
Selesai sarapan, Faris dan Aleta segara berangkat menuju Kampus, dalam perjalanan tidak ada penbicaraan antara mereka berdua. Aleta menatap ke arah luar melewati kaca mobil, dengan tatapan yang sangat kosong, dan Faris yang sedang memperhatikannya dari kaca spion, yang ada di depannya, jadi kepikiran sendiri.
Faris yakin, kalau apa yang di katakan Aleta tadi di rumah, tidak dengan kesungguhan hatinya, Faris pun tahu, kalau Aleta belum siap untuk mengandung, jadi Faris memutuskan untuk tidak menyinggung tentang masalah itu lagi, dan dia pun sudah pasrah, kalau memang dia tidak bisa untuk memiliki anak.
Sampainya di depan Kampus, Aleta segera turun setelah mencium tangan Faris, dan Faris mencium keningnya, dan tanpa berkata apa-apa, Faris langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Sikap Faris yang tiba-tiba dingin, membuat Aleta jadi bingung, karena tadi di rumah, Faris begitu hangat.
Sampainya di kantor, Faris segera melangkah menuju ruangannya, dengan tampang yang terlihat begitu dingin. Semua kariawan yang melihat ekspresinya, sampai tidak berani untuk menyapanya.
Di dalam ruangan, Faris duduk termenung memikirkan nasibnya, karena menurut pemeriksaan Dr, Faris kemungkinan besar tidak bisa untuk memiliki anak setahun kedepan, karena obat yang dia konsumsi selama ini, semakin hari semakin melemahkan spermanya, dan spermanya tidak akan mampuh untuk menembus sel telur dari wanita.
Tanpa sepengetahuan Aleta dan keluarganya, Faris sering pergi ke rumah sakit, untuk memeriksakan dirinya, dan dia juga sudah mengikuti segala anjuran Dr, untu meminum obat penyubur, tapi usahanya tidak
membuahkan hasil apa-apa, tidak ada kemajuan, malahan semakin memburuk hasil pemeriksaannya.
Selain takut tidak bisa memiliki anak, Faris juga sudah mulai hawatir dengan Aleta, karena wanita mana yang mau mengorban hidupnya, untuk hidup bersama laki-laki mandul seumur hidupnya. Faris sangat takut kehilangan Aleta, karena dia sudah sangat mencintai wanita cantiknya itu.
Di Kampus, Aleta yang sudah berada di dalam ruangan, dan sedang menunggu kedatangan Dosen, hanya termenung memikirkan nasibnya, dia belum siap untuk mengandung, tapi di sisi lain, dia mulai meras takut akan kehilangan Faris, kalau dia tetap pada prinsipnya, apalagi Faris begitu menginginkan anak darinya. Aleta sangat takut, kalau Faris akan berpaling ke wanita lain, kalau dia tetap belum siap untuk hamil. Aleta tidak bisa membayangkan semua itu.
"Aku tidak akan bisa hidup tanpa Mas Faris,," Aleta berkata-kata dalam hatinya dengan tampang ketakutan.
Melihat tingkah Aleta yang aneh, membuat teman-temannya yang sedang memperhatikannya sejak tadi, langsung bersuara dan membuat Aleta langsung tersadar dari lamunannya.
"Al,, Aletaaa,," Teriak Cika sedikit keras dan membuat Aleta langsung tersentak.
"Kamu kenapa sih,,?" Tanya Melda sambil menatap Aleta dengan tatapan cari tahu.
"Ngga aku ngga apa-apa,," jawab Aleta berbohong.
Pukul 11:30, Aleta sudah sampai ke rumah, karena mata kuliah yang mereka terima hanya satu, sehingga Aleta dan teman-temannya pulang lebih awal, sampainya di depan rumah, Aleta mendengar suara dari dalam rumah seperti orang sedang mengobrol, dan setelah maauk ke dalam rumah, dia melihat Mama Mertuanya, sedang berbincang-bincang dengan satu orang wanita juga satu orang laki-laki.
"Asalamualaikum,," salam Aleta.
"Waalaikumsalam,," jawab Mama Alira dan kedua orang tua itu.
"Sini sayang,," panggil Alira kepada Aleta.
"Bi Rati, Pak Maman, ini menantu saya,, namanya Aleta,," kata Alira kepada pasangan suami istri, yang akan bekerja di rumah Faris dan Aleta.
"Halo Non,," sapa Bi Rati dan Pak Maman bersamaan.
"Halo juga,," jawab Aleta sambil tersenyum ramah.
