
Pukul 4 sore, Aleta sudah berada di dapur dan sedang menyiapkan makan malam, sedangkan Faris, dia sedang ke rumah Orang Tuanya sejak tadi dan belum juga kembali.
Umur Aleta memang masih sangat mudah, tapi kalau untuk urusan dapur, Aleta sangat jago. Dia menyiapkan beberapa menu kesukaan Faris, tanpa ada kesulitan, dan di saat dia sedang asik-asiknya memasak, tiba-tiba dia teringat dengan kejadian di saat dia di culik waktu di Bali, dan itu membuatnya langsung merasa ketakutan. Tanpa berfikir panjang, Aleta langsung meraih ponselnya, dan menelfon suaminya untuk memintanya segera pulang.
Dan Faris yang berada di rumah Orang Tuanya, sedang berolah raga. Faris sama seperti Papanya, yang sangat hobi berolahraga. Di saat dia sedang asik berolahraga, tiba-tiba ponselnya yang terletak tidak jauh darinya berdering, dan membuat dia segera menghentikan kegiatannya.
"Halo sayang,," jawab Faris setelah menjawab telfon dari Aleta.
"Maaas,,! Kamu di mana sih,,?" Tanya Aleta sedikit kesal.
"Aku di rumah Mama, memangnya kenapa,,?" Tanya Faris.
"Aku takut sendirian di rumah,," jawab Aleta yang membuat Faris langsung bergegas untuk pulang.
Sampainya di rumah, Faris yang baru masuk pintu langsung berteriak memanggil nama Aleta, tapi tidak ada jawaban sama sekali, akhirnya Faris memilih untuk melangkah ke dapur, karena dia ingin minum. Sampainya di dapur, Faris melihat istri cantiknya itu, sedang sibuk dan tidak memperdulikannya sama sekali. Dengan wajah datarnya, Faris melangkah menghampiri Aleta sambil berkata.
"Tadi aku panggilin, kamu ngga dengar,,?" Tanya Faris sambil menuangkan air ke dalam galas.
"Dengar,, tapi aku ngga mau nyahut,,!" Jawab Aleta sambil berbalik menatap Faris.
"Memangnya kenapa,,?" Tanya Faris sambil menatap Aleta dengan tatapan bingung.
"Abisnya, Mas itu jalan sampai ngga ingat pulang, aku kan takut sendirian di rumah sebesar ini,," jwab Aleta dan kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Besok sudah ada dua orang pembantu, juga satu orang tukang kebun dan satu orang supir, yang akan bekerja di sini,," jawab Faris.
"Kenapa sebanyak itu pekerja di rumah ini Mas,,?" Tanya Aleta sambil terus fokus dengan masakannya.
Sedangkan orang yang di tanya sudah melangkah pergi. Aleta merasa sedikit kesal karena tidak dapat jawaban, dengan segera dia langsung berbalik dan hendak bersuara, tapi mulutnya seketika tertutup, karena dia tidak melihat keberadaan Faris dimanapun.
"Datang ngga di jemput, pergi ngga pamit, macam jelakung aja suamiku,," gerutu Aleta sambil kembali melanjutkan kegiatannya.
Selesai menyiapkan makanan di atas meja, Aleta langsung naik ke lantai atas menuju kamar mereka, sampainya di depan pintu kamar, dia melihat Faris sedang terlentang di atas tempat tidur, sambil mengotak-ngatik ponselnya. Tanpa memperdulikan Faris, Aleta segera bergegas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Aleta langsung berpakaian dan mempercantik wajahnya di depan meja rias, dengan segala perlengkapan kecantikannya, dan setelah itu, dia segera menghampiri suaminya, yang masih saja terlentang di atas tempat tidur, dengan ponsel di tangannya.
"Sedang apa kamu Mas,,?" Tanya Aleta dan duduk tepat di samping Faris.
"Aku lagi melihat jadwal keberangkatan aku,," jawab Faris tanpa menatap Aleta.
"Mas,, ko aku ngga ikut sih,,?" Tanya Aleta dengan wajah ngambeknya.
"Kamu kan punya tugas dari Kampus, yang harus kamu selesaikan,," jawab Faris.
"Maas,, kamu harus janji ya, untuk bisa menjaga diri,,! Kata Aleta.
"Ko jawabnya gitu sih Mas,, aku jadi ngga tenang kalau kaya gitu,," kata Aleta sambil menatap Faris dengan wajah yang terlihat sedih.
