
Aleta membuka matanya dengan perlahan dan dia melihat Faris sedang menatapnya sambil mengusap-ngusap rambutnya, dengan segera Aleta langsung memeluk laki-laki tampannya itu sambil berkata.
"Faris aku sangat takut,,! Kata Aleta dengan suara bergetar.
"Ada aku di sini,,! Kata Faris sambil mengecup pucuk kepala Aleta.
Sifat Faris memang sangat di segani dan di takuti semua orang yang sudah mengenalnya, dan dia juga laki-laki yang tidak pandai mengerti wanita, tapi kasih sayangnya sangat tulus terhadap orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Aku mau tidur,,! Kata Aleta dengan manjanya.
Dengan segera Faris langsung meraih kemejanya dan kembali memakainya, kemudian mereka berdua langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar, sampainya di dalam kamar, Aleta naik ke atas tempat tidur dan Faris langsung menyelimutinya dengan selimut.
Setelah itu Faris mengambil bantal juga selimut dan hendak melangkah, tapi belum sempat dia melangkah Aleta sudah meraih pergelangan tangannya sambil berkata.
"Aku mau tidur sama kamu,,! Kata Aleta sambil menatap Faris dengan tatapan manjanya.
"Benar,,? Tanya Faris.
"Iya,,! Tapi kamu ngga boleh ngapa-ngapain aku,,! Kata Aleta dan Faris hanya mengangguk dengan tampang kekecewaan.
Dengan segera Aleta langsung berbalik membelakangi Faris sambil menarik selimut sampai sebatas pinggangnya, dan Faris yang melihatnya langsung menarik nafas panjang sambil beranjak naik dan terlentang di belakang Aleta.
Karena tidak di perdulikan oleh Aleta, Faris langsung berbalik menghadapnya, kemudian dengan perlahan dia memasukan tangannya di dalam selimut dan melingkarkannya di perut Aleta sambil berbisik.
"Apa kamu takut sama aku,,? Bisik Faris di telinga Aleta dan Aleta hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Kalau kamu ngga takut, mengapa kamu seperti ini padaku,,? Tanya Faris dengan suara yang sangat serak.
Faris sudah mulai menegang di saat posisinya begitu menempel dengan Aleta, laki-laki mana yang tidak menegang kalau berada dengan wanita cantik seperti itu di atas tempat tidur. Apalagi Aleta mengenakan pakaian yang begitu seksi.
Dengan nafas yang sudah mulai tidak teratur, Faris semakin mempererat pelukannya di perut Aleta, dan dia juga membenamkan wajahnya di punggung Aleta yang membuat bulu kuduk Aleta langsung berdiri.
Apa yang di lakukan Faris itu membuat Aleta jadi menegang, Aleta memejamkan matanya karena dia sudah sangat gugup dengan apa yang Faris lakukan padanya.
Tangan Faris yang tadinya hanya melingkar di perut Aleta, kini sudah mulai bergerak mencari sasarannya, dan di saat tangan Faris sudah mulai turun ke bawah, dengan segera Aleta langsung menahannya sambil berkata.
"Fariiis jangaan,,! Kata Aleta.
"Sebentar saja,,! Jawab Faris dengan suara yang sudah terdengar sangat aneh.
Mendengar perkataan Faris, membuat Aleta langsung duduk menghadap ke arah Faris karena dia ingin menjelaskan alasan mengapa dia tidak ingin melakukan semua itu, dan tidak menunggu lama Faris pun langsung bangun, dan duduk menghadap Aleta sambil menatap Aleta dengan tatapan yang sangat menuntut.
Melihat wajah Faris yang terlihat begitu menyedihkan, membuat Aleta tidak bisa untuk berkata apa-apa, sambil memejamkan matanya, Aleta langsung menganggukan kepala sebagai tanda kalau dia bersedia.
Faris yang melihat isyarat dari Aleta langsung bersemangat, dengan senyum yang mengembang di wajahnya dia meraih wajah Aleta dengan ke dua tangannya sambil berkata.
"Aku akan menikahimu secepatnya. Kata Faris sambil menatap wajah Aleta yang berada tepat di hadapannya.
