
Sungguh hati begitu sakit sekali, saat Ana berkali-kali menyalahkan diri sendiri atas keguguran yang tengah dia alami. Tapi ingatan akan rasa hati yang selalu tetap mencintai, telah meluluhkan dan menyadarkan segalanya.
Ceklek, pintu ruangan Ana telah terbuka.
"Astagfirullah, Ana? Apa yang sedang terjadi padamu, Nak?" Suara cepreng Mama yang tiba-tiba nyelonong masuk.
Beliau langsung memeluk Ana, yang diiringi oleh lelahan airmata kesedihan.
"Ana, baik-baik saja, Ma!"
Suara lembut Ana menenangkan mertuanya.
"Mama sungguh terkejut atas berita yang dikabarkan oleh sekertaris Rudi. Dan tak buang-buang waktu, mama langsung tancap gas datang ke sini!" terang beliau.
"Ana sekarang baik-baik saja, Ma! Mama ngak usah panik begitu, lihat! Badannya sekarang sehat-sehat saja 'kan," terangku agar beliau tenang.
"Iya Adit, mama tahu. Walau Mama hanya mertua, tapi Ana sebagai menantu kesayangan, tetap saja perasaan hati mama itu sangat khawatir," jawab beliau.
"Iya, Ma. Ana menantu kamu itu lebih berarti dan beharga, daripada anak kamu sendiri ini," ujarku mencoba mencairkan suasana.
"Kamu harus sabar bos, aku yang akan menyayangimu. Hik ... hik, sungguh bosku sekarang telah menjadi anak terbuang," kepura-puraan Rudi menangis, yang langsung menyandarkan kepala dibahuku.
"Cletak ... ciih, siapa juga yang mau sama kamu! Urus sana noh, semua koleksi cewek-cewek kamu itu!" decihku sambil menjitak kepala Rudi pelan.
"Hehehee, gak usah diurus, Bos. Tenang, mereka betah-betah aja kok! Sama permainan cintaku," jawab Rudi.
"Dasar manusia playboy."
"Ayo kita pergi dulu ke perusahaan," suruhku.
"Siip."
"Oh ya, Ma. Kamu ngak ada kegiatan apa-apa 'kan hari ini? Jadi kumohon, tolong jagain Ana sebentar, sebab ada urusan penting yang harus Adit selesaikan di kantor," tuturku meminta.
"Iya Adit, gak pa-pa, pergilah! Mama ngak ada kegiatan banyak hari ini. Akan kujaga Ana dengan sebaik-baiknya," sahut beliau menyetujui.
"Terima kasih, Ma."
"Kamu sama Mama sebentar ya, sayang! Mas ingin pergi ke perusahaan dulu, kamu jangan kepikiran yang aneh-aneh. Mas akan kembali lagi, setelah urusan masalah perusahaan selesai," pamitku yang menyodorkan tangan, serta tak lupa kucium keningnya.
"Iya Mas, kamu hati-hati!" pesannya.
"Emm."
"Ayo Rudi!" ajakku yang segera ingin pergi ke perusahaan.
Lama sekali mobil sampai diperusahaan, sebab jalanan terlihat begitu macetnya. Diri ini begitu tak sabar, ingin mencari tahu kebenaran apa yang sedang terjadi, atas persoalan pelik dalam perusahaanku.
Sheet, mobil Rudi telah sampai diparkiran perusahaan.
"Apakah Edo telah berhasil menahan dan mengamankan pria itu?" tanyaku pada Rudi.
"Aman Bos, semuanya cukup aman terkendali sesuai keinginanmu," jawab sang sekertarisku Rudi.
"Ayo kita kesana! Tanganku rasanya sudah gatal sekali ingin memberi pelajaran padanya."
Lif sudah melesat dengan cepat naik, ke ruangan yang ada pria itu.
Braaak, pintu telah kubanting secara kuat.