"Aleta,, aku tu ngga bisa menahan diri kalau berada di samping kamu, dan kamu ngga perlu menghawatirkan itu, asalkan aku ngga memikirkan kamu, aku akan baik-baik saja,," jawab Faris yang sudah duduk di samping Aleta, sambil menatap Aleta dengan tampang dinginnya.
"Ooooo,, berarti kalau Mas di samping aku, Mas ngga baik-baik saja,,?" Tanya Aleta.
"Aku baik-baik saja, tapi yang lainnya yang ngga baik-baik saja,," jawab Faris yang membuat Aleta jadi tersenyum.
"Ayo kita makan,,! Aku sudah lapar, dan setelah itu kamu ada tugas yang menguras tenaga,," kata Faris yang membuat Aleta langsung mencubit hidungnya.
Tanpa menunggu lama, Faris langsung menggendong Aleta, kemudian melangkah keluar dari kamar menuju dapur, yang berada di lantai paling bawah. Faris memilih untuk turun ke lantai bawah menggunakan lift.
Sampainya di dalam lift, Faris menurunkan Aleta kemudian dengan gerakan cepat, Faris menyandarkan Aleta ke dinding lift, dan langsung menyerangnya dengan ciuman yang sangat berhasrat. Aleta yang sangat menyukai sentuhan suaminya itu, tidak menolak sama sekali, dengan senyum yang terpancar dari wajah cantiknya, Aleta pun membalas apa yang sedang di lakukan Faris.
Sampainya di lantai bawah, Faris yang sudah semakin menggila, langsung menekan tombol, untuk mengunci kembali pintu lift yang hampir terbuka, dan
setelah itu, dia langsung menghentikan aksinya, dan meminta sesuatu yang lebih sambil menatap Aleta, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Maas,, tapi ini di dalam lift,," jawab Aleta.
"Sebentar saja sayang,," jawab Faris dengan tatapan memohon, dan tatapannya itu membuat Aleta langsung lemah dan pasrah.
Tanpa berfikir panjang, Faris yang sudah seperti harimau lapar, langsung melancarkan serangannya yang membuat Aleta jadi kewalahan, di dalam lift itu di penuhi dengan suara desahan Aleta, juga benturan dari tubuh mereka berdua, sambil melancarkan serangannya, Faris tersenyum melihat Aleta, yang begitu menarik dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tanpa mereka sadari, Alira Mamanya Faris sedang berdiri tepat di depan pintu lift. Alira datang ke rumah
Faris untuk meminta putranya, juga menantunya itu untuk makan malam di rumah mereka, karena Alira berfikir, kalau mereka belum sempat membeli persediaan makanan, tapi semua persediaan makanan, sudah di pesan oleh Aleta sejak siang tadi.
Alira yang tidak menemukan Faris maupun Aleta, memilih untuk naik ke lantai atas menggunakan lift, tapi dia merasa sangat bingung, setelah berada di depan pintu lift, dia bingung karena pintu lift tidak mau terbuka sejak tadi, walaupun dia suadah menekan tombol berulang-ulang.
Untung saja, rumah itu memiliki lift yang kedap suara,
tapi benturan yang di sebabkan oleh Faris dan Aleta, tetap terdengar oleh Alira, dan itu membuat Alira jadi semakin bingung dan sedikit hawatir.
"Heeeee,, siapa di dalam,,? Maling ya,,?" Alira berteriak sambil memukul-mukul pintu lift.
Aleta yang sedang berjongkok tepat di depan pintu lift, merasakan seperti ada dorongan, dan benturan dari arah luar, dan itu membuatnya hendak berbalik, dan menghentikan Faris yang sudah seperti orang kesetanan, tapi belum sempat dia berbalik, Faris sudah memeluknya dari arah belakang dengan erat, sambil menggigit pundaknya, yang membuat Aleta langsung ikut menggigit lengan Faris, yang sedang melingkar di dadanya.
"Maaas,, cepat berpakaian,,! Ada orang di luar,," kata Aleta yang membuat Faris langsung panik.
Tanpa menjawab apa-apa, Faris langsung buru-buru memakai pakaiannya, begitupun dengan Aleta, Faris sangat panik karena dia sudah bisa menebak, siapa yang berada di luar, karena Faris sudah sangat tahu Mamanya, yang selalu tidak tenang kalau jauh dari anak-anaknya.