CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 105. Kecerobohan Melda.


Faris merasa sangat marah setelah mendengar nama Bela. Sebenarnya sudah beberapa hari ini, fikiran Faris sudah tertuju kepada keluarga Bela maupun Fina. Karena mereka berdua, yang sudah Faris habisi dengan tangannya sendiri. Dan Faris juga sudah menyuruh orang, untuk mencari tahu tentang keberadaan keluarga Bela maupun Fina. Tapi sampai saat ini, dia belum mendapatkan informasi sama sekali dari orang yang dia suruh itu.


Dia juga sedikit merasa bingung, karena orang yang dia tugaskan, untuk mencari tahu tentang keluarga Bela dan juga Fina, seperti hilang jejak. Tapi setelah mendengar apa yang di katakan oleh Almira, rasa bingung juga rasa curiga Faris, seketika berubah menjadi kayakinan, kalau memang keluarga Bela yang sudah melakukan semua itu, dan orang suruhannya itu mungkin sudah di bunuh oleh mereka.


Sejenak Faris kembali duduk tepat di hadapan Almira, sambil memeluk dan mengusap-usap punggung adiknya itu, tanpa berkata apa-apa. Dalam diam Faris kembali memikirkan jalan yang paling tepat, yang harus dia ambil, karena dia takut jangan sampai terjadi apa-apa dengan keluarganya di rumah, kalau sampai dia berangkat ke Malaysia.


Faris tidak mau mengambil keputusan yang salah, karena dia tahu kalau musuh yang telah mencelakai keluarganya, pasti tidak tinggal diam. Faris sangat yakin, kalau setiap langkahnya pasti akan di intai oleh para musuh. Dan sasaran mereka saat ini adalah dia, dan beberapa anggota keluarganya yang masih tersisa.


Akhirnya Faris memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke Malaysia, dia hanya menyuruh anak buahnya untuk pergi mencari Reza dan Melda, Sedangkan dia sendiri yang akan melacak keberadaan keluarga Bela di Indonesia.


Setelah memikirkan langkah yang harus dia ambil, Faris segera berdiri dan melangkah ke lemari pakaian karena dia mau mengganti bajunya. Faris sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dan selesai mengganti baju dia langsung menghampiri Tante Leni, Aleta dan Boy kemudian berkata.


"Aku tidak jadi ke Malaysia, biar anak buahku saja yang ke sana mencari Reza dan Melda. Aku yakin Reza bisa menyelamatkan Melda, dan aku akan mencari keberadaan keluarga Bela, Karena kemungkinan besar, Papa dan Mama masih hidup dan masih di sekap oleh mereka." Kata Faris panjang lebar sambil menatap mereka bertiga dengan tampang yang sangat menakutkan.



"Kalau Papa dan Mama kamu masih hidup, berarti siapa kedua mayat yang terbakar itu,,?" Tanya Boy.


"Iya Riis,, terus bukannya Bela itu wanita yang dulu hampir mencelakai Mama kamu dan Bi Ina itu kan,,?" Tanya Tante Leni.


"Iya, wanita itu yang dulu ingin menghancurkan rumah tangga Mama dan Papa, dan karena dia juga Mama hampir celaka di saat melahirkan aku. Dan aku juga ngga tahu dengan kedua mayat yang terbakar itu." Jawab Faris.


Tanpa menunggu lama, Faris dengan segera langsung memerintahkan anak buahnya, untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing, dan ada beberapa orang yang Faris pilih untuk pergi bersamanya malam itu juga, menyelidiki rumah keluarga Bela yang ada di Jakarta, termasuk rumah salah satu teman Papa Fahri, sekaligus sepupunya Bela yang bernama Anton.


Faris juga tidak lupa untuk menyuruh orang-orang bayarannya di Amerika, untuk mencari tahu tentang keluarga Bela, karena keluarga besar Bela memang tinggal di sana sejak dulu.


***********


Sejak pukul 6:30 sore tadi, Pak Rendra sudah pulang ke rumah tempat tinggalnya, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah yang dia gunakan, untuk menaruh para wanita yang akan dia jual. Pak Rendra sangat terpengaruh dengan kata-kata Reza tadi. Kata-kata Reza tadi membuat dia jadi tidak bersemangat untuk melakukan apapun, karena dia selalu tersiksa apabila teringat dengan adik perempuannya itu.


