CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 53. Rencana Pindah Rumah.


Pukul 7 tepat, Aleta yang sudah selesai membantu menyiapkan sarapan, kembali naik ke kamar, dia melihat Faris masih terlelap di atas tempat tidur, tanpa menunggu lama, Aleta langsung bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan buru-buru untuk berpakaian.


Setelah sudah rapi, Aleta langsung membangunkan Faris yang masih saja terlelap di atas tempat tidur.


"Maaas,, Mas bangun Mas,,! Ini udah mua jam 8, Mas harus ke kantor kan,,?" Kata Aleta sambil menggoyang-goyang lengan Faris.


"Iya,,! Kamu udah mau berangkat ke Kampus,,?" Tanya Faris sambil menatap Aleta, yang sedang duduk di sampingnya dengan penampilan yang sudah sangat cantik.



"Iya Mas,, soalnya aku ada mata kuliah jam 8:30,," jawab Aleta.


Dengan segera Faris langsung bangun, dan duduk di samping Aleta, dan Aleta pun tanpa menunggu lama, langsung mencium tangn suaminya, dan Faris juga mencium keningnya kemudian bertanya.


"Kamu di antar supir kan,,?" Tanya Faris.


"Ngga Mas,, aku perginya sama Melda, soalnya Pak supir sedang mengantar Almira ke Sekolah,," jawab Aleta.


"Aku sama Melda pakai mobil barunya, yang di belikan Om Refan kemarin,," Tambah Aleta.


"Ya sudah kalau gitu, hati-hati ya kamu sama Melda,,!" Kata Faris, dan Aleta langsung mengangguk kemudian pergi meninggalkan Faris, yang masih tetap duduk di atas tempat tidur.


Setelah Aleta pergi, Faris pun segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi, selesai mandi, dia langsung buru-buru berpakaian, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju dapur, dan di sana sudah ada Orang Tuanya, yang sedang menunggunya di meja maknan, sedangkan Almira sudah berangkat ke Sekolah sejak tadi.


Mereka bertiga sarapan tanpa ada yang bersuara, sambil menikmati sarapannya, Faris berfikir untuk mengatakan niatnya mau beli rumah, dan tinggal senndiri, kepada Mama dan Papanya yang duduk tepat di hadapannya.


Sebenarnya Faris sudah tahu, kalau Orang Tuanya tidak akan setuju dengan apa yang akan dia sampaikan nanti, tapi dia juga tidak ingin hidup tergantung kepada Orang Tuanya, apalagi sekarang dia sudah berumah tangga. Karena selama dia dan Aleta masih tetap tinggal di rumah mewah itu, Mama dan Papanya tidak pernah mengijinkannya, untuk membeli kebutuhan apapun di dalam rumah.


Memang semua fasilitas yang Faris pakai, itu semua dia beli dengan hasil kerja kerasnya, tapi untuk kebutuhan di dalam rumah, Papa Mamanya tidak pernah mengijinkan dia dan Aleta untuk membelinya, dengan uang mereka sendiri. Setelah selesai sarapan, dengan berat hati Faris pun mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Ma,, Pa,, ada yang ingin aku sampaikan,," kata Faris sambil menatap Mama dan Papanya dengan tatapan ragu-ragu.



"Apa yang ingin kamu sampaikan,,?" Tanya Fahri sambil memainkan ponsel di tangannya, begitupun dengan Alira yang juga sedang sibuk, mengirim pesan kepada Meymey Mamanya Melda.


"Aku ingin beli rumah, untuk aku dan Aleta tinggal,,!" Kata Faris yang membuat kedua Orang Tuanya, langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung juga terkejut.


"Apaaaaa,,? Beli rumah,,?" Tanya Alira dan Fahri bersamaan dengan nada sedikit berteriak saking kagetnya.




"Tapi kenapa kamu mau pindah dari sini,,?" Tanya Fahri sambil menatap Faris, yang sudah menundukan mukanya menatap ke arah bawah.


"Ngga Faris ngga,,! pokoknya Mama ngga mau hidup terpisah sama kamu ataupun adik kamu,,!" Jawab Alira dengan nada suara yang tegas.


"Tapi Maaa,, aku tu sudah menikah,,! Mau sampai kapan aku harus tergantung sama Mama Papa,,?" Kata Faris.


"Ngga Faris ngga,,! Pokoknya Mama ngga mau, apapun alasannya,,!" Kata Alira yang langsung berdiri dan melangkah pergi dengan berlinang air mata.


