Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Diagnosa yang membuatku kaget


Kami hanya bisa menunggu diluar ruangan, dengan rasa penuh khawatir dan was-was atas pemeriksaan dokter pada anakku Naya sekarang. Berkali-kali tangan Chris terus saja mengusap pelan bahuku, yang kemungkinan mencoba agar aku tetap tenang saat anak kelihatan benar-benar sakit.


Gradak, pintu ruang pemeriksaan kini telah terbuka, yang menampakkan seorang dokter muda diatas umur kami sudah keluar, yang diiringi seorang suster dari belakang. Kami bertigapun langsung menghampiri beliau, untuk menerima sebuah kabar apakah bagus atau tidak tentang baby Naya


"Permisi, apakah kalian orang tua si bayi?" tanya dokter ramah.


"Iya, dok. Saya adalah ibu kandungnya," jawabku jujur.


"Bisa kita bicara empat mata, sebab ada banyak penjelasan yang harus saya beritahu mengenai kondisi anak ibu," pinta sang dokter.


"Oh iya, boleh dok!" jawabku setuju.


"Mari ikut saya," perintahnya untuk segera mengiringi langkah beliau.


"Iya."


"Aku minta tolong jagain Naya sebentar, bu. Karena ingin mengikuti atas perintah dokter tadi," pamitku sebelum benar-benar pergi.


"Iya, tenang saja. Ibu akan menjaganya.


"Terima kasih, bu. Ayo Chris temani aku menemui dokter," pintaku mengajak.


"Emm."


Langkah kami berdua sudah mulai memasuki ruang khusus milik dokter, yang sudah sempat memeriksa keadaan Naya tadi. Hatiku begitu dilanda ketakutan, sebab dokter tak akan mengajak berbicara pribadi jika penyakit anakku tak parah.


"Saya akan menjelaskan, apa yang menjadikan anak anda sakit sekarang," ucap dokter ingin memulai pembicaraan.


"Iya, dok. Memang anak saya sedang sakit apa?" tanyaku tak sabar.


"Kemungkinan anak anda kena penyakit kelainan jantung atau disebut TOF," jelas beliau.


Deg, Jantungku berdetak cepat, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya, saat mendengar penuturan dokter. Bagaimana tidak, hati ibu mana yang tidak bersedih seolah tersayat sembilu saat mendengar anaknya yang masih berusia beberapa bulan, kini harus mengalami penderitaan yang tak semestinya ia alami dan membayangkannya pun tidak.


"Apa? Benarkah itu?" tanya Chris kaget.



"Tidak ... tidak, itu tidak mungkin. Anakku tidak mungkin menderita penyakit itu," sautku menjawab tak percaya.


"Ini hanya dugaan sementara, karena untuk mengetahui adanya kelainan jantung atau tidak, harus diperlukan pemeriksaaan USG jantung (Ekokardiografi) serta kombinasi dengan pemeriksaan kateterisasi bila nanti diperlukan," jelas dokter.


"Apakah itu perlu, dok?" tanya Chris yang sedikit tak paham.


"Iya, itu perlu. Karena biar diketahui segera ada tidaknya penyakit itu," jawab dokter.


"Lakukan yang terbaik pada si baby Naya, dok!" ucap Chris yang suaranya mulai terdengar begetar, saat seperti juga syok.


"Baiklah, kami pasti akan menangani pasien dengan baik. Tapi sebelumnya saya akan menerangkan apa itu TOF, yang kemungkinan telah menyerang buah hati anda," jawab sang dokter memberitahu.


"Iya, dok!" jawabku lemas yang sudah tak ada tenaga lagi.


"Kelainan jantung pada anak umumnya disebabkan oleh bawaan lahir, dimana terdapat celah yang tidak menutup sempurna setelah lahir atau kelainan anatomi jantung. Penyebab lainnya adalah peradangan yang merusak katup jantung saat terjadi kebocoran, yaitu sering disebabkan oleh infeksi bakteri atau proses autoimun. PFO adalah patent foramen ovale, dimana tidak terjadi penutupan foramen ovale. Bila celah tersebut tetap terbuka maka dapat menganggu aliran darah jantung, hingga berpotensi terjadi gangguan jantung itu sendiri. Kelainan jantung pada umumnya mengalami sejumlah gejala :



Tampak kelelahan dan susah bernafas terutama ketika dis*s*i


Memiliki berat badan rendah


Pertumbuhan terhambat.


Dan itu semua kemungkinan adalah gejala yang dialami oleh anak anda sekarang," terang panjang lebar dokter.



Aku dan Chris hanya bisa diam menyimak dan mendengarkan, agar paham atas penjelasan sang dokter.


"Ada beberapa faktor yang bisa memicu bayi mengalami TOF. Umumnya penyakit ini mulai menyerang bahkan sejak bayi masih berada dalam kandungan sang ibu. Faktor lain bisa terjadi adalah kerena infeksi, virus yang menyerang saat ibu hamil, diabetes, kurang gizi, hingga masalah-masalah lain yang terjadi selama hamil. Selain itu, faktor usia ibu saat mengandung biasanya juga berpengaruh. Dan biasanya wanita diatas umur empat puluh tahun disebut-sebut memiliki lebih besar resiko melahirkan bayi TOF. Kelainan jantung ini menyebabkan darah yang kaya akan oksigen telah bercampur dengan yang tidak. Hal tersebut membuat kinerja jantung akan menjadi jauh lebih berat dari kondisi normal. Tak hanya itu, kondisi inipun bisa menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan pada akhirnya akan terjadi gagal jantung," imbuh keterangan dokter.


