
Faris bersama beberapa anak buahnya, sedang melaju menuju rumah Papa Fahri. Dan mobil yang sejak tadi mengikuti mereka, tidak berhenti mengikuti dari belakang. Sepertinya orang-orang di dalam mobil itu tidak menyadari, kalau Faris sudah melihat keberadaan mereka.
Tidak berapa lama, mobil Faris mulai keluar dari jalan raya, dan melaju di jalan menuju rumah orang tuanya, yang bersebelahan dengan rumahnya, juga rumah orang tua Melda. Sebelum sampai di area rumah mereka, ada belokan yang dulunya memang di buat, sebagai jalan rahasia menuju belakang rumah mewah Papa Fahri. Tapi setelah terjadi kecelakaan itu, Faris langsung menyuruh orang-orangnya, untuk merubah arah jalan rahasia itu.
Jalan rahasia menuju belakang rumah Papa Fahri sudah di tutup, dan di buka jalan baru yang mengarah ke telaga, yang letaknya tidak terlalu jauh dari area rumah mereka. Dan itu Faris lakukan untuk menjebak para musuh, yang datang dengan niat jahat. Karena Faris berfikir, mereka pasti lebih memilih lewat belakang, biar tidak bisa di lihat oleh orang-orang di sekitar situ.
Setelah melewati belokan itu, Faris sempat melirik ke mobil yang sedang mengikuti mereka, dari jarak yang lumayan jauh di belakang sana, melalui kaca spion yang ada di sampingnya dengan senyum sinisnya. Karena dia yakin, sebentar lagi orang-orang yang berada di dalam mobil itu, akan masuk ke dalam perangkap kematian mereka.
Tidak berapa lama dari situ, mobil Faris pun memasuki pekarangan rumah orang tuanya. Tapi Faris sama sekali tidak keluar dari dalam mobil. Setelah beberapa menit terdiam di dalam mobil, Faris kemudian menyuruh anak buahnya, untuk putar balik mobil mereka, dengan tampang penuh kemenangan.
Anak buah Faris yang sedang mengemudi, merasa sangat bingung dengan sikap Faris, begitupun dengan yang lainnya. Walaupun merasa bingung dengan sikap Bos-nya, namun anak buah Faris tetap memutar balik mobil mereka dan berlalu pergi. Dalam perjalanan, anak buah Faris yang sedang mengemudi, kembali bertanya setelah menyadari, kalau mobil yang tadi mengikuti mereka sudah tidak terlihat lagi.
"Bos,, mobil yang mengikuti kita tadi sudah tidak terlihat lagi."
"Iya,, saya tahu." Jawab Faris singkat sambil menatap lurus ke depan.
"Kira-kira kemana perginya mereka Bos,,?" Tanya anak buahnya karena masih merasa penasaran, dengan orang-orang yang mengikuti mereka tadi.
"Mereka sudah ke tempat kematian mereka." Jawab Faris dengan begitu santainya.
Mendengar jawaban Faris, beberapa orang anak buahnya, yang berada satu mobil dengannya jadi bingung, dan penasaran. Karena memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Faris, membuat anak buah Faris yang sedang mengemudi itu, tidak merasa sungkan untuk terus bertanya.
"Apa sudah ada yang membereskan mereka Bos,,?" Tanya anak buah Faris tanpa hentinya.
"Tidak ada yang melakukan apa-apa kepada mereka. Mereka sendiri yang sudah membawa diri ke tempat kematian mereka. Nanti kalian sendiri pasti tahu." Jawab Faris dengan begitu tenangnya, dan membuat beberapa anak buahnya itu semakin bingung, namun mereka memilih untuk tidak bertanya lagi.
Setelah beberapa menit melaju di jalan raya menuju tempat tujuan mereka sebelumnya, tiba-tiba mereka melihat ada beberapa mobil Polisi, yang melaju menuju arah berlawanan. Dan Faris yang melihat itu langsung tersenyum sambil berkata.
"Putarkan radio." Kata Faris dan anak buahnya yang sedang mengemudi, langsung menyalakan radio yang ada di mobil itu.
Tidak lama radio di nyalakan, beberapa anak buah Faris langsung terkejut, setelah mendengar berita tentang mobil dengan nomor polisi, yang tadi sempat mengikuti mereka tenggelam di dalam telaga, yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahan elit, yang tidak lain kompleks rumah Faris, Papa Fahri dan Om Refan.
Beberapa orang yang ada di dalam mobil itu, sangat kaget dengan berita yang sedang mereka dengar. Hanya Faris saja yang terlihat santai dan biasa saja, karena semua itu memang rencananya. Faris melakukan itu, karena dia memang berencana untuk melenyapkan semua musuhnya, tanpa mengotori tangannya.
