
Rasa hati masih tetap sama yaitu terus mencintainya, tapi harus berapa kali diri ini berusaha untuk mendapatkan belahan hati yang sempat hilang. Tangan terus saja memegang sebuah teh dalam cangkir, untuk terus segera terteguk masuk ke dalam mulut.
"Apa yang harus kulakukan padamu Karin, agar diriku bisa menarikmu kembali jatuh dalam pelukanku? Rasanya kenapa tak ada celah sedikitpun, untuk masuk ke dalam ruang hatimu. Apakah aku harus benar-benar menyerah, untuk segera melupakan dan mendapatkanmu? Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan, atas kebingungan masalah ini? Aku sangat mencintai Karin dan tak ingin berpisah dengannya, tapi jika inilah takdirMu untuk memisahkan kami, nak berbuat apa selain diriku harus menerima dengan ikhlas dan harus merelakannya?" guman hati yang bingung, dengan netra memandangi kolam renang ditemani minum teh.
Beribu cara dan berpikir sudah terjalani, namun tetap saja tangannya tak bisa kugenggam. Bila memang dia sudah jauh akan takdir pertemuan ini namun tak bisa dimiliki, mungkin ini semua hanyalah sebuah jawaban doa bahwa wanita dan anak yang kucari masih hidup, namun tak bisa kupeluk tubuh mereka selamanya.
"Ada apa, Adrian?" tanya suara Mama.
"Eeh, kamu Ma!" jawabku sedikit terkejut.
"Aku baik, Ma. Cuma pikiran lagi kusut saja," imbuh jawabku.
"Apakah ini berkaitan dengan, Karin?" tanya beliau.
"Iya, Ma. Adrian bingung sekali atas cara bagaimana mendapatkannya kembali, sedangkan segala cara sudah kulakukan? Rasanya aku ingin menyerah saja, saat cinta Karin sudah menjadi milik orang lain," cakapku menjelaskan.
"Kamu jangan menyerah begitu saja, Adrian. Bukankah Karin itu sepenuhnya hak milik kamu, dan patutnya wajib untuk segera kamu nikahi sebab ada Naya yang menjadi darah dagingmu. Karin memang mencintai orang lain, tapi cinta bisa berubah jika kamu terus berusaha mendekatinya. Mama yakin sekali jika Karin juga sangat mencintai kamu, sebab hati nulari seorang ibu kadang benar, walau dia bukan anak kandungku sekalipun. Jangan khawatir jika kamu tak bisa mendekatinya, sebab Mama akan bantu kamu juga sampai kalian bisa bersatu kembali," nasehat beliau dengan penuh senyuman semangat.
"Benarkah, Ma? Terima kasih, atas bantuannya. Mungkin akulah anak yang tak berbakti padamu, saat selalu saja diri ini membuat masalah, hingga kemarin-kemarin sampai sakit," jawabku tak enak hati.
"Tak apa, Nak. Mungkin Mama saja yang terlalu berlebihan memikirkan kalian. Mama sayang kalian, dan tak ingin sekali pegangan tangan semua anggota keluarga ini terlepas, hingga bercerai berai tak dapat bersatu. Cukup tahun-tahun kemarin saja kita semua terpisah oleh jarak ruang dan waktu, hingga sekarangpun Mama sangat berharap sekali kalian berdua kembali, untuk sama-sama saling berpegangan tangan," ucap beliau sendu, sambil mengelus pelan bahuku.
"Iya, Ma. Adrian akan usahakan, semoga saja semua ini berhasil," jawabku mulai bersemangat lagi.
Sungguh besar sekali harapan Mama, hingga dia berjanji untuk rela meluangkan waktu sejenak membantu kami bersatu kembali.
*******
Karena ucapan mama tadi pagi, hingga kini aku ingin menemui Karin sebentar saja, yang langsung meluncur ke tempat kerjanya. Walau nanti harus ketemu dengan saingan, namun kemantapan hati yang ingin berjuang atas nama cinta, membuat diri ini semangat lagi harus bertemu.
"Bolehkah aku bertemu dan ingin bicara pada Karin sebentar?" tanyaku pada Chris, saat kami sama-sama duduk didalam toko kuenya.
Wajah Karin yang tak nampak didepan ruangan toko kue, membuat diriku kini harus berhadapan dengan kekasih Karin. Sorot matanya yang tajam sedang menyungingkan alis sebelah, yang tertebak nampak sekali kalau Chris tak suka.
"Ada apa dan untuk apa kamu ingin menemuinya?" ketus jawaban Chris.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya sebentar saja," jawabku santai.
"Tidak boleh. Memang ada urusan penting apalagi yang ingin dibicarakan, saat kau dulu sudah menelantarkannya. Bukankah sudah tak ada urusan lagi diantara kalian, saat kamu tahu sendiri kami akan segera menikah," jawab kasar Chris.
