Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Ingin Menangkap Pelaku


Segera kembali ke perusahaan. Tidak sabar ingin menguak semuanya. Pasti kalau lama tidak diungkap, perusahaan akan semakin mengalami kerugian besar. Karyawan akan kalang kabut mengatasi ganti rugi dari para pelanggan toko.


Tok ... tok ... tok, pintu ruangan mas Adit kami ketuk.


"Masuk!" sahutnya dari dalam.


Mas Adit sudah menatap kami dengan wajah keheranan.


"Kalian-?" suaranya tertahan.



"Kami akan jelaskan, kamu duduklah bersama kami," suruh sekertaris Rudi.


"Ada apa ini? Kok bisa datang bersamaan gini?" Kebinggungan mas Adit.


"Duduklah! Kami akan memberitahu kamu sesuatau hal yang penting," ucap sekertaris Rudi.


"Heeem."


Kami betigapun duduk terdiam dengan guratan tegang, takut-takut kalau Mas Adit tak percaya atas apa yang kami temukan.


"Berikan bukti itu, Edo?" suruhku.


"Emm."


Gawaipun sudah diberikan pada Mas Adit, dan kami antusias menunggu tanggapan jawabannya. Netranya mulai fokus ke video yang beberapa detik terekam.


"Apa ini, aku kurang paham?" tanya Mas Adit binggung.


"Itu adalah bukti, bahwa barang dalam gudang kita telah ditukar sebelumnya, oleh oknum-oknum yang ingin menjatuhkan perusahaan kamu. Dan foto itu adalah mata-mata yang dikirim musuh, untuk menyelidiki perusahaan kamu," Penjelasan sekertaris Rudi.



"Apa?" ucap Mas Adit kaget.


"Kamu harus bertindak tegas dan ungkap semuanya."


"Apakah yang kalian katakan itu adalah benar?" Dia masih tidak percaya.


"Itu benar Mas, dan semua itu adalah nyata. Lagian untuk apa kami berbohong kepadamu. Toh, semua itu tidak ada gunanya dan menguntungkan bagi kita," Mulutku yang ikut angkat bicara.



"Wah ... kalau beneran, aku akan membuat perhitungan sama mereka, dan pasti akan kuhancurkan semuanya atas ulah mereka sendiri, sebab telah berani mengusik ketenangan perusahaanku," ucap mas Adit yang geram dan emosi.


"Bener itu, Mas. Kita harus menyerang balik perusahaan itu, biar dia tahu dan merasakan akibatnya, sebab telah menggangu perusahaan kamu," sahutku menyetujui.


"Panggilkan pegawai ini, Rudi!" suruh Mas Adit lantang, dengan mengemerutukkan gigi.


"Baik, Bos."


Tangan sang sekertaris menelpon tombol telephone kantor. Tidak perlu bersusah payah memanggil berjalan, tinggal memanggil lewat suara sudah dipastikan orang yang dipanggil datang.


Lama sekali kami menunggu, tapi tidak kunjung jua orang yang dimaksud datang. Mungkin orang itu sukar dicari, sebab perusahaan mas Adit adalah perusahan besar, dan pastinya didalam banyak sekali ribuan karyawan.


"Permisi. Ini Bos orangnya!" ujar sekertaris Rudi, membawa orang yang kutemui tadi pagi.


"Bagus, Rudi."


Kami semua sudah berdiri, untuk mencoba menginterogasi pria itu, yang berkumpul didekat meja kebesaran mas Adit.


Dan terlihat dia sedikit tegang dan grogi, kemungkinan sudah takut pada kami.


"Apakah ini kamu?" tanya Mas Adit, sambil menunjukkan foto dari gawai Edo.



"Be-ben-nnn- nar itu."


"Kamu tidak bohong 'kan?" Lantang suara sekertaris Rudi.


"Iya itu saya, Pak!" ucapnya terbata-bata.


"Memang aa-add-a apa, Pak bos?" tanyanya binggung, sebab kami semua sudah menatapnya tajam.


"Tidak usah bertele-tele kamu. Katakan siapa kamu sebenarnya itu," Edo ikutan angkat bicara.



"Kamu adalah mata-mata dari perusahaan ini?" tanya mas Adit gamblang tapi santai.


Pria didepan kami hanya diam, dengan keringat sudah mengalir deras dipelipisnya, seperti orang sedang ketakutan akut. Gelagat aneh yang semakin membenarkan.


"Bukan ... bukan, Pak" jawabnya yang ingin melenggang pergi.


"Eeiiit ... tunggu! Mau ke mana kamu?" cegahku berkata dengn mencekal tangan.


"Lepaskan. Dasar kurang ajar kalian." Lawannya tak suka.


Braaak ... bruuuk, pria itu telah mendorong tubuhku kuat, dengan tujuan agar dia bisa bebas melarikan diri, dan tak terelakkan lagi, perutku telah menabrak ujung lancip meja kerja mas Adit.


"Hei kamu ... tunggu kamu," cegah Edo dan sekertaris Rudi mengejarnya.


Terlihat pria itu sudah berhasil dihadang dan ditangkap oleh mereka berdua, sedangkan mas Adit menghampiriku, yang sedang kesakitan memegang perut.


"Ana ... Ana, kamu gak pa-pa, 'kan?" tanya mas Adit khawatir, berusaha untuk menolongku.


"Aaahh, Mas ... sakit."


"Kamu kenapa?"


"Mas, Aaahhhh ... sakit!" keluhku yang merasakan sakit pada perut, seperti tertusuk-tusuk pisau.


"Ana ... Ana," Panggil mas Adit saat tubuhku sudah tergolek, beringsut memegangi perut.


"Astagfirullah ... Ana?" keterkejutan mas Adit bersuara.