
Aleta dan teman-temannya, mengerjakan tugas kelompok dengan begitu fokusnya. Hampir dua jam mereka mengerjakan tugas kelompok mereka, yang berupa makala itu, dan akhirnya selesai juga tepat pukul jam 3:45 sore.
Setelah mereka sudah menyelesaikan tugas,
Aleta langsung mengajak teman-temannya, untuk bersantai di ruang nonton, sambil menikmati jus dan cemilan yang sudah di siapkan Bi Rati, asisten rumah tangga Aleta.
Di saat mereka sedang asik menonton film sambil mengobrol, tiba-tiba bel pintu rumah Aleta berbunyi, mendengar bel rumah berbunyi, dengan segera Aleta langsung berdiri kemudian berkata.
"Tunggu sebentar yaa,,! Aku bukain pintu dulu,," kata Aleta kepada Melda dan yang lain, kemudian melangkah pergi menuju pintu.
Setelah pintu terbuka, Aleta seketika merasa bingung, melihat senyum dari pria tampannya yang sudah berdiri di depa pintu.
Aleta bingung dengan sikap suaminya yang berubah-ubah, karena tadi pagi Faris terlihat sangat dingin, dan itu membuat Aleta sangat hawatir, tapi sekarang, senyum di wajah tampannya, menunjukan kalau dia sedang baik-baik saja.
"Ada apa sayang,,?" Tanya Faris yang masih terus memasang senyum, setelah melihat ekspresi istrinya.
"Ngga apa-apa ko Mas,," jawab Aleta sambil menyalami tangan Faris, kemudian menciumnya, dan Faris juga segera mencium kening Aleta dengan penuh kehangatan.
Setelah itu mereka berdua langsung masuk ke dalam. Faris yang melangkah di samping istri seksinya itu, tidak henti-hentinya menatap wanita cantiknya itu, dan tanpa menunggu lama, dia langsung memeluk Aleta dari arah samping kemudian mencium bibir Aleta sekejap.
Aleta yang di cium suaminya seperti tersambar petir, karena ciuman Faris barusan itu, walaupun hanya sesaat tapi sangat berhasrat, dan semua itu Faris lakukan, di saat mereka sudah berada dekat di ruang nonton.
Semua teman-teman Aleta yang sedang menonton, melihat apa yang terjadi di hadapan mereka, dengan tatapan kaget termasuk Melda, karena yang mereka tahu selama ini, Faris adalah laki-laki yang sangat dingin juga kaku, jadi mereka tidak menyangka, kalau si kutub Utara itu bisa melakukan hal tidak terduga itu.
Sedangkan Aleta yang sudah mematung di samping Faris, sangat malu dengan apa yang baru saja di lakukan suaminya. Memang ini bukan yang pertama Faris menciumnya, di depan teman-temannya. Faris sering mencium pipinya di Kampus, tapi kali ini bukan pipi yang Faris cium, tapi bibir seksinya, dan Faris melakukan itu dengan begitu berhasrat.
Wajah Aleta yang putih sudah berubah seperti
udang goreng saking malunya, dan Faris yang
belum menyadari keberadaan teman-teman Aleta, ingin kembali mencium Aleta, tapi dengan cepat Aleta langsung menunduk sambil berkata.
"Maas,, ada teman-teman aku di sana,," kata Aleta tepat di depan dada Faris, yang membuat Faris langsung mengangkat mukanya mentap ke depan.
Teman-teman Aleta termasuk Melda, yang sejak tadi hanya menatap dengan mata, dan mulut yang terbuka lebar saking kagetnya, dengan apa yang mereka lihat, serentak langsung memalingkan wajah mereka karena salah tingkah, setelah Faris menatap mereka.
Sedangkan Faris yang baru menyadari semunya, mencoba untuk mencarikan suasana yang sudah sangat menegangkan itu. Dengan santainya, Faris meletakan tangannya di pundak Aleta, kemudian melangkah menghampiri Melda dan yang lainnya sambil berkata.
"Kalian lagi buat tugas,,?" Tanya Faris sambil melangkah dan memeluk pundak Aleta.
"Iya kak,," jawab Cika malu-malu.
"Mas aku romantis bangaaat,, aku jadi kepengen merasakan ciuman pertama dari pacarku,," kata Melda dengan gaya genitnya, dan membuat semua teman-tannya jadi tersenyum.
