CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 103. Perkembangan Almira.


Pukul 5 sore, Faris yang sedang berada di rumah, memilih untuk menemani Aleta juga Almira di dalam kamar. Sejak Almira di bawah pulang ke rumah, Faris dan Aleta memutuskan untuk tidur sekamar dengan Almira. Mereka memutuskan untuk sekamar dengan Almira, karena mereka sangat menghawatirkan keadaan Almira. Apalagi Faris sangat yakin, kalau ada musuh yang sedang mengincar adiknya itu, walaupun dia belum menemukan bukti apapun.


Aleta yang begitu menyayangi Almira seperti adik kandungnya sendiri, selalu memperhatikan Almira dalam segala hal, dari makan, mandi, sampai tidurnya semua dia perhatikan, walaupun dengan keadaannya yang sedang hamil muda. Aleta tidak pernah mengeluh dalam mengurus Almira, dan hal itu yang membuat Faris sangat bangga dan mengaguminya.


Setelah Almira di bawa pulang ke rumah, Aleta memutuskan untuk merawat adik iparnya itu sendiri, tanpa bantuan pembantu. Dan Faris juga tidak keberatan, selama Aleta tidak merasa kecapean. Aleta mengurus Almira dengan penuh kasih sayang, dan saat itu, dia sedang menyisir rambut Almira yang baru selesai mandi dan berpakaian.


Faris yang duduk tepat di samping Aleta sejak tadi, hanya terdiam sambil menatap Aleta dan Almira bergantian. Faris sangat bahagia dan bersyukur, karena kehangatan dan perhatian Aleta yang begitu tulus, membuat Almira semakin hari semakin ada perubahan.


Almira yang tadinya tidak bisa apa-apa, sekarang sudah bisa merespon. Dan tadi di saat Aleta menyisir rambutnya, Aleta sempat mengecup keningnya, dan dia langsung tersenyum sambil menatap Aleta dengan tatapan yang penuh kasih sayang. Tapi tidak lama dia menatap Aleta, dia kembali tertunduk dan meneteskan air mata.


Faris tahu kalau Almira sangat merindukan orang tua mereka, dia merindukan kasih sayang Papa Fahri dan Mama Alira. Apalagi Almira itu sangat di manjakan sama Mama dan Papanya, semua yang dia inginkan pasti di turuti, terutama oleh Papa Fahri. Setiap berangkat ke sekolah, Almira tidak mau di antar oleh supir pribadi, dia hanya mau di antar oleh Papanya kalau tidak Faris, kalau tidak, dia tidak mau ke sekolah.


Melihat adiknya meneteskan air mata, hati Faris sangat sedih, tapi dia tidak mau menunjukan itu di depan Almira, karena Faris tidak ingin Almira semakin tertekan kalau melihat dia bersedih. Akhirnya, Faris yang sudah tak kuat melihat keadaan Almira yang begitu menyedihkan, memilih untuk menundukkan kepalanya dan memejamkan mata nya, menahan kesedihannya.



Sedangkan Aleta yang menyadari kesedihan suaminya itu, hanya bisa menatap nya tanpa berkata apa-apa.



Aleta sangat mengerti keadaan suaminya dan adik iparnya itu, karena dia sudah merasakan kehilangan kedua orang tuanya, di usianya yang masih sangat muda. Setelah menatap suaminya yang terlihat begitu sedih, Aleta dengan segera kembali menatap Almira, yang masih saja menangis kemudian berkata.


"Sayaaang,, gadis cantik itu ngga boleh nangiiis. Karena kalau terus menangis, nanti kita ngga cantik lagi. Kamu mau ngga cantik lagi,,?" Kata Aleta dan Almira langsung mengangkat mukanya dan menatap Aleta dengan tatapan yang begitu dingin.


"Kalau kamu mau jadi gadis cantik, kamu ngga boleh nangis,,! Oke,,?" Kata Aleta lagi sambil membersihkan wajah Almira yang sudah di penuhi air mata.


Setelah wajahnya sudah di bersihkan oleh Aleta, Almira langsung mendekat ke arah Faris, dan melakukan sesuatu hal, yang membuat Faris juga Aleta sangat terkejut.


Almira mendekat ke arah Faris, dan langsung berbaring dengan kepalanya berada di atas pangkuan Faris. Faris yang sejak tadi hanya tertunduk dengan mata yang tertutup, tiba-tiba langsung kaget dengan apa yang di lakukan Almira, begitupun dengan Aleta.


Faris dan Aleta saling menatap satu sama lain, kemudian menatap Almira yang sudah mulai memejamkan matanya itu, tanpa bisa berkata apa-apa, saking kagetnya mereka. Tapi tidak lama mereka berdua langsung tersenyum, setelah melihat Almira yang sudah terlelap di atas pangkuan Faris, seperti seorang bayi yang tidur dalam dekapan ibu.