"Aku sudah bicara baik-baik dan meminta izin sama kamu, jadi jangan pancing emosiku saat diri ini hanya ingin sebentar saja bertemu," ujarku tak ramah.
"Ada apa ini?" tanya sela-sela Karin, saat sudah datang menegahi ketegangan kami.
"Ini, Karin. Aku hanya ingin berbicara sebentar saja sama kamu dengan meminta izin sama Chris, tapi kayaknya dia tak mengizinkan," sahutku menjelaskan.
"Benarkah itu, Chris?" tanya Karin.
"Iya, Karin. Tapi bukan bermaksud apa-apa, sih. Cuma aku takut saja jika pria masa lalu ini akan berbuat ulah, dan macam-macam sama kamu saja," jawab Chris menjelaskan.
"Hiliiiiih, sok munafik."
"Sudah ... sudah, tak payah terlalu berlebihan mengenai masalah ini, yang ujung-ujungnya kalian berdualah yang akan bertengkar. Dan untuk kamu kak Andrian, kenapa harus menemuiku lagi? Bukankah sudah tak ada urusan lagi diantara kita, sebab semua sudah jelas?" ucap Karin yang nampak ada guratan emosi.
"Justru kita tak ada urusan lagi, maka dari itu aku ingin menyelesaikan masalah dengan clear, agar tak ada ganjalan hati yang membebani. Aku hanya ingin butuh waktu sebentar saja bicara sama kamu, boleh 'kan?" pinta tanyaku.
"Jangan turuti kemauan dia, Karin. Mungkin hanya modus untuk mendekati kamu saja," sela jawab Chris yang merasa khawatir.
"Tenang dulu, Chris. Mungkin benar kata kak Adrian, bahwa ada urusan yang lebih penting yang harus kami selesaikan dulu," Pembelaan ucapan Karin.
"Baiklah, kalau menurut kamu itu baik. Tapi kamu harus hati-hati sama dia," jawab Chris yang akhirnya mengizinkan.
"Emm, baik Chris. Ayo kak, kita bisa bicara agak menjauh dari sini," ajak Karin.
Diri ini akhirnya bisa tersenyum menyungging ke arah Chris, sebab merasa puas saat Karin ternyata lebih setuju ikut denganku. Chris hanya bisa membalas melototkan mata tak suka atas kemenangan yang kudapat.
Karin sudah berjalan duluan, dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya kemana kami akan berlabuh, ditempat yang hanya bisa berbicara berdua saja.
"Cepetan apa yang ingin kamu bicarakan, kak!" suruh Karin tak sabar.
"Aku hanya ingin minta kejelasan atas hubungan kita ini," jawabku santai.
"Bukan sudah jelas sekali bahwa aku akan menikah dan lebih memilih Chris," tekan jawabnya.
Deg, hati sudah terkoyak bagai tersambar petir saat mengetahui kebenarannya. Apakah diriku harus benar-benar merelakan wanita yang kucintai bahagia dengan orang lain?.
"Tapi, Karin. Apakah kamu tak memikirkan anak kita yaitu Naya, yang padahal sangat membutuhkan sekali kasih sayang kita sebagai orangtua asli?" tanyaku tak mau menyerah.
"Heeeh, orangtua? Seharusnya kakak perlu membenturkan kepala didinding, agar bisa mengingat dan tahu bagaimana kamu dulu sudah melupakan diriku dan anakmu itu. Jika kamu menginginkan kami, kemana kamu kemarin? Hingga aku harus lelah berjuang sendirian dalam menghadapi kenyataan hidup yang memahitkan?" kekuh Karin mulai sendu.
"Aku tahu bahwa diri ini banyak sekali kesalahan pada kalian, tapi semua itu bisa diperbaiki mulai sekarang," kekuh jawabku tak mau menyerah.
"Bagiku sudah terlambat dan semuanya tak bisa diperbaiki lagi, karena semua itu hanya kenangan pahit yang perlu dibuang. Mulai sekarang lupakan aku, kak. Tak ada gunanya jika mengingat itu semua, sebab rasa cinta kita akan banyak korban yang tersakiti lagi, jadi kamu harus memahami dan memaklumi itu semua," Tegas jawab Karin.
Diri ini hanya bisa diam sambil mencerna perkataannya, yang kemungkinan diriku memang harus sadar diri atas semuanya. Mungkin diri ini benar-benar harus merelakan dia untuk bahagia bersama orang lain.
Sudah tidak ada lagi yang tersisa.
Namun kenapa aku jatuh cinta lagi.
Rasa hati sangat tahu sekali, jika cinta ini semakin kian mengebu.
Aku tak tahu bagaimana lagi membuatmu jatuh cinta lagi padaku.
Dan terutama membuat kamu kembali padaku, hingga rasa patah semangat semakin terasa kian memperburuk suasana hati.
Sayang, janganlah pergi sebab aku tak tahu lagi harus berbuat apa atas hidupku.
Hanya namamulah yang terus saja terukir indah dalam hati ini.