
Selesai membersihkan celananya, Melda langsung keluar dengan wajah yang terlihat begitu sembab. Sedangkan Reza, sebelum Melda keluar tadi dia sudah melangkah pergi menuju ruang depan menemui Reno, yang sedang mengobrol dengan Tante Mawar dan suaminya sejak tadi.
Setelah selesai berpakaian, Melda segera bergegas ke dapur, karena sejak pagi tadi dia belum sempat makan apapun. Selesai makan, dia langsung pergi ke ruang depan untuk bergabung dengan yang lainnya, yang masih saja mengobrol di sana.
Mereka duduk bersama dan mengobrol tentang segala hal. Termasuk tentang teman-teman Reno yang mau berkunjung nanti malam ke rumah Tante Mawar. Mendengar itu, Tante Mawar langsung menggoda Reza juga Reno.
"Kesempatan bagus tu buat kalian." Kata Tante Mawar.
"Kesempatan apa Tante,,?" Tanya Reno.
"Ya kesempatan untuk mencari Jodoh." Jawab Tante Mawar sambil tersenyum menatap Reza dan Reno bergantian.
"Iyaa,, kalau buat aku sih kesempatan. Tapi tidak tahu kalau buat Bos aku ini." Kata Reno sambil melirik ke arah Reza.
"Bagaimana Zaa,,? Menurut kamu teman-temannya Reno cantik ngga,,?" Tanya Tante Mawar.
Tante Mawar memang memiliki sifat keingintahuan yang sangat tinggi. Dia selalu penasaran apalagi yang berkaitan dengan anak-anak mudah, begitupun dengan suaminya. Dan dia ingin sekali, Reza dan Reno yang masih lajang di umur mereka yang sudah sangat dewasa itu, mendapatkan jodoh di kampung itu, biar bisa dekat selalu dengan keluarga mereka. Karena mereka sudah menganggap Reza juga Melda, seperti keluarga sendiri.
Tante Mawar juga suaminya sudah merasa sangat dekat dengan Reza, dan sudah menganggap Reza seperti keluarga sendiri, begitu juga dengan Melda. Tapi Tante Mawar tidak berani untuk menjodohkan Melda, karena dia tahu Melda bukan dari keluarga sembarangan, dan tidak pantas bersanding dengan laki-laki di kampung itu.
"Bagaimana Zaa menurut kamu,,?" Tanya suami Tante Mawar, karena Reza belum juga menjawab pertanyaan Tante Mawar.
"Mereka cantik." Jawab Reza singkat, sambil tersenyum dan menggaruk-garuk belakang kepalanya.
"Hahahahahahaha." Suara tertawa Tante Mawar dan suaminya, setelah mendengar jawaban Reza.
Sedangkan Reno hanya tersenyum sambil menatap Reza. Karena Reno tahu, laki-laki dingin yang ada di hadapannya itu, tidak semudah itu tertarik pada wanita, apalagi wanita yang baru dia kenal.
Reno sudah sangat mengenal sifat Reza, dan dia tahu, kalau Reza bukanlah laki-laki yang mudah jatuh cinta. Karena selama ini yang Reno ketahui, ada banyak sekali wanita-wanita cantik dan kaya yang mengejar-ngejar Reza, tapi Reza sama sekali tidak memperdulikan mereka, apalagi hanya gadis desa seperti teman-temannya itu.
Tante Mawar dan suaminya yang melihat ekspresi malu-malu Reza, semakin bersemangat untuk menggoda laki-laki tampan itu. Dan Melda yang sejak tadi hanya terdiam seperti patung, tiba-tiba merasa kesal dengan sikap Reza. Melda hanya menatap Reza dengan tatapan yang sangat dingin tanpa berkata apa-apa.
Melda tiba-tiba merasa tidak suka di saat melihat Reza yang sepertinya begitu senang, di saat Tante Mawar dan suaminya menjodohkan dia, dengan teman-teman Reno yang Melda sendiri belum pernah lihat. Dan Melda juga merasa sangat marah, di saat mengetahui kalau tadi pagi Reza ke pasar, bersama dengan teman-teman Reno. Sambil menatap Reza dengan tatapan yang begitu tajam, Melda pun berkata-kata dalam hatinya.
"Kelihatan saja cool, padahal gampangan." Melda berkata-kata dalam hatinya dengan tampang datarnya.
Reza yang sedang di goda sama Tante Mawar dan suaminya, tanpa sengaja menatap ke arah Melda. Dan seketika senyum di wajahnya langsung hilang di saat melihat tatapan Melda. Reza sangat bingung dan merasa aneh dengan ekspresi Melda. Apalagi setelah dia menatap Melda, Melda dengan segera langsung berdiri, dan pergi tanpa berkata apa-apa.
