
Melda sangat bingung dengan Reza yang terlihat begitu panik. Sedangkan tanpa Reza tahu, Pak Rendra sudah dalam perjalanan menuju rumah itu. Di saat Reza sedang bingung mencari jalan keluar, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan itu panggilan masuk dari Pak Rendra.
Melihat nama Pak Rendra ada di layar ponselnya, membuat wajah Reza seketika langsung tegang, dan dia pun segera menjawabnya.
("Halo Pak.") Jawab Reza.
("Kamu masih di situ,,?") Tanya Pak Rendra.
("Iya Pak.") Jawab Reza.
("Memangnya ada apa Pak,,?") Tanya Reza dengan tampang yang semakin tegang.
("Aku sekarang dalam perjalanan ke situ, dan sebentar lagi sudah sampai. Kamu tunggu saja di situ, biar kita sama-sama melihat pertunjukan wanita itu bersama anak buahku, yang sekarang ada bersamaku di dalam mobil.") Kata Pak Rendra yang membuat mata Reza seketika langsung terbelalak saking kagetnya.
Setelah itu, sambungan telepon langsung terputus, dan Reza yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Melda, segera duduk di depan Melda kemudian berkata.
"Melda, aku tidak tahu lagi harus bagaimana,,?" Kata Reza dengan tampang yang terlihat sangat khawatir.
"Memangnya ada apa,,? Kamu kenapa panik kaya gini,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza dengan tampang kebingungan.
Tanpa menunggu lama, Reza segera menceritakan semuanya kepada Melda, tentang kebiasaan buruk Pak Rendra, juga rencana Pak Rendra yang saat itu sudah di dalam perjalanan.
Melda yang mendengar apa yang baru di ceritakan oleh Reza, langsung ketakutan dan menangis sambil berkata.
"Tolong aku,,! Aku tidak mau melakukan itu, aku takuuut. Hiks,,,hiks,,,,hiks." Melda berkata-kata sambil menangis.
Reza sangat tidak tega melihat keadaan Melda, dan dia juga tidak ingin Melda melakukan apa yang di inginkan oleh Pak Rendra. Tapi Reza juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar bisa menolong Melda.
"Kenapa kamu diaam,? Ayo kita harus pergi segera dari sini,,!" Kata Melda sambil menarik-narik tangan Reza.
"Kita tidak bisa pergi, di luar banyak penjaga. Dan kalau sampai kita ketahuan dan tertangkap, kita sudah tidak punya harapan untuk menolong orang tuanya Faris." Kata Reza sambil menatap Melda dengan tatapan yang penuh beban.
"Sekarang kamu bilang sama aku, di mana orang tua Faris di sekap,,? Biar aku kabari mereka saat ini juga." Kata Reza.
"Aku tidak tahu tempatnya itu di mana. Dan aku juga tidak tahu siapa pelakunya, karena waktu itu aku di bius, dan di saat aku sadar, aku melihat Om dan Tante aku lagi di ikat, dan aku dengar ada seorang laki-laki yang tidak aku kenal, mengatakan kalau Tante dan Om aku akan di bunuh oleh Bos mereka." Kata Melda.
"Apa lagi yang kamu dengar,,? Cepat katakan sebelum Bos aku datang,,!" Desak Reza.
"Aku ngga ingat apa-apa lagi, karena setelah itu, aku kembali di bius." Jawab Melda dengan berlinang air mata.
Tanpa menunggu lama, Reza dengan segera langsung memilih untuk menelfon Faris, melalui nomor telepon anak buah Faris yang biasa dia hubungi. Tapi seketika wajah Reza langsung terlihat lesu, karena nomor yang dia hubungi di luar jangkauan. Akhirnya dengan terpaksa Reza pun memutuskan untuk menelfon nomor Aleta, tapi kembali gagal, karena ponselnya tiba-tiba mati.
Reza yang terlihat begitu emosi, rasa-rasanya ingin melempar ponselnya ke lantai saking emosinya. Karena ternyata, baterai ponselnya sudah habis. Dengan tampang yang terlihat sangat kesal Reza pun berkata.
