
Manusia hanyalah sepasang takdir yang hanya dapat bertemu, jika tuhan sudah mengaturnya. Kesulitan cinta kami yang sempat menerpa, kini telah membawa kami ke takdir pertemuan dengan kebahagiaan kembali. Segala peristiwa kemarin sudah merupakan ketentuan dari yang maha kuasa, dan aku hanya perempuan biasa yang hanya bisa pasrah, dengan semua kejadian yang sudah digariskan.
"Ya Allah, jika mas Adit adalah jodoh yang memang ditakdirkan untukku, persatukanlah kami dalam kebahagiaan yang telah Engkau tentukan, karena rencanamu pasti begitu indah untuk kami," doaku dalam hati.
Merajut bahagia bersama orang terkasih, menjadi bagian terindah dalam perjalanan seseorang untuk membina rumah tangga. Kini aku sudah terlibat yang namanya asmara cinta yang mengebu-gebu, sungguh itu semua menguras perasaan hati yang semuanya demi cinta, supaya takkan pernah habis untuknya.
Mas Adit begitu sempurna, dan semua begitu melekat padanya, sehingga akupun terus saja terhanyut untuk tetap mengaguminya atas mata, senyum, kebaikan, nada bicara, dan tak terkecuali dan ketingalan adalah ketampanannya, dan semua itu cukup membuat hatiku kian berkobar-kobar dan tergila-gila, atas semua rasa diatas nama cinta yang tak bisa kukendalikan sendiri.
"Kamu gak pa-pa 'kan aku tinggal sendirian," tanya Mas Adit.
"Beneran gak pa-pa, Mas."
"Atau kamu mau kuantar ke restoran bapak?" imbuh tanyanya.
Mas Adit sudah membuatkan sebuah restaurant mewah, yang kian hari kian semakin pesat maju dengan beberapa karyawan pembantu. Kata mas Adit dia tidak tega melihat bapak terus saja bekerja sebagai petugas kebersihan, sebab kondisi beliau sudah semakin melemah di usia senjanya.
"Gak usah, Mas. Aku beneran gak pa-pa."
"Masak Mas Adit gak tahu, aku ini wanita seperti apa! Lagian Mas Adit bukannya seumur hidup mau ninggalin aku untuk bekerja, jadi tidak masalah dong ditinggal kerja sebentar" celotehku.
"Hihihihi, kalau seumur hidup bekerja meninggalkan kamu lain lagi ceritanya. Dan aku akan menitipkan kamu bersama kedua orang tuaku," jawabnya santai.
"Memang Mas Adit beneran tega mau meninggalkan aku kerja bertahun-tahun?" tanyaku penasaran.
"Kalau kamu mengizinkan, pasti aku akan berangkat 'lah!" ujar usil.
"Wah, Mas beneran kejam. Baru saja kita baikkan, masak mau main pergi saja, gitu!" jawabku sewot diiringi muka sudah cemberut.
"Hahahahha, enggak 'lah Ana, sayang. Mas mana tega mau meninggalkanmu, cukup kemarin saja kita berpisah. Tadi itu cuma bercanda, jadi jangan dimasukkan ke hati," ucapnya sambil mencubit pipi diiringi memberi pelukan.
"Beneran yah! Awas kalau semuanya sampai terjadi."
"Beneran sayang. Sekarang rasa-rasanya kamu kok mulai pemsi amat. Sehari saja aku meninggalkan kamu lembur, rasanya begitu gak tega apalagi kalau bertahun-tahun," penjelasannya.
"Hehehehe, beneran juga katamu tadi, Mas."
Tangan terus saja sibuk membantu suami memakaikan baju, untuk segera pergi ke kantornya. Akhir-akhir ini dia begitu sibuk dengan perusahaan, sebab katanya ada sedikit permasalahan, sehingga membuatnya lembur agar tetap bekerja.
Cuuup, ciuman kening terdarat, ketika dia memelukku dari depan, saat tubuh kami sedang berhadap-hadapan.
"Terima kasih, Ana. Kamu selalu saja sabar, dan mengertikan akan diriku, cuuup," ucapnya sambil balik mengecup pipiku.
