CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 95. Kecurigaan Faris Yang Semakin Kuat.


Tanpa menunggu lama, Faris langsung menggendong adiknya, dan melangkah menuju mobil yang sudah di siapkan. Setelah masuk ke dalam mobil, anak buahnya yang sudah siap di depan segera menjalankan mobil, dan di ikuti juga oleh dua mobil yang terdapat beberapa anak buahnya, yang siap melindungi mereka.


Faris membawa pulang Almira ke rumah, tanpa memberitahukan keluarganya yang lain. Dia seperti itu, karena mengantisipasi jangan sampai ada pihak yang akan melacak semuanya, dari nomor telponnya, atau nomor telepon keluarganya yang lain.


Sedangkan di rumah, Melda yang baru selesai mandi, kembali menangis di depan cermin karena dia sangat merindukan orang-orang tersayang, yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, terutama kedua orang tuanya. Sambil menatap cermin Melda pun berkata dengan air mata yang berlinang.


"Maaa,, Paaa,, aku sangat merindukan kalian. Aku akan berusaha untuk menerima semuanya, tapi untuk sekarang, aku belum bisa melakukan semua itu." Kata Melda dengan berlinang air mata.


Setelah beberapa menit menangis di depan cermin, Melda langsung berdiri dan buru-buru berpakaian, karena dia ingin ke rumah sakit melihat keadaan Almira. Melda dan Almira memang hanya saudara sepupu, tapi kasih sayang mereka berdua sudah seperti saudara kandung, karena dari Almira masih kecil, hanya Melda yang selalu menemaninya di saat belajar ataupun bermain.


Melda yang sudah rapi dan harum, baru keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni tangga. Sampainya di lantai bawah, dia memilih pergi ke dapur sebentar untuk meminum segelas susu, sebelum berangkat ke rumah sakit. Dan di dapur, sudah ada sarapan juga dua gelas susu yang di siapkan oleh BI Susi, buat Melda dan juga Reza.


Tanpa menunggu lama, Melda segera meminum segelas susu dan kemudian langsung pergi. Melda melangkah ke luar sambil menghubungi Faris, sudah tiga kali Melda menelfon Faris tapi tidak ada Jawaban.


Akhirnya dia memilih menghubungi Aleta, tapi Aleta pun sama, dia juga tidak menjawab.


Karena tidak ada jawaban, Melda memilih untuk mengirimkan pesan singkat kepada Faris, untuk menanyakan kabar Almira.


*"Mas,, bagaimana keadaan Almira,,?" Tanya Melda melewati pesan yang dia kirim.


*"Dia sudah lebih baik." Jawab Faris.


Setelah membaca pesan dari Faris, Melda segera mempercepat langkahnya menuju teras depan, untuk melihat supir pribadi Opanya. Tapi tiba-tiba langkahnya langsung tertahan, setelah dia melihat supir pribadi Opa Indra sedang mengobrol dengan Reza.


Reza terlihat sangat tampan dengan pakaian santainya, sedang berdiri di pagar samping sambil mengobrol dengan Pak Amin, supir pribadi di rumah mewah itu. Senyum yang terpancar dari wajah tampannya Reza membuat Melda seketika langsung terpana.



Melda yang sudah berada di teras depan, hanya berdiri seperti patung, sambil menatap Reza tanpa berkedip sama sekali.



Tanpa sadar, Melda berkata-kata dalam hatinya, mengagumi ketampanan pria dingin dan kaku itu.


"Reza ternyata tampan bangat." Kata Melda dalam hatinya.


Tapi tidak berapa lama, dia pun terkejut setelah menyadari apa yang sedang dia fikirkan tentang Reza. Akhirnya Melda pun menggerutui dirinya sendiri.


"Haaaaa,, apa-apaan aku ini,,? Ko aku malah mengagumi si kutub utara itu,,?" Gerutu Melda dalam hatinya sambil menatap ke arah bawah.


Melda jadi bingung pada dirinya sendiri yang tiba-tiba mengagumi sosok laki-laki dingin itu. Dan tanpa melda sadari, Reza sedang memperhatikannya dari sana dengan tampang dinginnya. Dan di saat dia mengangkat wajahnya, dia langsung salah tingkah, setelah mengetahui Reza sedang menatapnya.


"Astagaaaa,, kenapa aku jadi malu hanya karena dia menatapku,,? Ngga,, ngga,, aku ngga boleh kaya gini." Melda kembali berkata-kata dalam hatinya, sambil melangkah mendekati Pak Amin tanpa melirik Reza sama sekali.


"Pak Amin,,!" Panggil Melda setelah berada tidak jauh di belakang Pak Amin.