Dengan penuh kasih sayang Faris membelai rambut Almira yang sudah terlelap di atas pangkuannya itu. Tapi tiba-tiba dia langsung terdiam, sambil menatap Almira dengan tatapan sedih. Ternyata Faris seperti itu, karena tiba-tiba dia teringat dengan Melda, yang dia sendiri tidak tahu keberadaannya. Ekspresi Faris itu, membuat Aleta yang berada di sampingnya, merasa bingung dan segera bertanya.


"Ada apa Maas,,?" Tanya Aleta sambil meraih lengan Faris.


"Aku teringat dengan Melda. Aku sangat menyayanginya seperti aku menyayangi Almira. Dan sekarang akulah orang yang harus melindunginya, tapi sampai saat ini, jejaknya pun belum aku temui." Kata Faris dengan tampang bersalahnya.


"Ya Tuhaan, tolong lindungi Melda,,! Jangan kau biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya,,! Dan tolong beri aku petunjuk untuk bisa menemukan dia." Kata Faris sambil terus membelai rambut Almira.


"Sayang, maafkan aku yang terlalu sibuk dengan semuanya, sampai-sampai aku hampir tidak punya waktu untukmu." Kata Faris sambil memeluk Aleta.


"Maaas, tidak perlu kamu meminta maaf,,! Semua yang kamu lakukan itu untuk keluarga kita. Dan aku tidak pernah merasa kesepian atau pun merasa tidak di perhatikan." Jawab Aleta dengan begitu tenangnya.


"Makasih ya sayaang, kamu sudah mau mengerti dan selalu membantu aku dalam masalah yang sedang aku hadapi ini." Kata Faris sambil melepaskan pelukannya dari Aleta dan menatap Aleta.


"Maas, sudah seharusnya aku selalu mengerti kamu, dan mendukung kamu dalam situasi seperti ini. Karena semua yang kamu lakukan itu, bukan hanya untuk keluargamu, tapi juga keluargaku. Aku ini istrimu, keluargamu adalah keluargaku, dan masalahmu adalah masalahku juga, jadi tidak perlu meminta maaf ataupun berterima kasih." Kata Aleta sambil mengusap-usap punggung tangan Faris.


Faris yang sudah tidak bisa berkata apa-apa, dengan segera langsung mendekap kembali Aleta ke dalam pelukannya, dan Aleta yang di peluk oleh Faris, hanya tersenyum sambil membalas pelukan suami tercintanya itu. Tapi di saat mereka berdua sedang asyik berpelukan, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama Faris, dari depan pintu kamar.


*Tok,,,tok,,,,tok,,,tok*


"Pak Faris,,! Pak Faris,,!" Suara salah seorang anak buah Faris.


Mendengar suara ketukan pintu yang di iringi suara anak buahnya, Faris dengan segera langsung melepaskan pelukannya dari Aleta, kemudian turun dari tempat tidur, dan melangkah menuju pintu.


Setelah pintu terbuka, Faris melihat ada seorang anak buahnya sedang berdiri di depan pintu, dengan tampang yang begitu terlihat tegang. Karena merasa penasaran dengan ekspresi anak buahnya itu, Faris pun langsung bertanya.


"Ada apa,,?" Tanya Faris sambil menatap anak buahnya itu, dengan tatapan mencari tahu.


"Pak, ada berita penting dari Pak Reza." Kata laki-laki itu.


"Dia bilang apa,,?" Tanya Faris dengan santainya setelah mendengar nama Reza.


"Pak Reza bilang, kalau saat ini dia bersama dengan Melda, dan dia juga bilang, kalau keselamatan orang tua Pak Faris lagi dalam bahaya." Kata laki-laki itu yang membuat Faris juga Aleta yang sudah berada di belakangnya, seperti tersambar petir.


"Apaaaaa,,? Melda ada bersama Bang Reza,,? Apa mungkin Bang Reza terlibat dengan semua ini,,?" Tanya Aleta dengan tampang terkejut juga stres, karena mendengar nama Reza.


"Bukan seperti itu sayang, mungkin saja tanpa sengaja Reza menemukan Melda. Karena kalau dia terlibat, tidak mungkin dia mau mengabari kita." Kata Faris dengan femikirnnya yang begitu cerdas.


"Apa lagi yang dia bilang,,?" Tanya Faris dengan tidak sabarnya.


"Dia ngga bilang apa-apa lagi Pak. Karena sambungan teleponnya langsung terputus." Jawab anak buah Faris.


Tanpa menunggu lama, Faris langsung bergegas mengambil ponselnya yang baru dia beli, di samping tempat tidur, dan segera menghubungi nomor Reza dan Melda bergantian. Tapi nomor Reza juga Melda tidak bisa di hubungi sama sekali.