Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Berkunjung Pada Musuh


Setelah sarapan pagi, akhirnya mas Adit mau mengabulkan juga permintaanku, yang ingin bertemu dengan Salwa. Pada awal-awalnya ada sedikit penolakan darinya , tapi semua bisa kuatasi dengan menjelaskan, dan meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepadaku jika bertemu dengan Salwa.


Ceklek, pintu ruangan rumah sakit untuk merawat Salwa, telah dibuka mas Adit. Dan terlihat Salwa sedang santai rebahan bersandar di kasur pembaringan rumah sakit.


"Hai, Salwa!" sapaku dengan memakai kursi roda, yang sedang didorong mas Adit.


"Mau apa kalian kesini?" ketus Salwa dengan mimik wajah seperti tak suka atas kedatangan kami.


"Kamu jangan marah dulu, Salwa. Niat kami baik ke sini," ujar mas Adit.


"Kami hanya ingin menjenguk dan melihat keadaan kamu!" jelasku.


"Bohong kalian. Pasti kalian ke sini hanya ingin mentertawakanku, yang sekarang sudah cacat dan melemah begini," tuduhnya yang ketus.


"Pergi, kalian. Pergi ... pergi," usirnya dengan cara berteriak-teriak.


"Salwa, tenang ... tenang. Jangan begini, kami hanya ingin melihat keadaanmu, bukan seperti yang dituduhkan tadi, ok!" ujar mas Adit yang kini menghampiri Salwa dipembaringannya.


"Lepaskan aku, Adit! Aku tak sudi lagi disentuh olehmu. Bagiku kau sudah mati dalam hidupku, jadi kumohon kamu juga pergilah sekarang," tutur Salwa dengan pedas, saat bahunya ingin disentuh mas Adit.


"Salwa jangan ngomong begitu, maafkan kami. Aku dan mas Adit sudah memaafkan kamu, jadi kita bisa bersahabat dan saling menyayangi lagi," ucapku berusaha menjelaskan kedatangan kami.



Berusaha membujuk agar tidak ada pemusuhan lagi. Bagi kami harus saling memaafkan. Tuhan saja mau memaafkan umatnya yang banyak dosa, apalagi kita hanya manusia biasa yang tak luput juga banyak dosa.


"Diam kamu! Kamu pasti bohong," ujarnya masih kesal.


"Gak ada orang yang bisa memaafkan kesalahan besarku, apalagi aku telah melukai dan menyiksamu!" imbuh Salwa yang masih tak percaya apa yang kukatakan.


"Benar Salwa, kami sudah memaafkanmu. Dan kalau bisa kita perbaiki hubungan pertemanan kita," ucap mas Adit yang kini ikut membelaku.


"Aku tak percaya itu. Kalian bohong!" sudah melelehkan airmata.


"Kesalahanku sangat besar pada kalian, apalagi kamu Ana," suara sendu Salwa diiringi tangisan.


"Bantu aku mas!" ucapku pada mas Adit, untuk mendekati Salwa.



Menyuruh suami untuk mendekatkan kursi roda, agar bisa berbicara lebih leluasa nyaman. Sekarang mas Adit sudah mengendongku, yang mana langsung meletakkan tubuhku dipembaringan Salwa dirawat.


"Tenangkan dirimu, Salwa!" tuturku.


"Kamu jangan menangis lagi, Salwa. Kami tak pernah dendam padamu sama sekali. Lupakan kejadian-kejadian buruk di masa-masa kemarin. Kita akan sama-sama membuka lembaran baru, dengan menjalin kehidupan masa datang yang diiringi rasa penuh kasih sayang dan kebahagiaan, tanpa ada rasa dendam lagi diantara kita," ujarku menyakinkan.


Tindakanku sekarang adalah langsung memeluk dan mengelus-elus bahu Salwa, sebab dia sudah menangis kian tersedu-sedu.


"Maafkan aku, Ana. Aku tak patut mendapatkan maaf darimu! Maafkan aku ... maaf ... maaf." Salwa yang kian menderaikan airmata.


"Iya, Salwa. Sudah lama memaafkan kamu." Kupeluk erat dia, dengan bahunya terpukul-pukul kecil oleh tanganku.


Setelah merasa tenang kini Salwa melepaskan pelukan kami, dan langsung mengusap airmata yang jatuh dipipinya.


Akhirnya senyuman terukir indah untukku. Lega rasanya jika kami bisa berdamai. Mungkin Salwa hanya butuh perhatian. Kesendiriannya membuat terlalu sepi. Syok pastinya ketika orang yang dicaintai lebih mencintai orang lain. Wajar kalau Salwa tidak terima.


"Kamu memang berhati mulia, Ana! Adit benar-benar tidak salah pilih menjadikan kamu istrinya," puji Salwa.


"Terima kasih. Perasaan biasa saja aku ini orangnya," ujarku merendahkan diri.


"Beneran Ana. Kamu adalah wanita yang terbaik dan lemah lembut yang pernah aku temui. Dan patut saja Adit selama ini mempertahankan dan tak mau meninggalkanmu begitu saja, sebab dia tahu bahwa kamu adalah wanita special yang bejiwa mulia bagai seputih kapas, yang tanpa memperdulikan nyawamu sendiri," imbuh puji Salwa.


"Terima kasih, Salwa. Kamu sebenarnya juga wanita baik, tapi dikarenakan oleh api dendam, sehingga membutakan semua yang kamu benci dan melukai mereka" ungkapku.


"Benar itu Ana. Terima kasih ya."


"Sama-sama."