"Iya Non Meldaa." Jawab Pak Amin.


"Tolong antar saya ke rumah sakit,,!" Kata Melda.


"Ngga usah Pak,,!" Sambung Reza.


"Kamu ngga usah ke rumah sakit,,!" Jawab Reza.


"Tapi kenapa,,? Kenapa kamu melarangku,,?" Tanya Melda yang semakin bingung.


"Ngga ada apa-apa,,!" Jawab Reza dingin.


Dan di saat Melda ingin kembali bersuara, Reza dengan segera langsung menarik tangannya, dan melangkah menuju pintu rumah sambil berkata.


"Kita ke dalam dulu ya Pak." Kata Reza kepada Pak Amin yang tidak kalah kebingungan dengan Melda.


"Iya Den." Jawab Pak Amin sambil menatap Reza dan Melda dari arah belakang, dengan tampang kebingungan.


"Ada apa dengan mereka berdua,,?" Tanya Pak Amin dalam hati sambil menggaruk kepalanya.


Sampainya di dalam rumah, Melda berusaha melepaskan tangan Reza dari pergelangan tangannya, sambil berkata.


"Lepaskan aku,,!" Kata Melda.


Bi Susi yang sedang membersihkan ruang depan, ikut bingung melihat mereka berdua. Pak Amin dan Bi Susi jadi bingung, karena yang mereka tahu, Reza adalah orang baru di rumah itu, tapi dia dan Melda terlihat seperti orang yang sudah saling kenal lama.


"Lepaskan akuuu,,!" Teriak Melda lagi sambil menarik tangannya, di saat Reza mau membawanya menaiki tangga.


"Kalau kamu terus melawan, aku akan menciummu sekarang juga,,!" Ancam Reza yang membuat Melda langsung diam, dan melangkah mengikuti Reza dengan wajah yang sangat datar.


Reza membawa Melda naik ke lantai dua, kemudian melangkah menuju kamar Melda. Sampainya di depan pintu kamar, tanpa berkata apa-apa Reza segera membuka pintu dan menarik Melda untuk masuk ke dalam kamar. Melda yang tidak menyangka Reza akan membawanya masuk ke dalam kamar, tidak sempat untuk melawan.


Melda seketika langsung pucat, di saat dia melihat Reza mengunci pintu kamarnya. Dan di saat Melda hendak berteriak, Reza dengan segera menutup mulutnya sambil berkata.


"Aku tidak ada maksud apa-apa. Jadi kamu tidak perlu berteriak,,!" Kata Reza sambil melepaskan tangannya dari mulut Melda.


"Terus mengapa kamu melarangku ke rumah sakit,,?" Tanya Melda dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Reza.


"Karena mereka sudah dalam perjalanan pulang bersama Almira." Jawab Reza yang membuat Melda semakin bingung.


Hanya Reza yang mengetahui kalau Faris dan Aleta, sudah dalam perjalanan pulang bersama Almira, karena tadi Faris mengabarinya menggunakan ponsel salah satu anak buahnya. Faris memilih mengabari Reza setelah berada dalam perjalanan, sebab dia takut Reza dan Melda akan pergi ke rumah sakit pagi itu.


Faris memang sangat cerdas, dia selalu memperhitungkan segala hal. Dan karena itu, sampai-sampai dia memilih menghubungi nomor Reza, menggunakan ponsel anak buahnya, bukan dengan ponselnya sendiri.


Selain itu Faris juga memerintahkan anak buahnya, untuk memasang cctv tersembunyi di rumah sakit sebelum mereka pulang tadi, karena dia yakin, kalau kecelakaan itu di buat oleh seseorang, berarti mereka akan mengincar Almira, karena Almira adalah saksi atas semua yang terjadi pada keluarganya.


**********


Melda sangat bingung mendengar apa yang Reza katakan, dan dia juga tidak percaya kalau Faris akan mengambil keputusan itu, sebab, Almira masih sangat membutuhkan perawatan menurut Melda, karena walaupun lukanya tidak terlalu serius, tapi mentalnya pasti sangat terguncang.


"Ngga mungkin Mas Faris mengeluarkan Almira dari rumah sakit secepat ini. Almira itu masih membutuhkan perawatan. Jangan coba-coba kamu membodohiku, aku bukan anak kecil yang mudah percaya omong kosong kamu,,!" Kata Melda dengan sinisnya.


Karena Melda tidak percaya dan tetap ingin pergi, akhirnya Reza menunjukkan pesan yang tadi di kirim oleh Faris, dari nomor yang tidak di kenal. Dan bukan itu saja, Reza juga menjelaskan semua alasan dan kekhawatiran Faris sehingga dia mengambil jalan itu.