CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2

CINTA DI DALAM PERJODOHAN 2
Bab 79. Aleta Begitu Agresif.


Aleta semakin menggila di atas pangkuan Faris, dia mencium suaminya dengan begitu liarnya. Dan apa yang di lakukan Aleta itu membuat libido Faris pun kambuh. Sambil berciuman, Faris pun dengan segera melepaskan semua pakaian Aleta juga pakaian nya sendiri.


Setelah mereka sudah tanpa sehelai benangpun, mata Faris tiba-tiba terpana di saat melihat bentuk tubuh Aleta, yang terlihat semakin padat, terutama di bagian-bagian tertentu. Faris menatap Aleta yang sedang berdiri di hadapannya, sambil menelan ludah dan tanpa berkedip sama sekali.


Faris begitu tergiur di saat matanya tertuju di bagian dada Aleta, juga bagian bawa Aleta yang begitu berisi. Tanpa menunggu lama, Faris dengan segera langsung melahap ***** kembar yang menantang di hadapannya, seperti seorang bayi yang sedang kehausan.


Faris membaringkan Aleta di atas sofa panjang, yang ada di ruang depan itu, dan dia mulai menjelajahi tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Dan di saat wajah Faris terbenam di bawah sana, Aleta yang sejak tadi mendesah pelan, kini bersuara dengan kerasnya. Untung saja siang hari, jadi para tetangga sedang bekerja, dan tidak ada yang mendengar mereka.


Mendengar suara Aleta yang terdengar begitu seksi di telinganya, membuat Faris semakin berhasrat. Hampir satu jam bertempur, akhirnya Faris pun mengakhiri permainannya. Faris bangkit dan memakai kembali pakaiannya, dengan senyuman kepuasaan yang terukir di wajah tampannya.


Sedangkan Aleta, dia hanya terlentang di atas sofa sambil menatap suaminya, tanpa bersuara dengan nafas yang masih belum teratur. Aleta sangat akui keperkasaan suaminya, karena Faris selalu membuat dia lemas tak berdaya setiap kali mereka bertempur.


Aleta merasa sangat bahagia memiliki Faris, karena Faris adalah laki-laki yang sangat sempurna. Dia adalah laki-laki yang hebat dalam segala hal. Di saat Aleta sedang asyik menatap Faris yang sedang berpakaian, tiba-tiba dia jadi malu, karena Faris menatapnya sambil tersenyum dan berkata.


"Kamu tadi beda bangat sayang,, dan aku sangat menyukainya." Kata Faris yang membuat Aleta, jadi teringat dengan apa yang sudah dia lakukan tadi.


Aleta dengan segera langsung menutupi wajahnya dengan bajunya, karena dia merasa sangat malu, setelah mengingat aksinya yang begitu agresif dan memalukan. Melihat ekspresi Aleta, membuat Faris langsung tertawa dengan begitu kerasnya.


Faris tertawa karena dia merasa lucu dengan tingkah istrinya. Selesai berpakaian, Faris yang berhenti tertawa, langsung memunguti pakaian Aleta dan duduk di samping Aleta, sambil tersenyum mentap istrinya yang juga sudah duduk tepat di hadapannya.



"Sini Mas bantuin kamu berpakaian." Kata Faris sambil melepaskan tangan Aleta, yang sedang menutupi wajahnya sendiri.


"Kamu ngga perlu malu,,! Mas kan suami kamu, dan apa yang kamu lakukan itu membuat Mas sangat bahagia. Kamu tahu kenapa Mas bahagia,,? Itu karena Mas merasa puas dengan sikapmu yang begitu agresif." Kata Faris lagi setelah Aleta sudah melepaskan tangannya.


"Aku juga bingung Mas, mengapa aku seagresif tadi." Kata Aleta sambil menatap Faris.


"Mungkin kamu seperti itu karena pengaruh hormon kehamilanmu." Kata Faris sambil membatu memakaikan pakaian Aleta.


Setelah itu, Aleta dan Faris melangkah menuju kamar, untuk membersihkan badan mereka. Selesai mandi mereka berdua langsung berpakaian. Setelah sudah rapi, Faris membantu Aleta untuk mengemasi barang-barang mereka, yang belum sempat di kemasi.


