
Faris ******* bibir Aleta dengan begitu rakusnya. Hasratnya yang sudah menguasai dirinya, membuat dia lupa kalau di dalam kamar itu masih ada Almira. Untung saja Almira yang berada tepat di samping mereka, sudah tertidur pulas sebelum Faris memasuki kamar tadi, jadi dia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi saat itu.
Dengan hasrat yang sudah sangat menggila, Faris menarik Aleta dari atas tempat tidur dan hendak melepaskan pakaian Aleta, tapi Aleta yang masih punya akal sehat, dengan segera langsung menahan tangannya kemudian berkata-kata.
"Maaas,, ada Almira di sinii, dan di depan pintu sana ada beberapa orang anak buah kamuu,," kata Aleta sambil menatap Faris yang juga sedang menatapnya, dengan tatapan yang sangat menuntut.
Faris yang sudah tidak bisa menahan diri, tanpa berkata apa-apa langsung menarik tangan Aleta keluar dari kamar menuju lantai atas. Beberapa anak buahnya yang melihatnya jadi bingung, karena raut wajah Faris terlihat sangat aneh setelah keluar dari kamar, apalagi dia keluar sambil menarik tangan Aleta.
Walaupun merasa bingung dengan sikap Faris, beberapa orang laki-laki yang sedang berjaga di depan pintu kamar tidak berani untuk bersuara, karena mereka berfikir kalau Bos mereka itu, kemungkinan punya masalah dengan istrinya sampai dia seperti itu.
Faris terus melangkah sambil menarik pelan tangan Aleta menuju kamar yang berada di lantai atas. Setelah berada di dalam kamar, dia langsung melepaskan tangan Aleta, dan buru-buru melepaskan semua pakaiannya dengan posisi membelakangi Aleta.
Selesai melepaskan semua pakaiannya, Faris berbalik dan dia langsung terdiam karena Aleta sudah tidak ada di belakangnya. Sambil menarik nafas panjang dan membuangnya kasar, Faris segera melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Faris merasa sedikit kesal dengan Aleta, karena Aleta selalu menunda-nunda di saat Faris sudah tidak bisa untuk menahan hasratnya lebih lama lagi. Dengan tampang datarnya Faris berdiri di depan pintu kamar mandi, kemudian dia mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata.
"Sayaaang,, kamu lagi ngapain,,?" Tanya Faris dengan nada suara yang terdengar sedikit kesal.
"Aku lagi bersihin badan aku Maas." Jawab Aleta dari dalam kamar mandi.
"Aal,, ini ni sudah larut malam, ngga baik buat ibu hamil mandi malam kaya gini." Kata Faris.
"Ngga mandi ko Mas, aku hanya membersihkan yang itu aja." Kata Aleta dari dalam kamar mandi.
"Aal,, ngga usah di bersihin juga ngga apa-apa. Kamu ni kenapa sih,,?" Tanya Faris yang sudah semakin kesal.
Aleta yang masih tetap berada di dalam kamar mandi, memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi, karena dia sudah tahu kalau Faris yang sedang berada di depan pintu, sudah sangat kesal dengannya. Sedangkan Faris yang merasa tidak di respon oleh Aleta, kembali bersuara.
"Aal,, aku tu sangat kecapean. Kalau kamu masih mau berlama-lama di dalam, ya udah aku mau tidur saja." Kata Faris dan hendak melangkah pergi.
Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Faris, dengan segera Aleta langsung buru-buru keluar tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dan Faris yang hendak melangkah pergi, seketika jadi mematung sambil menatap Aleta dari atas sampai bawah. Dan tatapan Faris itu membuat Aleta merasa sangat malu.
Aleta sangat tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang semakin padat dan berisi, karena pengaruh kehamilannya yang sudah mulai kelihatan. Dia merasa sangat malu di saat Faris menatapnya seperti itu.
Aleta takut kalau suaminya akan merasa kalau dia tidak cantik lagi. Padahal apa yang dia fikirkan itu malah sebaliknya dengan apa yang ada di dalam fikiran Faris. Faris yang sedang mematung, malah terpana dengan bentuk tubuh Aleta yang terlihat begitu seksi juga menarik, yang sudah terpampang nyata di depan matanya.
Melihat tatapan suaminya sejak tadi, membuat Aleta semakin malu. Dengan perlahan dia memeluk dadanya sendiri kemudian berkata-kata, sambil menundukkan kepalanya menatap ke arah bawah.
"Maas,, mengapa kamu menatapku seperti itu,,? Apa karena aku gendut,,?" Tanya Aleta sambil menatap Faris yang masih terus menatapnya sejak tadi.
"Kamu seksi, dan aku sangat menyukainya." Jawab Faris sambil melangkah mendekati Aleta, dan langsung menggendongnya kemudian melangkah menuju tempat tidur.