Sedangkan Reza, setelah Pak Rendra pergi dia langsung buru-buru mengisi batrei ponselnya, menggunakan charger yang dia pinjam di salah seorang pembantu yang bekerja di rumah itu. Tapi karena tidak punya banyak waktu, akhirnya belum terisi penuh, Reza sudah mengambilnya.


Setelah itu, Reza langsung melangkah menaiki tangga sambil menghubungi nomor salah seorang anak buahnya Faris. Hanya beberapa detik telponnya pun tersambung, dan Reza langsung mengangkatnya kemudian masuk ke dalam kamar, dan mulai berbicara tentang keberadaan dia dan Melda, juga keselamatan orang tua Faris yang sedang dalam bahaya.


Melda yang sudah selesai mandi dan berdandan di dalam kamar mandi, langsung keluar dengan penampilannya yang begitu sangat cantik. Tapi di saat dia melihat Reza sedang berbicara dengan seseorang dan menyebut nama Faris, dengan segera dia langsung buru-buru menghampiri Reza.


Sampainya di belakang Reza, tanpa berkata apa-apa, Melda segera merampas ponsel dari tangan Reza, dan Reza yang tidak menyadari keberadaan Melda di belakangnya, langsung terkejut sehingga membuat ponselnya jatuh dari tangannya.


Reza yang begitu terkejut, hanya menatap ponselnya yang sudah berada di atas lantai tanpa berkata apa-apa, begitupun dengan Melda. Melda hanya terdiam sambil menatap Reza dan ponselnya, yang sudah berserakan di atas lantai itu bergantian, dengan tatapan penuh bersalah.


"Maafkan aku,! Aku hanya terlalu bersemangat ingin berbicara dengan Mas Faris." Kata Melda dengan mata yang sudah berkaca-kaca, karena takut di marahi Reza.


"Kamu kan lihat aku sedang bicara. Kenapa ngga bisa minta baik-baik,,? Kalau dudah hancur kaya gini, bagaimana lagi kita bisa berkomunikasi dengan mereka,,?" Reza berkata-kata sambil memunguti ponselnya di atas lantai.


Ponsel Reza sudah tidak bisa di nyalakan lagi,


dengan tampang yang tidak bersemangat, Reza berdiri sambil terus berusaha menyalakan ponselnya, namun sudah tidak bisa sama sekali. Karena terlalu fokus dengan ponsel di tangannya, membuat Reza tidak menyadari kalau Melda yang sedang berdiri menghadapnya itu, sudah berlinang air mata, karena merasa bersalah dan menyesal.


"Aku minta maaf. Gara-gara aku, kita sudah tidak bisa mengabari Mas Faris lagi." Kata Melda dengan nada suara yang sangat bergetar.


Mendengar suara Melda, Reza yang sedang berusaha menyalakan ponselnya, langsung mengangkat mukanya dan menatap Melda dengan tatapan bingung. Dan di saat dia melihat wajah Melda, dia langsung kaget kemudian berkata.


"Mengapa kamu Menangis,,?" Tanya Reza bingung.


"Karena gara-gara kecerobohan aku, kita akan susah menghubungi Mas Faris untuk bisa membantu kita. Aku takut kita tidak bisa keluar dari sini. Hiks,,,hiks,,,hiks." Melda berkata-kata sambil menangis.



"Sudah, jangan menangis lagi,,! Berdoa saja biar sebentar malam nanti, kita bisa keluar dengan mudah dari sini." Kata Reza sambil menatap Melda.


"Lagian tadi aku sudah sempat memberitahukan mereka, kalau kamu ada bersamaku. Dan aku juga bilang, mengenai orang tua Faris yang masih hidup, dan keselamatan mereka sedang terancam. Sekarang hapus air mata kamu,,! Jangan sampai ada yang melihat kamu menangis seperti ini." Kata Reza lagi.


Dengan segera Melda langsung menghapus air matanya, kemudian melangkah mengikuti Reza, yang sudah duluan melangkah ke arah tempat tidur dan duduk di sana.