CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 64. Kepergian Faris.


Pukul 10:30 malam, Faris dan Aleta sampai di rumah. Setelah pintu di bukakan oleh BI Rati, Faris dan Aleta langsung masuk dan melangkah menuju lift, keceriaan dan semangat Aleta tadi di bioskop, hilang seketika, setelah dia kembali tersadar, kalau besok Faris akan meninggalkannya selama dua Minggu.


Sejak menikah sampai sekarang, Aleta tidak pernah hidup terpisah dengan Faris, sampai selama itu, jadi dia sangat sedih, melepaskan kepergian suaminya itu ke Amerika.


Dengan wajah yang murung, Aleta melingkarkan tangannya di lengan Faris, juga menyandarkan kepalanya di samping pundak Faris, sambil melangkah memasuki lift. Melihat sikap istrinya, membuat Faris jadi sedikit berat untuk meninggalkannya.


Sebenarnya Faris ingin sekali mengajak Aleta,


tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena Aleta harus menyelesaikan beberapa mata kuliahnya yang tertunda. Dengan penuh kasih sayang, Faris merangkul pundak Aleta, dan sambil menatapnya Faris pun bertanya.


"Aal,, aku kan pergi untuk kerja, bukan untuk jalan-jalan,," kata Faris.


"Tapi kan lama Maas,," jawab Aleta dengan tampang sedihnya, tanpa menatap Faris.


"Aku janji,, setelah ada waktu luang, aku akan mengajakmu berlibur,," kata Faris dengan harapan, Aleta akan kembali bersemangat.


"Ngga liburan juga ngga apa-apa Maas, itu ngga jadi masalah buat aku,," kata Aleta sambil menatap Faris.


Aleta selesai berbicara seperti itu, pintu lift langsung terbuka. Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kamar, dengan tampang Faris yang bingung, karena mendengar kata-kata Aleta barusan, sedangkan Aleta masih tetap terlihat murung.


Aleta memilih untuk pergi ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan sisa-sisa makeup di wajahnya, dan tidak lama, Faris pun menyusulnya. Mereka berdua membersihkan wajah mereka, tanpa ada yang bersuara.


Selesai mencuci muka, mereka berdua langsung keluar dari kamar mandi, Aleta memilih untuk langsung duduk di depan meja riasnya, karena dia ingin memakai segala perawatan malamnya. Sedangkan Faris hanya duduk terdiam, sambil memikirkan kata-kata Aleta tadi.


Setelah sudah selesai menggunakan segala perawatan malamnya, Aleta langsung beranjak naik ke tempat tidur, dan memeluk Faris yang sudah terlentang di atas tempat tidur. Aleta yang sudah meletakan kepalanya di dada Faris langsung bersuara.


"Mas,, aku ngga apa-apa biar ngga ikut, tapi aku mau Mas janji satu hal,,!" Kata Aleta sambil mengusap-usap dada suaminya.


"Janji apa,,?" Tanya Faris.


"Aku mau Mas janji, kalau Mas ngga akan pernah macam-macam di sana,," kata Aleta sambil mengangkat mukanya menatap Faris.


"Iyaa,," jawab Faris singkat.


"Ko jawabnya gitu doang,,?" Protes Aleta dengan wajah ngambeknya.


"Terus aku harus jawab apa,,?" Tanya Faris dengan santainya.


"Aku tu maunya, Mas berjanji,,!" Kata Aleta dengan tatapan menuntut.


"Aku janji ngga akan macam-macam, di saat aku jauh darimu,," kata Faris yang membuat Aleta langsung mempererat pelukannya, memeluk Faris.


Aleta merasa sangat bahagia, setelah mendengar janji yang di ucapkan Faris tadi. Aleta memeluk Faris dengan erat, dan Faris pun langsung membalas pelukannya, sambil mengecup keningnya dan berkata-kata dalam hatinya.


"Aal,, kamu tidak tahu betapa besar cintaku padamu. Walaupun kamu tidak memintaku untuk berjanji, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau hanya kamu, wanita satu-satunya dalam hati dan hidupku, sekarang dan untuk selama-lamanya,," Faris berkata-kata di dalam hatinya.


Karena waktu sudah menunjukan pukul 11:30 malam, Faris dan Aleta langsung memilih untuk tidur, mengingat kalau Faris akan berangkat pagi-pagi besok.


Pukul 5:30 pagi Aleta terbangun, dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Aleta langsung membangunkan Faris untuk mandi, karena Faris dan asistennya akan berangkat dengan pesawat jam 9 pagi.


