
Pak Frengki dan rekan-rekannya sudah di tangkap oleh anak buah Faris, tangan mereka di borgol, dan tubuh mereka di ikat jadi satu di samping mobil mereka sendiri. Pak Frengki yang berada tepat di samping Komandan Polisi yang menjadi rekannya itu, merasa sangat kesal karena para Polisi yang sudah dia bayar itu, tidak mampuh melawan anak buah Faris sama sekali.
Selesai mengikat mereka semua, salah seorang anak buah Faris langsung membuka pintu mobil milik Pak Frengki, untuk melihat keberadaan orang tua Faris, karena itu yang di perintahkan oleh Faris lewat telepon tadi.
Anak buah Faris itu sangat terkejut setelah melihat kondisi orang tua Faris, yang sudah tidak sadarkan diri di dalam mobil, dengan sekujur tubuh yang di penuhi banyak luka yang mengeluarkan darah. Dan tanpa menunggu lama, dia langsung memberitahukan kondisi orang tua Faris, kepada teman-temannya yang lain, yang sedang mengawasi tawanan mereka.
"Bro,, ini benar-benar gawat,,!" Kata anak buah Faris yang baru keluar dari dalam mobil Pak Frengki.
"Ada apa,,?" Tanya anak buah Faris yang lainnya.
"Keadaan Tuan Fahri dan Nyonya Alira sangat parah,,!" Jawab anak buah Faris yang sudah melihat kondisi Fahri dan Alira.
"Kalau gitu kita harus hubungi Pak Faris, dan juga hubungi ambulans, biar Tuan Fahri dan Nyonya Alira bisa di tolong secepatnya." Kata salah seorang anak buah Faris dengan tampang yang terlihat panik.
Semua anak buah Faris jadi panik, setelah melihat keadaan orang tua dari Bos mereka, yang sangat sekarat di dalam mobil Pak Frengki. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti, kalau Faris melihat kondisi orang tuanya itu.
Tanpa menunggu lama, salah seorang anak buah Faris langsung menghubungi Faris, untuk memberitahukan keadaan orang tuanya, dan mereka juga menghubungi ambulans dari RS milik keluarga Permana, untuk segera datang ke lokasi yang sudah di kirim oleh anak buah Faris yang lainnya.
Faris yang mendengar keadaan orang tuanya, langsung meminta salah seorang anak buahnya yang sedang menyetir, untuk menambahkan kecepatan mobil mereka. Kemarahan Faris seketika langsung memuncak, setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh anak buahnya tadi, dan ekspresinya seketika langsung berubah seperti iblis.
Dengan kemarahan yang sudah menguasai dirinya, Faris meremas ponsel di tangannya dengan sangat kencang, dengan wajah yang sudah sangat merah, sehingga membuat layar ponselnya jadi retak, kemudian dia berkata.
"Aku akan mengeluarkan isi perut kalian dengan tanganku sendiri." Faris berkata-kata dengan tampang yang sangat menakutkan, sambil menatap tajam ke arah depan.
Melihat ekspresi Faris yang tiba-tiba berubah seperti iblis, membuat anak buahnya yang berada satu mobil bersamanya, hanya terdiam sambil melirik satu sama yang lain. Semua anak buah Faris memilih untuk tidak bersuara, karena mereka tidak ingin mengganggu harimau lapar yang ada di samping mereka itu.
Faris tidak terima dengan apa yang di lakukan Pak Frengki terhadap keluarganya, terutama kedua orang tuanya. Dia tidak rela orang tuanya di siksa dan di aniaya seperti itu, karena menurut dia, orang tuanya itu adalah orang yang sangat baik dan berhati malaikat, jadi mereka tidak pantas di perlakukan sekejam itu.
Pak Frengki yang melihat kepanikan anak buah Faris, langsung tertawa walaupun dia sudah terikat, dan tidak bisa melakukan apapun, karena tujuannya memang ingin membuat keluarga Permana menderita.