Kamipun akhirnya berdamai tanpa ada rasa dendam diantara kami lagi. Bagiku pertemanan lebih utama dari segalanya, dibandingkan permusuhan yang akan menghancurkan segalanya. Salwa yang patah tulang, kini menjalani pengobatan ke luar negeri, dengan dijemput oleh kedua orangtuanya.



"Gimana?" tanya mas Adit saat mengajakku mencari angin ke taman rumah sakit.


"Apanya?" tanyaku tak mengerti.


"Alhamdulillah, semua terasa lega sekarang," jawabku penuh kegembiraan.


"Eeeh, oh ya! Gimana menurutmu omongan yang tadi pagi ketika kamu sarapan," ujar mas Adit mencoba mengingatkan sesuatu padaku.


"Apaan sih, Mas? Aku gagal faham atas pertanyaan kamu barusan," jawabku binggung.


Masih duduk dikursi roda. Mas Adit kini berjongkok menatap ke arahku. Posisi berhadapan.


"Masalah mau nikah lagi?" jawabnya tanpa dosa.


Mata mendelik, masih saja membahas itu.


"Apa? Uhuk ... uhuk," Kekagetanku tersedak air liur.


Phok ... phok, tangan mas Adit menepuk-nepuk pelan bahuku.


"Kamu ngak pa-pa?" tanyanya khawatir.


"Aku gak pa-pa...aku gak pa-pa, uhuk ... uhuk" jawabku mulai agak tenang.


"Mas Adit, beneran mau nikah? Tidak salah 'kan sama pertanyaan kamu barusan?" Cukup dibuat penasaran.


"Ya iyalah, kalau kamu mengizinkan." jawabnya dengan mudah.


"Ya tuhan, apalagi ini? Benarkah mas Adit mengiginkan menikah lagi?" gumanku dalam hati merasa shok.



Sekarang mataku hanya memandang seksama tubuh mas Adit, yang tengah berdiri tepat didepanku. Dia terlihat gusar, namun wajah cengar-cengir seperti menyimpan sesuatu.


"Kenapa kamu diam?" tanyanya duduk bersujud didepanku, dengan mengenggam erat tangan.


Cletak, keningku dijitak secara pelan dan sayang.


"Pikiran kamu sekarang pasti yang aneh-aneh dan macam-macam ini," ujarnya.


"Ya iyalah, gimana gak macam-macam, sedangkan suamiku tercinta sekarang meminta restu dan izin mau minta madu lagi," jawabku sedikit kesal.


"Maksudnya mas itu, minta izin mau menikah lagi denganmu, hahahaha." Gelak tawanya akibat berhasil mengerjaiku.


"Apa?" geramku yang sudah melototkan mata.


Rasanya ke pengen nabok saja muka tuh orang yang sukanya menjahili


"Iya sayang, aku tadi bercanda, hihihiii. Wajahmu benar-benar lucu seperti ketakutan banget, hhahahha." Puasnya mas Adit tertawa.


"Mas Adit, sudah keterlaluan bercandanya. Ngak boleh tahu, kayak gituan dibuat bercanda. Biasanya ucapanmu adalah doamu," kekesalanku berkata.


"Iya ... iya sayang. Maaf, ya. Beneran Mas hanya bercanda, maksud mas itu nikah lagi sama kamu, 'kan kita kemarin sdh tahap dalam bercerai dan pisah rumah, jadi Mas mau kamu kembali padaku. Kata orang kalau sudah jatuh talak harus dinikahkan lagi, begitu sayang!" ucapnya menjelaskan.


"Ooh, begitu."


"Habisnya kamu juga sih! Pagi tadi mancing-mancing, jadi keblabasan ingin ngerjain kamu terus," imbuhnya menyalahkanku.


"Dasar manusia kurang kerjaan, istri sendiri dipermainkan," ketusku akibat kesal.


"Tapi kalau Mas Adit masih cinta dengan Salwa, aku bisa memaklumi dan memahami semuanya, sebab dia dulu adalah cinta pertama kamu," ujarku menerangkan.


"Iya, sayang. Walau Salwa adalah cinta pertamaku, yang terpenting sekarang adalah kamu itu istri pertama dan terakhir untukku," sahutnya meremas erat tanganku dengan kuat sekali.


"Benarkah itu, Mas?" jawabku dengan mata mulai berair.


"Iya sayang, mas gak bohong." Jawabnya langsung mengecup keningku.


"Terima kasih, Mas. Kamu adalah lelaki yang selalu kudambakan, untuk menjadi imam dalam rumah tanggaku. Semoga cinta kita selamanya akan tetap bersatu, sampai maut memisahkan cinta kita, amiiiin." Ujarku.


"Iya sayang, amin."



Tak ada kata yang bisa kuungkapkan, hati ini begitu merasa bahagia memiliki suami yang mencintai, dan penuh pengertian terhadap istrinya. Tapi dulu semuanya tak mudah kami jalani begitu saja, apalagi di awal-awal pernikahan kami, semua butuh pergorbanan dan kekuatan dengan air mata, sakit hati, dan bahkan kekecewaan. Tapi Allah adalah maha kuasa diatas segala-galanya, yang mana masih menunjukkan jalan yang terbaik untuk rumah tangga kami, walau badai perpisahan sempat-sempatnya menghadang keharmonisan rumah tangga kami.


Sebelum Salwa pergi berangkat ke luar negeri, kami semua terlebih dahulu menandatangani surat perjajian perdamaian kepada pihak kepolisian, sehingga kasus penculikan dan penyiksaan yang kemarin-kemarin terjadi, tak menjerat Salwa untuk mendapat hukuman penjara.