Nafas Faris sudah memburu seperti orang yang baru selesai berlari memutar lapangan, pengaruh hasratnya yang sudah memuncak. Setelah meletakan Aleta ke atas tempat tidur, tanpa menunggu lama Faris langsung menenggelamkan wajahnya di bawah sana, yang membuat bulu kuduk Aleta bangkit dengan tiba-tiba.
Permainan mulut dan lidah Faris memang selalu membuat Aleta lemah. Dengan suara seksinya Aleta mendesah bahkan sampai berteriak dengan begitu kerasnya, di saat cairan nikmatnya menyembur. Dan Faris yang sudah seperti orang kelaparan, segera menyapuh bersih semua cairan itu tanpa ada yang tersisa.
Setelah beberapa kali Faris membuat cairan nikmat itu keluar hanya dengan permainan mulut dan lidahnya, kemudian dia bangkit dan langsung mengarahkan senjatanya ke sasarannya yang sudah terpampang nyata di hadapannya. Faris yang sudah menahan hasratnya sejak tadi segera berpacu dengan begitu lincahnya, sehingga membuat Aleta tidak henti-hentinya bersuara.
Melihat istrinya yang begitu menikmati permainannya, membuat Faris semakin berhasrat. Dengan senyuman yang terukir di wajah tampannya, Faris semakin memperlancar serangannya sampai akhirnya, dia pun mengejang karena dia sudah sampai pada puncaknya.
Lahar panas itu menyembur memenuhi liang surganya Aleta. Dan setelah itu, Faris pun langsung tumbang di samping Aleta dengan nafas yang memburu, begitupun dengan Aleta. Melihat istrinya yang begitu lemah, membuat Faris menjadi khawatir. Dengan wajah yang terlihat panik, Faris langsung memeluk Aleta yang sedang terlentang di sampingnya kemudian bertanya.
"Kamu kenapa sayang,,? Apa perutmu sakit,,?" Tanya Faris yang sudah mulai panik.
"Tidak Maas,, aku dan anakmu baik-baik saja. Aku hanya lemas karena permainan Mas begitu luar biasaa,," kata Aleta dengan tatapan genitnya yang membuat Faris langsung melepaskan pelukannya dan berkata.
"Apa kamu mau menggodaku,,?" Tanya Faris sambil melepaskan pelukannya dari Aleta, dan langsung terlentang di samping Aleta.
"Aku ngga berniat menggodamu. Tapi kalau kamu merasa tergoda denganku, itu bukan salah aku." Jawab Aleta sambil bangun dan duduk di samping Faris, dengan gaya yang begitu menggoda.
"Sayang,, aku mau lagi." Kata Faris dengan tatapan menuntut yang membuat Aleta langsung ketakutan.
"Apaaa,,? Kamu mau lagi,,? Mas, kamu ini manusia atau apa sih,,? Punya aku saja sudah lecet dan perih kaya gini, kamu masih mau lagi." Gerutu Aleta yang membuat Faris langsung tertawa dan berkata.
"Besok aku akan mengantarmu ke Dr kandung untuk mengecek kehamilanmu. Aku sudah tidak sabar ingin tahu jenis kelamin anakku." Kata Faris lagi dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Aleta sangat bahagia melihat suaminya sudah bisa tertawa lebar seperti tadi. Karena selama kejadian yang menimpa keluarga mereka, jangankan tertawa, tersenyum saja Faris tidak pernah. Tapi sekarang Aleta sangat bersyukur karena suaminya sudah terlihat bahagia, walaupun kebahagiaan keluarga mereka tidak sempurna seperti dulu lagi. Karena beberapa orang yang sangat mereka sayangi sudah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
************
Sedangkan di Malaysia, Reza yang pagi-pagi sudah rapi dan harum, langsung mengajak Reno untuk ke pasar. Reno sempat menolak ajakan Reza, karena dia merasa sangat malas dan dia juga belum mandi pagi, tapi karena Reza memaksanya akhirnya dengan terpaksa Reno pun menurut.
Rumah Tante Mawar lumayan jauh dari pasar, jadi mereka membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke pasar. Reza da Reno memilih untuk naik angkutan umum, karena hanya angkutan umum yang selalu lewat di depan rumah Tante Mawar.
Angkutan umum yang mereka naiki itu sudah ada beberapa penumpang lain di dalamnya. Dan beberapa dari penumpang itu ada tiga orang wanita yang kebetulan kenal dengan Reno. Mereka bertiga adalah teman sekolah Reno waktu SMA. Karena waktu SMA, Reno tinggal bersama Tante Mawar dan sekolah di SMA, yang letaknya tidak jauh dari pasar yang sedang mereka tuju.
"Heeey Renoo,," sapa salah seorang wanita yang bernama Mika, setelah melihat Reno yang baru naik ke dalam angkot.
