
Aleta sangat kaget juga malu setelah mendengar apa yang di katakan oleh Faris barusan. Untung saja Faris mengatakannya dengan nada suara yang sangat pelan, jadi orang-orang yang berada di sekeliling mereka tidak mendengarnya.
Aleta sangat malu dengan kelakuannya yang begitu berhasrat, di saat mereka bertempur tadi. Akhirnya dia memilih untuk memalingkan mukanya dari Faris, dan menatap ke arah jendela pesawat. Sedangkan Faris hanya tersenyum sambil kembali fokus dengan ponsel di tangannya.
Aleta yang sedang menatap awan-awan melalui kaca jendela pesawat, mulai melamun memikirkan kelakuan anehnya itu. Dia sangat bingung dengan apa yang sudah dia lakukan di apartemen tadi. Padahal selama ini, dia tidak pernah mulai duluan walaupun dia menginginkannya. Sambil menatap ke luar melewati kaca jendela pesawat, Aleta pun berkata-kata dalam hati.
"Mengapa aku seperti itu,,? Apa mungkin itu pengaruh hormon kehamilanku,,? Kalau kaya gitu, seakan-akan aku yang memiliki libido bukan suamiku." Aleta berkata-kata dalam hati dengan tampang kebingungan.
Aleta yang sejak tadi melamun, tidak memperhatikan suaminya sama sekali. Tanpa dia sadari, Faris sedang menatap dadanya yang sedikit terbuka, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Setelah bearda di dalam pesawat tadi, Aleta memilih untuk melepaskan jaketnya karena dia merasa gerah, dan itu mungkin karena pengaruh hamil.
Beberapa hari ini, berat badan Aleta semakin naik, bentuk tubuhnya semakin padat. Karena baju yang dia pakai sedikit terbuka di bagian dada, membuat gunung kembarnya yang semakin besar itu jadi kelihatan. Dan tanpa sengaja Faris pun melihatnya.
Faris yang sedang fokus dengan ponselnya, tidak sengaja melihat dada Aleta di saat dia ingin menanyakan sesuatu. Dan setelah melihat benda kenyal yang menggoda itu, Faris langsung terpana dan berekspresi aneh. Sampai-sampai dia lupa menanyakan apa yang mau dia tanyakan tadi.
Faris yang sedang menatap dada Aleta sudah sangat menegang. Keringatnya sudah mulai bercucuran membasahi wajah juga tubuhnya, nafasnya pun sudah tidak beraturan karena menahan hasratnya.
Dengan perlahan Faris yang sudah tidak bisa menahan diri, mulai mendekatkan wajahnya ke pundak istrinya, kemudian dia langsung melingkarkan tangannya di perut Aleta dengan sangat kencang.
Apa yang di lakukan Faris itu membuat Aleta sangat kaget. Dengan segera Aleta langsung berbalik menghadap Faris yang sudah bersandar di pundaknya, sambil memejamkan mata dengan raut wajah yang sudah sangat aneh.
Aleta seketika terkejut juga merasa khawatir, setelah melihat wajah suaminya yang sudah sangat basah dengan keringat. Aleta sangat khawatir karena dia berfikir kalau suaminya itu sedang menahan sakit, dan tanpa menunggu lama Aleta pun bertanya.
"Mas kamu kenapa,,?" Tanya Aleta dengan tampang khawatir sambil merabah wajah Faris.
Faris tidak menjawab pertanyaan Aleta sama sekali, tapi dia malah menatap kembali dada Aleta yang semakin terbuka dengan tatapan memangsa. Melihat tatapan suaminya tertuju di dadanya, akhirnya Aleta pun menyadari kalau suaminya tidak sakit, tapi libidonya yang kambuh karena melihat penampilannya seksinya.
Setelah menyadari semuanya, Aleta seketika jadi takut, karena dia tahu kalau sudah seperti ini, Faris tidak bisa lagi untuk mengendalikan diri. Aleta sangat bingung, dan dia tidak tahu harus berbuat apa,,?
Di saat Aleta sedang kebingungan, Faris yang sudah tidak bisa untuk menahan dirinya, segera meremas apa yang di tatapnya sejak tadi dengan begitu berhasrat. Dan apa yang Faris lakukan itu membuat Aleta terkejut sampai dia hampir tidak bisa bernafas. Untung saja mereka duduk di paling belakang, jadi tidak ada yang melihat apa yang sedang Faris lakukan.
Dengan segera Aleta langsung meraih jaket Faris yang ada di pangkuannya, kemudian dengan buru-buru dia menutupinya ke dadanya, yang sudah semakin terbuka karena ulah Faris yang sudah seperti predator kelaparan.
Aleta memilih untuk menutupi dadanya, biar tidak ada yang melihat apa yang sedang di lakukan suaminya. Apalagi Aleta tidak bisa melarang Faris kalau keadaannya sudah seperti itu, karena kalau dia melarang atau pun menghindar, itu sama saja dia menyiksa suaminya sendiri.
