
Cinta yang begitu perih, membuatku sudah beberapa hari tidak enak makan. Kisah bersamanya telah hancur, saat semua kembali ke masa lalu. Kisah lama terlalu indah sehingga dirinya sukar untuk melupakan.
"Apakah kamu baik-baik saja, Chris?" tanya Mama masih khawatir.
"Agak mendingan, Ma!" jawabku sudah menyendok beberapa makanan.
"Mama berharap kamu bisa ikhlas dan sabar menghadapi cobaan ini. Mungkin ini adalah petunjuk Allah, bahwa Karin bukan yang terbaik untukmu. Kalau sudah tidak bisa tergenggam mau gimana lagi. Sekarang kita wajib mendoakan dia agar bahagia walau bersama orang lain," nasehat Mama, saat beliau sudah tahu pemasalahan yang kuhadapi.
"Chris tahu, Ma. Tapi kenapa tidak bilang dari awal-awal! Kalau sudah jadi begini, keluarga kita 'lah yang pertama kali paling merasakan malu, akibat membatalkan pernikahan kami," ungkapku yang masih dongkol.
"Iya, Nak. Mama paham. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Kalau kita semakin menekan Karin, ya takutnya begini! Kamu sendiri yang akhirnya terluka," imbuh Mama.
"Iya, Ma. Mungkin benar kata Mama. Aku telah dibutakan oleh rasa cinta, sehingga tidak sadar jika Karin masih menyimpan rasa cintanya untuk orang lain," jawabku tahu diri.
"Bagus, Nak. Semoga kamu mendapatkan penganti yang lebih baik lagi dari Karin,. Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap beliau.
"Emm, Ma. Terima kasih."
*****
Mobil sudah melesat dengan cepat, agar sampai ke toko yang kumiliki. Tidak butuh waktu lama untuk sampai, saat kecepatannya melewati batas.
Gradak ... klinting, pintu kubuka dengan kasar.
Plok ... plok, tepuk tangan dengan kuatnya.
"Kumpul ... kumpul semua kesini, sekarang!" teriakku memanggil semua pegawai
Karin sudah menatapku aneh, tapi aku tidak memperdulikan itu. Bahkan saat dia menatap tajam kearahku, hanya mencuekkannya dengan tidak membalas balik melihat kearah dia.
Semua kelihatan sudah lari tergopoh-gipoh mendekatiku.
"Ada apa, Bos. Kok tumben-tumbennya pagi begini mengumpulkan kami? Tidak biasa-biasanya," tanya salah satu pegawai.
"Dengarkan pengumuman yang akan aku katakan sekarang. Jangan ada yang bertanya apalagi membantah, kalau kalian tidak ingin kupecat sekarang juga," tegasku memberitahu.
Semua nampak kebingungan, atas sikapku yang berubah agak kasar.
"Kalian tahu kalau toko ini selalu dijaga Karin. Dengan secara hormat, sekarang akan kugantikan pekerjaan dia dengan orang lain," tekanku memberitahu.
Para pegawai berubah ekspresi, kelihatan terkejut diiringi kebingungan.
"Apa maksudmu, Chris?" simbat Karin tidak mengerti.
"Tadi aku sudah bilang, jangan ada yang bertanya. Berarti kamu telah melanggarnya, jadi siap-siaplah menerima kertas atas pemecatanmu," ketusku berkata.
"Aku bertanya karena aku ada hak, atas ucapanmu barusan. Terserah kamu mau memecatku apa tidak, tapi tolong berikan aku alasannya," cakap Karin tidak terima.
"Tidak ada alasan yang tepat mengenai ini. Hanya saja, aku ingin menganti posisi kamu itu dengan orang lain. Lagian, bukankah hari-harimu sekarang akan mulai sibuk dengan kekasih baru, jadi aku 'tuh berbaik hati dengan memberikan waktu luang untukmu, agar kalian bisa leluasa bersama," sindirku padanya.
