CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 61. Harapan Faris.


Aleta sangat bersyukur memiliki Faris, dan dia tambah yakin dengan ketulusan


cinta suaminya itu, setelah mendengar penjelasan Faris barusan. Dengan segera, Aleta memeluk Faris sambil tersenyum, dan Faris pun langsung membalas pelukannya.


"Mas,, lain kali kamu jangan kaya gitu,,! Aku kan malu sama teman-temanku,," kata Aleta setelah melepaskan pelukannya dari Faris.


"Aku kan ngga tahu kalau ada mereka,," jawab Faris sambil melepaskan kancing baju kemejanya.


Melihat suaminya melepaskan kancing baju, membuat Aleta jadi ketakutan, dengan tatapan yang tajam, Aleta menatap suaminya yang sudah bertelanjang dada itu, kemudian bertanya.


"Mau apa kamu Mas,,?" Tanya Aleta.


"Mau mandi, memangnya kenapa,,?" Tanya Faris bingung.


"Ngga apa-apa,," jawab Aleta sambil tersenyum malu, dengan jalan fikirannya sendiri yang sudah berfikir macam-macam.


Tanpa menunggu lama, Aleta segera berbalik dan melangkah menuju lemari, untuk mengabilkan pakaian ganti suaminya. Tapi di saat dia sedang memilih pakaian yang mau dia ambil, tiba-tiba dia di kagetkan dengan Faris, yang sudah memeluknya dari arah belakang.


Aleta yang terkejut dengan apa yang di lakukan suminya, langsung berbalik dan menatap Faris tajam, sambil bertanya.


"Mau apa kamu Mas,,?" Tanya Aleta dengan nada suara yang terdengar sangat panik.


Faris yang sudah berada tepat di hadapan istri seksinya itu, tidak menjawab, tapi malah mendekap Aleta dan menyerangnya, dengan ciuman yang begitu menuntut. Aleta berusaha melepaskan diri dari Faris, tapi tidak


berhasil, karena Faris sudah memegang kedua tangannya dengan erat.


Aleta yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, memikirkan cara untuk dia bisa terlepas, dari kerakusan suaminya itu, dan tidak lama dia pun mendapat cara, sambil memejamkan matanya, Aleta pun membalas ciuman Faris, dan itu membuat Faris semakin menggila, tapi tidak lama, Faris langsung berteriak, karena Aleta sudah menggigit bibir seksinya itu.


"Aaaaah,," teriak Faris sambil meraba bibirnya sendiri.


"Aleta,, sakit tahu ngga,,?" Kata Faris yang masih terus meraba bibirnya, sambil menatap Aleta.


"Maknanya, kamu kalau mau melakukan itu, lihat keadaannya dulu,,! Jangan main serang aja, di luar sana masih ada orang yang sedang menunggu kita,," kata Aleta sambil berbalik menghadap lemari.


Aleta yang sudah menghadap lemari, langsung mengbil pakaian ganti suaminya sambil tersenyum. Aleta merasa lucu dengan tampang Faris yang seperti kucing, yang tidak dapat makan ikan curiannya. Tapi tiba-tiba senyumannya seketika langsung hilang, di saat mendengar kata-kata Faris di samping telinganya.


"Nakal kamu ya, sudah mulai menggigit, tapi gigitan kamu itu semakin membuatku gila sayang, dan nanti malam aku ingin merasakannya lagi,," bisik Faris yang membuat bulu kuduk Aleta berdiri.


Setelah itu, Faris langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Aleta masih mematung di depan lemari, dengan pakaian ganti Faris di tangannya. Aleta terdiam di depan lemari, bukan karena dia takut akan kata-kata suaminya, tapi dia malah sedang membayangkannya.


Setelah beberapa bulan menikah, Aleta sudah di buat ketagihan oleh sentuhan suaminya, yang perkasa itu, di depan lemari dia tersenyum sambil membayangkan, situasi panas sebentar malam nanti. Aleta tidak takut malah dia mengharapkan lebih, dari suaminya sebentar malam nanti.