Tangan Faris sudah semakin menggila. Wajahnya yang putih sudah berubah memerah, dan nafasnya juga semakin memburu. Aleta yang melihat keadaan suaminya itu merasa sangat kasihan, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Karena tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih, membuat Faris sudah hampir gila karena menahan hasratnya. Begitupun dengan Aleta, dia sudah menegang sejak tadi dengan permainan suaminya.
Karena sudah tidak sanggup untuk menahan lebih lama lagi, dengan segera Faris menghentikan apa yang dia lakukan sejak tadi, dan berdiri kemudian melangkah ke belakang. Sedangkan Aleta, dia hanya menatap suaminya tanpa berkata apa-apa.
Ternyata Faris melangkah ke belakang untuk menemui salah seorang pramugari, untuk menanyakan kamar rahasia mereka untuk dia sewakan dengan alasan, kalau istrinya kurang enak badan dan membutuhkan kamar untuk beristirahat.
Akhirnya pramugari itu memberikan kamarnya untuk Faris, karena Faris menyewanya dengan jumlah yang lumayan besar. Setelah mendapatkan kamar, Faris langsung melangkah menghampiri Aleta.
Setelah berada di samping Aleta, tanpa berkata apa-apa, Faris langsung meraih tangan Aleta untuk berdiri kemudian membawanya pergi, mengikuti pramugari yang punya kamar itu. Aleta sangat bingung karena dia tidak tahu Faris mau membawanya kemana. Sambil melangkah Aleta pun mendekati Faris dan berbisik.
"Maas,, kita mau kemana,,?" Bisik Aleta kepada Faris.
"Mas sudah sewa kamar pramugari ini untuk kita bermalam." Jawab Faris.
Mendengar jawaban suaminya, Aleta langsung tersenyum karena dia juga sudah terlanjur menegang dengan permainan suaminya tadi. Jadi dia juga menginginkan sesuatu yang lebih dari suaminya yang begitu perkasa itu.
Sampainya di dalam kamar pribadi pramugari itu, Faris dengan buru-buru segera mengunci pintunya. Dan setelah pintu sudah terkunci, tanpa menunggu lama, Faris pun berbalik dan dia seketika langsung kaget, di saat melihat Aleta sudah terlentang di atas tempat tidur, tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Mata Faris langsung terbelalak karena melihat pemandangan indah, yang begitu menggoda. Apalagi Aleta adalah wanita yang selalu menjaga, dan merawat kecantikannya luar dalam. Dan itu membuat Faris merasa selalu tidak tahan, di saat memikirkannya apalagi melihatnya secara langsung seperti saat itu.
Dengan tatapan memangsa, Faris langsung beranjak naik ke atas tempat tidur dan mengecup bunga mekar yang menggoda, yang ada tepat di hadapannya. Di saat Faris mengecup bunga mekarnya, Aleta yang sudah menegang sejak tadi langsung mengeluarkan suaranya. Setelah itu Faris pun mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap Aleta sambil berkata.
"Sayang,, kamu sudah sangat basah,," kata Faris dengan suara seraknya.
Aleta yang sudah tidak bisa menahan diri karena permainan Faris, tidak berkata apa-apa, tapi dia segera meraih kepala suaminya dan mendorongnya kembal ke bawah. Faris yang begitu menyukai aroma itu, tidak menolak sama sekali. Dengan senang hati dia langsung ******* bunga mekar itu dengan begitu rakusnya.
Aleta sangat suka dengan permainan suaminya itu, karena Faris sangat pandai membuat Aleta untuk merasa ingin lagi dan lagi. Selama beberapa hari ini, Faris sangat bahagia karena Aleta begitu agresif, sampai dia bisa mengimbangi permainannya.
Hampir satu jam mereka berdua melepaskan hasrat mereka, dengan desahan juga erangan yang memenuhi ruangan itu. Aleta yang sudah terkapar tak berdaya langsung berbalik memeluk suaminya, yang sudah terlentang di sampingnya dengan senyum yang terukir di wajah cantiknya.
Aleta sangat bahagia dan bersyukur memiki suami seperti Faris, karena walaupun dia memiliki libido, tapi dia tidak pernah ingin melakukan itu dengan wanita lain, walaupun mereka berdua terpisah jauh. Faris hanya menghayalkan dan menginginkan Aleta di saat libidonya kambuh.
Sifat Faris yang setia itulah, yang membuat Aleta tidak pernah menolak di saat keinginan Faris datang. Dia selalu berusaha melayani suaminya dengan sebaik mungkin. Aleta melakukan itu, karena dia tidak ingin suaminya mencari kepuasan di luar sana. Apalagi Faris adalah laki-laki yang di gilai banyak wanita cantik di luar sana.
Setelah berbaring beberapa menit, Faris dan Aleta langsung bergegas untuk membersihkan diri mereka, yang sudah mandi keringat di dalam kamar mandi, yang terdapat di dalam kamar itu. Setelah sudah bersih dan juga sudah berpakaian, mereka berdua langsung memilih untuk tidur.