
Ketegangan dan kebahagian, bercampur menjadi satu menyelimuti hati Melda di malam itu. Kegelisahannya memikirkan Reza, yang tadi memberikan harapan tanpa kepastian, membuatnya sama sekali tidak bisa untuk memejamkan matanya, walau hanya sesat. Begitupun dengan Reza laki-laki dewasa yang sedang terlentang di kamar tidurnya. Dia tidak bisa melupakan kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Melda.
Pikiran kedua insan itu sudah di penuhi oleh bayangan masing-masing, bayangan yang menunjukan adanya cinta antara mereka berdua. Dengan pemikiran yang begitu dewasa, Reza berniat untuk menikahi Melda setelah sampai di Indonesia nanti. Namun sementara waktu dia ingin merahasiakan niat baiknya itu dari Melda.
Sedangkan di Indonesia, Faris dan keluarganya sangat bahagia malam itu, karena kedua orang tuanya yang sudah sadarkan diri. Keluarga Mama Alira dari Bandung, semua berada di RS bersama Faris dan yang lainnya. Wanita tua yang ada di samping Mama Alira, tidak henti-hentinya meneteskan air mata kebahagian, karena melihat putrinya sudah kembali di tengah-tengah keluarganya. Sambil menggenggam tangan Mama Alira dengan air mata yang bercucuran diapun berkata.
"Nak,, Ibu sangat takut kehilanganmu. Jangan pernah seperti ini lagi." Kata Ibu Vivi sambil menatap wajah yang terlihat pucat di atas tempat tidur itu.
"Buu,, jangan menangis! Aku sekarang baik-baik saja." Jawab Alira dengan suara yang terdengar lemah dan bergetar, karena sudah meneteskan air mata, dan keadaannya juga belum terlalu pulih.
Sedangkan Papa Fahri yang berada di tempat tidur sebelah, hanya terdiam sambil menatap wajah pucat istrinya, dengan tampang yang terlihat begitu sedih. Papa Fahri sangat sedih di saat melihat istrinya di temani Mama mertuanya. Dia teringat dengan kedua orang tuanya yang sudah pergi untuk selamanya.
Melihat wajah suaminya yang begitu menyedihkan, membuat Alira ikut bersedih. Karena dia sangat mengerti apa yang sedang di rasakan laki-laki yang dia cintai itu. Dengan tatapan penuh kasih sayang, Alira menjulurkan tangannya yang langsung di sambut laki-laki tampannya itu, kemudian dengan suara yang sangat bergetar dia pun berkata-kata.
"Maas,, kamu harus kuat! Kita harus mengikhlaskan kepergian Papa dan Mama. Kalau Mas bersedih, Papa dan Mama juga pasti akan sedih." Alira berkata-kata dengan berlinang air mata, dan Fahri hanya tersenyum sambil mengecup punggung tangan wanita cantiknya itu.
Kedua orang tua Alira sangat menyayangi Fahri sudah seperti anak kandung mereka. Dengan perhatian yang begitu besar, kedua orang tua itu mendekati Fahri, kemudian memeluk tubuh kekar itu secara bergantian, sambil memberikan dukungan dan semangat untuknya.
"Nak,, di sini masih ada Ayah dan Ibu yang sangat menyayangimu. Jangan pernah kau anggap kita sebagai mertua! Karena kasih sayang kita terhadapmu, bukan sebatas menantu, tapi kasih sayang sebagai orang tua terhadap anak laki-lakinya." Ayah Ilham berkata sambil mengusap-usap punggung menantunya, yang hanya terdiam menahan kesedihannya.
"Iya sayang,, kamu masih punya orang tua di sini. Dan sebentar lagi, kamu akan punya cucu dari Faris. Ibu sangat menyayangimu, karena terlepas dari statusmu sebagai menantu, kamu adalah anak dari sahabat karib Ibu dan Ayah. Jadi kita tidak akan membiarkanmu bersedih." Ibu Vivi berkata-kata sambil memeluk menantunya itu.
Air mata yang sejak tadi di tahan oleh Fahri, seketika meluncur dengan begitu derasnya membasahi wajahnya, di saat mendengar kata-kata Ibu Vivi. Rasa kehilangan yang begitu besar, membuatnya tidak mampu untuk berkata-kata, hanya air mata pilu yang menggambarkan betapa terpuruknya dia, atas kepergian kedua orang tuanya. Dalam pelukan ibu Vivi, Fahri pun berkata-kata dalam hatinya.
"Ma,, Pa,, kalian akan selalu ada di dalam hatiku. Maafkan aku karena sudah menjadi laki-laki yang lemah saat ini. Papa dan Mama tidak usah menghawatirkan aku, walaupun aku tidak punya saudara kandung, tapi aku masih punya keluarga yang selalu menyayangiku. Fahri berkata-kata dalam hatinya, sambil membayangkan wajah kedua orang tuanya yang sudah tidak bisa dia lihat dengan nyata.
Tapi semua itu sedikit terobati, dengan dukungan orang-orang yang berada di sekelilingnya saat itu. Salah satunya Alira, wanita yang teramat dia cintai. Alira sangat tidak tega melihat keadaan suaminya, karena dia tahu, hidup suaminya sangat tergantung dengan kedua orang tuanya. Karena Fahri itu adalah anak tunggal dalam keluarga Permana.
Bagaimana rasanya berada di dalam posisi Fahri saat itu?
Sedangkan Faris dan Aleta yang juga berada di situ, hanya menatap pemandangan haru yang ada di depan mereka, dengan tatapan yang begitu sedih. Dan Almira, yang sudah lebih baik setelah mengetahui kedua orang tuanya sudah sadarkan diri, langsung turun dari gendongan Tante Leni, dan segera menghampiri Papanya kemudian memeluk tubuh kekar itu sambil berkata.
"Paa,, jangan sedih ya! Nanti aku akan selalu menemani Papa. Bila perlu aku ikut Papa setiap hari ke kantor." Kata-kata Almira yang membuat Fahri dan semua yang ada di situ jadi tersenyum.
Faris yang melihat keadaan Papanya yang terpuruk atas kepergian Oma dan Opanya, langsung berfikir kalau orang-orang yang sudah mengakibatkan semua ini terjadi, harus bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.
Dengan segera Faris pun melangkah keluar dari ruangan ICU, dan langsung mengabari anak buahnya, untuk membereskan orang-orang yang sedang mereka sekap itu.
("Halo Bos!") Jawab salah seorang anak buah Faris setelah telponnya tersambung.
("Lumpuhkan kaki mereka semua, dan setelah itu serahkan mereka ke pihak yang berwajib!") Kata Faris dengan tampang dinginnya.
("Tapi bagaimana kita menyerahkan mereka Bos?") Tanya anak buah Faris.
("Aku akan mengurus semuanya sebelum kalian tiba di kantor Polisi.") Jawab Faris dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Semua berjalan sesuai rencana Faris setelah satu hari berlalu. Penjahat-penjahat itu telah menerima hukuman mereka, sesuai apa yang sudah mereka lakukan. Sedangkan Reza juga Melda, sudah tiba di Indonesia. Mereka di sambut oleh keluarga besar di Indonesia, dengan penuh haru dan kebahagiaan. Dan kedatangan mereka ke Indonesia, di temani oleh Bos Reza, yang juga terlibat dalam masalah Melda. Tapi semua sudah terbongkar, kalau Bos Reza sama sekali tidak tahu dengan masalah keluarga Permana.