
Selesai mengantarkan Almira dan Melda ke kamar mereka, Faris segera kembali ke kamarnya, tapi setelah sampai di depan pintu, langkahnya seketika jadi tertahan di saat melihat Aleta yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan berlinang air mata. Dengan langkah perlahan Faris melangkah mendekati Aleta kemudian duduk di sampingnya sambil berkata.
"Mengapa kamu nangis,,? Tanya Faris begitu lembut.
"Aku kangen sama Reza,,! Mengapa dia ngga pernah telfon aku,,? Dan nomornya juga sudah tidak bisa di hubungi,,! Mungkin dia sudah melupakanku. Aleta berkata sambil menghapus air matanya.
"Pasti dia punya alasan untuk itu, tapi tidak mungkin dia melupakanmu. Kata Faris.
Faris berkata seperti itu karena dia tahu kalau Reza juga sangat merindukan adiknya itu, sebab Reza selalu menghubunginya untuk menanyakan kabar Aleta, tapi Reza selalu meminta kepada Faris untuk tidak memberitahukannya kepada Aleta.
Sebenarnya Faris tidak tega untuk menyembunyikan semunya dari Aleta, apalagi di saat melihat Aleta menangis seperti itu, tapi karena dia sudah terlanjur berjanji kepada Reza, sehingga dengan terpaksa dia harus merahasiakan semuanya.
"Ayo kita tidur,,! Kata Faris setelah merasa Aleta sudah tenang.
Dan tanpa menunggu lama, Aleta yang masih berlinang air mata langsung berbaring membelakangi Faris, Aleta sangat bersedih juga kesal karena Reza tidak pernah seperti itu padanya, sebenarnya dia merasa sedikit bingung dengan Reza yang tiba-tiba berubah, karena dia sudah sangat mengenal sifat saudaranya itu.
Faris yang sedang duduk di samping Aleta hanya bisa menatap Aleta dari arah samping, sebenarnya dia ingin sekali menghabiskan malam itu seperti malam pertama pengantin baru pada umumnya, tapi dia tidak tega melihat keadaan Aleta yang seperti itu, akhirnya Faris langsung berbaring sambil berbalik dan mendekap Aleta yang sudah duluan berbaring dalam pelukannya.
Mungkin karena kecapean, tidak memakan waktu lama mereka berdua sudah terlelap, pukul 3 dini hari Aleta terbangun dan turun dari tempar tidur menuju kamar mandi karena dia merasa buang air kecil.
Selesai buang air kecil Aleta melangkah ke luar dan duduk di tepi ranjang, dia menatap wajah Faris yang sedang terlelap itu dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sambil berkata-kata dalam hatinya.
"Ini kan malam pertama kita, Mengapa tidak terjadi apa-apa,,? Apa malam pertama hanya terjadi untuk pasangan yang belum pernah berhubungan sebelumnya,,? Aleta bertanya-tanya dalam hatinya.
Setelah beberapa menit dia duduk sambil menatap wajah tampan suaminya itu, Aleta memutuskan untuk
mandi karena dia sudah tidak bisa tidur lagi, selesai mandi Aleta keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya. Aleta melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya.
Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari arah tempat tidur, Faris yang tadinya
masih terlelap, langsung terbangun di saat dia menyadari kalau di sapingnya sudah tidak ada Aleta.
"Mengapa kamu mandi di jam segini,,? Tanya Faris setelah melihat jam di ponselnya yang baru menunjukan pukul 4 dini hari.
Suara Faris itu membuat Aleta yang sedang sibuk mengeringkan rambutnya langsung kaget dan menatap ke arah tempat tidur, setelah melihat Faris yang sedang terduduk di tepi ranjang sambil menatapnya dengan mata sayunya, Aleta langsung memegang dadanya sambil menarik nafas panjang dan berkat.
"Kamu bikin aku keget aja,,! Kata Aleta.
Faris yang melihat Aleta dengan keadaan seperti itu jadi menegang tiba-tiba, dan tanpa menunggu lama dia segera melangkah menghampiri Aleta dan dia langsung memeluk Aleta dari arah belakang sambil berbisik.
"Nanti saja pakai bajunya,,! Bisik Faris yang membuat bulu kuduk Aleta langsung bangun.
Belum sempat Aleta menjawab apa-apa, Faris sudah mencium pundak Aleta dan membuat Aleta seketika
langsung lemah. Mereka berdua melewatkan pagi itu dengan penuh gairah dan desahan yang memenuhi ruangan itu.
Hampir dua jam mereka bertempur Faris langsung tumbang di samping Aleta yang sudah menangis lantaran pundak dan pahanya tersa nyeri karena di gigit oleh Faris tadi. Faris yang sudah menyadari kesalahannya langsung berbalik menghadap Aleta kemudian berkata.
"Maafkan aku sayang,,! Kata Faris sambil meraih wajah Aleta tapi dengan segerah tangannya langsung di tepis oleh Aleta sambil berkata.
"Kamu kaya drakula tau ngga,,? Ketus Aleta yang membuat Faris langsung terkekeh.
"Iya aku drakula dan kamu itu daging segar yang membuatku selalu tidak tahan untuk menyantapmu. Kata Faris yang membuat Aleta langsung menggigit dada bidangnya.
"Aaaaaahh,, teriak Faris karena merasa sakit.
"Tu rasa,,! Sakit kan,? Kata Aleta yang sudah bangun dan duduk sambil menatap Faris yang sudah terlentang di sampingnya.
"Iya sakit, Tapi nikmat,,! Jawab Faris sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya untuk Aleta.
"Hiiiii dasar laki-laki mesum,,! Ketus Aleta.
"Tapi kamu suka dan menikmatinya kan,,? Tanya Faris yang membuat wajah Aleta yang putih langsung memerah seperti kepiting goreng saking malunya.
Aleta yang melihat tingkah suaminya itu langsung merinding, Aleta baru menyadari apa yang sering di katakan orang, kalau laki-laki pendiam dan kaku itu yang paling berbahaya dan ganas.
Tanpa menunggu lama Aleta langsung turun dari tepat tidur dan segera berlari menuju kamar mandi setelah mendengar jawaban suaminya itu, dan tingkah Aleta itu membuat Faris jadi terkekeh karena dia merasa lucu dengan tingkah istrinya yang seperti orang ketakutan.
Aleta yang sudah selesi mandi, sedang berdiri di depan cermin besar sambil menatap pundaknya yang sudah memerah karena perbuatan Faris tadi. Aleta merabah pundaknya sambil membayangkan kegilaan suaminya, dan tiba-tiba dia langsung berkata-kata sendiri.
"Aduuuh,, malu bangat aku,,! Ngapain juga tadi aku mendesah begitu kerasnya,,? Akhirnya dia tahu kan kalau aku menikmatinya,,? Dasar tolool,,! Aleta menggerutui dirinya sendiri di depan cermin.
Setelah itu Aleta langsung berbalik dan mengenakan handuk kemudian membuka pintu dan hendak keluar, tapi seketika langkahnya langsung tertahan karena dia melihat Faris yang sedang berdiri dan bersandar di samping pintu, dengan ke dua tangannya di lipat di dadanya sambil menatapnya dengan senyuman yang terpancar dari wajah tampannya.