
Mobil Pak Frengki melaju dengan sangat kuat melintasi jalan menuju kota. Pak Frengki yang sedang duduk bersandar di sandaran kursi mobil, sangat bahagia setelah mendapatkan kabar dari Komandan Polisi, kalau mobil Faris sudah berhasil mereka tembak, dan Faris sudah tidak bisa untuk mengejar mereka lagi.
Sedangkan di depan sana, anak buah Faris yang berjumlah puluhan orang, sudah siap untuk menghalangi mobil Pak Frengki dan rekan-rekannya. Mereka memarkirkan mobil mereka di tengah jalan, sehingga membuat jalan tertutup dan tidak bisa untuk di lewati.
Setelah selesai menutup jalan dengan beberapa buah mobil, semua anak buah Faris yang sudah bersenjata lengkap, memilih untuk bersembunyi di samping jalan yang terdapat banyak rumput. Mereka bersembunyi sambil terus memantau arah jalanan, untuk melihat kedatangan mobil Pak Frengki dan rekan-rekannya.
Tidak lama mereka bersembunyi, tiba-tiba ada cahaya lampu mobil dari arah berlawanan, dan mereka yakin itu mobil yang sedang mereka tunggu. Dengan segera mereka semua langsung berlari ke samping jalan, dan bersembunyi di dalam rerumputan yang ada di situ.
Mobil Pak Frengki yang sedang melaju dengan cepat, seketika langsung berhenti mendadak di depan beberapa buah mobil, yang sudah memenuhi jalanan. Dan tidak lama, keluarlah seorang laki-laki dari mobil yang paling depan, untuk mengecek setiap mobil yang terparkir dengan penuh hati-hati.
Semua anak buah Faris yang sedang bersembunyi, memilih untuk tetap bersembunyi, karena mereka sedang menunggu kedatangan mobil yang lainnya, yang tidak lain mobil Komandan Polisi. Mereka melakukan semuanya sesuai dengan strategi yang sudah di atur oleh Faris.
Faris tidak ingin melakukan sesuatu yang membuang-buang waktu, jadi dia menyuruh semua anak buahnya untuk tetap bersembunyi, sampai mobil Komandan Polisi tiba di tempat itu baru melakukan penyerangan. Dan apa yang di atur oleh Faris, selalu di ikuti oleh semua anak buahnya, karena mereka sangat percaya kalau strategi yang di atur oleh Faris tidak pernah gagal.
Dalam keluarga Permana, Faris adalah orang yang paling di segani, tapi dia di segani bukan karena kedudukan, ataupun harta keluarganya yang tidak tertandingi, tapi dia di segani karena prinsipnya dan cara berfikirnya yang begitu luar biasa.
Semua anak buah Faris, tetap berada di tempat persembunyian mereka masing-masing. Mereka belum bisa bertindak sebelum mobil Komandan Polisi itu datang, karena itu yang sudah di atur oleh Faris.
Tidak lama dari situ, tiba-tiba ada cahaya lampu mobil dari arah sana. Semua anak buah Faris yang melihat cahaya lampu mobil itu, dengan segera langsung bersiap-siap, karena mereka yakin, mobil yang datang itu, tidak lain adalah salah satu mobil yang mereka tunggu sejak tadi.
Setelah memarkirkan mobil, Komandan Polisi yang ada di dalam mobil yang baru datang itu, segera turun kemudian melangkah menuju mobil Pak Frengki dan bertanya.
"Ada apa Pak,,?" Tanya Komandan Polisi itu.
"Itu ada yang memarkirkan mobil dietengah jalan." Jawab Pak Frengki yang masih tetap berada di dalam mobilnya.
Mendengar jawaban Pak Frengki, membuat Komandan Polisi itu seketika jadi panik, karena dia khawatir kalau semua itu adalah jebakan yang di lakukan oleh Faris. Tanpa menunggu lama, Komandan Polisi itu langsung bersuara, yang membuat situasi jadi menegang.
"Awaaas,,! Semua ini pasti jebakan yang di pasang untuk kita." Kata Komandan Polisi itu dengan tampang yang terlihat sangat tegang.
