
Sejak pukul 4 dini hari tadi, Faris sudah berangkat ke RS, karena dia ingin melihat keadaan orang tuanya. Penanganan perawatan Papa Fahri dan Mama Alira, sangat di perhatikan oleh pihak RS, karena setelah kepergian Opa Indra, Papa Fahri lah yang menjadi pemilik tunggal RS besar itu.
Pukul 7 pagi, Para Dr dan perawat sudah sibuk meneriksa keadaan Papa Fahri dan Mama Alira. Sedangkan Faris, Tante Leni dan Boy sedang menunggu di depan pintu ruang UGD dengan perasaan sedikit cemas, karena sampai saat itu, Papa Fahri dan Mama Alira belum juga sadarkan diri.
Setelah hampir satu jam di dalam ruang UGD, Dr yang menangani Orang tuanya Faris pun keluar dan langsung meminta Faris, untuk ke ruangannya karena ada informasi penting, tentang orang tuanya yang harus dia tahu.
"Pak Faris, kita ke ruangan saya sebentar,,! Sebab ada yang ingin saya sampaikan." Kata Dr yang baru saja keluar dari ruang UGD.
Dan tanpa menunggu lama Faris dan Tante Leni langsung mengikuti Dr itu. Sedangkan Boy, dia memilih untuk tetap di depan ruang UGD bersama beberapa anak buah Faris yang sedang berjaga. Semua tempat milik keluarga Permana, di jaga dengan begitu ketat oleh anak buahnya Faris. Faris melakukan itu karena dia tidak ingin, sesuatu yang buruk terjadi pada keluarganya ataupun aset milik keluarganya.
Sampainya di dalam ruangan Dr itu, Faris dan Tante Leni yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Papa Fahri dan Mama Alira, langsung bertanya setelah mereka sudah duduk, menghadap Dr yang menangani Orang tuanya Faris.
"Bagaimana keadaan adik saya dan suaminya Dok,,?" Tanya Tante Leni dengan tatapan mencari tahu.
"Mereka sudah lebih baik dari semalam, tapi sayangnya, Pak Fahri dan Ibu Alira akan mengalami koma, karena sepertinya ada benturan keras di bagian kepala mereka yang membuat mereka bisa jadi seperti itu." Kata Dr itu yang membuat Faris juga Tante Leni, seketika langsung terdiam dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih.
"Saya temukan banyak sekali luka memar di bagian kepala dan punggung orang tua Pak Faris, dan itu terlihat seperti bekas pukul." Tambah Dr itu yang membuat Faris langsung geram, dan kemudian dia pun berkata.
"Iyaa,, benturan itu karena pukulan, sebab kecelakaan yang menimpa keluarga saya itu, bukan murni kecelakaan." Jawab Faris sambil menatap Dr yang ada di depannya, dengan tatapan yang sangat dingin.
"Kira-kira berapa lama mereka akan seperti itu,,?" Tanya Tante Leni.
"Aku tidak bisa memprediksikan itu, kita serahkan saja pada Tuhan. Semoga mereka cepat sadar dan bisa kembali seperti semula. Tapi yang aku takutkan, merek akan mengalami amnesia atau gangguan lain akibat benturan di kepala mereka." Kata Dr itu lagi yang membuat Faris langsung mengepalkan kedua tangannya, tanpa berkata apa-apa.
Melihat ekspresi Faris, membuat Tante Leni langsung berdiri dan mengajak Faris untuk keluar dari ruangan itu. Tante Leni buru-buru mengajak Faris untuk pergi, karena dia tidak ingin apa yang di katakan Dr itu, lama-lama membuat Faris semakin marah.
Selain tidak ingin melihat kemarahan Faris, Tante Leni juga tidak ingin Faris semakin kepikiran dengan kondisi orang tuanya. Karena masalah yang sedang Faris hadapi saat itu sudah sangat berat menurut Tante Leni, sampai Tante Leni sendiri tidak tega melihat beban yang di tanggung keponakannya itu.
Tante Leni dan Faris melangkah menuju ruang UGD. Sampainya di sana, Faris langsung memilih untuk masuk ke ruang UGD karena dia ingin melihat keadaan kedua orang tuanya, dan di ikuti Tante Leni juga Boy di belakangnya. Faris menatap wajah orang tuanya dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Dia tidak tega melihat keadaan orang tuanya yang terlihat sudah seperti patung di atas tempat tidur RS.
