
Aleta yang merasa gerah, memilih untuk pergi ke kamar karena dia ingin membersihkan badannya, tanpa berkata apa-apa kepada Faris dan Melda yang sedang serius, dengan acara TV yang sedang mereka nonton.
Setelah Alata pergi, tidak berapa lama ponsel Faris berdering, dan itu panggilan masuk dari Boy. Dengan segera Faris langsung menjawab telfon dari Boy. Tapi karena volume TV yang keras, sehingga membuat Faris tidak bisa mendengar apa yang di katakan oleh Boy. Akhirnya Faris segera berdiri dan melangkah sedikit menjauh.
Faris berjalan ke teras depan biar bisa mendengar apa yang di bicarakan Boy di telfon. Dan ternyata Boy menelfon untuk memberitahukan, kalau ada tawaran kerja sama dari salah satu perusahaan besar dari luar negeri, yang akan menghasilkan banyak keuntungan untuk perusahaan mereka. Tanpa menunggu lama Faris pun langsung menerimanya.
Aleta yang berada di dalam kamar, sudah selesai mandi dan berpakaian. Dan di saat dia mau melangkah keluar dari kamar, tiba-tiba ponselnya yang dia letakan di atas tempat tidur berdering. Akhirnya Aleta yang sudah mau menghampiri pintu, kembali lagi menuju tempat tidur dan mengbil ponselnya yang masih terus berdering itu.
Seketika raut wajah Aleta yang tadinya biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi panik, di saat dia melihat ada nama Papa mertua di layar ponselnya. Entah mengapa, Alata seketika langsung merasa khawatir. Jantungnya mulai berdetak kencang saking khawatirnya dia.
Tanpa menunggu lama, Alata dengan wajah yang sudah mulai pucat, langsung menjawab telefon dari Papa Fahri itu. Dan dia tiba-tiba merasa bingung, karena bukan suara Papa Fahri yang dia dengar, tapi suara orang lain.
("Haloo,, haloo,, apakah ini dengan keluarga pemilik ponsel ini,,?") Tanya orang itu.
("Iya, saya menantunya,,! Ini siapa ya,,? Dan mengapa ponsel itu ada pada anda,,?") Tanya Aleta yang sudah terduduk di tepi ranjang, dengan nada yang sudah bergetar saking paniknya.
("Begini Bu,, orang yang punya ponsel ini mengalami kecelakaan,,! Mobil mereka masuk jurang,,! Dan ponsel ini saya temukan di tepi jurang.") Kata orang itu yang membuat Aleta seperti tersambar petir.
("Apaaaaa,,? Kecelakaan,,?") Tanya Aleta kaget dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
("Iya Bu,, kalau bisa tolong secepatnya datang ke sini,,!") Kata orang itu.
Dengan tergesa-gesa Alata langsung berlari menuju lantai bawah, dengan berlinang air mata. Aleta berlari menuruni tangga, tanpa berfikir akibat buruk yang bisa saja terjadi pada dia juga kandungannya, saking paniknya.
Faris yang baru masuk ke dalam rumah setelah berbicara dengan Boy, langsung kaget di saat melihat ekspresi Aleta.Dengan segera dia berlari menghampiri Alata dengan wajah yang panik sambil bertanya.
"Aleta ada apa,,?" Tanya Faris panik.
Suara Faris yang sedikit keras, membuat Melda yang lagi asyik menatap ke layar TV, jadi tersentak dan langsung berbalik menatap Faris dan Aleta, dengan tampang kagetnya sambil bertanya.
"Ada apa Al,,?" Tanya Melda tidak kalah panik.
Aleta yang sudah berada di hadapan Faris, langsung meraih tangan Faris juga Melda sambil berkata.
"Ayo kita pergi,,!" Kata Aleta tergesa-gesa dengan berlinang air mata.
"Pergi kemana,,?" Tanya Faris dan Melda bersamaan.
"Kamu kenapa sebenarnya,,?" Tanya Faris dengan nada yang sudah panik, dan tampang yang sangat kebingungan.
"Apaaa,,?" Teriak Faris dengan mata yang terbuka lebar saking kagetnya.
