CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 126. Kemesraan Di Bawah Sinar Bulan.


Melda melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Reza berada, dengan perasaan yang teramat sangat bahagia. Senyum yang terpancar dari wajah cantiknya, dapat menggambarkan perasaannya saat itu. Cahaya bulan yang bersinar begitu terang, membuat Melda dari kejauhan sudah melihat lelaki tampan yang telah mencuri hatinya itu, sedang duduk di sebuah kursi taman berukuran panjang yang ada di arah sana.


Dengan semangat juga senyum lebar di wajah cantiknya, Melda berdiri tepat di samping Reza yang sedang menundukkan kepalanya. Reza sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Melda di sampingnya, dan itu membuat Melda jadi merasa sangat kebingungan.


"Mana pesan dari Mas Faris?" Tanya Melda dengan tampang kurang senang, karena tingkah Reza yang terlalu cuek.


Kemarahan yang tidak beralasan di dalam hati Reza, membuat dia tidak mau sama sekali menatap Melda yang sudah berdiri tepat di depannya. Sedangkan Melda yang juga sedang menyimpan rasa cemburu yang tidak di ketahui, semakin kesal dan hendak melangkah pergi, tapi tiba-tiba hal yang tidak terduga pun terjadi.


Kira-kira apa yang akan di lakukan oleh Reza?


Tanpa berkata apa-apa, Reza langsung menarik Melda yang hendak melangkah pergi dengan sedikit bertenaga, sehingga membuat Melda langsung terjatuh di atas pangkuannya. Dengan mata yang terbuka lebar saking kagetnya, Melda menatap wajah tampan di depan matanya itu, dan hendak mengatakan sesuatu. Namun belum sempat dia bersuara, Reza sudah membungkam mulutnya dengan ciuman yang begitu berhasrat.


Jantung Melda seketika berdetak tak menentu, nafasnya mulai memburu dengan begitu hebatnya. Dia tidak menyangka apa yang dia rasakan kepada sosok tampan itu, akan terbalaskan dengan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan sama sekali.


Ciuman pertama Melda memang sudah di curi oleh sosok tampan itu sebelumnya, tapi itu hanya sebatas kecelakaan yang membuat bibir mereka berdua bertemu tanpa di sengaja. Sedangkan kali ini, bukan hanya bibir mereka yang bertemu, tapi lidah pun ikut beradu dengan begitu liarnya.


Kedua insan itu sudah di bakar api asmara yang begitu menggila. Bulan yang bersinar begitu terang, dan bintang yang berkilau di atas sana, menjadi saksi bisu asmara yang tak terucap antara Reza dan Melda.


Kegilaan Reza yang tidak terkendali, membuat Melda hampir saja kehabisan nafas. Tapi Melda pun tidak ingin melepaskan Reza, dia membalas ciuman Reza sambil memejamkan matanya, menikmati apa yang sedang terjadi.


Suasana malam yang begitu indah menambahkan keromantisan, antara sepasang manusia yang lagi di mabuk cinta. Tanpa mereka berdua sadari, ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka dari arah sana, dengan tatapan penuh kekesalan dan kekecewaan, atas apa yang sedang mereka lakukan di tengah taman yang begitu sepi.


Setelah sampai di taman belakang yang mereka tuju, seketika langkah mereka berdua pun langsung tertahan, di saat melihat apa yang sedang terjadi di bangku taman yang ada di depan sana. Reza yang begitu gagah, sedang menikmati wanita berparas bidadari itu dengan hasrat yang sangat menggila.


Kekecewaan Feri juga Ririn tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata, atas apa yang sedang mereka saksikan di depan mata. Cinta yang baru saja tumbuh dalam hati mereka, kini telah layu tanpa berbunga. Dengan perlahan Feri pun berbalik dan melangkah pergi, dengan tampang yang sangat tidak bersemangat. Sedangkan Ririn, dia masih saja mematung tanpa bersuara.


Dalam hati Ririn, dia ingin sekali mencakar wajah Melda yang menurutnya sudah merebut apa yang menjadi incarannya. Tapi seketika, dia pun sadar kalau dia tidak bisa mengikuti kata hatinya yang sedang terluka itu. Karen yang terjadi antara Reza dan Melda saat itu, sama sekali bukanlah suatu kesalahan pada siapapun termasuk dirinya.


Karena tidak tahan melihat adegan mesra antara Reza dan Melda, membuat Ririn akhirnya memilih untuk menyusul Feri yang sudah duluan pergi menemui yang lain, yang masih tetap berada di ruang depan.


Sedangkan Reza dan Melda yang masih belum ingin mengakhiri permainan mereka, malah semakin di luar kendali. Reza dan Melda yang tadinya melakukan semua itu dengan keadaan duduk, kini sudah saling menindih di atas kursi taman itu, dengan posisi Reza berada di atas Melda.


Reza yang memiliki fisik yang begitu gagah, membuat Melda yang memiliki tubuh mungil hampir tidak terlihat di bawahnya. Dan kerakusan Reza saat itu hampir saja membuat Melda kehabisan nafas. Karena merasa sudah tidak bisa bernafas, dengan susah payah Melda langsung memalingkan wajahnya, dan terdiam sambil mengatur nafasnya yang sudah sangat memburu.


Apa yang di lakukan oleh Melda itu, membuat Reza pun sadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Dengan segera Reza pun langsung bangkit dari atas tubuh Melda, sambil berkata-kata dengan nada suara yang terdengar begitu serak, akibat hasrat yang sudah menguasai dirinya.


"Maafkan aku." Reza berkata-kata sambil bangkit dari atas tubuh mungil Melda


Tanpa menjawab apa-apa, Melda yang sudah sangat malu dengan sikapnya yang begitu agresif tadi, langsung bangun dan berlari meninggalkan Reza menuju rumah.