
Sampainya di depan rumah, Faris langsung memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari mobil dan berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Aleta. Aleta turun dari mobil, kemudian sambil melingkarkan tangannya di lengan Faris, mereka pun melangkah menuju pintu rumah mereka.
Setelah sampai di dalam rumah, Faris dan Aleta di kagetkan dengan Oma Rita dan Opa Indra, yang sudah menunggu mereka di ruang tamu dengan berbagai macam barang-barang, yang di letakan di atas sofa panjang.
Oma Rita langsung heboh setelah melihat Aleta juga Faris. Oma Rita memeluk cucu mantunya itu, dengan penuh kasih sayang juga kebahagiaan, atas kabar kehamilan Aleta. Setelah itu, dengan begitu semangatnya, Oma Rita dengan segera langsung menarik tangan Faris dan Aleta, untuk menunjukan kepada mereka, apa yang Oma Rita bawa untuk Aleta.
"Sayaaang,, coba kamu lihat apa yang Oma bawakan untuk kamu. Itu,, Oma bawakan semua keperluan Ibu hamil, juga perlengkapan bayi untuk anak kamu nanti." Kata Oma Rita dengan senyum bahagianya.
"Kamu suka ngga,,?" Tanya Oma Rita sambil menoleh ke arah Aleta.
"Suka bangat Oma. Tapi apa ngga pamali, kalau belikan semua ini di saat masih hamil,,?" Tanya Aleta sambil menatap Oma Rita.
"Kata orang si pamali, tapi kalau bagi Oma, kenapa sesuatu hal yang baik di anggap pamali,,? Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Maha Memberi. Yang pastinya, Oma ingin memberikan yang terbaik untuk kamu juga anak kamu." Kata Oma Rita sambil mengusap-usap kepala Aleta.
Aleta yang mendengar perkataan Oma Rita, segera menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Oma Rita selalu dapat meyakinkan Aleta juga membuatnya merasa lebih tenang, dan Oma Rita juga sangat menyayangi Aleta seperti dia menyayangi Almira dan Melda, begitupun dengan suaminya Opa Indra.
Aleta sangat bahagia memiliki Faris dan keluarganya, karena Aleta merasa mendapatkan kasih sayang, yang selama ini hilanga dan selalu dia dambakan. Sebelum masuk dalam keluarga Faris, Aleta merasa benar-benar menjadi seorang yatim piatu, yang sudah kehilangan kehangatan keluarga.
Sekarang Aleta merasa dia adalah wanita yang paling beruntung dan bahagia, karena selain mendapatkan pendamping hidup, yang sungguh dia cintai dan juga mencintainya, dia juga mendapatkan kehangatan keluarga yang selama ini dia dambakan.
Di tambah lagi dengan kehadiran buah cintanya bersama Faris, yang saat ini berada di dalam kandungannya, membuat dia merasa menjadi wanita yang paling sempurna dan bahagia.
Dengan penuh semangat, Oma Rita kemudian menunjukan semua barang yang di belikannya, kepada Aleta dan Faris. Aleta sangat menyukai semua barang-barang yang di belikan Oma Rita, dia melihat-lihat beberapa perlengkapan bayi yang di belikan Oma Rita, dengan senyuman bahagia yang terukir di wajah cantiknya.
Sedangkan Faris, dia sudah duduk di samping Opa Indra, dan mengobrol bersama Opanya itu tanpa memperdulikan Aleta dan Oma Rita, yang lagi sibuk melihat-lihat barang-barang yang di bawa Oma Rita dan Opa Indra itu.
Selesai melihat barang-barang yang di bawa Oma Rita dan Opa Indra, Aleta langsung berpamitan untuk ke belakang. Dia ingin menyiapkan makan siang, tapi Oma Rita juga Opa Indra dengan segera langsung melangnya, untuk tidak melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Oma sama Opa duduk dulu di sini sama Mas Faris,,! Aku mau siapin makan siang." Kata Aleta sambil berdiri dan hendak melangkah.
