CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 66. Menanti Kabar.


Setelah hampir satu jam mengobrol, Aleta, Melda dan Almira langsung berangkat bersama Oma Rita dan Opa Indra, menuju rumah utama keluarga Permana, yang kemewahannya sudah seperti dengan hotel berbintang lima.


Sedangkan para orang tua mereka, juga sudah berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing. Fahri dan Refan kembali ke kantor, sedangkan Alira dan Meymey, memilih untuk pergi ke salon mereka berdua, selain mereka ingin melihat keadaan salon, mereka juga sekalian ingin mempercantik diri.


Dalam perjalanan, Aleta termenung sambil menatap ke depan, dengan tatapan yang sangat kosong. Aleta termenung memikirkan suaminya, yang baru beberapa jam pergi meninggalkannya.



Oma Rita yang tidak sengaja melihat Aleta dari kaca spion, langsung merasa khawatir, dan tanpa menunggu lama, Oma Rita segera berbalik menatap Aleta dan bersuara.


"Al,, kamu kenapa nak,,?" Tanya Oma Rita, tapi tidak di hiraukan oleh Aleta yang masih terus melamun.


Dua kali Oma Rita memanggil dan menanyakan keadaannya, tapi Aleta tidak menyadarinya, sedangkan Melda, Almira juga Opa Indra yang sedang menyetir, jadi bingung juga cemas dengan keadaan Aleta, dan akhirnya Melda yang duduk tepat di samping Aleta, langsung ikut memanggil Aleta dan membuat Aleta, jadi tersadar dari lamunannya.


"Aal,, Oma nanya tu,," kata Melda sambil menarik lengan Aleta, yang membuat Aleta langsung kaget.


"Haa,,?" Tanya Aleta dengan begitu salah tingkah, karena semua yang ada di dalam mobil, sudah menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Kamu kenapa sayang,,?" Tanya Oma Rita.


"Ngga,, ngga apa-apa ko Oma," jawab Aleta gugup.


"Sukurlah kalau ngga ada apa-apa, Oma tu jadi khawatir, soalnya sejak tadi, kamu hanya melamun," kata Oma Rita sambil tersenyum kepada Aleta.


Sebenarnya Oma Rita sudah mengerti apa yang membuat Aleta jadi seperti itu, tapi Oma Rita berpura-pura tidak tahu. Dan setelah itu, Oma Rita kembali menatap ke depan sambil tersenyum.


Tidak berapa lama, mereka sampai juga di rumah mewah milik Oma Rita dan Opa Indra. Mereka semua masuk ke dalam rumah, dan tanpa menunggu lama, Aleta dan Melda langsung membawa barang-barang mereka, menuju kamar yang biasa mereka tempati, kalau menginap di rumah Oma Opa mereka itu.


Kebetulan, Aleta sudah pernah menginap di rumah mewah itu, dan dia juga sering main ke situ bersama Melda dan Almira kalau hari libur, jadi dia sudah tidak merasa asing lagi dengan setiap sudut rumah besar itu.


Pukul 8:30 malam, Aleta dan yang lainnya sudah selesai makan malam. Setelah itu, Aleta segera naik ke lantai atas menuju kamar. Sampainya di kamar, dia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajah nya juga menyikat gigi.


Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, Aleta keluar dan langsung menuju meja rias, untuk memakai segala perawatan malamnya. Sedangkan Melda masih berada di lantai bawah, dia sedang duduk bersama Almira, juga Oma Rita dan Opa Indra di ruang keluarga.


Oma Rita dan Opa Indra, sangat bahagia kalau cucu-cucu mereka sudah menginap di rumah mereka, karena di rumah besar itu, hanya di huni oleh Oma Rita dan Opa Indra dan beberapa orang pembantu, sebab grenma sudah di bawa kembali ke Korea, oleh adik Opa Indra, biar bisa mendapatkan pelayanan RS yang lebih canggi lagi di sana, soalnya kondisi grenma waktu di Indonesia, sudah semakin memburuk, dan sekarang sudah lebih baik setelah mendapat penanganan di RS Korea.


Selama dua hari, Aleta belum mendapat kabar dari Faris. Pukul 8:30 malam, Aleta yang sudah selesai membersihkan wajahnya, memilih untuk memakai segala perawatan kecantikannya, dan selesai itu, Aleta memutuskan untuk duduk di balkon kamar. Aleta sangat menantikan kabar dari Faris, namun Faris tak kunjung mengabarinya, dan hal itu membuat Aleta sangat bersedih, juga mulai berfikiran macam-macam kepada suaminya.


Hampir satu jam menunggu, Aleta yang sudah mulai merasa kesal, memutuskan untuk mengirim pesan kepada Faris, agar Faris segera menelfonnya, tapi jangankan di telfon, pesan yang di kirimnya saja tidak di baca sama sekali, dan Aleta semakin kesal dengan semua itu.


Sedangkan Faris yang sudah berada di Amerika, sedang sibuk dengan segala urusan bisnisnya di sana, sampai-sampai dia tidak punya waktu untuk mengecek ponselnya. Apalagi sejak tadi dia sengaja mematikan nada ponselnya, karena dia tidak ingin mengganggu pekerjaannya. Faris yang sedang meting bersama klien-klien pentingnya, begitu serius di saat seorang dari kliennya, sedang membahas kerja sama mereka kedepan.



Karena merasa sudah ngantuk, akhirnya Aleta memutuskan untuk masuk kembali ke kamar. Dangan hati yang sedih bercampur kesal, Aleta melangkah masuk ke dalam kamar, dan langsung beranjak naik ke tempat tidur. Aleta tidur tanpa menunggu kedatangan Melda, karena itulah kebiasaan Aleta, kalau dia sedang kesal atau sedih, dia memilih untuk segera tidur, biar dia bisa melupakan semua yang menjadi beban fikirannya.


Mungkin karena kecapeaan, di tambah Aleta tidak tidur siang tadi, jadi tidak memakan waktu lama dia sudah terlelap. Belum lama Aleta terlelap, Melda pun masuk ke dalam kamar. Melda yang melihat Aleta sudah terlelap di atas tempat tidur, ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Aleta.


Kedekatan Aleta dan Melda bukan hanya sebatas saudara ipar, tapi sudah seperti saudara kandung, juga sahabat sejati. Apalagi mereka berdua sangat cocok dalam menjalin tali persaudaraan maupun persahabatan.


Pukul 10:40 pagi waktu Amerika, Faris yang baru selesai meting, keluar dari ruangan dan buru-buru mengecek ponselnya, dan betapa terkejutnya dia, setelah membaca tiga pesan yang di kirim Aleta hampir satu jam yang lalu.


Tanpa menunggu lama, Faris segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Aleta, namun Aleta tidak menjawabnya sama sekali,


walaupun Faris sudah menelfonnya berulang-ulang.


Karena tidak ada jawaban dari Aleta, akhirnya Faris memutuskan untuk menghubungi Melda, tetapi hasilnya tetap sama. Akhirnya Faris memutuskan untuk menelfonnya nanti malam saja, karena kalau di Amerika malam, berarti di Indonesia sudah siang.