Setelah beberapa menit berda di depan lemari, Aleta langsung kaget sendiri, di saat dia menyadari, kalau teman-temannya sedang menunggunya di bawah.


"Al,, ngapain aja kamu sama Mas aku di kamar,,? Ko lama bangat,," tanya Melda.


"Mau tahu aja kamu,," jawab Aleta sambil duduk di sofa tepat di samping Mia.


Setelah Aleta duduk, Mia langsung mendekatkan hidungnya ke arah Aleta, kemudian dia langsung berkata.


"Mel,, Mel,, bau farfum Kak Faris, tercium bangat di tubuhnyaa,," sambung Mia yang membuat mereka semua langsung heboh dan ingin tahu.


"Aal,, ngapain saja kamu tadi,,?" Tanya Cika yang juga tidak kalah penasaran.


"Kalian ini mau tahu aja,, yang pastinya aku ngga ngapa-ngapain tadi di kamar, karena ini bukan waktunya, waktunya itu nanti malam,," jawab Aleta dengan santainya.


"Al, memangnya kamu ngga takut hamil,,? Kamu kan masih kuliah,," tanya Cika.


"Iya Al,, kamu ngga takut hamil,,?" Sambung Melda.


"Buat apa harus takut,,? Memangnya aku hamil di luar nikah,,? Siap ngga siap, aku tu harus siap, karena walaupun aku masih kuliah, tapi aku ini seorang istri, yang berkewajiban untuk mengandung dan melahirkan anak untuk suamiku,," jawab Aleta yang mebuat teman-temannya jadi heboh termasuk Melda.


"Aal,, nanti kalau kamu sudah hamil, kasih tahu kita ya,,! Biar kita bisa membantu kamu, soalnya yang aku dengar, ibu hamil itu tidak boleh terlalu kecapean,," kata Cika.


"Iya benar tu,, aku juga pernah dengar orang bilang gitu," sambung Mia.


"Bukan di Kampus aja, kalau di rumah kamu butuh bantuan, telfon kita aja,,!" Kata Andin dengan penuh semangat.


"Trus kalau kamu sudah melahirkan, bawa saja anakmu ke Kampus, nanti kita jaga sama-sama di sana,," smbung Ayu sambil tersenyum.


"Iya benar-benar ,," tambah Melda penuh semangat.


Melihat teman-temannya yang begitu bersemangat, membahas tentang kehamilannya nanti, membuat Aleta semakin mantap dengan keputusannya, untuk tidak menunda kehamilan lagi. Dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya, Aleta meraba perutnya sambil meminta dalam hati.


"Ya Tuhan,, kalau memang hdirnya seorang bayi dalam perut ini, adalah yang terbaik, tolong, hadirkanlah dia segera,," pinta Aleta dalam hatinya.


Tanpa Aleta dan teman-temannya sadari, Faris sejak tadi sedang menyaksikan mereka dari cctv, yang sengaja Faris sabungkan ke ponselnya.


Setiap sudut ruangan di rumah itu, terdapat cctv, terkecuali di kamar tidur dan kamar mandi, dan semua cctv tersambung ke ponsel Faris. Faris melakukan itu, karena dia sudah trauma, dengan kejadian penculikan Aleta waktu di Bali, dan Faris tidak mau hal itu terulang lagi.


Faris yang sedang duduk di atas tepat tidur, sambil melihat rekaman cctv di ponselnya, jadi tersenyum bahagia dengan apa yang Aleta katakan, mendengar semua itu, membuat Faris kembli bersemangat dalam memiliki anak.


Faris sangat bahagia, karena Aleta mau untuk mengandung, walaupun dengan statusnya yang masih menjadi mahasiswi di Kampusnya, dan apa yang di katakan Aleta tadi, membuat mata Faris jadi berkaca-kaca setelah mendengarnya.


Saat ini yang Faris inginkan hanya satu, yaitu membuat Aleta hamil dalam tahun ini, dan dia berharap, dia masih bisa membuat Aleta hamil lagi, walaupun hanya sekali saja. Faris tidak berharap Aleta harus memberikan dia banyak keturunan, karena dia sadar akan kekurangan pada dirinya sendiri.