Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Memberi makan pada tawanan bagian 1


Hari-hari tiada lagi terasa ada kemuraman, sebab senang telah berhasil menculik Karin, dendam terasa tak tertekan lagi seperti hari kemarin-kemarin. Aku melakukan ini semua biar Karin merasakan akibatnya, karena telah berani-beraninya melawan dan berurusan denganku.


"La ... la ... hem ... hem ... la," suaraku bernyanyi penuh kegembiraan.


Tok ... tok, pintu kamar diketuk.


"Non ... non, Yona. Sarapannya sudah siap." Pembantu sudah memanggil, saat aku sedang bermalas-malasan berbaring di kasur.


Karena sudah mandi dan berias diri, kini kerjaanku tinggal sarapan saja, sebab hari ini berencana mau menemui pujaan hati yaitu Adrian.


Tok ... tok, lagi-lagi pintu diketuk.


"Hidih apaan, sih! Bikin orang kesel saja," Kemarahanku pada pembantu.


"Eeh maaf, Non. Habisnya takut lauknya nanti dingin semua," jawab pembantu kelihatan ketakutan.


"Iya ... iya, aku akan turun sekarang."


Mau tidak mau aku akan makan sekarang. Kalau tidak dituruti perintah pembantu, pasti orang tua yang sedang tinggal diluar kota akan menerima laporannya. Malas sekali mendengarkan ocehan mereka yang suka bawel itu.


Tangan sudah memegang sendok untuk segera memasukkan nasi ke dalam mulut.


"Non, itu ... Itu ... anu," ucap pembantu terbata-bata.


"Emm, ada apa?"



"Itu ... itu, Non."


"Ada apaan sih? Ngomong yang bener kalau berbicara itu!" gerutuku tak senang.


"Itu non, digudang saya mendengar seperti seseorang ada didalamnya. Apakah ada orang 'kah disana?" tanyanya tiba-tiba.


"Diam kamu," bentakku melengkingkan suara.


Tubuh seketika lansung berdiri dari kursi makan, akibat kaget lontaran ucapan pembantu.


"Tapi Non!" ujarnya masih ingin mengetahui.


"Gak usah ikut campur kamu, urus aja pekerjaanmu. Baru jadi pembantu saja belagu sangat dan sok-sok 'an ingin tahu aja?" protesku tak suka, yang kini duduk lagi ingin melanjutkan sarapan pagi.


"Iya, Non. Saya minta maaf." Suaranya terdengar masih ketakutan dengan menundukkan kepala.


"Emm, dimaafkan."


"Oh ya, siapkan nasi beserta lauk. Ada peliharaan yang harus kuberi makan," Kasarnya mulut berkata.


"Peliharaan? Maksudnya apa ya, Non? Kok peliharaan memakai makanan, bukankah Non Yona sedang tidak memelihara binatang?" tanya pembantuku penasaran lagi.


"Alaah, mulut kamu itu banyak omongnya. Pembantu saja sok mau tahu dan kepo amat!" bentakku dengan emosi.


"Maafkan saya, Non!" jawabnya lagi.


"Sudah jangan banyak omong lagi kamu! Cepat ke dapur sana! Bukannya kamu banyak kerjaan. Oh ya, ambilkan kunci mobil diatas nakas kamar serta siapkan makanan yang aku minta," teriakku melengkingkan suara yang memerintahnya.


"Ba ... bbba ... iik, Non."


Pagi-pagi pembantu dirumah sudah mau ngajak ribut. Emosi yang sudah sempat menurun akibat mau ketemu Adrian, kini mood mulai hilang dan lebih parahnya amarah mulai naik lagi.


"Sungguh pembantu si*l*n. Pagi-pagi sudah buat ulah saja," umpatku yang sudah kesal dalam hati.


Sendok langsung kugeletakkan saja, dikarenakan mood ambyar untuk melanjutkan makan.


"Sudah kamu pergi ke pekerjaan kamu, sana! Eneg sekali rasanya melihat wajahmu itu," suruhku berbicara ketus.


