CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
110. Perhitungan Yang Sangat Baik.


Faris dan sepuluh orang anak buahnya, melenyapkan setiap orang yang menyerang mereka tanpa berfikir panjang. Faris yang sudah berada di dalam rumah bersama beberapa orang anak buahnya, terus masuk dan mencari keberadaan orang tuanya, di setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu.


Setiap ruangan yang ada di lantai bawah sudah mereka masuki, tapi mereka tidak menemukan apa-apa. Akhirnya Faris memutuskan untuk naik ke lantai atas, dan dengan buru-buru dia segera berlari menaiki tangga menuju lantai atas.


Sampainya di lantai atas, Faris dan anak buahnya segera berpencar mencari ke setiap kamar. Semua kamar sudah mereka masuki, tapi hasilnya tetap sama, keberadaan orang tuanya tidak di temukan, begitupun dengan keberadaan Pak Frengki.


Faris yang tidak menemukan apa-apa, semakin emosi. Wajahnya terlihat begitu menakutkan, bola matanya sudah sangat merah, kemarahannya semakin tidak terkendali karena apa yang dia cari sama sekali tidak dia temukan.


Faris yang sedang berdiri di depan pintu kamar terakhir yang dia masuki, sedang berfikir sambil mengepalkan kedua tangannya saking emosinya. Dia yakin kalau Pak Frengki sudah melarikan diri bersama kedua orang tuanya, dan tanpa menunggu lama, dia langsung memerintahkan semua anak buahnya yang ada di situ, untuk mengejar Pak Frengki.


"Kejar Pak Frengki,,! Dia pasti sudah kabur bersama orang tuaku." Faris berkata-kata dengan tampang yang terlihat begitu menakutkan.


Mendengar apa yang di perintahkan oleh Faris, dengan segera semua anak buahnya langsung berpencar. Dan tidak lama, salah seorang anak buah Faris yang sudah berlari menuju sebuah pintu, yang tidak mereka lihat sebelumnya langsung berteriak.


"Bos,,! Mereka lari lewat pintu samping." Teriak anak buah Faris yang membuat Faris langsung berlari menuju lantai bawah.


Faris yang sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya, berlari dengan begitu kencang melewati pintu rahasia yang di beritahukan salah seorang anak buahnya itu. Sampainya di samping rumah itu, Faris melihat di kejauhan sana, ada Pak Frengki dengan beberapa orang laki-laki sudah memasuki mobil, dan melaju pergi.


Tanpa menunggu lama, Faris langsung berlari dengan kencangnya menuju mobilnya yang ada di bawah pohon. Untung saja tadi Faris memarkirkan mobilnya di bawah pohon yang letaknya tidak jauh dari rumah tua itu.


Setelah berada di dalam mobil, Dengan segera Faris langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan semua anak buahnya pun sudah mengikunya dengan mobil mereka dari belakang.


Faris yang tidak ingin kehilangan jejak Pak Frengki, melajukan mobilnya tampa memperdulikan keadaan jalanan yang begitu sempit. Faris sama sekali tidak memikirkan keselamatannya, yang ada di dalam fikirannya hanya keselamatan kedua orang tuanya.


Faris tidak akan membiarkan Pak Frengki lolos dari incarannya. Dengan tampang yang menakutkan, dia melajukan mobilnya sambil berkata-kata dalam hatinya.


"Aku tidak akan membiarkanmu lolos lagi. Hari ini kamu akan tamat di tangan aku." Faris berkata-kata dalam hatinya sambil terus melajukan mobilnya.


Sedangkan Pak Frengki yang sudah berada jauh di depan sana, merasa menang karena dia yakin kalau Faris dan anak buahnya, yang berada jauh di belakang sana, tidak akan bisa mengejarnya, karena dia sudah punya rencana untuk menghalangi mereka. Dengan begitu sombongnya, Pak Frengki meremas mulut Fahri yang sudah terkapar di sampingnya, dengan sekujur tubuh yang sudah berlumuran darah sambil berkata.


