CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 40. Hancurnya Hati Aleta.


Faris dengan buru-buru berlari menghapiri mobilnya, dan setelah sudah berada di dalam mobil, dia langsung melajukan mobilnya menuju Jalan Raya dengan kecepatan penuh. Faris tidak ingin Aleta sampai ke rumah dengan keadaan seperti itu, karena kalau sampai itu terjadi, dia pasti akan di marahi habis-habisan.


Faris sangat setres menghadapi apa yang sedang terjadi, karena ini kali pertama dia mengalami masalah semacam ini, apalagi dia tahu, kalau wanita cantik yang sudah menjadi istrinya itu, mempunyai jiwa yang sangat rapuh dalam menghadapi masalah, jadi Faris yakin kalau Aleta sangat terluka saat ini.


Dengan fikiran yang sudah kacau, Faris melajukan mobilnya, sambil melihat ke sana ke mari mencari keberadaan taxi yang di naiki Aleta tadi, tapi taxi itu sudah tidak terlihat di mana-mana, dan itu membuat Faris semakin pusing.


Faris mencari Aleta ke sana ke mari tapi dia sama sekali tidak menemukan wanita cantiknya itu, akhirnya Faris memilih untuk menelfon Melda juga Tante Lina di kantor untuk menanyakan Aleta, tapi jawaban mereka sama, kalau Aleta tidak ada. Mendengar jawaban dari Melda dan Tantenya membuat Faris jadi merasa hawatir, karena waktu sudah menunjukan pukul 6:30, dan sebentar lagi sudah gelap.


Faris juga tidak lupa menyuruh Melda dan Tantenya, untuk tidak memberitahukan orang tuanya tentang masalah ini, karena dia tidak ingin membuat orang tuanya juga keluarganya yang lain jadi marah, dan kepikiran dengan masalah yang dia lakukan.


Faris yang sudah bingung juga hawatir dengan keberadaan istrinya, memilih untuk menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia sudah tidak tahu harus cari Aleta kemana lagi, apalagi Aleta belum terlalu menguasai jalan di Jakarta, jadi Faris sangat takut kalau dia kesasar dan bertemu orang jahat.


Dengan wajah yang sangat tidak besemangat, Faris menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil mewahnya itu, tapi tiba-tiba dia teringat dengan taman yang berada di dekat apartemennya, tanpa berfikir pajang, Faris langsung buru-buru menjalankan mobilnya menuju taman itu.


Karena jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga hanya dalam waktu 10 menit Faris sudah sampai di tempat yang dia tuju. Selesai memarkirkan mobilnya, tanpa menunggu lama Faris segera berlari menuju kursi taman, yang berada lumayan jauh dari tempat dia memarkirkan mobil.


Faris berlari menuju bangku taman dan masih berjarak beberapa meter, langkah Faris langsung tertahan setelah melihat sosok yang dia cari, sedang duduk sambil menundukan kepalanya, dengan perlahan Faris melangkah mendekati Aleta, dan setelah semakin dekat baru dia sadar kalau Aleta sedang menangis sambil menundukan kepalanya.


"Aletaa,," panggil Faris dengan nada yang begitu lembut.


Aleta yang sedang menangis langsung kaget dengan suara Faris, dia mengangkat wajahnya dan menatap Faris dengan sangat tajam sambil berkata.


"Mau apa kamu ke sini,,?" Tanya Aleta dengan suara yang sangat bergetar karena dia tidak henti-hentinya menangis sejak tadi.


"Aletaa,, kamu itu sudah salah fahaam,,!" Kata Faris sambil melangkah mendekati Aleta.



"Apaaa,,? Salah Fahaam,,? Ya aku memang salah faham,,! Aku salah faham dengan semua sikap juga kata-kata manismu terhadapku,,! Dan kebenarannya yang tadi aku lihat dengan mata kepalaku,,!" Kata Aleta sambil menghapus air matanya.


"Aleta aku bisa jelasin semuanya,,!" Kata Faris.