Setelah beberapa detik menatap wajah kedua orang yang sangat dia sayangi itu, tiba-tiba kristal bening sudah memenuhi kelopak mata Faris. Dan tidak lama kristal itu pun mengalir membasahi wajahnya yang tampan. Dan itu membuat Tante Leni juga Boy yang melihatnya ikut menangis.
Dengan air mata yang berlinang, Faris melangkah dan duduk di samping tempat tidur Mama Alira, kemudian di menggenggam tangan Mamanya dan mulai berkata-kata.
"Maa,, Mama dan Papa harus kuat, dan kalian harus bangun demi Aku dan Almira. Dan aku mohon pada kalian, jangan pernah melupakan semua kenangan indah yang sudah kalian lalui." Faris berkata-kata dengan berderai air mata.
Melihat keadaan Faris, Boy yang memiliki hati seperti perempuan, langsung berbalik memeluk Tante Leni sambil menangis. Dan Tante Leni yang sejak tadi sudah berlinang air mata, segera membalas pelukan Boy.
Setelah beberapa menit berada di samping Mama Alira, tiba-tiba Faris langsung terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, dengan tampang yang terlihat begitu menakutkan. Ternyata dia sedang memikirkan langkah yang tepat yang harus dia ambil untuk Pak Frengki, dan anggota Polisi yang sedang di sekap para anak buahnya.
Tidak berapa lama dari situ, Faris pun berdiri dan segera berbalik menghadap Tante Leni dan Boy, yang berdiri tepat di belakangnya kemudian berkata.
"Tante,, aku ingin minta tolong Tante, untuk menunggu Aleta,,! Karena hari ini dia harus memeriksakan kandungannya. Soalnya aku ada urusan penting." Kata Faris.
"Iya sayang,, kamu pergi saja,,! Nanti Tante akan pulang menjemputnya." Jawab Tante Leni.
"Aku juga mau pergi ke kantor sekarang Maa,, soalnya ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Nanti malam aku kembali lagi ke sini." Sambung Boy.
"Tapi jangan lupa untuk pergi bersama anak buahku. Kita semua harus lebih berikhtiar lagi saat ini." Kata Faris yang langsung di iyakan oleh Tante Leni dan Boy.
Setelah itu, Faris langsung pergi menuju parkiran RS bersama Boy. Faris pergi menggunakan mobil mewahnya bersama beberapa orang anak buahnya, begitupun dengan Boy. Sedangkan Tate Leni, masih berada di depan ruang UGD. Tante Leni sedang memberitahukan para anak buah Faris, untuk perketat penjagaan Mama Alira dan Papa Fahri. Karena mereka adalah orang pertama dalam keluarga Permana, yang saat ini, sedang di incar para musuh.
Selesai berbicara dengan anak buah Faris yang sedang berjaga di depan ruang UGD, Tante Leni dengan segera langsung melangkah menuju parkiran bersama beberapa anak buah Faris, yang akan menemaninya ke rumah keluarga Permana untuk menjemput Aleta.
Sedangkan Faris, dia dan beberapa anak buahnya sudah melaju menuju tempat penyekapan Pak Frengki, dan beberapa anggota Polisi di sebuah gedung tua milik keluarganya. Tapi dalam perjalanan, tiba-tiba Faris melihat ada sebuah mobil di belakang mereka yang sangat mencurigakan. Dan dia sudah pastikan kalau mobil itu sedang mengikuti mereka.
Faris bukanlah orang yang bodoh yang bisa di jebak atau di lacak dengan begitu mudah. Dengan rencana yang sudah ada di dalam kepalanya, dia membiarkan mobil itu untuk terus mengikuti mereka.
Faris terus memperhatikan mobil yang sedang mengikuti mereka itu, melewati kaca spion yang ada di samping. Dan dia sudah punya rencana untuk menjebak orang-orang yang berada di dalam mobil itu. Dengan tatapan yang tidak lepas dari kaca spion mobil Faris pun berkata.
"Ada yang mengikuti kita dari belakang, cepat putar balik ke rumah Papaku,,!" Kata Faris sambil tersenyum sinis.
"Iya Bos,, aku juga memperhatikannya." Sambung salah seorang anak buahnya yang duduk di bagian belakang.
"Jangan membuat mereka curiga,,! Karena aku ingin mereka terus mengikuti kita." Kata Faris sambil terus menatap ke kaca spion yang ada di samping.
"Baik Bos." Jawab anak buah Faris yang sedang mengemudi.
Mendengar apa yang di katakan oleh Faris, dengan perlahan-lahan, anak buah Faris yang sedang mengemudi itu langsung membelokan mobil mereka, kemudian melaju menuju rumah orang tuanya yang terletak tidak terlalu jauh dari situ.