"Baik, Non."


Setelah siap, makanan sekarang sudah tersedia berada ditanganku, untuk segera memberi Karin sarapan. Masih berbaik hati karena biar dia tidak mati dengan cepat, sebab aku masih ingin bermain-main lebih dengannya.


*****


Dengan wajah clingak-clinguk aku memperhatikan keadaan sekitar, untuk memastikan jika pembantu yang sok tahu itu tidak mencurigai lagi. Bisa mati jika dia tahu, karena mulutnya yang ember bisa-bisa akan melaporkan ulahku sekarang.


Nasi yang diatasnya ada lauk ayam dan telur goreng, sudah membawa kami untuk secepatnya masuk gudang yang lusuh dan kotor.


"Hallo Karin sayang. Where are you?" sapaku mulai memasuki gudang, yang berjalan secara perlahan-lahan.


"Eem ... mm," jawabnya dalam keadaan masih terikat dan mulut terbekap.


Karin tergolek lemah diubin keramik, dengan tubuh meringkuk seperti kedinginan.


"Wah ... wah, sekarang kamu pasti baik-baik saja 'kan? Setelah kuhajar habis-habisan kemarin," tanyaku basa-basi.


"Eem ... mm," jawabnya yang tidak bisa menjawab sambil tubuh sedikit meliuk-liuk.


"Hahahah, gimana rasanya disekap dan diculik? Emm, pasti rasanya menegangkan dan takut, ya?" cakapku yang mendekatkan wajah untuk menatap lamat-lamat wajah Karin dan ingin segera membantunya duduk.


"Kamu pantas menerimanya, sebab kamu memang perempuan pelac*r, yang mana telah berani-beraninya dan tega merebut dambaan hatiku, plaaaak!" Kemarahan sambil menghina dan menamparnya.


"Sekarang makanlah," ucapku dengan membuka bekapannya.


Sekali tarik kasar, sumpalan kain itu sudah kubuang dilantai.


"Sampai kapan kamu akan melakukan ini padaku?" tanyanya.


"Sampai kapan? Kamu tanya sampai kapan?" balik tanyaku yang sudah mencengkram pipinya.


Karin kelihatan ketakutan, dengan mimik muka sudah sendu.


"Sampai aku benar-benar puas bermain-main denganmu," ujarku yang langsung membanting wajahnya.



"Jangan lakukan itu, Yona. Aku tidak mau kamu dalam masalah, jadi tolong lepaskanlah diriku. Pasti kamu nanti tidak akan kena masalah jika membiarkan aku pergi," ujarnya penuh permohonan dengan lelehan airmata keluar dari sudut matanya.


"Aku tidak peduli dengan semua itu! Yang terpenting sekarang diriku bisa balas dendam, dan bermain-main secara puas terhadapmu, ha ... hahaha," Kegembiraan dalam mengancamnya.


"Kamu jangan gila Yona, sebab kamu akan menerima segala akibatnya dari semua ini, jika tindakanmu terus-menerus begini dan tidak mau berhenti terhadapku," ceramahnya.


"Dan pastinya Kak Adrian tak akan tinggal diam," imbuh cakapnya yang sudah membuatku kesal.


"Akibat? Masalah? Adrian akan mencari? Aku tidak takut dengan semua itu, sebab yang kuinginkan sekarang adalah mencelakaimu. Apabila diperlukanpun pastinya aku bisa membunuhmu, hahaha." Remehku yang tak mengenal takut.


"Apa? Jangan lakukan itu, Yona!" Mukanya menunjukkan kekagetan.


"Sudah, jangan banyak omong kamu sekarang! Cepatlah makan, biar aku bisa bermain-main, hahaha" suruhku.


Sikap sudah lemah lembut untuk segera memaksa Karin makan. Tangannya masih terikat sehingga akupun terpaksa menyuapinya, sebab tidak ingin ada hal-hal yang berbahaya yaitu melihat dia kabur begitu saja.


*****


Yuk mampir dikarya author yang lainnya, siapa tahu suka😊