"Tidak perlu kamu jelaskan apa-apa,,! Sudah cukup aku dengar dari mulut Melisa, model murahanmu itu, kalau kamu adalah selingkuhannya,,!" Kata Aleta.


"Dan satu lagi Faris,,! Mungkin aku sudah terlanjur mencintaimu sedalam-dalamnya, tapi kalau di hati kamu ada wanita lain, aku akan pergi dari kehidupanmu, asalkan kamu jujur, biar aku bisa tahu caranya untuk pergi,,! Tambah Aleta yang membuat Faris tidak tahu harus bagaimana.


"Aletaaa,,!" Panggil Faris lagi.


"Dan Asal kamu tahu Faris,,! Aku tidak akan pernah mau untuk mengandung anakmu lagi,,!" Kata Aleta yang membuat Faris langsung geram.


"Aletaaaaa,,!" Teriak Faris dengan kerasnya sambil menatap Aleta dengan tatapan yang sangat tajam.


"Apaaa,,? Kamu marah,,? Kalau kamu menginginkan anak, minta sana sama model murahanmu itu,,! Karena aku tidak mau menderita di saat mengandung anakmu seperti dulu,,!" Kata Aleta sambil menatap Faris tidak kalah tajamnya.


"Aletaa,, mengapa kamu seperti ini,,?" Tanya Faris dengan tampang kecewanya.


"Aku seperti ini, karena aku sudah sangat trauma dengan penderitaan yang kamu berikan padaku beberapa tahun yang lalu,,! Kamu tidak pernah tahu betapa menderitanya aku di saat itu,,!"


"Aku seperti wanita hamil pada umumnya, yang ingin makan ini dan itu, yang ingin di temani, di sayang, di belai oleh ayah dari anak yang dia kandung,,! Sampai-sampai aku sering menghirup aroma tubuh Reza untuk menggantikan aroma tubuhmu,,! Dan semua itu membuatku sangat tersiksa,,!"


"Untung ada Reza yang selalu menemani dan menyayangiku, dia selalu berusaha untuk menguatkanku dan membuatku bahagia,,! Tanpa dia mungkin aku sudah mati saat itu,,!" Kata Aleta panjang lebar yang membuat Faris tidak bisa untuk berkata apa-apa.


Faris sngat merasa bersalah setelah mendengar semua yang Aleta katakan barusan, dia tidak menyangkah kalau Aleta begitu sangat menderita di saat mengandung anaknya beberapa tahun yang lalu,


karena Reza juga tidak pernah bercerita mengenai semua itu kepadanya, karena Reza juga belum tahu, kalau dialah orang yang telah memperkosa Aleta waktu itu.


"Aleta tolong maafkan aku,,! Aku mohoon,,! Kata Faris


memohon kepada Aleta yang sudah membuang muka darinya.


"Pulanglah Faris,,! Aku tidak ingin melihat wajahmu saat ini,,!" Kata Aleta.


"Bagaimana mungkin aku bisa pulang dan meninggalkanmu sendirian di sini,,?" Kata Faris yang membuat Aleta langsung menatapnya.


"Kenapa tidak bisaa,,? Bukan baru ini kamu meninggalkanku Faris,,! Berikan kode pintu apartemenmu,,! Aku ingin tidur di sana,,!" Kata Aleta yang membuat Faris tidak bisa untuk berkata apa-apa lagi.


Dalam diam Faris baru mengingat apa yang Reza pernah katakan padanya, Kalau istrinya itu, selain mempunyai jiwa yang rapuh, dia juga adalah wanita yang mempunyai hati yang keras, dan kalau sudah marah, tidak mudah untuk di rayu.


"Berikan kode pintunya,,!" Kata Aleta lagi.


Tanpa berkata apa-apa, Faris langsung memberikan apa yang Aleta minta. Setelah menerima kertas yang bertuliskan beberapa angka, Aleta langsung melangkah meninggalkan Faris yang masih terus menatapnya, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.