
Acara pernikahan kami masih sekitar tiga bulan lagi, jadi bisa menjalani rasa seperti anak muda untuk berpacaran.
"Apakah semua sudah siap, Chris?" tanya Mama saat kami tengah melakukan makan siang.
"Siap untuk apa?" tanyaku balik.
"Untuk acara pernikahan kamu dengan Karin?" imbuh beliau.
"Ah, kalau itu sudah siap semua, Ma. Gedung, catering, bahkan hotelpun sudah kupesan," jelasku.
"Baguslah kalau begitu. Lebih baik dari sekarang memang harus dipersiapkan, sebab jika menunda-nunda pasti akan kewalahan nanti," Peringatan Mama memberitahu.
"Iya, Ma."
"Oh ya, apakah Ayah Naya masih berhubungan baik sama Karin?" tanya Mama.
"Sepertinya masih. Memang ada apa, Ma?" Balik tanyaku heran.
"Tidak ada apa-apa, sih. Cuma kamu harus hati-hati sama dia, jangan sampai ayah Naya itu akan kembali jatuh kepelukan Karin," cakap kekhawatiran Mama.
"Pasti itu, Ma. Tapi kekhawatiran Mama itu sepertinya terlalu berlebihan, mana mungkin mereka akan kembali bersama, sedangkan jelas-jelas Karin sudah menjadi milikku."
"Siapa tahu bisa itu. 'Kan namanya hati tidak bisa ditebak, kadang-kadang hati bisa sangat mencintai tapi bisa berubah jadi benci juga. Lagian janur kuning belum melengkung, bukan berarti Karin akan bisa jadi milikmu seutuhnya," terang Mama.
"Emm, benar juga apa yang dikatakan Mama itu."
"Lagian Ayah Naya itu kelihatan cinta terindah yang dimiliki Karin. Mama bukan ingin menakuti kamu, tapi kalau bisa selalu waspada, sebab hati tiap waktu bisa berubah."
"Iya, Ma. Semoga saja tidak terjadi pada kami, sebab Chris tahu betul sifat Karin itu kayak gimana."
"Iya, Nak. Mama hanya memperingatkan saja."
"Emm, Ma. Terima kasih, atas peringatannya."
"Ok, sama-sama."
Hari ini sengaja libur tidak bekerja karena ingin mengajak Karin. Semoga saja ditoko nanti tidak ramai pembeli, jadi bisa mengajak jalan-jalan Naya juga.
"Mau kemana mereka? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Karin begitu tenangnya masuk ke dalam mobil Adrian? Semoga saja pemikiran b*dohku ini benar-benar tidak terjadi," guman hati yang cemas.
Mobil Adrian nampak sudah melaju dan tanpa membuang waktu aku mencoba mengikutinya. Perlahan-lahan masih saja mengikuti dari jarak agak jauh, biar tidak ketahuan oleh Adrian.
Drzzsst .. tut ... tut, gawai berusaha menelpon gawai Karin.
[Hallo, Chris. Ada apa?]
[Tidak ada apa-apa, hanya ingin mendengarkan suaramu saja. Oh ya, kamu sekarang ada dimana?]
[Owh, aku lagi dekat sekitaran toko, lebih tepatnya sedang diluar]
Deg, jawaban Karin begitu plin-plan antara benar dan tidak.
[Ya sudah, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu itu]
Kling, dengan kasar langsung kumatikan gawai, tanpa mengucapkan salam lagi.
Rasa dongkol yang membuncah, bikin mood semakin buruk saja.
"Kenapa kamu berbohong, Karin. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari kami? Apa kamu ingin kami melukai dengan cara sakit hati? Tapi kenapa harus pakai cara halus begini. Kenapa kau tutupi semuanya dengan kebohongan," rancau hati yang kesal.
"Apa kamu masih ingin bersama, Adrian? Tapi kenapa kamu tidak bilang, hingga ragaku telah hilang separo, akibat caramu yang sudah menutupi dengan kobohongan. Haaah .... haaah ... brok ... brok, apa aku harus pergi agar kamu bahagia," Kekesalan hati berucap, dengan mengebrak stang kemudi.
Laju mobil masih saja mengikuti kemana mereka pergi. Rasa penasaran begitu membuncah, hingga percikan api rasanya mulai mengrogoti hati.
Setelah beberapa jam mengikuti, akhirnya sampai juga mobil mereka, yang kelihatan telah berhenti disebuah taman bermain.
"Kamu benar-benar tega, Karin. Bisa berdua dengan Adrian, tanpa meminta izin dulu padaku. Apa jangan-jangan selama aku tidak ada, inikah kelakuanmu yang diam-diam menemui Adrian," tebakku dalam hati.
"Awas saja Karin, aku tidak akan membiarkan Adrian menang begitu saja mendapatkanmu. Aku bukan pria bod*h yang menyerahkan kamu begitu saja pada orang lain," ucapan hati yang marah.