
Tangan lagi-lagi menutup mulut. Menguap yang tak henti-henti terus terjadi. Kepala terasa mulai pusing sebelah. Rasanya berat sekali menahan mata agar bisa terbuka.
Tanpa sadar, ketika tangan sibuk mengadoni kue, tanpa disengaja kepala sudah terpatahkan jatuh perlahan-lahan, akibat tidak kuat lagi menahannya.
"Gimana, Mbak?" Suara karyawan yang tiba-tiba terdengar kuat didekatku.
"Ee'eh, ada apa?" tanyaku kaget. Seketika langsung membelalakkan mata walau berat terbuka sedang terjadi.
"Astagfirullah, ada apa dengan kamu, Mbak?" imbuh pegawai berkata.
Mulut yang terbuka lebar segera kututup dengan telapak tangan. Tak peduli tangan yang kotor, yang terpenting bisa menutup nafas yang keluar kasar dari bibir.
"Maafkan aku. Mbak, lagi tidak fokus, nih!" jawabku sambil mulut menguap tiada henti.
"Patut saja. Dari tadi ngak selesai-selesai membuatnya."
"Iya, nih. Maaf, ya."
"Ya, sudah. Mbak sekarang istirahat saja, biar saya gantikan. Takutnya waktu mepet dan mengecewakan pelanggan nanti."
"Huff, maafkan saya."
"Iya, ngak pa-pa."
Adonan baru setengah jadi terpaksa kutinggalkan. Celemek yang talinya bertengger dileher segera kulepaskan. Tangan yang kotorpun tak luput cepat-cepat segera kubersihkan. Sebelum pergi dari dapur khusus, mencoba menyeduh teh hangat dulu. Efek ngantuk berat mulai terasa mual-mual, mungkin dengan meminumnya semua akan mereda.
Sambil berjalan, teh terus saja kuseruput. Kehangatan airnya cukup melegakan tenggorokan leher. Perut yang terasa perih sedikit eneg, kini mulai ada rasa nyaman.
Duduk santai diruang kerja pribadi. Kaki sudah berselonjor diatas meja kaca, yang tingginya sebatas betis kaki. Tangan tak luput jua terus menikmati kehangatan air yang baru saja kuseduh.
Tok ... tok, pintu diketuk.
Pintu ruangan yang terbuka, kini menampakkan seorang pegawai pria sedang meminta izin masuk.
"Iya. Ada apa?" tanyaku.
Kaki segera terturunkan. Teh sudah terletak dimeja. Netra mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan pegawai, saat sudah masuk dan sedang menghampiriku.
"Maaf, Mbak. Kalau saya menganggu."
"Ngak pa-pa. Emang ada apa?."
"Ada tamu didepan," terangnya.
"Ooh. Siapa? Kayaknya penting banget, sampai tergopoh-gopoh dan semangat gitu ."
"Heehehe, ya begitulah, Mbak!" Pegawai hanya cegegesan sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maksudnya?" Tatapan wajah sudah heran pada pegawai.
"Mbak, bisa lihat didepan sendiri. Siapa tamu itu."
"Emm, baiklah. Bilang sama dia, tunggu sebentar. Nanti aku akan menemui dia segera," suruhku.
"Baik, Mbak. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Baiklah. Makasih."
Badan merasa sedikit tidak enak. Angin yang bertiup semilir, telah berhasil membuat badan agak meriang. Jaket agak tipis telah mulai menutup kulit, ketika bulu-bulu halus dalam tangan sudah terlihat berdiri semua. Secepatnya melenggang pergi juga keluar ruangan, padahal niatnya tadi mau tidur segera.
Saat berada didepan, mata dibuat terbelalak tidak percaya apa yang kulihat sekarang. Sebuah pemandangan wajah pria kemarin telah duduk santai dibarisan kursi pelanggan, ditemani oleh seorang anak perempuan yang manis dan mengemaskan wajahnya.
"Astagfirullah, mau ngapain pria itu datang lagi kesini?" bathin hati merasa heran.
"Maaf, permisi!" sapaku pada mereka yang tengah sibuk mencicipi kue.
"Ehh, kamu, Nona."
Senyuman manis terlempar ke arah pria itu. Tak luput jua Rara berbalik tersenyum kegirangan menyambut kedatanganku.
"Maaf. Ada apa, ya? Kalau boleh tahu ada hal pentingkah sehingga mencari saya?" tanya.
Sekarang akupun bergabung duduk bersama mereka.
"Ngak ada apa-apa, sih. Maafkan kami jika sudah menganggu waktu anda."
"Tidak ada, kok. Kebetulan waktu lagi senggang."
"Baguslah. Terima kasih atas pengertiannya."
"Iya."
"Saya kembali kesini, sebab Rara habis pulang sekolah tadi merengek minta diajak ketemu sama kamu lagi. Saya benar-benar minta maaf!" ucap pria itu tidak enak hati. Kedua tangan bertangkup didada.
"Oh, begitu. Tidak apa-apa, kok."
"Apa benar itu, Rara?" tanyaku pada bocah yang kini mulutnya telah belepotan akibat cream roti.
"Iya, Tante."
Rara tiba-tiba berdiri dan turun dari kursi duduknya. Langkah bocah itu seperti ingin menuju ke posisiku, yang tengah duduk saling berhadapan dengannya tadi.
Tanpa diduga sikapnya yang manja langsung memeluk tubuh ini.
"Rara kangen sama, Tante!" celotehnya manja.
"Benarkah Rara kangen sama, Tante?" cakapku tak percaya.
Dia hanya mengangguk pelan, sambil wajah memelas dan cemberut. Melirik sebentar ke arah pria itu, dan tanpa diduga pandangan kami sudah saling bertemu.
"Maaf atas kemanjaan, Rara. Dia kalau datang kemauannya, harus segera dipenuhi sebab kalau tidak seharian akan merengek terus," jelas pria yang sampai sekarang tidak tahu namanya.
"Benarkah itu, sayang?" tanyaku.
Lagi-lagi Rara hanya mengangguk pelan.
"Kalau mau ketemu dengan saya tidak apa-apa, kalau ada waktu luang pasti saya akan menyempatkan bisa bermain dengan Rara. Namanya juga anak kecil, kalau tidak dituruti pasti akan merengek," jawaban ramah.
"Terima kasih atas bantuannya. Jadi tidak enak banget telah merepotkan anda," ujarnya tak enak hati lagi.
"Iya, ngak pa-pa."
Lama pria itu berbasa-basi mengajak ngobrol. Namanya adalah Chandra, seorang duda anak satu tapi ditinggal istrinya yang sudah tiada. Nasib yang sama persis denganku ditinggal mati oleh orang terkasih, bedanya mereka sudah dalam ikatan pernikahan, sedangkan diriku hanya mencintai tapi tak sampai. Walau begitu tetap bersyukur bisa kenal dengan kak Adrian, sebab dialah pria yang mengajarkan banyak arti kehidupan, baik luka, cinta, kesedihan, terpuruk, bahkan belum sempat merajut asmara sudah terpisah.