CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 108. Selamat Dari Incaran Musuh.


Reza dan Melda akhirnya selamat dari orang-orang yang mau mencelakai mereka itu. Mobil yang tadi mengejar mereka sudah tidak terlihat lagi, karena tadi tembakan Reza berhasil mengenai sebelah ban depannya.


Melda yang masih sangat ketakutan, masih terus memeluk tubuh kekar Reza dengan begitu eratnya, sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reza dengan nafas yang sudah sangat memburu, seperti orang yang baru selesai berlari memutar lapangan.


Melda tidak berani untuk mengangkat mukanya, setelah mendengar suara tembakan dari arah belakang mobil mereka tadi. Dan Reza yang sudah bernafas lega karena mereka sudah tidak di kejar lagi, segera menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil sambil berkata.


"Jangan takut,,! Mereka sudah tidak mengejar kita lagi." Kata Reza sambil memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.


Mendengar apa yang di katakan oleh Reza, membuat Melda dengan perlahan-lahan mengangkat mukanya, dan menatap Reza yang sedang bersandar di sandaran kursi mobil, dengan mata yang tertutup itu, kemudian bertanya.


"Siapa mereka sebenarnya,,? Apa mereka itu orang suruhan Bos kamu,,?" Tanya Melda dengan nafas yang sangat tidak teratur, karena dia masih merasa tegang dan ketakutan dengan semua yang baru saja mereka alami.


"Kayanya ngga mungkin kalau mereka itu orang suruhannya Pak Rendra." Jawab Reza sambil memperbaiki duduknya.


"Kenapa ngga mungkin"? Bisa saja dia segera menyuruh orang untuk mengejar kita, setelah dia tahu kalau kita akan melarikan diri." Kata Melda sambil menatap Reza yang juga sedang menatapnya.


"Aku juga ngga yakin kalau orang-orang yang mengejar kita tadi itu, orang suruhannya Bos." Sambung temannya Reza yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa kalian ngga yakin,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza dan temannya itu bergantian, dengan tatapan mencari tahu.


"Soalnya tidak ada yang mencurigakan di saat aku berada di sana. Dan kalau memang mereka itu orang suruhannya Pak Rendra, mereka pasti sudah menangkap kita saat masih berada di rumah tadi." Kata teman Reza yang bernama Reno itu, sambil terus menyetir.


"Iyaa,, aku juga berfikir seperti itu. Dan orang-orang yang mengejar kita tadi itu, aku yakin seratus persen, kalau mereka adalah orang-orang yang memang ingin mencelakai kita, seperti mereka mencelakai keluargamu." Kata Reza sambil menatap Melda sesaat.


"Trus kita mau kemana sekarang,,?" Tanya Reno sambil menatap Reza dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.


"Aku juga bingung mau kemana, sebab aku tidak mungkin kembali ke tempatku, karena orang-orang itu pasti sudah melacak semua yang berkaitan denganku." Jawab Reza.


"Kalau gitu kita ke rumah saudaraku saja, karena itu tempat yang paling aman, buat kalian bersembunyi untuk sementara waktu menurut aku." Kata Reno.


"Maafkan aku Ren, karena aku sudah menyusahkan kamu." Kata Reza dengan tampang bersalahnya.


"Itulah gunanya sahabat Za. Jadi kamu ngga usah merasa bersalah,,! Lagian aku sangat bersyukur bisa membantu kamu, karena apa yang aku lakukan ini, tidak ada artinya di bandingkan dengan apa yang kamu berikan padaku." Kata Reno sambil terus menyetir.


Reno adalah orang yang selalu di bantu oleh Reza. Waktu itu Reno tidak punya pekerjaan juga tidak punya tempat tinggal di saat kedua orang tuanya meninggal. Dia seperti itu karena, di saat orang tuanya sakit, dia menjual semua yang mereka miliki untuk biaya pengobatan orang tuanya, tapi setelah semuanya habis, orang tuanya malah meninggal. Dan Reza lah orang yang selalu membantu semu kesusahannya.


Reno membawa Reza dan Melda ke rumah saudaranya, yang terletak di sebuah perkampungan yang lumayan jauh dari kota. Mereka sampai di sana tepat pukul 6 pagi, hampir delapan jam perjalanan dari kota menuju kampung itu.


Setelah memarkirkan mobilnya, Reno pun segera melangkah menuju rumah, yang terlihat begitu sederhana bersama Reza dan Melda. Mereka bertiga terlihat sangat kelelahan, karena mereka tidak tidur biar sedikit pun sejak semalam. Sampainya di depan pintu, Reno langsung mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil nama seseorang.