Reza hanya menatap Melda yang sudah melangkah pergi dengan tatapan kebingungan, dan tanpa dia sadari, Reno sedang memperhatikannya sambil tersenyum. Reno merasa sangat lucu dengan tingkah Melda dan Reza.
Reno yang sudah biasa berganti-ganti pacar, begitu yakin kalau Melda punya perasaan terhadap Reza. Sedangkan Reza si kutub Utara itu, sama sekali tidak menyadarinya, dan itu yang membuat Reno merasa sangat lucu, dengan kebodohan Reza dalam masalah memahami wanita.
"Ada apa sama Melda,,?" Tanya Tante Mawar dengan tatapan mencari tahu ke arah Reza.
"Ngga tahu Tante. Mungkin perutnya sakit lagi." Jawab Reza.
"Mending kalian bawa dia ke puskesmas saja, biar di kasih obat." Sambung suaminya Tante Mawar.
"Iya sebaiknya seperti itu." Kata Tante Mawar.
Mendengar apa yang di katakan Om dan Tantenya, membuat Reno kembali tersenyum sambil berkata-kata dalam hatinya.
"Bukan perutnya yang sakit, tapi hatinya yang sakit." Kata Reno dalam hatinya.
"Kalau gitu aku permisi dulu Tante. Aku mau bilang sama Melda untuk ke puskesmas." Kata Reza dan segera melangkah menuju kamar tidur Melda.
Reno yang masih saja tersenyum, hanya menatap Reza yang sudah berlalu pergi tanpa berkata apa-apa. Dia tidak menyangkah, masih ada laki-laki yang tidak peka seperti Reza di dunia ini. Padahal ekspresi cemburu Melda sudah sangat nampak, tapi dia malah mengira Melda seperti itu karena kesakitan. Dalam diam Reno kembali berkata-kata dalam hatinya, sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar laki-laki kaku,,! Bagaimana mau dapat jodoh, kalau dia sendiri tidak bisa mengerti apa-apa tentang sifat wanita." Gumam Reno sambil menggelengkan kepalanya.
Sampainya di depan pintu kamar Melda, Reza langsung masuk tanpa mengetuk pintu, karena Melda yang sedang duduk di tepi ranjang, sudah menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin. Reza yang tadi merasa sedikit khawatir, dengan Melda yang pergi tanpa berkata apa-apa, jadi sedikit legah setelah melihat Melda baik-baik saja. Reza melangkah mendekati Melda dan langsung duduk di sampingnya kemudian bertanya.
"Apa kamu baik-baik saja,,?" Tanya Reza sambil menatap Melda yang ada di sampingnya.
"Seperti yang kamu lihat." Ketus Melda.
"Ko jawaban kamu seperti itu,,?" Protes Reza.
"Trus aku harus bilang apa,,?" Tanya Melda sambil menatap Reza, dengan tatapan yang terlihat begitu kesal.
"Ya aku kan tanyanya baik-baik, kenapa kamu jawabannya kasar kaya gitu,,?" Tanya Reza.
"Aku hanya lagi malas bicara, apalagi sama kamu." Ketus Melda lagi yang membuat Reza mulai kesal dan segera pergi.
Tanpa berkata apa-apa, Reza langsung keluar dari kamar Melda, dan Melda yang hanya menatapnya semakin tambah kesal dengan sikap Reza. Saking kesalnya, Melda sampai meremas ujung kasur dengan begitu kencangnya sambil berkata-kata.
"Dasar es balok,,! Apa dia tidak tahu kalau aku sedang marah,,? Aku lagi kesakitan, dia enak-enakan jalan di pasar sama cewek-cewek kampung itu." Melda berkata-kata dengan tampang yang terlihat begitu kesal.
Tapi tidak lama Melda langsung terdiam, setelah sadar dengan apa yang baru saja dia katakan, dan apa yang sedang dia rasakan. Melda jadi bingung dengan perasaannya sendiri, yang tiba-tiba panas setelah mengetahui Reza tadi bersama beberapa wanita lain di pasar, dan hatinya seperti tidak terima, di saat Tante Mawar dan suaminya tadi menjodoh-jodohkan Reza, dengan wanita-wanita itu. Sambil mencakar-cakar rambutnya sendiri Melda pun berkata-kata.
"Ada apa denganku,,? Mengapa hatiku sakit di saat Tante Mawar menjodohkan Bang Reza dengan wanita-wanita itu,,? Apa aku sudah jatuh cinta sama dia,,?" Melda berkata-kata sendirian dengan tampang kebingungan.
Sedangkan Reza yang sudah pergi menuju taman belakang rumah Tante Mawar, tidak kalah kesalnya. Reza sangat kesal dengan sikap Melda yang sangat tidak menghargai orang lain, yang ingin berbuat baik padanya. Rasa-rasanya Reza ingin kabur meninggalkan Melda sendirian, tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena dia tidak ingin mengecewakan Aleta dan keluarganya di Indonesia.