"Maaaa,, Mamaa,," Teriak Faris memnggil Mamanya, namun Mamanya yang sudah bercucuran air mata itu, tidak menjawab ataupun berbalik.


Alira memilih untuk pergi ke kamarnya dan menangis di sana. Sedangkan Faris yang masih berada di di meja makan bersama Papanya, hanya terdiam sambil menunduk. Faris sngat merasa bersalah, karena telah membuat wanita yang paling dia sayangi di dalam hidunya, bersedih sampai menitikan air mata.


Sedangkan Fahri, dia jadi bingung juga pusing dengan semua itu. Fahri tidak bisa untuk menolak apa yang di inginkan putranya itu, karena dulu, setelah sudah menikah dengan Alira, dia juga mengambil jalan yang sama seperti Faris. Tapi Fahri juga tidak bisa menyalahkan istrinya, yang begitu menyayangi ke dua buah hati mereka.


"Riis,, nanti Papa akan mencoba untuk bicara dengan Mama kamu, semoga dia bisa menerimanya, sebap Mama kamu itu tidak pernah terpisah dari kalian berdua, semenjak kalian masih kecil,," kata Fahri dan langsung melangkah pergi menyusul Alira ke kamar.


Setelah Papanya pergi, Faris pun langsung bergegas pergi ke kantor, karena dia harus melihat semua persiapan keberangkatannya, yang di urus sekrestaris sekaligus tantenya itu.


Dalam perjalanan, Faris jadi kepikiran dengan Mamanya yang tadi menangis, setelah dia katakan mau pindah, dan dia berharap, semoga Papanya bisa membuat Mamanya untuk mengerti.


Sedangkan di rumah, Fahri yang sudah duduk di samping Alira, yang sedang duduk sambil berlinang air mata di atas tempat tidur, segera memeluk istri tercintanya itu sambil berkata.


"Sayang,, kita harus menghargai keputusan putra kita,,! Dia itu sudah dewasa, juga sudah berumah tangga,," Kata Faris sambil mengusap-ngusap kepala Alira.


"Mas,, biarpun dia sudah dewasa dan sudah menikah, tapi dia tetap putra aku, dan aku tidak mu mereka tinggal terpisah dari kita, kalau Aleta hamil gimana Mas,,? Siapa yang akan menjaganya nanti kalau Faris ngga ada,,?" Kata Alira sambil menatap tajam suaminya.


"Coba kamu ingat sayang,, dulu setelah kita sudah menikah, aku juga memutuskan untuk pindah kan,,? Dan Mama juga sedih seperti kamu, tapi dia tetap mengijinkan kita untuk pindah kan,,?" Kata Fahri yang membuat Alira tidak bisa menjawab apa-apa.


Dan di saat mereka sedang membicarakan semuanya, tiba-tiba asisten rumah tangga mereka mengetuk-ngetuk pintu, dan setelah Fahri membuka pintu kamar, asisten rumah tangganya itu langsung mengatakan, kalau ada tetangga mereka yang bertamu di bawah.


Tanpa menunggu lama, Alira dan Fahri pun segera turun menemui tetangga mereka, yang bernama Daniel juga istrinya Marta yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Eeeh Pak Daniel, Ibu Marta, silahkan duduk,,!" Kata Fahri sambil menyalami tamunya itu, begitu pun dengan Alira yang tersenyum sambil menyalami mereka.


"Tumben Bu, pagi-pagi udah berkunjung ke rumah kami,,?" Kata Alira sambil menatap Ibu Marta dengan wajah sembabnya.


"Iya Bu, kita hanya mau berpamitan, soalnya kita mau pindah ke London, dan lusa pagi kita sudah berangkat,," kata Ibu Marta.


"Trus rumahnya di biarkan kosong ya Pak,,?" Tanya Fahri kepada Pak Daniel.


"Iya Pak, nanti mau di jual,,! Dan kalau ada yang mau beli, baru saudaranya istri aku akan menghubungi kita,," jawab Pak Daniel, yang membuat Fahri dan Alira langsung saling menatap satu sama lain.


"Ada apa Pak,,?" Tanya Ibu Marta bingung dengan tingkah Fahri dan Alira.


"Gini Bu,, kita tu mau beli rumah buat putra kita yang baru saja menikah, dan lebih bagus lagi, kalau mereka tinggal berdekatan sama kita, soalnya Mamanya tidak mau jauh-jauh dari mereka,," kata Fahri yang membuat Pak Daniel juga Ibu Marta tersenyum.