Mendengar teriakkan Komandan Polisi itu, anak buah Faris dengan segera langsung keluar dari persembunyian mereka, kemudian menyerang Komandan Polisi dan semua yang ada di situ. Gerakan anak buah Faris sangat lincah dan cepat, dan kelincahan mereka itu, membuat Pak Frengki dan rekan-rekannya itu jadi bingung dan kewalahan.
Pak Frengki beserta para Polisi, dan beberapa orang anak buahnya tidak sempat melawan ataupun melarikan diri, karena dengan sekejap semua anak buah Faris sudah mengepung, dan menodongkan pistol ke arah mereka, yang membuat mereka hanya terdiam dan mematung dengan tampang yang terlihat begitu panik.
Anak buah Faris hanya mengepung dan menodongkan pistol, tanpa ada niat melukai mereka, karena itu yang di pesan oleh Faris. Faris tidak ingin membunuh Pak Frengki juga beberapa anggota Polisi, yang sudah terlibat dalam masalah keluarganya.
Setelah Pak Frengki dan rekan-rekannya berhasil di ringkus, dengan segera salah seorang anak buah Faris langsung menghubungi Faris, dan memberitahukan kalau semua berjalan seperti yang Faris inginkan.
("Holo Bos,, semua berjalan sesuai apa yang Bos inginkan.") Kata anak buah Faris setelah telponnya tersambung.
("Bagus,,! Sebentar lagi aku akan sampai. Jangan biarkan mereka lolos,,!") Kata Faris dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Mendengar pembicaraan anak buah Faris di telpon tadi, membuat Pak Frengki dan Komandan Polisi yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa itu langsung panik. Dan tiba-tiba Komandan Polisi itu segera berfikir, untuk menakut-nakuti orang-orang yang sedang menahannya itu, dengan profesi dan jabatannya.
"Heee,,! Lepaskan aku,,! Jangan main-main kalain ya,,! Aku ini Komandan Polisi." Kata Komandan Polisi itu dengan gayanya yang begitu sombong.
"Bapak ini Komandan Polisi bayaran,,!" Jawab salah seorang anak buah Faris dengan nada yang sedikit keras.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu,,?" Tanya Komandan Polisi itu.
"Bapak memang Komandan Polisi, tapi perbuatan Bapak tidak jauh berbeda dengan seorang preman seperti kami." Sambung anak buah Faris yang lain.
"Maksud kalian apa,,?" Tanya Komandan Polisi itu lagi dengan tampang yang sudah mulai kesal.
"Pak,, mending anda jadi preman atau penipu sekalian, dari pada jadi Komandan Polisi tapi tidak punya martabat sama sekali." Jawab anak buah Faris dengan begitu santainya, namun membuat Komandan Polisi itu jadi bertambah emosi.
"Awas kamu ya,,! Akan aku penjarakan kamu." Kata Komandan Polisi itu.
"Jangan mimpi Pak,,! Yang akan di penjarakan itu Bapak, bukan aku. Karena yang menjadi penjahat di sini itu Bapak." Jawab anak buah Faris yang membuat Komandan Polisi itu seketika jadi panik.
"Mungkin malam ini adalah malam terakhir Bapak memikul jabatan sebagai Komandan Polisi. Setelah besok, Bapak akan menjadi orang biasa yang menghabiskan hari-harinya di dalam jeruji besi." Kata anak buah Faris, yang membuat Komandan Polisi itu jadi ketakutan.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu,,?" Tanya Komandan Polisi itu dengan tampang yang terlihat mulai ketakutan.
"Asal Bapak tahu, Bapak ini sudah bermain-main dengan orang yang salah. Jangankan profesi Bapak, nyawa Bapak saja bisa mereka hilangkan hanya dengan perintah." Kata anak buah Faris lagi yang membuat Komandan Polisi itu semakin ketakutan.
Mendengar apa yang di katakan oleh anak buah Faris, membuat Komandan Polisi itu jadi kepikiran dan ketakutan. Komandan Polisi itu tiba-tiba jadi menyesal dengan semua yang telah dia lakukan untuk keluarga Permana.
Komandan Polisi itu merasa sangat menyesal telah terlibat dalam masalah keluarga Permana, keluarga yang sangat di segani oleh semua orang.