Bela adalah putri satu-satunya Pak Frengki, dan Pak Frengki sangat sakit hati atas meninggalnya Bela. Dan karena sakit hatinya itu, sehingga membuat dia ingin membalas dendam kepada keluarga Permana, terutama kepada Fahri dan juga Alira.
Sudah sejak lama Pak Frengki ingin membalaskan dendamnya kepada keluarga Permana. Tapi dia tidak punya kesempatan, juga tidak memiliki rekan untuk di ajak kerja sama, karena keluarga Permana bukanlah keluarga biasa yang bisa di serang begitu saja. Dan setelah bertemu dengan Komandan Polisi mata duitan itu, baru Pak Frengki bisa melancarkan serangannya.
Semua anak buah Faris sedang menunggu kedatangan Faris yang sudah hampir sampai. Mereka semua sangat menghawatirkan keadaan orang tuanya Faris, yang sudah tidak sadarkan diri. Tapi tiba-tiba suara tertawa Pak Frengki mengagetkan mereka, dan membuat mereka jadi bingung.
"Hahahahahahaha." Suara tertawa Pak Frengki.
Semua yang ada di situ serentak langsung menatap ke arah Pak Frengki, dengan tatapan kebingungan, terutama Komandan Polisi dan beberapa anak buahnya yang juga sudah di ikat. Sedangkan beberapa anak buah Faris yang melihatnya, sudah mulai merasa kesal dan langsung mengeluarkan suara.
"Apa anda sudah gila,,?" Tanya salah satu anak buahnya Faris.
"Aku ngga gila, tapi aku sangat bahagia melihat kedua orang itu sekarat seperti itu." Kata Pak Frengki sambil menatap ke arah Fahri dan Alira, yang sudah di baringkan di dalam mobil milik anak buah Faris.
"Dasar tidak punya perasaan kamu,,!" Kata anak buah Faris sambil menatap Pak Frengki, dengan tatapan yang sangat tajam.
"Ya benar, aku memang tidak punya perasaan,,! Tapi aku seperti itu karena merekaaa,,! Mereka berdua sudah membunuh putriku satu-satunya." Kata Pak Frengki dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Terserah kamu. Tertawalah sesuka hatimu,,! Karena sebentar lagi, jangankan tertawa, bernafas pun kamu sudah tidak bisa. Dan asal kamu tahu, orang yang sebentar nanti kamu hadapi ini, manusia berjiwa monster, dan dialah sebenarnya orang yang sudah melenyapkan putrimu." Kata anak buah Faris yang membuat Pak Frengki langsung kaget tanpa bisa berkata apa-apa.
"Kenapa,,? Kamu kaget,,? Dia menghabisi nyawa putrimu itu di saat dia masih berusia 13 tahun. Tapi namanya selalu bersih dan dia tidak pernah di proses, kamu mau tahu kenapa bisa seperti itu,,? Itu semua karena keluarganya dapat melakukan apapun yang mereka mau, hanya dengan uang." Kata anak buah Faris menjelaskan.
Mendengar apa yang di katakan oleh anak buah Faris, membuat Pak Frengki dan rekan-rekannya terkejut dan tidak bisa untuk berkata-kata. Mereka benar-benar tidak percaya ada orang seperti Faris, yang sudah bisa melakukan tindakan kriminal di saat usianya yang masih kecil.
Dalam diam Pak Frengki mengingat kembali jenazah putrinya, saat di pulangkan ke rumahnya oleh pihak yang berwajib saat itu. Dan seketika dia langsung ketakutan, karena waktu itu Bela di bunuh dengan cara yang begitu kejam.
Waktu itu jenazah Bela terdapat beberapa luka yang sangat mengerikan di bagian perutnya, dan juga di beberapa bagian tubuh yang lain. Dan dari luka yang terlihat, sepertinya Bela di lenyapkan oleh seseorang yang memiliki kemarahan yang berbeda, menurut Polisi yang membawa pulang jenazahnya. Karena biasanya luka seperti itu, terdapat pada korban yang di lenyapkan oleh seseorang yang memiliki jiwa psikopat.