
Melda membanting pintu kamarnya dengan begitu keras saking kesalnya. Sedangkan Reza yang sudah duluan masuk kamar, merasa sangat bingung dengan sikap Melda, yang sangat berlebihan menurutnya. Dengan tampang datarnya, Reza yang sedang melipat kedua tangannya di dada pun berkata.
"Kenapa sama dia,,? Dia yang menabraku juga jatuh menimpahku, malah dia yang marah." Reza berkata-kata sendiri di dalam kamar.
Sedangkan Melda, dia sudah terbaring di atas tempat tidur dengan wajah penuh kekesalan. Melda begitu kesal dengan sikap Reza, yang berlebihan dingin padanya, padahal dia sudah mendapatkan ciuman pertamanya, walaupun itu terjadi tanpa di sengaja.
***********
Sementara di rumah sakit, Aleta yang kecapean beraktifitas seharian, di tambah lagi dia baru selesai menjalani tugasnya sebagai seorang istri, membuatnya langsung terlelap selesai membersihkan dirinya.
Sedangkan Faris, dia memilih untuk menjaga Almira di ruang UGD. Faris tidak bisa tidur karena memikirkan semua yang baru saja menimpa keluarganya. Faris yang sudah berdiri di depan pintu ruang UGD, hanya menatap adik perempuannya yang masih berusia 11 tahun itu, dari balik kaca.
Faris sangat menyayangi Almira dan Melda, dan sekarang dia juga yang harus bertanggung jawab penuh atas hidup dan masa depan mereka berdua. Faris tahu, kalau Almira juga Melda akan merasa sangat kesepian, dalam menjalani hari-hari mereka kedepan nanti. Tapi dia sudah berjanji, kalau akan lebih memperhatikan kedua adik perempuannya itu sebisa mungkin.
Dengan tatapan penuh kasih sayang, Faris pun berkata-kata dalam hatinya.
"Adiku, jangan khawatir,,! Kamu akan baik-baik saja. Mas janji, akan selalu menjagamu dan Melda dengan baik. Mas akan menggantikan peranan orang tua untuk kalian berdua, cepatlah sembuh adiku,,! Dan ceritakan semua yang kamu tahu, karena kamulah saksi dari kecelakaan itu." Faris berkata-kata dalam hatinya sambil menatap Almira dari balik kaca pintu ruang UGD.
Sebenarnya ada rasa curiga yang besar dalam benak Faris, tentang kematian keluarganya. Karena menurut dia, ada sesuatu yang mengganjal dalam fikirannya, walaupun Polisi sudah mengatakan kalau semua yang terjadi, seratus persen murni kecelakaan.
Faris adalah orang yang sangat luar biasa dalam segala hal, filingnya selalu tajam melebihi detektif ataupun anjing pelacak.
Tapi Faris tidak ingin ada yang mengetahui tentang apa yang dia fikirkan, dan karena itu, sehingga dia mengikuti anjuran Polisi, untuk tidak melakukan otopsi pada zenaja anggota keluarganya.
Semua itu dia lakukan agar rencananya untuk mencari kebenaran, tidak tercium oleh siapapun. Faris ikhlas apabila kejadian yang menimpa keluarganya itu murni kecelakaan. Tapi kalau semua itu karena perbuatan seseorang, dia bersumpah akan menghabisi mereka dengan kedua tangannya sendiri.
Dengan sifatnya yang terlihat begitu tenang, Faris sudah mengantisipasi semuanya, terutama mengenai keselamatan keluarganya, juga harta keluarganya. Tanpa ada yang tahu, Faris sudah menyiapkan penjagaan yang ketat untuk semua anggota keluarganya, termasuk di perusahaan-perusahaan mereka.
Orang-orang yang Faris siapkan untuk menjaga semua yang dia miliki saat ini, adalah anak buahnya yang siap membunuh. Dia memerintahkan orang-orang yang dia tugaskan itu, untuk langsung membunuh apabila ada yang nekat.
Di dalam hal ini, Faris tidak melibatkan Polisi sama sekali, karena sebenarnya, ada rasa curiga di dalam benaknya, dengan beberapa anggota Polisi yang membantunya menangani kecelakaan keluarganya. Dan tanpa menunggu lama, Faris juga sudah menyuruh beberapa orang kepercayaannya, untuk menyelidiki semua rekan bisnisnya tanpa terkecuali.
Faris memilih untuk bermalam di depan ruang UGD bersama dua orang anak buahnya.
Sedangkan di depan kamar tidur Aleta, ada dua orang juga di sana, begitupun di tempat lain, seperti perusahannya, rumahnya sendiri, rumah Opanya, rumah Papanya, rumah Om Refan, rumah Tante Leni, bahkan rumah keluarga Mama Alira di Bandung. Dan semua yang Faris tugaskan itu, mereka semua adalah pembunuh berdarah dingin seperti dirinya.
Sebenarnya Faris sudah bersumpah kepada keluarganya, juga kepada Aleta, kalau tangannya tidak akan basah dengan darah lagi, tapi kalau sampai benar ada yang sengaja membunuh orang-orang yang dia sayangi itu, dia tidak akan segan-segan untuk menghabisi mereka dengan tangannya sendiri.
Pukul 7:30 Aleta terbangun, dan dia tidak menemukan keberadaan Faris di dalam kamar itu, tapi dia berfikir, mungkin Faris sudah bangun dan sedang meliha keadaan Almira, karena hari ini Almira akan di pindahkan ke ruang perawatan biasa.