"Sama-sama, Mas. Harus hati-hati dijalan, kalau capek kerja hentikan dulu pekerjaan itu, jangan terlalu berlebihan terhadap pekerjaan bisa-bisa drop juga tubuh kamu nantinya," nasehatku.
"Iya sayang, Mas akan mengingat kata-katamu," ucapnya sambil mentoel hidung yang sedikit mancung.
"Siip, Mas! Aku ngak akan tidur malam, tapi nantin malam kalau aku ketiduran dan mas sudah pulang, tolong bangunkan aku! Mengerti."
"Memang mau ngapain?" tanyanya penasaran.
"Ada dech!" jawabku yang sudah menyimpan suatu kejutan.
"Wah, sekarang kamu pintar main rahasia-rahasiaan. Ayo dong kasih tahu, biar Masmu ini tidak penasaran akut!" pintanya.
"Kalau dikasih tahu jadinya bukan rahasia dong!"
"Ahh, pelit amat sama suami sekarang."
"Udah-udah, cepetan kerja sana! Terlambat juga nanti. Jangan pulang terlalu larut malam," imbuh pesanku.
"Tapi kasih sun dulu" tuturnya dalam bermanja ria dengan bibir sudah monyong.
"Iiih, sekarang mulai genit," imbuh kata-kataku.
"Cepetan," tunjuknya ke arah bibir
"Iya ... ya. Cuup ... cuup," dua ciuman terdarat di bibir secara singkat.
Kadang rasa cinta itu menyala setiap detik dan waktu, dan berhasil menciptakan rasa rindu yang mengebu tidak tertahan, sehingga setiap menit rasanya ingin terus selalu bersamanya. Jika tidak bertemu seharipun rasanya lama sekali bagai bertahun-tahun, sehingga kadang aku melampiaskan dengan menanyai kabarnya lewat telephone.
Sungguh cinta itu kian mengikis rasa hatiku hingga habis tak tersisa, seakan-akan cinta itu akan menjadi abadi bersamanya.
Aku terus saja berpikir bahwa kesetiaan harus tetap terjaga khusus hanya untuknya, sehingga diri inipun yakin cinta kami akan terjalin dengan baik.
Rasa sakit sudah plong hilang tanpa ada yang tersisa lagi, dan tanpa ada yang menyumbat seperti hari-hari kemarin, sebab diriku terus mempercayai akan kekuatan cinta, bahwa akan indah jika terus menjaganya.
Sore hari sudah menjelang mulai malam, kiri aku telah disibukkan oleh beberapa aktifitas mendekorasi rumah, untuk membuatkan suprise untuknya.
Mata sudah terlelap terpejam, yang tadi masih sempat menunggu duduk di sofa, untuk menyambut kepulangan mas Adit.
Waktu sudah menunjukkan angka 22.30 tapi dia belum juga menampakkan batang hidungnya untuk pulang. Rasanya aku begitu tidak sabar ingin sekali bertemu dengannya. Detik demi detik telah berlalu, yang berkali-kali mata melihat jam dinding, tapi masih saja mas Adit belum ada kabar.
"Kok jam segini mas Adit belum pulang-pulang," kegelisahanku mulai mendera, yang terus saja bolak-balik berjalan.
"Apa sebaiknya aku menelpon dia, tapi-! Gimana kalau dia sedang sibuk bekerja dan tak bisa diganggu? Ahh, nanti saja kali, aku akan menelponnya" tuturku dalam hati berbicara sendiri.
Sudah setengah jam menunggu, tapi mas Adit masih saja belum memberi kabar juga. Tidak sabar, sehingga gawai diatas nakas ruang tamu langsung kusambar.
[Hallo mas, kamu belum mau pulang juga?]
Rasa cemas sudah mendera begitu kuat, sehingga tidak sabar untuk segera menghubunginya.
[Hallo juga sayang. Mas sudah mau pulang! Tapi ini masih dalam perjalanan, sebentar lagi sudah sampai rumah, tunggu saja! Kenapa, sudah rindu ya sama masmu ini?]
Cadaannya mencoba merayu.