Mendengar apa yang di katakan Aleta, Melda langsung menangis histeris dan dia langsung pingsan. Melda hampir tersungkur ke lantai, untung saja Faris dengan cepat langsung menangkapnya. Faris memeluk Melda dan menggendongnya menuju sofa ruang tenga.
Setelah meletakkan Melda ke atas sofa, kemudian Faris segera menghubungi nomor Papanya. Dan Faris mendengar sendiri dari orang itu, kalau keluarganya mengalami kecelakaan, dan mobil mereka masuk jurang.
Mendengar apa yang di katakan oleh orang itu, Faris merasa seperti tertimpa pohon besar. Faris merasa sekujur tubuhnya lemas seketika. Tapi kemudian dia mencoba untuk tegar, karena dia tidak ingin memikirkan hal yang buruk, sebelum dia melihat sendiri dengan mata kepalanya.
Tanpa menunggu lama, Faris pun segera mengabari Boy juga Tante Leni, untuk memberitahukan kabar kecelakaan keluarganya. Sedangkan Aleta sedang mengurus Melda yang baru saja sadar.
Selesai menelfon Boy, Faris langsung meraih kunci mobilnya yang terletak di atas meja ruang depan itu, kemudian dia duduk di samping Melda dan berkata.
"Kamu jangan menangis seperti ini,,! Berdoa biar tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Mas akan berangkat sekarang, kalau Boy dan Tante Leni datang, bilang mereka untuk tunggu saja di sini." Kata Faris.
"Aku mau ikut Mas,,!" Kata Melda dengan nada suara yang bergetar.
"Jangan,, kamu di sini saja." Kata Faris.
"Aku ngga mau di sini,,! Pokoknya aku mau ikut,,!" Kata Melda.
"Aku juga mau ikut Mas,,!" Sambung Alata.
Dan di saat Faris ingin menolak keinginan Alata juga Melda, yang ngotot ingin ikut, tiba-tiba Tante Leni dan Boy masuk dari depan, dengan tampang yang panik dan wajah yang sudah basah dengan air mata. Tante Leni dan Boy menghampir Faris, Alata juga Melda di ruang tengah sambil berkata.
"Ayo cepat kita pergi Ris,,!" Kata Tante Leni sambil menarik tangan Aleta juga Melda, dan langsung kembali melangkah keluar menuju parkiran mobil.
Akhirnya Faris tidak bisa melarang Aleta dan juga Melda untuk ikut. Mereka berlima pergi satu mobil menggunakan mobil Faris. Dalam perjalanan, tidak ada yang bersuara. Mereka semua terdiam sambil terus berdoa dalam hati, untuk keselamatan beberapa orang yang sangat mereka sayangi itu.
Faris yang duduk di samping Boy yang sedang menyetir, hanya memejkan matanya. Dia tidak henti-hentinya mendoakan keselamatan keluarganya. Faris sangat terpukul dengan semua itu, tapi dia tidak mau menangis seperti yang lainnya, karena dia yakin, kalau keluarganya akan selamat.
Sedangkan Melda juga Alata yang berada di bangku bagian belakang bersama Tante Leni, tidak berhenti menangis. Mereka berdua memeluk Tante Leni dengan air mata yang tidak henti-hentinya menetes, sambil terus berdoa. Begitupun dengan Tante Leni.
Mereka semua sangat terpukul mendengar kabar itu, apalagi anggota keluarga mereka yang sedang mengalami kecelakaan itu, adalah orang-orang yang memiliki peranan yang sangat penting dalam keluarga Permana. Terutama Faris. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa orang-orang yang sangat dia sayangi itu.
Faris tidak ingin kehilangan keluarganya. Sambil memejkan mata, Faris berkata-kata dalam hatinya, kalau dia lebih memilih kehilangan semua harta yang dia miliki dari pada kehilangan keluarganya. Karena bagi dia, apa artinya harta sebanyak itu, kalau dia kehilangan tumpuhan hidupnya.
Faris tidak ingin memikirkan hal-hal yang buruk. Dia meyakinkan dirinya sendiri, kalau orang-orang yang sangat dia sayangi itu akan selamat, walaupun mereka sudah mengatakan kalau mobil Papanya saat ini sudah berada di dalam jurang.