"Maas,, Mas bangun,,! Ini udah mau jam enam,," kata Aleta sambil menggoyang-goyangkan lengan Faris.


Di saat Aleta hampir selesai merapikan tempat tidur, Faris pun keluar dan langsung buru-buru memakai pakaiannya, sambil memakai pakaian, Faris pun berkata.


"Kalau kamu takut untuk tidur sendiri, kamu tinggal sementara di rumah Mama aja,," kata Faris.


"Ngga Mas, aku ngga mau,, aku tidur di sini saja, lagian kan ada Bi Rati sama suaminya,," jawab Aleta.


"Iya,, tapi mereka kan, tidurnya di bawah,," kata


Faris.


"Kalau gitu aku ajak Melda aja, buat tidur di sini selama Mas ngga ada,," jawab Aleta.


"Iyaa, ajak Melda aja buat tidur sama kamu sampai aku kembali,," kata Faris.


Setelah sudah rapi, Faris dan Aleta langsung melangkah keluar dari kamar, menuju lantai bawah menggunkan lift. Di saat mereka keluar dari lift, mereka berpapasan dengan Bi Rati, yang hendak menaiki tangga menuju lantai atas. Tapi di saat melihat kedua majikannya, Bi Rati segera menghentikan langkahnya, kemudian berkata.


"Den,, Non,, sarapannya sudah siap,," kata Bi Rati.


"Iya Bi,, kita segera ke sana,," jawab Aleta.


Tanpa menunggu lama, Faris dan Aleta langsung sarapan, karena Faris sudah di telfon sama asistennya, kalau dia sudah di dalam perjalanan menuju rumah mereka.


Selesai sarapan, Faris langsung mengajak Aleta menuju kamar, Aleta sangat bingung tapi dia tetap melangkah mengikuti suaminya menaiki tangga. Sampinya di dalam kamar, dengan buru-buru Faris segera mengunci pintu kamar, dan langsung berbalik menyerang Aleta dengan ciuman yang begitu berhasrat.


Sebenarnya sejak mereka sedang sarapan tadi, tidak sengaja tatapan Faris tepat di bibir Aleta, yang sedang bergerak mengunyah makanan, dan itu membuat hasrat di dalam dirinya kembali menuntut.


Aleta sangat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Faris, tapi tidak lama dia pun membalas ciuman Faris. Hanya beberapa detik, mereka saling beradu bibir di depan pintu, Faris dengan nafas yang sudah memburu, langsung melepaskan pakain Aleta, juga celananya sendiri.


Pertempuran pun di mulai, tapi mengingat asistennya yang sebentar lagi akan sampai di rumah mereka, sehingga hanya memakan waktu hampir setengah jam, Faris pun mengakhiri pertempurannya.


Dengan buru-buru, Faris langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, begitupun dengan Aleta. Selesai membersihkan diri, Faris dan Aleta segera berpakain, dan langsung turun menuju lantai satu menggunakan lift.


Di dalam lift, Faris mempergunakan kesempatan itu, untuk berpamitan dan membicarakan, apa yang ingin dia bicarakan dengan istri cantiknya itu. Begitupun dengan Aleta, dia juga menyampaikan, apa yang ingin dia sampaikan kepada suaminya.


Tidak berapa lama, mereka pun keluar dari dalam lift, dan langsung menuju ruang depan. Sampainya di depan, Faris dan Aleta melihat Mama Alira sedang mengobrol dengan asisten Faris, dengan langkah yang di percepat, Faris melangkah menuju mereka, dengan Aleta di belakangnya, kemudian Faris bersuara.


"Sudah lama,,?" Tanya Faris kepada asistennya.


"Ngga,, barusan nyampe, dan berpapasan sama Tante di depan,," jawab asisten Faris.


"Ya sudah,, kalau gitu kita langsung cabut aja,,! Solnya ngga sampai satu jam lagi peswat kita akan take-of,," kata asisten Faris.


Dengan segera Faris langsung berpamitan kepada Mamanya, juga kepada Aleta yang sedang menatapnya, dengan senyum yang di paksakan, dan Faris yang sudah menyadarinya, langsung memeluk Aleta kemudian berbisik.


"Aku pergi untuk kembali sayang,, dan hati ini hanya milikmu seorang,," kata Faris, kemudian


mengecup pipi Aleta.


Setelah itu Faris dan asistennya langsung berangkat ke bandara, di antar oleh supir pribadi Faris. Aleta dan Mama Alira sebenarnya ingin mengantar Faris ke bandara, tapi Faris tidak mau, karena di luar sedang turun hujan.