
Aleta yang sudah tergoda oleh penampilan suaminya, mencoba untuk menenangkan dan mengendalikan dirinya. Dia tidak ingin hasratnya mengalahkan akal sehatnya, dan dia juga merasa tidak pantas untuk seorang wanita meminta atau memulai duluan, walaupun mereka pasangan suami-istri.
Setelah menarik nafas panjang, dan membuangnya perlahan selama beberapa kali, Aleta kemudian melangkah menghampiri Faris yang juga sudah menatapnya. Faris yang sudah mandi keringat itu, segera menghentikan aktifitasnya setelah melihat kedatangan Aleta, kemudian bersuara.
"Kamu sudah mandi,,?" Tanya Faris.
"Sudah Mas,, Mas juga cepat mandi,,! Karena kita harus ke rumah Mama. Barusan Mama telfon aku, katanya ada yang ingin Mama sama Papa bicarakan dengan Mas." Kata Aleta.
"Ya udah,, kalau gitu Mas mandi dulu." Kata Faris, kemudian segera melangkah ke luar dan di ikuti Aleta dari belakang.
Faris memilih untuk langsung mandi, sedangkan Aleta dia segera duduk di depan meja rias untuk mempercantik dirinya. Tidak berapa lama Faris pun keluar dari dalam kamar mandi, dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Faris berdiri di samping meja rias, sambil menatap Aleta dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat aneh.
Melihat ekspresi suaminya, Alata langsung merasa bingung, kemudian dia segera berdiri dan menatap dirinya sendiri melewati cermin besar yang ada tepat di depannya. Karena merasa tidak ada yang salah pada dirinya, Alata pun akhirnya bertanya.
"Ada yang salah sama aku Mas,,?" Tanya Aleta sambil terus memperhatikan dirinya sendiri.
"Ngga ada,, tapi baju itu terlalu sempit di badan kamu dan terlalu transparan. Pakai baju yang lain saja,,!" Kata Faris sambil meraih pakaian yang sudah di siapkan Aleta, dan mengenakannya. Sedangkan Aleta hanya menatap Faris tanpa bisa berkata apa-apa.
Aleta jadi bingung dengan suaminya yang tiba-tiba mengomentari penampilannya, karena selama ini, Faris tidak pernah protes mengenai penampilannya. Dan di saat Aleta masih bingung memikirkan semuanya, tiba-tiba Faris yang sudah selesai berpakaian langsung mendekatinya, dan menatapnya melalui cermin.
Faris memang laki-laki yang sangat dingin dan kaku, tapi di balik sikapnya itu, dia sebenarnya adalah laki-laki yang penuh dengan perhatian kepada orang-orang yang dia sayang. Dengan tatapan mata yang sayu ke arah cermin Faris pun berkata.
"Kamu selalu terlihat cantik dengan apapun yang kamu pakai, tapi ada baiknya, mulai sekarang kamu berpakaian jangan terlalu sempit di badan kamu,,! Kasihan anak kita, nanti dia terjepit." Kata Faris sambil mengusap-usap perut Aleta yang masih rata.
Aleta yang tidak ingin melawan suaminya, dengan segera langsung mengikuti apa yang di katakan Faris dengan senang hati. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit lebih longgar di badannya, yang semakin hari semakin berisi itu.
Setelah itu, mereka berdua langsung bergegas menuju rumah orang tua Faris. Sampainya di sana, Faris dan Aleta jadi bingung, sebab semua anggota keluarga mereka ada di sana termasuk Oma Rita dan Opa Indra. Mereka semua terlihat begitu bersemangat membahas sesuatu.
Faris dan Aleta melangkah masuk menghampiri mereka dengan tampang yang masih kebingungan. Melihat kedatangan Faris dan Aleta, Mama Alira segera memanggil mereka untuk duduk di sampingnya. Kebetulan sofa yang di duduki Mama Alira sebagian masih kosong.