Para pegawai sudah terheran-heran melihat ucapan kami, yang terasa menegangkan. Semua orang tahu kalau kami akan menikah, mungkin mereka sedikit terkejut atas alasanku barusan. Asisten pribadi sudah menyuruh semua orang bubar, mungkin dengan maksud tidak mendengarkan pertengkaran kami lagi.
"Ayolah, Chris. Kamu jangan begini. Kita bisa bicarakan ini lagi dengan baik-baik, tanpa harus ada emosi mengungkit masalah kemarin," pinta Karin.
"Apa yang perlu dibicarakan? Sudahlah, rasanya aku muak melihat wajahmu yang sok polos itu," ketusku.
"Tunggu, Chris! Telapak tangamu kenapa?" panggil kekhawatiran Karin.
"Lepaskan aku. Kamu tidak perlu tahu apa yang terjadi dengan tanganku ini," Kutarik kuat tangan, saat masih ada perban yang membungkus.
Rasanya tidak sudi jika Karin menyetuh kulitku lagi. Ekpresinya tertunduk lesu. Aku hanya memicingkan mata, yang tidak mau tergoda lagi atas rasa belas kasihan padanya.
"Maafkan aku jika ini semua memang salahku," cakapnya sendu.
"Aku sudah memaafkan, jadi tidak usah merasa tak enak hati begitu. Mulai sekarang terserah sama kamu, mau angkat kaki dari sini apa tidak. Yang jelas, aku sudah tidak sudi menatap wajahmu lagi," ungkapku.
"Sebenci itukah kamu padaku, sehingga untuk menatapku saja kamu tidak sudi?" tanyanya pilu.
"Menurutmu bagaimana? Kalau sudah tahu tidak usah banyak bertanya, paham! Sudah ya, urusan kita sudah selesai. Kalau bisa tidak usah diungkit-ungkit lagi, masalah pernikahan sudah jelas aku membatalkan, termasuk hubungan kita yang mulai detik ini harus berakhir," jelasku serak.
"Maafkan aku, Chris. Aku tahu ini salah aku, maaf ... maafkan diriku!" jawabnya pilu sudah menitikkan airmata.
Badan sudah berbalik secepatnya dan segera melangkah pergi. Dia yang tersedu-sedu menangis kubiarkan saja. Tangan berkali-kali mengahapus tetesan embun, yang tidak segaja telah menyeruak keluar dari pelupuk mataku.
Disaat menatap kedua bola matamu
Tersirat apa yang akan terjadi pada kita.
Kurelakan cinta telah pemainanku
Kurela kau sudah menjauhiku.
Dengan meninggalkan segala luka
Apa salahku padamu, saat tega pemainanku.
Kau ingin pergi dariku
Meninggalkan semua kenangan kita, dengan menutup semua lembaran cerita.
Kutahu semua akan berakhir
Namun masih kutak rela ingin melepaskanmu.
Mulutku hanya diam membisu
Salahkah jika aku ingin mencintaimu.
Jangan tanyakan mengapa aku bisa berubah saat tidak ingin kau pergi meninggalkanmu
Apakah yang harus kulakukan
Untuk mendapatkanmu lagi.
Rasanya begitu sakit
Saat kau lebih memilihnya dari pada diriku.
Tubuh sudah merosot duduk dilantai ubin keramik, yang bersandar dibelakang pintu.
"Maafkan aku, Karin. Aku harus kasar padamu. Inilah jalan satu-satunya agar aku tidak mengingatmu lagi. Cintaku ini biarlah tersimpan dihati saja, yang kian ternoda akibat tersakiti. Sungguh, ini teramat sakit untukku. Aku tidak kuat lagi jika harus menatap wajahmu lagi," Kesedihan hati mulai menitikkan airmata lagi, dengan posisi sudah membenamkan kepala diantara dua paha.
"Selalu saja aku kau bohongi oleh cinta. Sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi, kau akan lebih memilihnya. Biarlah aku kini yang pergi, untuk membawa luka. Semoga engkau akan tetap tersenyum bahagia," guman hati yang masih kecewa.