
Melda berlari memasuki rumah dengan wajah yang terlihat begitu merah saking malunya, atas apa yang baru saja terjadi antara dia dan Reza. Dan setelah berada dekat di ruang depan, dia langsung berhenti berlari dan melangkahkan kakinya perlahan, biar tidak di curigai Reno dan teman-temannya.
Kamar yang di tempati oleh Melda kebetulan berada di bagian depan, jadi mau dan tidak mau, dia harus melewati Reno dan teman-temannya, yang masih saja mengobrol sejak tadi. Melihat kedatangan Melda, Ririn yang duduk tepat di samping Feri, langsung menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa.
Melda yang tidak sengaja melihat ekspresi Ririn, jadi semakin yakin kalau Ririn memang punya perasaan sama Reza. Tapi dia sama sekali tidak perduli dengan ekspresi Ririn saat itu. Dengan berusaha terlihat untuk tetap tenang, Melda melangkah melewati Reno dan teman-temannya menuju kamar tempat tidurnya. Tapi seketika langkahnya pun langsung tertahan karena pertanyaan Reno.
"Reza di mana Mel?" Suara Reno menanyakan Reza, yang membuat Langkah Melda langsung tertahan, tempat di depan pintu kamar tempat tidurnya.
Ketegangan yang begitu besar akan pertanyaan Reno, membuat Melda langsung mematung dengan tampang yang terlihat begitu salah tingkah. Untung saja dia sedang membelakangi orang-orang itu dan menghadap pintu kamar, jadi dia bisa menyembunyikan kegugupannya saat itu.
Tapi apapun yang dia lakukan, tidak bisa menyembunyikan kenyataan yang sudah di lihat oleh Ririn dan Feri barusan. Dengan niat ingin mempermalukan Melda, Ririn yang sudah sangat kesal dengan Melda langsung bersuara.
"Mel,, apa itu kebiasaan wanita kota? Setelah sudah puas, langsung pergi begitu saja." Pertanyaan Ririn yang membuat Melda seketika langsung bingung, dan berbalik menghadap Ririn dan lainnya.
Apa yang akan Melda lakukan, di saat mendapatkan pertanyaan terpojok seperti itu?
"Apa maksud pertanyaan kamu? Suara Melda yang terdengar begitu tegas.
"Ya aku hanya bertanya, sesuai dengan kenyataan yang aku lihat tadi di taman." Jawaban Ririn dengan gayanya yang terlihat begitu angkuh.
Mendengar apa yang baru saja di katakan Ririn, membuat Melda akhirnya mengerti. Tapi dia tidak langsung bersuara, sejenak dia terdiam di hadapan orang-orang itu, sambil memikirkan jawaban apa yang pantas untuk wanita banyak tingkah itu.
Melihat Melda yang terdiam tanpa kata di depan mereka, membuat Ririn semakin bertingkah, karena dia merasa kalau apa yang dia katakan barusan, berhasil membuat Melda malu sampai tidak bisa untuk berkata-kata.
"Aku benar-benar ngga menyangka, bisa-bisanya ada yang bermesraan di saat ada orang lain yang sedang menunggu mereka." Ririn berkata-kata sambil tersenyum sinis ke arah Melda.
Bagaimanakah reaksi Melda di saat itu?
"Siapa orang yang sedang menunggu? Kamu? Kalau aku jadi kamu, aku ngga akan menunggu laki-laki yang sedang menunggu wanita lain. Karena aku adalah wanita yang tidak pantas untuk menunggu, tapi pantas untuk di tunggu." Perkataan Melda yang begitu tajam seperti sorotan matanya saat itu, dan berhasil membuat Ririn terdiam dengan raut wajah menahan malu yang begitu besar.
Tanpa Melda dan yang lainnya sadari, Reza sedang berdiri di arah belakang sana, sambil tersenyum tanpa suara, melihat ekspresi memalukan Ririn yang di serang dengan kata-kata tajam dan menusuk dari Melda.
Setelah melumpuhkan keangkuhan Ririn, Melda dengan segera langsung melangkah masuk ke kamarnya, dengan gaya melangkah yang begitu indah di pandang mata. Tubuh mungil Melda yang sedikit berisi, membuat dia terlihat begitu menarik. Apalagi Melda memiliki kulit yang begitu putih dan bersih, menjadikan dia lebih percaya diri di depan wanita kampung yang tidak tahu diri itu.
Bukan hanya Ririn yang terdiam seribu bahasa, tapi Reno juga teman-temannya yang lain pun ikut terdiam. Mereka tidak menyangka, gadis berparas cantik dan menarik itu, bisa bersikap dan berkata-kata setajam itu. Selain itu mereka juga sangat merasa lucu akan ekspresi Ririn, yang terlihat sudah seperti orang bodoh.
Karena tidak tahan melihat ekspresi Ririn, Teri pun langsung tersenyum sambil menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya. Dan Ririn yang tidak sengaja melihatnya, semakin malu dan kesal, karena merasa di ejek oleh temannya sendiri. Akhirnya dengan wajah penuh amarah, Ririn segera meraih tasnya dan melangkah pergi meninggalkan rumah Tante Mawar, tanpa berkata apa-apa.
Melihat Ririn pergi dengan penuh kemarahan, membuat teman-teman nya yang lain, langsung memilih untuk berpamitan kepada Reno. Dan Reno pun langsung mengantar mereka semua untuk menyusul Ririn, yang mungkin sudah berada di jalan depan sana.
Sedangkan Reza yang sedang memperhatikan mereka dari arah belakang, segera melangkah menuju kamar tidurnya, tanpa perduli dengan apa yang sedang terjadi. Tapi di saat dia baru memasuki pintu kamar, tiba-tiba ponselnya berbunyi berulang-ulang, tanpa ada beberapa pesan masuk.
Tanpa menunggu lama, Reza segera melihat pesan yang baru masuk itu. Dan dia langsung tersenyum, karena ternyata itu pesan dari anak buah Faris yang akan tiba di kampung itu besok hari, untuk menjemput mereka.