"Separah itu 'kah? Apakah penyakit ini bisa disembuhkan, dok?" tanya Chris.


"Bisa. Dan berita baiknya penyakit ini memiliki peluang untuk sembuh setelah terdeteksi. Penanganan yang dilakukan tergantung berat ringannya kelainan jantung, dan untuk memperbaikinya umumnya diperlukan tindakan operasi," jelas dokter lagi.


"Apa? Operasi?" tanyaku yang semakin terkaget-kaget.


"Iya, kita harus melakukan operasi. Dan umumnya operasi adalah jalan paling efektif untuk penanganan TOF ini. Ada dua hal tahap yang harus dilalui untuk menangani penyakit ini, yaitu operasi tahap pertama untuk pemasangan pembuluh darah buatan dari jantung ke paru-paru. Lalu operasi tahap kedua yang akan dilakukan pada empat bulan hingga satu bulan setelah operasi tahap satu dilakukan, namun pilihan operasi yang dilakukan biasanya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi bayi yang mengalami TOF," jelas dokter lagi.



Semua penjelasan dokter sudah membuatku telah menderaskan airmata. Chris hanya bisa mengusap pelan bahuku, saat diriku tak henti-hentinya menganak sungaikan airmata yang terus mengalir.


"Baiklah, dok. Terima kasih atas penjelasannya. Yang terpentig sekarang lakukan yang terbaik untuk memulihkan kondisi baby Naya. Aku berharap dia akan baik-baik saja dan sehat selalu," ucap Chris menyuruh dokter.


"Iya, mas. Pasti kami akan melakukan tindakan yang terbaik agar baby Naya tetap sehat," jawab dokter menyetujui akan membantu kesembuhan anakku.


Setelah pamit dan berbasa-basi mengenai penyakit dan biaya yang terlalu besar itu, membuatku kini diam membisu tak bisa berkata-kata apa lagi.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Apa yang terjadi pada anakku sekarang? Kenapa bayi mungilku yang masih suci itu harus mengalami penderitaan penyakit ini, yang kemungkinan orang dewasapun tidak akan sanggup menghadapinya. Huff, bagaimana aku harus mendapatkan biaya sebanyak itu, untuk merawat dan membiaya operasi anakku? Sementara uang sepersenpun tak ada ditanganku sekarang. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan agar anakku tetap sehat dan kembali ceria dalam pelukan lagi," rancau hati yang sedih saat musibah kini terjadi pada anakkku.


"Ooh, sungguh malang sekali nasib kamu, nak. Maafkan ibu yang sudah membuat penderitaan sakit ini padamu, seandainya ada kesalahan ketika waktu mengandung dulu. Maafkan ... maafkan aku, nak. Apa yang harus kulakukan agar kamu tetap sehat, apa ... apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakan ini pada kak Adrian, bahwa dia sudah mempunyai anak dan sekarang sedang sakit? Aah, tidak ... tidak, itu tidak mungkin, saat waktu hamil saja dia tak mengakui. Bagaimana aku bisa mengantikan penderitaan yang kamu derita sekarang, nak? Wahai bayiku tercinta, maaf ... maafkan ibu, yang tak bisa memberikan kamu kehidupan yang baik," ucapku sedih yang terus saja menangis tersedu-sedu, saat dalam pelukan Chris.


"Kamu harus sabar dan kuat untuk menjalani semuanya. Kamu harus tegar dan bertahan untuk baby Naya, jangan sedih begini. Aku tahu dan yakin sekali jika baby Naya adalah putri kecil yang kuat, pasti bisa melewati ini semua. Kita do'akn saja semoga dia baik-baik saja, jangan terus bersedih begini," ucap Chris yang sudah menghapus airmataku.


"Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Anakku begitu terbaring lemah disana, dengan penyakit yang belum pernah aku rasakan sama sekali. Aku takut ... aku takut sekali Chris, jika harus kehilangan dia yang sementara hanya dialah nyawa hidupku, untuk tetap semangat mengarungi hidup ini," cakapku kian pecah menitikkan airmata yang terus mengalir dipipi.


"Sudah ... sudah, jangan katakan itu. Kita harus meyakini bahwa baby Naya akan sembuh," ucap Chris kembali memelukku agar aku tenang.


Rasanya hati bagai tersambar petir tak percaya, saat anak yang kujaga selama ini harus mengalami penderitaan seberat ini. Netra begitu manatap nanar pilu, saat beberapa benda aneh berbentuk selang sudah menempel di bagian dada dan hidung anakku. Hanya pembatas kaca ruangan, diriku bisa meraba tanpa bisa menyentuhnya. Sungguh sesak dada ini, melihat penderitaan anak yang menyayat hati sekarang ini.


****


Maafkan author🙏🙏jika ada penjelasan penyakit ini bila ada yang kurang tepat atau salah, yang jelas semuanya sudah sesuai dengan pencarian dari sumbernya. Jika ada yang salah mengenai penyakit itu, bisa langsung coment, biar nanti author akan edit tulisan. Terima kasih yang sudah mampir membaca😊