Pukul 3:30, Boy sudah sampai di depan apartemen Faris. Faris yang sudah rapi, langsung turun untuk membukakan pintu untuk Boy, dan mereka berdua memilih untuk duduk mengobrol di ruang depan. Sedangkan Aleta masih belum selesai bersiap-siap.


Boy yang sedang asyik mengobrol dengan Faris, tiba-tiba melihat sesuatu yang menempel di atas sofa tempat di sampingnya. Karena merasa penasaran, Boy akhirnya menunduk untuk melihat apa yang sedang dia lihat itu dengan lebih jelas lagi.


Melihat sikap Boy, Faris pun jadi bingung. Dan tanpa berfikir apa-apa, dia pun langsung bertanya.


"Ada apa Boy,,? Kamu sedang ngapaian,,?" Tanya Faris dengan tampang kebingungan.


"Mana,,?" Tanya balik Faris sambil ikut menatap ke arah yang di tatap Boy.


Aleta yang sudah selesai bersiap-siap, langsung melangkah menuju ruang depan menemui Faris dan Boy. Sampainya di depan, Aleta langsung merasa bingung melihat Faris dan Boy, yang sedang menunduk ke bawah bersamaan. Aleta yang merasa bingung juga penasaran, tanpa menunggu lama langsung membuka suara setelah dia berada tepat di samping mereka.


"Kalian lagi ngapain,,?" Tanya Aleta sambil menatap Faris dan Boy, yang masih tetap menunduk.



"Ini Al,, ini apa ya,,?" Tanya Boy sambil mengangkat mukanya menatap Aleta.


Di saat Boy sedang menatap Aleta, baru Faris sadar kalau apa yang sedang mereka lihat itu, ternyata sisa cairan Aleta yang menempel di atas sofa. Dengan segera Faris langsung membersihkannya dengan telapak tangannya.


"Mana Boy,,?" Tanya Aleta sambil menunduk menatap ke arah yang di tunjuk oleh Boy.


Belum sempat Boy menjawab pertanyaan Aleta, Faris sudah menarik lengan Boy untuk berdiri. Kemudian tanpa menunggu lama, Faris segera melangkah sambil berkata.


"Ayo kita pergi,,! Sebentar lagi sudah jam keberangkatan kita." Kata Faris sambil melangkah pergi.


Akhirnya Boy juga Aleta langsung melangkah mengikuti Faris, dan mereka sudah tidak membahas apa yang sedang mereka lihat tadi. Apalagi Boy orangnya cepat melupakan sesuatu di saat dia sedang buru-buru.


Sapainya mereka di bandara, tanpa menunggu lagi, mereka langsung naik ke pesawat yang akan segera berangkat. Tidak lama mereka naik dan duduk di dalam pesawat, pesawatnya pun langsung take-of.


Dalam perjalanan, Faris duduk sambil mengusap-usap perut Aleta. Faris merasa sangat bahagia dengan anugrah terindah yang Tuhan kasih di dalam perut Aleta. Dan Faris sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar gembira itu, kepada keluarga besarnya.


Aleta yang sedang duduk bersandar di sandaran kursi, sambil tersenyum menatap Faris yang sedang mengusap-usap perutnya, tiba-tiba teringat dengan kejadian di rumah tadi. Aleta jadi merasa penasaran, dan dengan segera, dia meraih tangan Faris yang masih berada di perutnya, sambil bertanya.


"Mas,, tadi yang di rumah itu apa sih,,?" Tanya Aleta sambil menatap Faris.


"Yang mana,,?" Tanya Faris bingung karena dia tidak mengerti apa yang di tanyakan Aleta.


"Yang di atas sofa ituuu,, yang kamu dan Boy lihat tadi." Kata Aleta yang membuat Faris jadi tersenyum.


Faris tersenyum karena dia sudah mengerti apa yang di tanyakan Aleta. Melihat Faris tersenyum Aleta jadi bingung, karena suaminya tidak menjawab pertanyaannya tapi malah tersenyum.


"Kamu ko ngga jawab malah tersenyum,,?" Tanya Aleta sambil menatap suaminya dengan tatapan yang bingung.


"Yang tadi itu cairan kamu. Untung aja Boy tidak mengerti dengan hal yang gituan. Kalau ngga dia akan tahu apa yang terjadi di ruang depan tadi." Kata Faris sambil tersenyum menatap Aleta.