
Sampainya di RS, Tante Leni dan para perawat juga satu orang Dr, langsung cepat-cepat melarikan Almira ke ruang UGD. Kondisi Almira saat itu sudah semakin buruk, dan itu membuat Tante Leni tidak bisa untuk tenang. Tante Leni dengan suara yang sangat keras, berteriak meminta para Dr untuk menyelamatkan nyawa keponakannya itu.
Setelah Almira sudah di tangani, Tante Leni yang sedang menunggu di depan ruang UGD memilih untuk menghubungi Faris. Tante Leni tidak henti-hentinya menangis memikirkan nasib keponakannya, yang harus menjalani hidup tanpa orang-orang yang sangat mereka sayangi dan menyayangi mereka. Dengan air mata yang berlinang, Tante Leni segera menghubungi Faris.
("Halo Ris,, bagaimana sayang,,?") Tanya Tante Leni dengan suara yang sangat bergetar.
("Kita sudah sampai di rumah Opa Tante. Tantee,, bagaimana keadaan adikku,,?" Tanya Faris dengan nada suara yang sangat serak, pengaruh menangis sejak tadi.
("Kondisinya sangat lemah. Dan sekarang dia sedang di tangani oleh Dr. Kamu tenang saja,,!Tante ada di sini untuk melihatnya.") Kata Tante Leni sambil terisak.
("Iya Tan,, aku sekarang lagi mau mengurus semuanya dulu. Kalau ada apa-apa Tante segera kabari aku,,!") Kata Faris dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Setelah itu, Faris dengan segera langsung menyuruh Boy dan orang-orangnya, untuk membantunya mengurus semuanya, dari tanah makam, pemandian jenazah dan semuanya. Sedangkan Aleta, dia menemani Melda yang sejak tadi terlihat sangat lemah, di samping jenazah keluarganya bersama keluarga Mama Alira dari Bandung.
Aleta juga tidak lupa mengabari Abangnya di Malaysia sejak tadi malam, untuk memberitahukan kabar duka itu. Dan Reza yang mendengar kabar itu, langsung memboking tiket pesawat untuk berangkat ke Indonesia saat itu juga.
Mereka semua tidak henti-hentinya menangis,
selain Faris. Faris sangat sedih, dan dia merasa seperti dunianya sudah kiamat, tapi dia tidak ingin menangis di depan keluarganya, karena menurut dia, itu akan membuat semua keluarganya makin bersedih, yang masih hidup ataupun yang sudah terbujur kaku di hadapannya itu.
Selesai menyuruh orang-orangnya untuk mengurus semuanya, Faris melangkah dan duduk di tengah-tengah antara Melda dan Neneknya, dan dia langsung mendekap Melda dan Neneknya yang terisak di samping jenazah keluarganya ke dalam pelukannya.
Melda dan Neneknya yang di peluk tambah menangis dengan kerasnya, di saat berada di dalam pelukan Faris. Faris yang tadi tidak ingin menangis lagi, akhirnya kembali mengeluarkan air mata, karena dia tidak sanggup melihat keadaan Neneknya juga Melda yang begitu menyedihkan.
Selama dua menit Faris memeluk mereka dengan berderai air mata, dan tanpa berkata apa-apa. Tapi setelah itu, dia segera menghapus air matanya kemudian berkata.
"Neneek, Meldaa, sudah jangan menangis lagi,,! Kalau kita terus bersedih dan menangis seperti ini, mereka juga akan sedih dan tidak akan tenang di alam sana." Kata Faris kemudian mengecup pipi Melda juga Neneknya.
Mendengar kata-kata Faris, Melda juga Nenek Vivi hanya mengangguk tapi air mata mereka tidak bisa untuk berhenti. Melda yang melihat wajah Mama juga Papanya yang terbujur kaku, tidak bisa menahan tangisnya. Begitupun Faris, walaupun dia sudah berusaha untuk kuat dan tidak menangis lagi, tapi air matanya tetap meluncur di saat tatapannya tepat di wajah kedua orang tuanya yang sangat dia sayangi itu.
Melda dan Nenek Vivi tidak bisa menghentikan air mata mereka, tapi saat mendengar kata-kata Faris tadi, mereka pun langsung terdiam, hanya air mata yang mengalir tiada henti. Sedangkan Faris, dia sudah berpindah dan duduk tepat di samping kepala Mama dan Papanya.