"Ma, ko cuma dua orang,,?" Tanya Aleta.
"Iya sayang, karena yang lainnya ngga jadi,, dan Bi Rati dan Pak Maman ini suami istri,," kata Mama Alira.
"Ooo gitu,,? Trus barang-barang mereka mana Ma,,?" Tanya Aleta.
"Sudah di bawah ke kamar, cantiik,, Mama sudah nunjukin kamar mereka, kan kamu yang suruh,," jawab Alira.
"Aduuh, maaf ya Ma, aku udah repotin Mama,," kata Aleta penuh bersalah.
"Ngga apa-apa sayang,, buat anak-anak Mama, apapun akan Mama lakukan,," kata Alira sambil mengusap-ngusap kepala Aleta.
"Kalau gitu Mama pulang dulu ya,," tambah Alira.
"Iya sayaang,," jawab Alira.
Setelah Mama Mertuanya pulang, dengan segera Aleta langsung naik ke kamar untuk mandi, dan setelah sudah rapi, dia kembali turun ke dapur. Sampainya di dapur, Aleta dengan begitu ramah, mengajak bi Rati untuk mengobrol. Begitulah sifat Aleta, dia sangat ramah dan sopan dengan orang.
"Non baru menikah ya,,?" Tanya Bi Rati.
"Iya Bi,," jawab Aleta.
"Bibi doakan,, semogah Non cepat-cepat dapat dede bayi,," kata Bi Rati yang membuat Aleta, langsung tersenyum sambil berkata.
"Tapi aku tu masih kuliah Bi, aku pengen punya dede bayi kalau sudah selesai kuliah,," kata Aleta.
"Iya bagusnya kaya gitu Non, tapi kalau menurut Bibi,
ngga usah menunda Non, soalnya, kelemahan suami itu ada pada anak, kalau kita sudah punya anak, mereka tambah cinta sama kita, tapi kalau belum punya anak, mereka masih merasa bebas,," kata Bi Rati panjang lebar, dan membuat Aleta langsung terdiam sejenak.
Dalam diam Aleta berfikir, kalau apa yang di katakan Bi Rati itu memang benar, apalagi banyak wanita di luar sana, yang begitu tergila-gila sama Faris, dan Aleta juga tidak ingin, rasa cinta Faris padanya berkurang lantaran dia belum mau mengandung.
"Ada apa Non,,?" Tanya Bi Rati hawatir, karena melihat
Aleta yang tiba-tiba murung.
"Ngga apa-apa Bi,," jawab Aleta sambil tersenyum.
Aleta merasa beruntung punya ART seperti Bi Rati, karena Bi Rati sangat baik, dan bisa Aleta anggap sebagai Orang Tua, sebab menurut dia, Bi Rati bisa memberikan pencerahan padanya, dalam menghadapi masalah.
Di saat Aleta sedang asik melihat Bi Rati masak untuk makan siang, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi, dengan segera dia langsung berpamitan kepada Bi Rati, dan meminta Bi Rati untuk menyiapkan jus juga makanan ringan, karena dia tahu yang datang itu teman-temannya, karena merek sudah janjian untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Aleta.
"Bii,, aku ke depan dulu,," kata Aleta.
"Ngga usah Non,, biar Bibi yang bukain pintu aja,," kata Bi Rati.
"Biar aku aja Bi,, itu teman-teman kuliah aku yang satang, Bibi tolong siapin jus sama cemilan ya,,!" Kata Aleta.
"Baik Noon,," jawab Bi Rati.
Aleta melangkah ke depan dan segera membuka pintu, setelah pintu terbuka, Aleta langsung kaget dengan tingkah teman-temannya yang begitu heboh, melihat rumah Aleta yang begitu mewah.
"Asalamualaikum cantiiik,," kata Cika.
"Aaaaa,, rumah Aleta mewah bangaat,," kata Mia heboh.
"Iyaa,, rumah kamu mewah bangat Al,," sambung Fino.
"Ya mereka kan Keluarga Permana, keluarga yang di kenal dengan kesuksesannya, tu lihat rumahnya Melda dan rumah Mama Mertua Aleta,,! Ngga ada yang sederhana kan,,?" Sambung Rey.
"Apa-apaan sih kalian,," kata Melda dan Aleta bersamaan.
Aleta dan Melda sama-sama tidak memiliki sifat sombong, mereka tidak pernah mau menyombongkan apa yang mereka punya, dan bukan
hanya mereka berdua saja, seluruh Keluarga Permana memang memiliki sifat seperti itu.