Mendengar perkataan Melda, membuat Faris seketika, langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, dan itu membuat Melda jadi takut.
"Aku ngga punya pacar,, itu cuma seandainya,,! Kalau Mas ngga percaya, tanya saja sama mereka,," kata Melda yang membuat teman-temannya, serentak langsung tertawa termasuk Aleta.
Melda sangat takut kalau di tatap seperti itu oleh Faris, dan Faris memang tidak mau Melda atau pun Almira mengenal laki-laki sebelum selesai kuliah, dia seperti itu karena dia takut, laki-laki lain akan merusak masa depan mereka, seperti dia menghancurkan masa depan Aleta, Faris sangat takut, kalau Melda dan Almira akan menanggung karma lantaran perbuatannya.
"Jangan main-main kamu,,!" Kata Faris kepada Melda, dan Melda hanya tersenyum sambil mengangkat dua jarinya.
"Kalian jangan pulang dulu ya,,!" Kita makan malam dulu di sini,,!" Kata Faris kepada teman-teman Aleta, dan tanpa menunggu lama, mereka semua langsung mengangguk tanda menyetujui.
Setelah itu Faris langsung pergi, dengan segera Aleta pun langsung menyusulnya, sedangkan Melda dan teman-temannya yang lain, memilih untuk melanjutkan film yang belum selesai mereka tonton.
Sebenarnya Aleta sangat merasa penasaran dengan suaminya, yang tidak pernah mengijinkan Melda berpacaran, padahal umur Melda sudah lebih dari cukup untuk berpacaran. Sambil melangkah menaiki tangga, Aleta segera meraih tangan Faris kemudian bertanya.
"Mas,, mengapa Mas tidak mau Melda berpacaran,,? Padahal kan umur Melda sudah pantas untuk berpacran,," tanya Aleta tapi Fris tidak menjawab apa-apa.
"Mas,, ko ngga jawab,,?" Tanya Aleta lagi setelah mereka memasuki pintu kamar.
Tanpa berkata apa-apa, Faris langsung merangkul pundak Aleta, kemudian mencium pipinya dengan penuh kelembutan.
"Mas,, aku tu ingin jawaban, bukan di cium,," kata Aleta lagi dengan tampang kesal.
Dengan segera Faris langsung meraih kedua tangan Aleta, kemudian menciumnya, dan itu membuat Aleta tambah bingung. Setelah mencium kedua tangan Aleta, Faris kemudian
menatap wajah cantik istrinya itu, dengan mata sayunya dan berkata.
"Percayalah kalau aku sangat mencintaimu, walaupun awal pertemuan kita tidak seindah, kata cinta yang ku ucapkan padamu,," kata Faris yang membuat Aleta semakin bingung.
"Apa maksud kamu Mas,,? Aku percaya kamu mencintaiku, dan aku adalah wanita satu-satunya yang kamu cintai,," kata Aleta.
"Aku tidak ingin Melda dan Almira, mengenal laki-laki sebelum selesai kuliah, karena Mama Papa, juga Om Refan dan Tante Mey, ingin Melda dan Almira langsung menikah tanpa harus berpacaran, dan itulah yang sering di lakukan dalam keluarga kita, menikah karena perjodohan,," kata Faris.
Walaupun sudah mendengar penjelasan suaminya, Aleta masih tetap bingung dengan permintaan maaf suaminya tadi, karena penjelasan Faris barusan, tidak ada kaitan dengan permintaan maafnya tadi.
"Oooo gitu ya Mas,,? Tapi aku masih bingung, kenapa tadi Mas minta maaf sama aku,,?" Tanya Aleta.
"Aku sangat mendukung keinginan Mama Papa, juga Om Refan dan Tante Mey, karena selain kebiasaan dalam keluarga, sebenarnya aku sangat takut, kalau masa depan Melda dan Almira, akan rusak seperti aku merusak masa depanmu,," kata Faris.
"Karena karma itu akan berlaku, kalau kita tidak menghindarinya, aku takut kalau nanti Melda dan Almira, akan menanggung semua perbuatanku padamu," tambah Faris.
Aleta yang mendengar penjelasan suaminya barusan, sangat bangga, karena di balik sikapnya yang dingin juga cuek, dia adalah sosok pelindung yang mempunyai segudang kasih sayang dan perhatian.