Tidak lama pintu pun terbuka, dan keluarlah seorang wanita yang kira-kira berumur 50 tahun. Ternyata wanita itu adalah Tantenya Reno, adik perempuan dari ibunya Reno yang sudah meninggal sejak beberapa tahun lalu.


"Ayo silahkan duduk,,!" Kata Tantenya Reno setelah mereka sudah berada di ruang tamu.


"Zaa, Meel, ini Tante aku, namanya Tante Mawar. Tante Mawar ini adiknya Ibu aku." Kata Reno memperkenalkan Tantenya.


"Saya Reza Tante, dan ini teman saya Melda." Kata Reza sambil menyalami Tante Mawar dan di ikuti Melda.


"Mereka teman-teman saya Tan. Dan mereka mau tinggal di sini selama beberapa hari." Kata Reno kepada Tante Mawar.


"OOO iya ngga apa-apa, biar tinggal lama juga ngga apa-apa, lagian Tante ini hanya tinggal bersama Om nya Reno, dan seorang anak laki-laki Tante yang masih berada di bangku SMA." Kata Tante Mawar dengan senyum ramahnya kepada Reza dan Melda.


"Makasih Tante." Sambung Melda dengan senyum yang terukir di wajah cantiknya.


Setelah itu, mereka bertiga langsung duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sedangkan Tante Mawar, dia segera berpamitan untuk ke belakang.


"Kalian duduk dulu ya,,! Tante mau ke belakang dulu." Kata Tante Mawar dan segera melangkah ke belakang.


Reza, Melda dan Reno yang berada di ruang tamu, sedang membahas tentang langkah yang akan mereka lakukan selanjutnya. Reza meminta Reno untuk tinggal bersama mereka di situ, sebab dia yakin kalau Reno sudah pasti akan di incar para musuh, ataupun Pak Rendra, karena Pak Rendra ataupun para musuh sudah mengetahui dan melihat mereka bertiga pergi bersama.


Melda yang hanya mendengar perkataan Reza sejak tadi pun ikut setuju, begitupun dengan Reno. Apalagi Reno itu masih lajang, dan di Kota dia tinggal sendiri di apartemennya, jadi di manapun dia berada, tidak akan ada yang khawatir dengannya.


Tidak lama mereka berbincang-bincang, tiba-tiba Tante Mawar kembali dari arah belakang bersama seorang laki-laki yang kira-kira berumur 54 tahun, dan seorang anak laki-laki yang berpakaian seragam putih abu-abu.


Tante Mawar sangat baik dan ramah, dia memperkenalkan laki-laki, juga anak Remaja yang datang bersama dia itu kepada Reza dan Melda. Dan ternyata laki-laki itu adalah suaminya, dan anak raja itu anak semata wayangnya yang tidak lain adalah sepupu Reno.


"Ini suami Tante,, namanya Om Firman, dan ini anak Tante, namanya Denis." Kata Tante Mawar memperkenalkan suami dan anaknya.


Dan tanpa menunggu lama, Reza dan Melda langsung menyalami Om Firman dan Denis sambil memperkenalkan diri. Kemudian Om Firman yang juga sangat baik, langsung mengajak Reno, Reza, dan Melda untuk sarapan bersama.


Mereka sarapan bersama-sama, sambil Reno menceritakan semua masalah yang sedang mereka hadapi, sampai membuat mereka harus melarikan diri ke rumah Tantenya itu. Dan apa yang di ceritakan oleh Reno itu, membuat Tante Mawar dan Om Firman, ikut prihatin dan merasa kasihan terhadap mereka, terutama pada Melda.


"Jangan khawatir, kalian boleh tinggal di sini sampai kapanpun. Malahan kita senang, karena rumah kita akan ramai selama ada kalian di sini." Kata Om Firman dengan senyum yang sangat ramah.


"Makasih Om." Kata Reza dengan tampang yang terlihat sangat lesu.


Melihat keadaan Melda, Reza juga Reno yang terlihat begitu kelelahan, Om Firman dan Tante Mawar, langsung menyuruh mereka untuk membersihkan badan mereka dan beristirahat. Dan tanpa menunggu lama, Reza, Melda, dan Reno pun segera bergegas untuk membersihkan badan mereka.


Rumah Om Firman dan Tate Mawar sangat sederhana, dan di rumah itu hanya ada dua kamar mandi, satu di dalam kamar tidur Om Firman dan Tante Mawar, dan yang satunya lagi berada di samping dapur. Karena kamar mandi yang bisa di gunakan hanya satu, akhirnya mereka bertiga pun mandi secara bergantian.