"Eeeeh kaliaan,," Balas Reno setelah melihat ketiga temannya itu.
"Kamu sudah lama baru kelihatan Ren,," kata teman Reno yang satunya yang bernama Ririn.
"Iya Rin, soalnya aku kerja di kota." Jawab Reno.
"Siapa ini Ren,,?" Tanya teman Reno yang satunya lagi, yang bernama Teri yang sejak tadi memperhatikan Reza.
"OOO iya kenalin, ini Bos sekaligus teman aku. Namanya Reza." Kata Reno memperkenalkan Reza.
Dan tanpa menunggu lama ketiga wanita itu langsung berkenalan dengan Reza. Ketampanan Reza seketika mencuri perhatian ketiga wanita itu. Selesai berkenalan, mereka pun langsung mengajak Reno dan Reza untuk mengobrol tentang segala hal, dengan tingkah mereka yang terlihat begitu genit.
Ketiga teman Reno itu memang sangat suka mencari perhatian, apabila melihat laki-laki tampan juga berduit, dan Reno sudah tahu sifat mereka. Sedangkan Reza yang memang tidak suka dekat-dekat dengan wanita, apalagi seperti wanita-wanita yang ada di hadapannya saat itu, hanya terdiam dengan ekspresi yang sangat dingin.
Reza bukannya tidak tertarik dengan wanita, tapi dia sangat tidak suka melihat wanita yang genit dan suka mencari perhatian lelaki, seperti ketiga teman Reno itu. Tapi ekspresi Reza yang dingin itu malah membuat ketiga wanita itu semakin menjadi-jadi.
Di dalam perjalanan, tiba-tiba angkot pun berhenti di samping jalan, untuk mengangkat dua orang laki-laki yang sedang berdiri di samping jalan. Dan itu menjadi kesempatan untuk ketiga wanita itu. Di saat kedua laki-laki yang ada di samping jalan masuk ke dalam angkot, dengan segera ketiga teman Reno yang sejak tadi duduk di hadapan Reno dan Reza,, langsung buru-buru pindah ke samping Reza.
Setelah berada satu bangku dengan Reza dan Reno, ketiga wanita itu semangkin merapat ke arah Reza, dan itu membuat Reza semakin merasa tidak nyaman. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menarik nafas panjang tanpa bisa berkata apapun.
Reno yang melihat ekspresi Reza, sudah mengerti kalau Reza sangat tidak nyaman dengan sikap ketiga temannya yang berlebihan itu, akhirnya dengan segera Reno pun berfikir untuk mengajak Reza mengobrol, biar dia tidak terlalu merasa bosan.
"Zaa,, kamu mau beli apa di pasar,,?" Tanya Reno sambil menatap Reza.
"Aku mau ambil uang di ATM." Jawab Reza dengan tampang datarnya.
"Ambil uang buat apa,,? Kemarin kan kamu sudah kasih uang buat Tante aku." Tanya Reno sambil menatap Reza yang duduk tepat di sampingnya.
"Aku mau membelikan keperluan Melda." Jawab Reza dengan tampang yang sangat dingin, karena dia sudah sangat merasa jenuh dengan tingkah ketiga teman Reno, yang duduk berdekatan di sampingnya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Reza, membuat Reno jadi bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Ada hubungan apa antara Reza dan Melda,,?" Reno bertanya-tanya dalam hatinya dengan tampang kebingungan.
Sedangkan ketiga wanita yang berada di samping Reza, langsung terdiam di saat mendengar nama Melda. Mereka yang sudah menaruh hati dengan Reza sejak pandangan pertama, merasa sangat penasaran dengan nama yang baru di sebut oleh Reza. Dan tanpa menunggu lama, salah seorang dari mereka langsung bertanya.
"Siapa Melda,,?" Tanya Ririn dengan tampang mencari tahu, tapi Reza sama sekali tidak menjawabnya.
"Melda itu adik dari suami adiknya Reza." Jawab Reno karena Reza tidak memperdulikan pertanyaan dari temannya itu.
"Oooo,, kalau gitu nanti malam kita main-main ke rumah Tante kamu ya Reen,," kata Ririn sambil melirik ke arah Reza.
"Iya aku juga ingin main ke rumah Tante Mawar." Sambung Mika dan Teri secara bersamaan.
"Ya udah, kalau gitu nanti malam aku tunggu ya,,?" Kata Reno dengan penuh semangat, sedangkan Reza tetap tidak memperdulikan merek sama sekali.
Reno begitu bersemangat mendengar ketiga temannya itu mau ke rumah Tante Mawar, karena sejak dulu dia memang sangat tergila-gila sama Teri. Sejak masih sekolah, dia sempat mengutarakan perasaannya pada Teri tapi Teri menolaknya. Dan sekarang dia kembali berharap bisa dekat lagi dengan Teri, dan bisa mendapatkan hatinya.