Melda. Dan tanpa berkata apa-apa, Reza yang sudah berada tepat di belakang Melda, langsung mengangkat tangannya hendak mengambil album foto itu.
Melda yang tidak menyadari keberadaan Reza, seketika terkejut setelah melihat tangan, dengan tiba-tiba dia langsung berbalik dan mendorong dada bidang Reza. Dorongan Melda yang begitu kuat dan tanpa pakai perhitungan itu, akhirnya membuat mereka berdua jatuh ke lantai, dengan posisi Melda di atas tubuh kekar Reza. Dan lebih parahnya lagi, wajah Melda menempel langsung di atas wajah Reza.
Melda sangat terkejut, begitupun dengan Reza, karena tanpa sengaja bibir mereka berdua pun ikut menempel, dan itu lumayan lama, karena mereka berdua sama-sama bingung dengan apa yang terjadi, sampai mereka tidak bisa untuk berfikir.
Setelah sadar dengan apa yang terjadi, Melda dengan tergesa-gesa langsung bangun dan duduk di samping Reza, dengan tampang yang begitu salah tingkah. Reza yang juga salah tingkah dengan apa yang baru saja terjadi, langsung bangun kemudian berkata.
"Aku minta maaf." Kata Reza sambil menatap Melda yang sudah menunduk.
Reza memang sangat terkejut dengan apa yang baru saja dia alami. Tapi dengan seketika dia pun terlihat santai, karena dia berfikir kalau semua itu terjadi tanpa di sengaja. Sedangkan Melda yang masih saja menunduk sudah meneteskan air matanya.
Melda menangis karena dia sangat merasa kesal pada Reza, sebab Reza sudah mengambil ciuman pertamanya. Reza yang tidak menyadari apa-apa, langsung berdiri dan segera mengambil album yang belum sempat dia ambil tadi. Setelah itu, dia memberikan album di tangannya kepada Melda sambil berkata.
"Ini albumnya." Kata Reza sambil menjulurkan tangannya yang sedang memegang album, kepada Melda yang masih saja menunduk.
"Brengseeeeek,,!" Teriak Melda sambil mengebas tangan Reza, dan membuat album di tangan Reza pun langsung terlepas ke atas lantai.
"Kamu kenapaa,,?" Tanya Reza bingung, karena dia melihat wajah Melda yang sudah di penuhi air mata.
Mendengar pertanyaan Reza, Melda pun langsung berdiri dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya, kemudian dia langsung memukuli dada bidang Reza sambil berkata.
"Brengsek kamu,, dasar laki-laki brengseeeeek,,! Kamu sudah merampas ciuman pertama aku." Kata Melda sambil terus memukul dada bidang Reza.
Reza sangat bingung dengan apa yang di katakan Melda, karena dia tidak merasa melakukan apa yang di katakan Melda barusan. Dengan tampang kebingungan, Reza segera meraih tangan Melda kemudian berkata.
"Bukannya kamu yang menciumku tadi,,?" Tanya Reza sambil menahan tangan Melda.
"Aku tidak menciummu,,! Itu semua terjadi tanpa aku sengaja." Jawab Melda sambil terus menangis.
"Ya kamu kan tahu kalau itu terjadi tanpa di sengaja, Kenapa kamu menyalahkanku,,?" Tanya Reza yang masih terus menggenggam pergelangan tangan Melda.
"Karena itu ciuman pertama akuu,,!" Teriak Melda sambil menarik tangannya dari genggaman Reza.
"Tapi aku kan ngga minta di cium, atau pun memaksa kamu untuk menciumku." Kata Reza yang semakin bingung dengan tingkah Melda.
"Tapi kenapa tadi kamu ngga mendorongku,,?"
Tanya Melda sambil menatap Reza dengan tatapan kesalnya.
"Ya karena aku kaget, sampai aku tidak bisa berfikir apa-apa." Jawab Reza dengan santainya.
"Dasar laki-laki mesum,,!" Kata Melda penuh kekesalan dan langsung melangkah keluar dari kamar.
Reza sangat bingung dengan Melda, yang menangis hanya karena ciuman yang terjadi tanpa di sengaja. Karena menurut Reza, itu semua terjadi begitu saja tanpa di sengaja, dan tidak ada yang perlu di salahkan.