
Sampainya di tempat kejadian, Faris dan yang lainnya langsung buru-buru keluar dari mobil, dengan perasaan yang bercampur aduk. Mereka semua semakin terpukul juga semakin takut, di saat melihat ada banyak sekali orang yang sedang berdiri di tepi jurang, termasuk beberapa polisi.
Beberapa mobil polisi sudah terparkir di situ. Polisi sudah berada di situ, karena setelah mendengar kabar kecelakaan keluarganya tadi, Faris langsung mengabari polisi untuk meminta bantuan.
Karena jurangnya terlalu dalam, sehingga membuat masyarakat yang ada tidak bisa banyak membantu, hanya beberapa polisi yang sudah turun ke dasar jurang, untuk mencari mobil keluarga Faris.
Faris, Aleta, dan yang lainnya melangkah menghampiri beberapa polisi yang berada di tepi jurang, dengan raut wajah yang penuh kesedihan. Walaupun melihat keadaannya seperti itu, tapi Faris tetap berusaha untuk tegar, dan dia tetap yakin kalau keluarganya akan di temukan dalam keadaan selamat.
"Selamat malam Pak. Bagaimana dengan keadaan keluarga daya,,?" Tanya Faris kepada salah seorang polisi, dengan raut wajah penuh ketegangan.
"Anak buah saya sudah ke bawah sejak beberapa menit yang lalu. Bapak dan keluarga berdoa saja,,! Semoga mereka bisa di selamatkan." Jawab polisi itu.
Mendengar kata-kata polisi itu, membuat Faris seketika langsung timbul rasa ketakutan. Faris sangat takut akan kehilangan keluarganya. Ketegaran juga keyakinan Faris sejak tadi langsung goyah.
Sedangkan Aleta, Melda juga Tate Leni yang sejak tadi menangis, semakin berderai air mata mendengar apa yang di katakan polisi itu. Aleta menangis karena dia sudah sangat menyayangi keluarga besar suaminya itu, seperti keluarga kandungannya sendiri, dan dia juga sedih memikirkan suaminya yang begitu besar menyayangi keluarganya.
Apalagi Melda, dia begitu sangat terpukul. Melda adalah anak tunggal, jadi dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti, kalau terjadi apa-apa sama orang tuanya. Melda tidak sanggup hidup tanpa orang tuanya, begitupun dengan Faris juga Alata.
Karena sudah tidak bisa menahan kesedihannya, Melda dengan segera langsung berteriak-teriak dengan kencangnya, memanggil-manggil Mama Papanya juga yang lainnya, dengan air mata yang meluncur dengan begitu derasnya.
"Maaaaa,, Mamaaa,, Papaaa,, Omaaa,, Opaa,, Tanteee,, Ooom,, Almiraaa,, aku sama Mas Faris ada di siniii!" Teriak Melda sambil menangis dengan begitu kerasnya.
Melihat Melda yang begitu hancur, membuat Faris tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Air mata Faris mulai menetes membasahi wajahnya, tanpa bisa berkata apa-apa. Padahal dia sudah sekuat hati meyakinkan dirinya kalau keluarganya akan selamat, tapi setelah melihat dengan mata kepalanya, keyakinan Faris pun mulai goyah.
Tanpa berkata apa-apa, Faris langsung berlari menuju tepi jurang dan hendak menuruni jurang yang dalam itu. Melihat Faris yang sudah hampir menuruni jurang, membuat Aleta, langsung berteriak memanggil namanya dengan sangat keras.
"Maaaas,,! Mas Fariiis,, apa yang kamu lakukan,,?" Teriak Aleta sambil menangis.
Sedangkan yang lainnya tidak melihat Faris, karena mereka semua sedang fokus menatap ke dalam jurang. Mendengar teriakkan Aleta, Melda, Tante Leni, juga Boy pun serentak berteriak, untuk meminta polisi yang sedang berdiri di tepi jurang, menghalangi Faris yang sudah mulai menuruni jurang yang dalam itu.
Akhirnya dengan gerakan cepat, beberapa polisi yang ada di situ langsung menahan Faris, yang sudah mulai menuruni jurang. Beberapa polisi itu segera menarik kembali tangan Faris untuk naik sambil berkata.
Faris tidak berkata apa-apa, dia hanya menangis sambil menundukan kepalanya. Melihat Faris yang begitu rapuh, membuat Tante Leni sebagai orang tua dan orang yang sangat dekat dengan Faris, ikut merasa hancur, apalagi selama ini, Faris tidak pernah terlihat sehancur itu, terkecuali pada saat meninggalnya Bi Ina.
Tante Leni melangkah menghampiri Faris dan langsung memeluknya sambil menangis. Faris pun menangis di dalam pelukan Tantenya itu. Dan semua itu, membuat Aleta sangat sedih, karena dia tidak tega melihat keadaan suaminya yang menyedihkan itu. Dengan air mata yang berlinang, Alata yang masih berdiri bersama Melda dan Boy pun, ikut menghampiri Faris dan Tante Leni.
Hati Alata sangat sakit, melihat kristal bening yang keluar dari mata suaminya itu. Tanpa bisa berkata apa-apa, Alata yang sudah berada di belakang Tante Leni, langsung mengusap-usap punggung suaminya itu.
"Sayang,, kamu harus sabar juga harus kuat. Kita berdoa untuk keselamatan mereka, semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan." Kata Tante Leni dengan suara yang sangat bergetar.
Faris tetap tidak bersuara, semua kekuatannya seketika hilang dengan melihat semu kejadian itu. Sampai-sampai dia tidak sanggup untuk berkata-kata.
"Mas,, kamu harus kuat,,! Di sana ada Melda juga yang sangat hancur, dan kamulah kekuatannya. Kalau kamu rapuh dan lemah seperti ini, bagaimana dengan Melda." Kata Aleta dengan berlinang air mata.
Mendengar apa yang Aleta katakan, membuat Faris segera melepaskan pelukannya dari Tante Leni. Dan dia langsung berdiri di samping Aleta sambil menatap Melda, yang sedang menangis sampai lemas di dalam pelukan Boy.
"Mas,, Selain keluarga besar kita, kamu masih punya aku dan bayi kita. Tapi Melda, dia masih sendiri, dan dia tidak bisa hidup tanpa Om Refan dan Tante Mey." Kata Aleta sambil menatap ke arah Melda, begitupun dengan Faris.
Faris makin tidak bisa menahan tangisnya, di saat melihat keadaan Melda yang begitu menyedihkan. Dia dan Alata menatap ke arah Melda sambil menangis.
Melda yang sudah melepaskan pelukannya dari Boy dan berbalik, tiba-tiba langsung berlari ke arah Faris dan Aleta, setelah melihat Faris juga Alata sedang memperhatikannya. Sampainya di depan Faris, Melda langsung memeluk Faris sambil berkata.
"Maas,, bagaimana dengan mereka,,? Aku tidak ingin kehilangan mereka Maas. Mengapa tadi aku tidak pergi bersama mereka, biar aku bisa hidup ataupun mati bersama Mama dan Papa." Kata Melda yang membuat Faris semakin tidak tahan.
Walaupum Faris sangat sedih, tapi dia berusaha mengikuti apa yang Aleta bilang tadi, kalau dia harus kuat biar Melda tidak terlalu sedih, karena masih ada dia orang yang Melda punya selain keluarganya.