"Buat apa kamu mau melakukan itu,,? Kan ada pembatu kamu." Kata Oma Rita.
"Aleta sayang,, kamu tu sekarang sedang hamil, dan kamu ngga boleh terlalu capek, kamu harus lebih berhati-hati dalam menjaga kandungan kamu. Guna apa kalian memperkerjakan beberapa pembantu, kalau kamu selalu sibuk setiap saat di dalam rumah." Kata Oma Rita panjang lebar.
Mendengar kata-kata Oma Rita, akhirnya Aleta pun mengalah, dan dia kembali duduk di samping Faris tanpa berkata apa-apa. Aleta terdiam sambil memikirkan perkataan Oma Rita, yang sama persis dengan apa yang di katakan oleh Dr yang menanganinya di Amerika waktu itu.
Tidak lama terdiam, Aleta akhirnya kembali bersuara, setelah di ajak bicara Oma Rita tentang nama bayinya nanti.
"Aal,, kalau anakmu lahir nanti mau di kasi nama siapa,,?" Tanya Oma Rita sambil tersenyum menatap Aleta.
"Ngga tahu Oma, kan belum tahu cewek atau cowok." Jawab Aleta sambil mengusap-usap perutnya, yang masih rata sambil tersenyum.
"Iya Oma, nanti saja kalau sudah lahir baru aku kasih nama." Sambung Faris.
"Iyaa,, tunggu lahir dulu baru di kasih nama." Sambung Opa Indra.
Tidak berapa lama dari situ, datanglah bibi yang bertugas memasak di dapur, untuk memberitahukan kalau makan siang sudah siap. Akhirnya mereka semua pun berdiri dan melangkah bersama-sama menuju dapur.
Sampainya di dapur, mereka langsung duduk menghadap makanna yang sudah di hidangkan di atas meja. Setelah itu mereka langsung berdoa yang di pimpin oleh Opa Indra. Kemudian mereka makan tanpa ada yang bersuara, karena itu lah aturan dalam keluarga besar Faris, tidak boleh bersuara kalau sedang makan.
Selesai makan, Oma Rita dan Opa Indra memutuskan untuk langsung pulang, karena mereka mau bersiap-siap untuk pergi menemui Dr pribadi keluarga mereka, untuk memeriksa tekanan darah Opa Indra, karena beberapa hari yang lalu, tekanan darah Opa Indra agak menurun.
Setelah Oma Rita dan Opa Indra pulang, Aleta segera melangkah menuju kamarnya, karena dia ingin membersihkan badannya yang sudah semakin lengket dengan keringat. Sedangkan Faris, dia memilih untuk berolahraga. Itulah yang sering Faris lakukan, selesai makan, dia akan berolahraga kalau memang dia punya kesempatan.
Selesai mandi Aleta langsung berpakaian. Alata hanya memakai lotion ke seluruh tubuhnya, tanpa berdandan sama sekali. Dan setelah itu, dia segera menyusul Faris ke ruang olahraganya. Sampainya di depan ruangan olahraganya Faris, langkah Aleta langsung tertahan di saat dia melihat tubuh suaminya, yang sudah mandi keringat. Aleta menatap Faris dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Aleta sangat kagum dengan kesempurnaan fisik suaminya itu, sampai-sampai dia terhipnotis melihat penampilan suaminya, yang sudah setengah telajang di dalam sana. Apalagi di saat itu Faris sedang berolahraga, jadi sekujur tubuhnya sudah di basahi keringat, dan itu membuat Faris terlihat semakin seksi di mata Alata, sampai tanpa sadar, Aleta menelan ludahnya sendiri.
Setelah hamil, Aleta bertingkah semakin aneh, dan keinginannya juga semakin hari semakin aneh. Sebenarnya Aleta sendiri juga bingung dengan perubahan dirinya itu, dia merasa semakin hari dia semakin aneh dalam bersikap juga keinginan anehnya yang datang secara tiba-tiba.