"Duduk sini sayang,,!" Ajak Mama Alira.
"Kalian lagi bahas apa Ma,,?" Tanya Faris setelah sudah duduk di samping Aleta.
"Gini sayang,, kami semua tu di undang ke Bandung, untuk menghadiri acara ulang tahun Kakek kamu besok. Tapi kami semua memutuskan untuk berangkat hari ini, soalnya kami mau menghabiskan lebih banyak waktu di sana." Kata Mama Alira menjelaskan.
"Tapi ini kan sudah sore Ma,, mending besok saja baru kita berangkat sama-sama." Kata Faris.
"Nanti kalian pergi besok aja sama-sama Tante Leni juga Boy." Sambung Meymey Mamanya Melda.
"Ya udah kalau gitu." Kata Melda dengan tampang kurang senang.
"Trus aku Ma,,?" Tanya Almira.
"Ya kamu perginya sama Mama dan Papa." Jawab Mama Alira.
"Maa,, ini kan udah mau malaam, mending besok aja baru pergi sama-sama." Sambung Aleta.
"Tenang aja sayaang,, kami semua pergi menggunakan satu mobil. Jadi kalian ngga perlu khawatir." Kata Oma Rita.
"Iya,, kita semua pakai mobil besar Papa yang ada di garasi." Sambung Papa Fahri.
"Ya udah kalau gitu,, tapi hati-hati ya Paa,,!" Kata Aleta dan Faris bersamaan.
"Iyaa,, kalian juga besok hati-hati ya,,!" Balas Papa Fahri, dan Faris juga Aleta hanya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah itu, tidak beberapa lama mereka langsung berangkat menuju Bandung, karena semua perlengkapan yang akan mereka bawa sudah mereka siapkan sejak tadi. Sedangkan Faris, Aleta juga Melda masih berada di rumah orang tua Faris yang mewah itu.
Faris dan Aleta, memilih untuk bermalam di rumah orang tua mereka itu bersama Melda, sebab Melda tidak mau tidur sendiri di rumahnya walaupum ada beberapa orang yang bekerja di rumahnya. Karena tidak ada kegiatan apapun, akhirnya mereka bertiga memilih untuk menonton acara TV di ruang tengah.
Faris juga Melda nonton dengan gaya yang begitu santai, mereka menyandarkan tubuh mereka di sandaran sofa sambil fokus ke layar TV yang berada di depan mereka. Sedangkan Aleta yang sudah trauma dengan kecelakaan yang menimpa orang tuanya, merasa sedikit gelisah dan tidak tenang.
Dia merasa tidak tenang memikirkan beberapa orang yang sangat dia sayangi, yang baru saja pergi meninggalkan rumah menuju Bandung. Tapi kemudian dia kembali berusaha untuk menenangkan dirinya, sambil menatap Aleta juga Faris bergantian, Aleta pun berkata-kata dalam hatinya.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Aku seperti ini, mungkin karena aku sudah trauma dengan kejadian yang menimpa orang tuaku dulu." Kata Aleta dalam hatinya sambil menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
Setelah itu, Aleta memilih untuk mengobrol dengan Melda, mengenai persiapan dia besok ke Bandung.
"Mel,, kamu sudah punya baju buat acara ulang tahun Kakek di Bandung besok,,?" Tanya Aleta.
"Ada sih, tapi yang lama. Besok pulang dari Kampus kita singgah di mol yaa,,? Kita lihat gaun buat di pakai di acara ulang tahun Kakek." Kata Melda bersemangat.
"Iya." Jawab Aleta singkat.
Melda memang tidak ada hubungan darah dengan Mama Alira, tapi Melda sangat menyayangi Mama Alira sama seperti dia menyayangi Mamanya sendiri, begitupun dengan kedua orang tuanya. Refan juga Meymey sudah menganggap Alira seperti saudara kandung bukan saudara ipar. Jadi mereka juga menganggap orang tua Alira seperti orang tua mereka sendiri.