Aleta buru-buru bangun dan langsung bergegas mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Aleta langsung keluar dari kamar hendak menyusul suaminya. Tapi di saat dia membuka pintu kamar, dia langsung terkejut dengan keberadaan dua laki-laki berotot, sedang berdiri di depan pintu kamar. Dengan tampang kebingungan Aleta pun bertanya.
"Siapa kalian,,? Mau ngapain kalian di sini,,?" Tanya Aleta dengan tatapan yang sangat
tajam
"Kami di tugaskan dari Pak Faris untuk berjaga-jaga di sini Nyonya." Jawab salah seorang anak buah Faris.
Aleta sedikit merasa bingung dengan jawaban laki-laki berotot itu, tapi dia tidak bertanya apa-apa, karena dia berfikir, lebih baik dia tanyakan langsung kepada suaminya sendiri. Kemudian, tanpa berkata apa-apa, Aleta segera melangkah pergi menuju ruang UGD untuk menemui Faris, dan di ikuti oleh salah seorang laki-laki berotot itu dari belakang.
"Saya hanya menjalankan perintah Nyonya." Jawab laki-laki itu.
Di saat Aleta sudah mendekati ruang UGD, tiba-tiba dia pun terkejut melihat Faris yang berlari masuk ke dalam ruang UGD, dengan tampang yang kaget juga aneh. Akhirnya Aleta mempercepat langkahnya untuk menyusul suaminya.
Sampainya di depan pintu, Aleta tambah terkejut melihat Faris sedang memeluk Almira, yang sedang berteriak-teriak ketakutan tanpa berkata apa-apa. Dengan tergesa-gesa Aleta langsung meghampiri mereka sambil berkata.
"Ada apa Mas,,? Almira kenapa,,?" Tanya Aleta bingung juga kaget.
"Dia seperti ketakutan." Jawab Faris yang terus memeluk adiknya, sambil berkata.
"Jangan takut sayang,,! Ada Mas di sini yang akan selalu menjagamu." Kata Faris sambil mengusap-usap kepala Almira.
Tapi Almira tidak bisa tenang, dia terus hister seperti orang yang ketakutan. Akhirnya Faris meminta kepada Dr yang menanganinya, untuk menyuntikan obat penenang kepada Almira.
Setelah itu Almira pun langsung pingsan, dan Faris pun kembali membaringkannya ke atas tempat tidur. Kemudian Faris pun menanyakan keadaan Almira kepada Dr, yang sedang berdiri di sebelah tempat tidur Almira.
"Bgaimana keadaan adik saya Dok,,?" Tanya Faris dengan tampang dinginnya.
"Sebenarnya Almira sudah lebih baik, kemarin itu dia hanya pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Tapi dia sepertinya trauma dengan kecelakaan yang dia saksikan sendiri dengan mata kepalanya." Jawab Dr itu.
Di saat Faris sedang mengobrol dengan Dr yang menangani Almira, tiba-tiba datang seorang Perawat dan memberitahukan Faris, kalau ada beberapa orang Polisi di luar.
"Maaf Pak Faris, di luar ada beberapa orang Polisi." Kata Perawat itu.
"Iya makasih." Jawab Faris singkat.
"Al, kamu di sini saja." Kata Faris sambil berbalik dan melangkah pergi.
Faris melangkah keluar dari ruang UGD untuk menemui para Polisi yang ada di luar. Tapi sebelum dia keluar dari ruang UGD, dia sempat memberi kode kepada dua orang anak buahnya untuk tetap bersama Aleta.
Sampainya di luar Faris langsung menyapa beberapa orang Polisi itu, dengan senyum ramahnya sambil berkata.
"Ada perlu apa anda kesini Pak,,?" Tanya Faris sambil menyalami Komandan Polisi, bersama dua anak buahnya yang kemarin ada di tempat kejadian.
"OOO tidak ada apa-apa Pak Faris. Kita hanya ingin melihat keadaan adik anda." Jawab Komandan Polisi.
"Bagaimana keadaannya Pak Faris,,?" Tanya Komandan Polisi itu lagi.
"Dia sudah lebih baik,,!" Jawab Faris santai.
"Kalau dia sudah lebih baik, kenapa tidak di pindahkan saja ke ruang rawat biasa,,?" Tanya Komandan Polisi itu lagi.
"Hari ini dia sudah di pindahkan." Jawab Faris.
"OOO baguslah. Kalau gitu kami pergi dulu ya Pak Faris." Kata Komandan Polisi itu sambil menyalami Faris, kemudian melangkah pergi.
Setelah mereka pergi, Faris segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan mobil, karena dia akan membawa pulang Almira saat itu juga. Kemudian Faris masuk kembali ke dalam ruang UGD, untuk meminta Dr dan para perawat mempersiapkan segala yang Almira butuhkan dalam perjalanan pulang.
Apa yang di minta atau di perintahkan, oleh Faris di rumah sakit itu selalu di turuti, karena sekarang Faris adalah pemilik tunggal rumah sakit besar dan ternama itu. Selain itu, Faris juga berpesan kepada semua yang bekerja di rumah sakit itu, untuk merahasiakan mengenai kepulangan Almira dari semua pihak, dan mereka pun menurutinya.