Amarah yang sudah diubun-ubun, secepat mungkin ingin menghampiri pria itu, dengan tangan sudah mengepal ingin sekali menghajarnya. Terlihat dia begitu pasrah terikat oleh tali, duduk dikursi yang diberikan Edo.
Bhuuuhgk ... tinjuan telah mendarat tepat, mengenai pipi pria itu.
Blaaanghk ... braaak, sebuah tendangan kakipun ikut mendarat tepat di wajahnya lagi.
Karena terlalu kuat diriku menendang, membuat kursi itu oleng jatuh ke kiri, dan pria itu telihat hanya pasrah atas perlakuanku.
Langkah berusaha mendekatinya yang tak berdaya, dan kini aku berusaha jongkok ingin mengajaknya bicara.
"Katakan siapa kamu sebenarnya? Dan apa tujuan kamu memata-matai perusahanku?" tanyaku yang sudah mencengkram pipinya.
"Aku tak akan memberitahu siapa diriku, dan untuk apa datang ke perusahanmu," bantahannya yang membuatku emosi.
"Ooh ... ternyata besar juga nyalimu itu, untuk menghadapi kami. Baguslah kalau kamu menentang, berarti kamu akan siap menerima resiko atas semuanya," balik ucapku dengan sedikit mengancam.
"Apa maksudnya?" tanyanya binggung.
"Kamu masih bertanya apa maksudnya? Sedangkan kamu tadi, telah berani-beraninya mencelakai istriku, dan yang pasti aku akan segera menjebloskanmu ke penjara, atas tuduhan mencelakai orang, sebab kamu telah membuat istriku keguguran," jawabku menjelaskan.
"Jangan ... jangan bos, maaf ... maafkanlah diri ini. Aku akan melakukan semua perintahmu, asalkan jangan memasukkanku dalam penjara. Aku mohon! Sebab ada anak istri yang harus kuhidupi, jadi maafkan aku dan jangan beri hukuman," pintanya memelas.
"Ok! Aku tak akan menjebloskan dirimu ke dalam penjara, asalkan kamu mengikuti semua perintah dan ucapanku sekarang," tawarku memberi ampun.
"Iya, Bos."
Kepasrahannya kini akan kubuat dia berbalik tunduk padaku, serta akan berbalik menyerang kepada musuh.
"Katakan siapa yang menyuruhmu bekerja disini, serta jadi mata-mata?" tanyaku penasaran.
Lama sekali dia tertunduk tak menjawab, mungkin sudah berat dan kelu mengatakan juragannya.
"AYO JAWAB," bentakku marah.
"Di ... di ... aaa ... adalah nyonya Nola?" jawabnya terbata-bata.
"What?" kekagetanku.
"Benarkah apa yang kamu katakan, atau jangan-jangan ini hanya alibi kamu mengalihkan kesalahan pada orang lain?" responku masih tak percaya.
"Yang kukatakan semuanya adalah benar bos, dia adalah nyonya Nola. Kalau bos tak percaya, kamu lihat saja bukti di handphoneku. Disana banyak sekali pesan yang belum kuhapus atas percakapan kami, tentang penukaran barang tadi siang," suruhnya agar mempercayai ucapannya.
Tanpa banyak kata, akupun langsung gerak cepat meraba-raba kantong celana pria didepanku.
Sekarang tangan sedang sibuk mengeser layar gawai, untuk memeriksa apa yang telah dikatakan pria itu benar atau tidak. Betapa syoknya diri ini saat mengetuhi kebenaran, bahwa yang melakukan semuanya adalah benar kak Nola. Sungguh perasaan ini bagai disambar petir, saat mengetahui semuanya.
Orang selama ini sudah kuanggap sebagai kakak sendiri, dan baik hati terhadap semua orang, ternyata telah melakukan perbuatan busuk, untuk menjatuhkan nama baik perusahaan yang selama ini kujaga.