Di saat dia sedang emosi dan bingung dengan keadaan yang sedang dia hadapi, tiba-tiba ada suara seseorang yang manggil namanya sambil mengetuk pintu kamar.
"Pak Rezaa,, Pak Rezaa,, tok,,tok,,tok,," Suara orang yang di iringi suara ketukan pintu.
Reza dan Melda yang sedang berdiri di samping tempat tidur, seketika langsung menegang setelah mendengar suara dan ketukan pintu. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, dengan mata yang terbuka lebar saking kagetnya. Dan Melda yang sudah sangat ketakutan, segera memeluk lengan Reza dengan erat sambil berkata.
"Aku takuuut,, tolong bawa aku pergi dari sini,,! Aku tidak mau melakukan apa yang di inginkan sama Bos kamu." Kata Melda dengan tampang ketakutan.
"Kamu tenang dulu. Kalau kamu menangis terus seperti ini, aku jadi tidak bisa berfikir." Kata Reza.
Reza benar-benar bingung harus berbuat apa, dia sampai tidak bisa untu berfikir. Sedangkan orang yang berada di luar, tidak henti-hentinya mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya dari luar. Akhirnya Reza pun melepaskan tangan Melda dari lengannya kemudian berkata.
"Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menyentuhmu, seperti yang di inginkan Bos aku. Hapus air matamu,,! Kalau tidak mereka akan curiga." Kata Reza dan langsung melangkah menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, Reza melihat ada seorang anak buah Pak Rendra sedang berdiri di depan pintu. Kemudian, dengan berpura-pura tenang seperti tidak terjadi apa-apa, Reza pun bertanya.
"Ada apa,,?" Tanya Reza.
"Pak Rendra sebentar lagi akan sampai, dan Pak Reza di suruh menunggunya di bawah." Jawab laki-laki itu.
Mendengar Jawaban anak buah Pak Rendra, jantung Reza seketika berdebar kencang. Dia yakin, kalau Pak Rendra datang untuk tujuan yang tadi dia katakan melewati telfon tadi.
"Iyaa,, saya akan segera ke bawah." Jawab Reza, dan laki-laki itu langsung pergi.
Setelah laki-laki itu pergi, Reza langsung buru-buru mengunci pintu, dan berbalik menghadap Melda kemudian berkata.
"Kita sudah tidak punya jalan keluar lagi, karena Bos aku sebentar lagi akan sampai." Kata Reza sambil menatap Melda dengan tampang yang putus asa.
"Lebih baik aku mati dari pada harus melakukan apa yang di inginkan oleh Bos kamu,,! Hiks,,,hiks,,,hiks,," kata Melda sambil menangis.
Mendengar apa yang di katakan oleh Melda, membuat Reza semakin bingung. Tapi tiba-tiba dia terkejut setelah mendengar Melda kembali berkata-kata.
Melda yang tertunduk sambil menangis, ternyata sedang memikirkan keputusan berat yang harus dia ambil, demi keselamatan Om dan Tantenya. Dan setelah dia sudah betul-betul yakin dengan apa yang sedang dia fikirkan, dia langsung mengangkat mukanya menatap Reza, kemudian berkata.
"Kalau memang sudah tidak ada jalan keluar, aku terpaksa harus melakukan apa yang di minta oleh Bos kamu, asalkan sebentar malam kita bisa keluar dari sini." Melda berkata-kata dengan berlinang air mata.
"Apa kamu yakin mau melakukan itu,,?" Tanya Reza sambil menatap Melda.
"Yakin ataupun tidak yakin, aku akan melakukannya demi bisa menyelamatkan Om dan Tanteku. Karena hanya mereka orang tua yang aku punya saat ini." Kata Melda sambil menatap Reza dengan tatapan yang sangat menyedihkan.
Mendengar apa yang di katakan oleh Melda barusan, membuat Reza tidak bisa untuk berkata apa-apa. Dia tidak ingin Melda melakukan apa yang di inginkan Pak Rendra, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Melda dari keinginan Pak Rendra, yang tidak masuk akal itu.