"Jangan harap anak kamu yang masih ingusan itu bisa menyelamatkanmu dan istrmu ini,,! Sampai mati kalian berdua akan tetap berada di tanganku." Kata Pak Frengki sambil meremas mulut Fahri yang sudah tidak berdaya sama sekali.


Alira sudah tidak sadarkan diri sejak kemarin, sedangkan Fahri, dia masih bisa mendengar apa yang di katakan oleh Pak Frengki, tapi dia tidak punya daya sama sekali, jangankan untuk melawan, untuk membuka mata saja dia tidak mampu melakukannya.


Setelah keluar dari jalanan kecil itu, Faris langsung menambahkan kecepatan mobilnya, dan karena terlalu fokus dengan mobil Pak Frengki, sampai membuat Faris tidak menyadari ada sebuah mobil yang sedang parkir di samping jalan. Sedangkan anak buahnya masih berada jauh di belakang sana.


Faris yang hanya fokus ke depan, tidak menyadari, kalau ada orang di dalam mobil yang terparkir di samping jalan itu, sedang mengarahkan pistol ke arah ban mobilnya. Dan di saat tembakan berbunyi, baru Faris sadar kalau ada yang ingin mencelakainya.


Mobil Faris yang tadinya melaju dengan kecepatan tinggi, langsung hilang kendali dan hampir saja menabrak pohon yang ada di samping jalan. Untung saja Faris dengan segera langsung menginjak rem dengan kencangnya, sehingga membuat mobilnya berhenti sebelum menabrak pohon besar itu.


Faris benar-benar marah dengan semua itu, tanpa menunggu lama dia langsung bergegas keluar dari mobil, dan berlari mengejar mobil itu sambil menembakinya, tapi tembakannya sama sekali tidak mengenai mobil itu, karena mobil itu langsung pergi setelah berhasil menembaki sebelah ban mobilnya tadi.


Faris yang sudah tidak bisa mengejar mobil itu, hanya berdiri di samping jalan, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan tampang yang sangat menakutkan. Faris bertambah murka, di saat dia melihat bayangan seseorang yang dia curiga, berada di dalam mobil yang sudah melaju kencang di kejauhan sana.


Faris yang tadi berusaha mengejar mobil itu, tidak sengaja melihat bayangan Komandan Polisi yang sedang dia curigai selama ini, ada di dalam mobil itu. Dan itu membuat dia semakin murkah, tapi Faris bukanlah orang yang bodoh, karena walaupun mereka sudah berhasil mencelakai mobilnya, bukan berarti mereka akan lolos dari incarannya.


Tidak beberapa lama Faris berdiri di samping jalan, tiba-tiba mobil anak buahnya yang tadi mengikunya dari belakang pun datang. Dan dengan segera Faris langsung naik ke salah satu mobil anak buahnya, kemudian mereka pun melaju mengejar mobil Pak Frengki, dan mobil yang sudah mencelakainya tadi.


Faris yang sudah bersandar di sandaran kursi mobil bagian depan, segera mengambil ponselnya dari dalam saku jaketnya dan menghubungi seseorang.


("Halo,,! Apa kalian sudah siap,,?") Tanya Faris setelah telponnya tersambung.


("Suda Bos,,! Kita sedang menunggu mereka.") Jawab seseorang dari balik telpon.


("Jangan biarkan mereka lolos,,! Dan jangan celakai mobil mereka,,! Karena kemungkinan orang tuaku ada di dalam salah satu mobil mereka.") Kata Faris.


("Baik Bos,,!") Jawab laki-laki itu.


Ternyata Faris sudah memperhitungkan semuanya dengan sangat baik. Dan orang yang tadi dia hubungi itu, adalah salah seorang anak buahnya, yang sedang bersama beberapa anak buahnya yang lain, yang sudah siap menunggu kedatangan mobil Pak Frengki di ujung jalan sana.


Faris memang orang yang sangat cerdas dan pandai memperhitungkan segala hal yang akan terjadi nanti. Dan kecerdasannya itu, membuat dia tidak bisa untuk di lumpuhkan. Faris memang orang yang sangat emosional, tapi untuk keselamatan orang-orang yang dia sayangi, dia selalu mengutamakan logika daripada hawa nafsunya.