Faris yang tadinya begitu lembut kini sudah semakin menggila di saat melihat Aleta yang sudah tidak berbusana, dan Aleta yang sudah terhanyut dengan permainan Faris mulai mendesah yang membuat Faris semakin menggila.
Hasrat yang sudah menguasai dirinya di tambah dengan pengaruh minuman yang tadi dia minum, membuat Faris sudah tidak merasakan sakit di tangannya. Setelah satu jam mereka bertempur, akhirnya Faris tumbang di samping Aleta dengan nafas yang ngos-ngosan dan senyum kepuasan yang mengembang di wajah tampannya itu.
Dan Aleta yang sedang terlentang di samping Faris, segera bangun dan turun dari tempat tidur kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai membersikan dirinya, Aleta mengenakan pakaian yang tadi sempat di bawanya ke dalam kamar mandi, dan setelah itu dia langsung melangkah keluar dari kamar mandi, menuju tempat tidur karena dia merasa sudah sangat ngantuk juga sangat kecapean.
Sedangkan Faris dia sudah terlelap di atas tempat tidur tanpa memakai pakaiannya, dia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, dan Aleta yang sudah tidak bisa menahan kantuknya langsung naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring membalaki Faris.
**********
Tepat pukul 8 pagi, Fahri Alira dan Almira sudah selesai sarapan, karena hari itu hari sabtu jadi mereka tidak punya aktifitas apapun, setelah keluar dari dapur Fahri dan Alira memilih untuk menemani Almira menonton film karton kesukannya.
Sambil menonton Fahri dan Alira membahas tentang Faris dan Aleta yang belum juga pulang, dan tiba-tiba Alira yang sangat faham dengan sifat anak-anaknya itu, merasa curiga dengan sikap Almira yang terlihat aneh di saat Papanya menanyakan Faris dan Aleta padanya.
"Mas kamu bilang berapa hari di apartemen,,? Tanya Fahri yang membuat Almira langsung gugup.
"Iiiiiiim, ngga tau pa,,! Dia ngga bilang apa-apa. Jawab Almira gugup.
"Almira,,! Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama dan Papa kan,,? Tanya Alira sambil menatap Almira dengan tatapan yang sangat tajam.
Dalam mendidik anak Alira memang sangat tegas terutama terhadap Almira, kalau Fahri dia selalu santai dan selalu mengikuti semua kemauan ke dua anaknya itu, jadi Almira dia selalu takut kalau Alira sudah menatapnya seperti itu.
"Jawab Almira,, Mama ngga suka ya kalau kamu ngga jujur. Kata Alira dengan tegasnya.
"Sudah sayaang,, kamu ngga usah terlalu kaya gitu sama dia. Sambung Fahri sambil menatap Alira.
"Ngga mas,, aku tu yakin kalau anakmu ini sedang menyembunyikan sesuatu mengenai masnya. Kata Alira sambil menatap tajam ke arah Almira.
Fahri dengan segera langsung memeluk dan mencium Almira yang sudah mulai berkaca-kaca itu, kemudian dia mengusap-ngusap rambut putrinya itu sambil berkata.
"Sayang, apa yang kamu sembunyikan dari Mama dan Papa,,? Mama Papa ngga akan marah sama kamu kalau kamu jujur. Kata Fahri sambil terus mengusap rambut putrinya itu.
"Tangan mas terluka pa,, dan dia akan pulang kalau lukanya sudah sembuh, soalnya mas ngga mau Mama Papa hawatir dengan keadaannya. Jawab Almira sambil menatap wajah tampan papanya.
"Terluka kenapa,,? Tanya Alira dan Fahri bersamaan dengan tampang hawatir.
"Aku ngga tau, waktu dalam perjalanan pulang dari bandara, Mas berhenti di sebuah gedung tua, dia naik ke gedung itu dan menyuruh kita tunggu di dalam mobil.
"Tapi tidak berapa lama, mba Aleta turun dan mengikuti mas setelah menerima telfon dari seseorang yang menelfon di ponsel mas, karena mas lupa membawa ponselnya.
"Aku sama mba Melda tunggu di dalam mobil, kita juga ngga tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba mas dan mba Aleta turun dari gedung itu dengan tangan mas yang terluka, dan mba Aleta sudah menangis. Jelas Almira panjang lebar yang membuat Fahri dan Alira saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.