Mobil Faris melaju menuju sebuah gedung tua milik keluarganya. Dan di gedung itulah tempat dia menyekap Pak Frengki, dan Komandan Polisi beserta beberapa anak buahnya. Setelah mobil di parkiran di samping gedung tua itu, dengan segera Faris langsung melangkah masuk ke dalam gedung tua itu, dengan tampang yang sudah tidak bisa di artikan.
Tatapan Faris yang begitu tajam, membuat beberapa orang yang di sekap oleh anak buahnya itu jadi ketakutan. Mereka merasa seperti akan terluka hanya dengan tatapan mata Faris.
Faris yang sudah berdiri di depan Pak Frengky juga rekan-rekannya, dengan segera langsung mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya, dan mengarahkannya pada Pak Frengky dengan tatapan membunuh. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan kata-kata Aleta, yang membuat dia langsung duduk terdiam sambil menundukan kepalanya.
Sebenarnya Faris ingin sekali menghabisi beberapa orang di depannya itu dengan tangannya sendiri, walaupun dia sudah memutuskan untuk melenyapkan mereka semua, tanpa harus mengotori tangannya. Tapi setelah mengingat pesan Aleta setiap kali dia mau keluar rumah, membuat dia akhirnya tidak bisa melakukan apa-apa. Selain itu, Faris juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada bayinya, hanya karena perbuatannya.
Setelah beberapa lama terdiam, Faris kemudian berdiri dan melangkah keluar dari dalam ruangan itu, menemui beberapa anak buahnya yang sedang berdiri di depan pintu. Dan dia segera memerintahkan anak buahnya untuk menangani Pak Frengki dan rekan-rekannya.
"Sebentar malam nanti, kalian bawa mereka dari sini dan bereskan mereka,,! Tapi ingat, lakukan semuanya seperti sebuah kecelakaan." Kata Faris dengan tampang yang terlihat begitu dingin. Dan setelah itu dia segera melangkah pergi.
Faris memilih untuk langsung kembali ke RS, untuk menemui Aleta yang sedang memeriksa kandungannya, sekaligus melihat keadaan orang tuanya. Kebetulan Aleta memeriksa kandungan di RS yang sama dengan Papa Fahri dan Mama Alira, yang tidak lain adalah RS milik keluarga Permana.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Faris mulai kembali kepikiran dengan Melda, juga Reza yang belum ada informasi apapun. Dan tiba-tiba dia berfikir untuk mengaktifkan nomor telepon lamanya, juga semua sosial medianya. Karena setelah kejadian itu, Faris dan semua anggota keluarganya langsung menonaktifkan nomor mereka, juga semua sosial media yang mereka gunakan.
Tanpa menunggu lama, Faris langsung memasang kartu lamanya yang dia simpan di dompet. Setelah kartu itu di pasang, beberapa pesan langsung masuk. Dan itu pesan dari Reza yang mengatakan kalau dia dan Melda, berada di sebuah perkampungan di Malaysia, dan keadaan mereka baik-baik saja di sana.
Setelah membaca pesan itu, Faris langsung menarik nafas panjang sambil tersenyum. Dia sangat bahagia mengetahui adiknya itu, dalam keadaan baik-baik saja bersama Reza. Dan dengan segera, Faris pun langsung menghubungi beberapa orang yang dia suruh mencari Melda dan Reza di Malaysia, untuk memberitahukan keberadaan Reza dan Melda, di sebuah perkampungan yang di beritahukan Reza lewat pesan yang dia kirim.
Sedangkan Aleta yang berada di rumah sakit, sedang duduk memangku Almira di samping Mama Alira dan Papa Fahri, dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
Aleta sangat bahagia, karena melihat keadaan kedua mertuanya yang berhasil di selamatkan, walaupun sekarang mereka di nyatakan koma. Dan Aleta begitu senang karena Almira bisa tersenyum, setelah melihat kedua orang tuanya yang sedang terbaring di atas tempat tidur ruang UGD itu.
Selain itu, Aleta juga sangat bahagia dan bersyukur, karena mengetahui perkembangan bayinya yang semakin berkembang di dalam kandungannya, dengan begitu sehat. Tapi Aleta masih merasa penasaran dengan jenis kelamin bayinya itu, karena kandungannya masih berusia empat bulan menjelang lima, jadi belum bisa di ketahui jenis kelamin bayinya.
Dan bukan Aleta saja yang merasa penasaran, tapi anggota keluarganya yang lain juga tidak kalah penasaran, terutama Boy si gemulai yang heboh itu. Mendengar Aleta sudah berada di RS, Boy yang berada di kantor tidak henti-hentinya menelfon Aleta dan Tante Leni bergantian, untuk menanyakan jenis kelamin bayi Aleta. Dan apa yang di lakukan Boy itu, membuat Tante Leni jadi kesal dan langsung memarahinya.