"Maaa,, Paaa,, aku minta maaf atas semua kesalahanku, yang pernah aku perbuat dengan sengaja ataupun tidak sengaja kepada kalian berdua. Aku sangat menyayangi kalian, tapi Tuhan lebih menyayangi kalian. Aku janji, akan menjaga apa yang kalian titipkan untuku dengan sebaik-baiknya." Faris berkata-kata dalam hatinya sambil terisak.
"Maa, Paaa, aku akan punya anak,, dan kalian sangat menantikan kehadiran mereka. Tapi aku yakin, kalian bisa melihat mereka di saat mereka lahir nanti, walaupun kalian sudah berada di alam lain." Tambah Faris lagi dalam hatinya.
Setelah itu Faris kembali berpindah tempat dan duduk di atas kepala antara Oma dan Opanya, dan dia kembali berbicara.
"Omaa,, Opaa,, trima kasih atas semua yang kalian berikan untuk Papa dan aku. Kalian jangan khawatir, aku akan selalu menjaga nama baik juga harta keluarga Permana, dengan seluruh jiwa dan ragaku. Aku akan tunjukan kepada kalian, kalau aku bisa membawa keluarga ini menjadi lebih sukses lagi." Kata Faris sambil terus terisak.
Semua yang mendengar apa yang di katakan oleh Faris, jadi ikut menangis. Sedangkan Aleta yang selalu berusaha untuk menguatkan Faris, hanya terisak di belakang Faris sambil mengusap-usap punggung suaminya itu, tanpa bisa berkata apa-apa.
Aleta ingin sekali menguatkan Faris, tapi dia juga berfikir, siapapun tidak akan kuat dalam keadaan seperti ini. Aleta sangat mengerti keadaan suaminya dan Melda, karena dia yang pertama merasakan hal yang sedang di rasakan oleh Faris juga Melda saat ini.
Selesai berbicara kepada Oma dan Opanya, Faris langsung bergeser ke dekat jenazah orang tua Melda, kemudian dia memanggil Melda untuk duduk di sampingnya. Faris langsung mendekap Melda dalam pelukannya setelah Melda berada di sampingnya, kemudian dia berkata-kata sambil meletakan tangannya di atas tangan Om Refan, yang sudah berada di atas dada.
"Om, Tante, kalian harus bahagia bersama Mama, Papa, Oma dan Opa di alam sana. Jangan mencemaskan Melda, aku akan bertanggung jawab penuh, atas hidupnya juga masa depannya. Aku tidak akan membiarkan dia sendiri, aku selalu bersamanya, sampai dia memiliki laki-laki yang bisa menjaganya, dan membuat dia bahagia." Kata Faris lagi sambil memeluk Melda dan mengecup kening Melda.
Melihat keadaan Faris dan Melda, mereka semua yang ada di situ, tambah berderai air mata, terutama Nenek Vivi juga Aleta yang berada tidak jauh dari tempat Faris dan Melda. Aleta menangis sambil menundukan kepalanya, dan keadaannya itu, membuat Reza yang baru memasuki rumah bersama supir pribadi Faris, yang tadi menjemputnya di bandara, langsung melangkah dan duduk di samping Aleta, kemudian memeluk Aleta.
Aleta langsung kaget di saat Reza memeluknya, tapi setelah dia mengangkat mukanya dan melihat Abangnya yang sedang memeluknya, dengan segera dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Abangnya itu sambil terisak.
Melda menangis tersedu-sedu sampai dia kembali pingsan dalam pelukan Faris. Melda tidak sekuat Faris, karena bagaimanapun, dia hanyalah seorang wanita yang rapuh. Apalagi, dia tidak punya Adik ataupun Kakak, hanya Faris dan Almira sepupunya itu, yang selama ini sudah dia anggap sebagai saudara kandungnya.
"Meldaa,,! Meldaa,,! Boy tolong bawa dia ke kamar,,!" Kata Faris dengan nada suara yang terdengar panik.
"Boy tidak ada Mas,, tadi kan Mas suruh dia pergi membayar tempat makam." Kata Alira.
"Biar aku saja Ris." Sambung Reza.
Tanpa menunggu lama, Reza dengan segera langsung berdiri, kemudian menggendong Melda menuju kamar yang berada di lantai dua. Reza di antar oleh Aleta menuju kamar yang sering dia, Melda dan Almira tempati kalau mereka menginap di rumah Opa Oma mereka itu.